TERIMA KASIH, MANTAN!

TERIMA KASIH, MANTAN!
32. Masihkah ada harapan?


__ADS_3

Beberapa Minggu kemudian...


Arvin memandangi foto yang berada di dalam ponselnya. Foto itu adalah fotonya Gavin dan wanita yang bernama Indah, ketika mereka sedang makan di warung makan waktu itu.


"Kenapa aku ngelakuin ini ya? Kesannya kok malah aku jadi ikut campur urusan mereka sih," gumam Arvin seraya mengacak-acak rambutnya sendiri.


Awalnya Arvin berniat akan langsung mengirimkan foto tersebut ke Nara, dengan menggunakan nomor ponselnya yang lain. Namun, entah mengapa ia menjadi ragu, sebab ia merasa kini dirinya jadi terlibat lebih jauh dengan Nara, padahal sebenarnya Arvin ingin menghindari wanita tersebut.


"Tapi, kalau aku tidak mengirimkan foto ini, tuh cewek pasti tetap bodoh karena selalu ditipu sama suaminya sendiri." Karena merasa kasihan dengan Nara, Arvin pun akhirnya mengirimkan foto tersebut. Namun, masih centang satu.


Sedangkan di tempat lain. Nara saat ini tengah sibuk mempersiapkan acara empat puluh hari anaknya yang diadakan besok malam. Ia tadi siang baru saja belanja banyak bahan makanan di pasar tradisional, yaitu di daerah tempat tinggalnya. Nara sedang memasukkan satu persatu barang tersebut ke dalam kulkas.


"Dik, aku kangen sama kamu," bisik Gavin seraya memeluk Nara dari belakang. Setelah beberapa hari tidak pulang ke rumah, karena masih marah dengan Nara atas kejadian waktu itu, hari ini Gavin sengaja akan tidur di rumah, karena ia sedang merindukan istrinya.


Sedangkan Nara yang sudah mati rasa dengan suaminya, begitu juga dengan rumah tangganya yang kini tidak tahu ke mana arah perahu mereka akan berlayar. Nara selama ini hanya bisa diam, tanpa mau repot mencari tahu, kenapa suaminya jarang pulang? Dan, ke mana saja dia? Nara tidak mau pusing memikirkan hal itu. Dan, saat ini, tiba-tiba saja Gavin ingin kembali meminta jatah padanya.


"Maaf, Mas. Aku sedang datang bulan," sahut Nara jujur. Namun, entah mengapa ada setitik rasa lega, karena tamu bulanannya datang di waktu yang tepat.


Gavin berdecak, lalu kemudian ia langsung pergi tanpa kata. Gavin sangat kesal, namun hari ini ia tidak bisa pergi lagi ke rumahnya Indah, sebab besok rumahnya akan ramai kedatangan ibu-ibu yang membantu Nara memasak, jadi ia harus kelihatan ada di rumah.


"Ahh ... sial! Kalau saja besok tidak ada acara empat puluh harian, saat ini aku bisa langsung ke rumahnya Indah lagi," batin Gavin.


Sedangkan Nara, ia tidak memperdulikan kepergian Gavin, ia masih asyik menata sayuran dan lauk di dalam kulkas.


Nara bersikap seperti ini, bukan tanpa alasan, sebab ia masih ingat dengan foto yang diperlihatkan Kevin kepadanya waktu itu. Namun, Nara tidak ingin memperpanjang masalah itu dulu, sebab hatinya masih sangat terluka setelah kepergiannya Naura, dan untuk saat ini, ia tidak ingin terluka lebih dalam lagi, dengan mengetahui kenyataan bahwa kemungkinan besar suaminya telah berselingkuh.


Nara sengaja diam dan tidak mencari bukti, karena ia yakin, bahwa Tuhan akan memberikan bukti-bukti itu, tanpa ia harus repot mencari tahu. Dan, Nara juga yakin, kalau Tuhan akan selalu memberikan apa yang terbaik untuknya.

__ADS_1


Meski saat ini sudah tidak ada keharmonisan rumah tangga lagi dalam hubungan mereka. Namun, Nara masih melayani Gavin dengan baik dalam hal lainnya. Begitu juga dengan Gavin, meskipun ia jarang pulang, namun Gavin jarang memperlihatkan kekesalannya kepada Nara, lebih tepatnya ia sedang berpura-pura sabar, dan menunjukkan bahwa ia masih tetap mencintai Nara seperti dulu.


Setelah pekerjaan Nara selesai, Nara baru bisa memegang ponselnya kembali, dan kemudian beberapa notifikasi langsung masuk ke dalam ponselnya, yang datang dari beberapa aplikasi yang berbeda.


Hal pertama yang Nara buka adalah aplikasi F, karena ada orang yang mengiriminya pesan, dan sepertinya Nara tahu siapa orang tersebut. Dan, ternyata sesuai dugaannya, Kevin kembali menghubunginya dan mengirimkan pesan lewat akun baru lagi.


Di dalam pesan tersebut, Kevin meminta maaf kepada Nara, atas kejadian di pasar waktu itu, lalu ia juga mengucapkan belasungkawa, atas meninggalnya Naura.


Nara sebenarnya malas menanggapi Kevin. Namun, ia masih menghargai ketulusan Kevin. Jadi, Nara hanya membalasnya dengan kata 'iya dan terima kasih'.


Lalu kemudian, Nara membuka aplikasi WA, ada beberapa pesan dari para pelanggannya, yang mempertanyakan laundry akan tutup berapa hari? Dan juga, dari Imel, yang menanyakan kapan Nara akan menginap di rumahnya?


Sebab, Nara memang mempunyai rencana akan menginap di rumahnya Imel, setelah acara empat puluh harinya Naura. Niat Nara hanya ingin mengurangi sedikit beban yang dipikulnya beberapa waktu ini. Lebih tepatnya Nara memang akan refreshing, dengan cara menginap beberapa hari di rumah teman baiknya itu.


Nara membalas pesan ke pelanggan, bahwa ia belum bisa menentukan laundry akan buka hari apa, sebab Nara harus bisa memastikan dulu, bahwa kondisi psikis nya memang membaik setelah ia menginap di rumahnya Imel.


[Kemungkinan lusa, karena aku belum meminta izin sama Mas Gavin. Dan, semoga saja nanti Mas Gavin ngizinin aku buat menginap di rumahmu.] Balas Nara di pesannya Imel


[Ok, aku tunggu ya ....]


Setelah itu, Nara berniat membuka pesan dari nomor yang tidak dikenalnya, dan sepertinya itu sebuah foto.


Namun, ketika Nara hendak membukanya, tiba-tiba saja tertera tulisan 'pesan ini telah dihapus'.


Nara sontak mendengus. "Pasti ini kerjaannya orang iseng aja," gumam Nara yang kemudian meletakkan ponselnya kembali ke atas nakas, sebab Nara saat ini akan meminta izin kepada suaminya, untuk menginap di rumahnya Imel, esok lusa.


Sedangkan Gavin, saat ini ia sedang duduk di teras, dengan ditemani secangkir kopi sebagai penghilang rasa kesalnya.

__ADS_1


"Mas," panggil Nara pelan.


Gavin menoleh, buru-buru ia tersenyum dan menyembunyikan raut wajah kesalnya. "Iya, ada apa?"


"Mas, aku mau minta izin sama kamu," ujar Nara seraya duduk di samping Gavin. "Boleh nggak, kalau besok lusa, aku menginap di rumahnya Imel?" Lanjut Nara penuh harap.


Gavin yang mendengar ini, ia sontak merasa senang. Namun, ia harus menutupi perasaan senangnya itu.


"Apakah, Imel teman kamu yang waktu itu?" tanya Gavin yang seolah-olah sedang mencoba mengingat teman Nara, yang pernah datang takziah ke rumah ini.


"Iya, yang rumahnya di Wonosari itu."


"Memangnya kenapa kamu ingin menginap di sana?" tanya Gavin berbasa-basi, padahal Gavin justru malah senang, karena Nara akan pergi, sebab ia bisa lebih leluasa menghabiskan waktunya bersama Indah.


Nara kemudian mengatakan semuanya, bahwa ia butuh menenangkan diri setelah kepergiannya Naura, dan mungkin saja dengan ia curhat langsung dengan teman baiknya itu, Nara bisa mengurangi sedikit beban kesedihannya.


"Baiklah, Mas izinkan kamu menginap di rumah temanmu," sahut Gavin seraya tersenyum. "Dan, maaf. Karena di saat seperti ini, Mas malah nggak bisa ngeluangin banyak waktu buatmu, sebab semakin hari pekerjaan Mas semakin banyak." Lanjut Gavin dengan raut wajah yang menunjukkan penyesalan.


"Nggak apa-apa Mas. Mas kan sibuk kerja," sahut Nara seraya tersenyum tipis. Lalu kemudian mereka berdua melanjutkan obrolan dengan hangat di sore yang indah itu.


Sedangkan di tempat lain, Arvin sedang frustasi sendiri, karena ia tadi langsung menghapus foto yang ia kirimkan kepada Nara, di saat Nara sedang online. Arvin menghapusnya karena ia masih ragu dengan apa yang telah dilakukannya.


"Untuk sementara jangan dulu lah, takutnya ini bukanlah bukti yang kuat, nanti bisa-bisa aku dikira nyebar fitnah lagi," gumam Arvin.


Sedangkan di tempat yang berbeda dari desa mereka, seseorang sedang merasa senang ketika mendapatkan balasan pesan dari Nara.


"Yes! Nara mau membalas pesanku, berarti itu artinya, aku masih ada harapan untuk kembali mendekatinya lagi," gumam Kevin yang sedang senyum-senyum sendiri di dalam kamar.

__ADS_1


Meski sudah terjadi sesuatu di antara dirinya dan Diana, Kevin masih berharap, bahwa cintanya dengan Nara akan dipersatukan oleh Tuhan.


"Aku masih sangat mencintaimu, Nara," gumam Kevin seraya tersenyum senang.


__ADS_2