
Waktu terus berjalan, tidak terasa Nara sudah menamatkan dua judul bukunya. Sedangkan untuk usaha laundry nya, semua tetap lancar seperti biasanya, bahkan Nara juga sudah memiliki rencana untuk menyewa sebuah ruko di pinggir jalan raya.
Sebenarnya Imel merasa keberatan saat Nara mengatakan akan pindah dari rumahnya, sebab Nara akan tinggal di ruko tersebut, setelah ia berhasil menyewanya. Namun, karena ini semua demi perkembangan usaha temannya, Imel pun terpaksa mengiyakan keinginan Nara.
"Assalamualaikum ...."
"Waalaikumsalam ... eh, bagaimana hasilnya?" tanya Imel seraya menyeret Nara untuk duduk di kursi.
"Alhamdulillah selesai. Dan, Minggu depan aku sudah bisa pindah," sahut Nara yang merasa senang.
"Yahh, sebentar lagi aku akan kesepian dong," ujar Imel seraya memanyunkan bibirnya.
Nara tersenyum, lalu kemudian ia segera memeluk Imel. "Jangan khawatir, aku pasti akan sering mengunjungimu."
"Tentu, kamu memang harus sering mengunjungiku." Lalu kemudian mereka berdua tertawa bersama.
Nara juga tidak lupa untuk mengucapkan terima kasih, sebab selama ini Imel sudah memberikan tumpangan gratis untuknya, Nara hanya diperbolehkan membantu membayar biaya listrik, dan soal makanan, mereka berdua mengeluarkan uang belanja secara bergantian.
Sedangkan untuk masalah mengirim uang untuk keluarganya, Imel dan Bunga memberitahu Nara, agar Nara mengirimkan uang sekedarnya saja. Toh, lagi pula keluarganya Nara juga tidak pernah mempedulikan keadaannya. Mereka hanya akan menghubungi Nara, jika Nara terlambat mengirimkan uang.
__ADS_1
Orang tuanya Nara juga tidak pernah bertanya, Nara mendapatkan uang itu dari mana? Atau bekerja sebagai apa?
Jangankan itu, bahkan hanya untuk sekedar menanyakan bagaimana kabar Nara saja, kata-kata itu tidak pernah keluar dari mulut kedua orang tuanya Nara. Yang mereka pedulikan hanyalah uang, uang, dan uang saja.
Hingga sampai saat ini, Nara akhirnya sudah bisa menyewa sebuah ruko dengan dua lantai. Memang tidak besar, namun ruko ini sangat cocok dengan bisnisnya Nara, sebab di tempatnya yang baru ini juga memiliki halaman belakang yang cukup luas, hingga bisa dipergunakan Nara untuk menjemur cucian laundry nya.
Nara juga sedikit merenovasi bagian belakang rukonya, ia menambahkan tempat agar bisa digunakan untuk mencuci karpet dan yang lainnya.
Lalu kemudian rencananya, Nara pelan-pelan akan mencari karyawan untuk membantunya menjalankan usaha laundry nya tersebut.
Di saat sedang memikirkan usaha laundry nya, Imel tiba-tiba saja menowel bahunya.
"Iya, aku sudah mikirin itu sejak kemarin. Tapi, aku takut nantinya ditolak, kan katanya seleksinya di editor lumayan ketat."
"Halah, coba saja dulu. Lagian kamu mana tahu kalau tidak mencobanya? Toh, nanti editornya kan juga akan kasih tahu alasannya, misalkan naskahmu nanti ditolak. Jadi, hitung-hitung buat pengalaman aja dulu."
"Baiklah, kalau begitu aku akan coba kirimkan naskah yang ini saja dulu." Nara menunjukkan novel pertamanya. Lalu kemudian ia mulai mendownload platform yang akan ia titipkan novelnya tersebut.
Karena di SN tidak ada kontrak, Nara pun bisa membawa novel tersebut, untuk diterbitkan ke platform yang lainnya.
__ADS_1
Nara mengetahui hal ini dari para penulis yang berada di grup, yang diikutinya.
Nara yang awalnya tidak tahu jika menulis novel online itu bisa mendapatkan penghasilan, karena yang Nara ketahui adalah, hanya jika novelnya sudah terbit cetak, ia baru bisa mendapatkan penghasilan. Kini ia pun mau mencoba mencari peruntungan lewat platform-platform berbayar tersebut.
Namun, untuk sementara ini Nara hanya bisa mempublikasikan bukunya di platform yang sekaligus bisa menulis lewat aplikasi, sebab ia belum mengerti cara mengunggah novel yang dari platformnya hanya menyediakan lewat website saja.
Selama ini Nara berpikir, jika ia harus mengunggah lewat website, itu berarti ia harus memiliki laptop. Jadi, karena Nara tidak memiliki laptop, ia hanya bisa mengandalkan platform yang bisa menulis lewat aplikasinya langsung.
Padahal, apa sebabnya benda yang dipegangnya itu dijuluki sebagai ponsel pintar, jika benda tersebut tidak bisa memberikan akses yang sebenarnya sangat dibutuhkan Nara.
Namun, ini semua memang kesalahannya Nara yang tidak mau bertanya, lebih tepatnya Nara merasa sungkan jika harus bertanya ke temannya Imel. Sedangkan ke Arvin, kalian tahu sendiri bukan, Arvin itu orangnya seperti apa?
Bisa-bisa nanti Arvin akan mengatakan, 'kamu nanya?'
Ingat! Dia kan orang yang paling menyebalkan di dunia ini. Menurut Nara, lho ya!
"Akhirnya selesai," ujar Nara yang merasa puas, Nara langsung meng-upload beberapa bab langsung yang menjadi syarat untuk pengajuan kontrak di platform tersebut. Dan, totalnya ada sepuluh bab.
Nara sejenak memperhatikan rentetan bab yang baru saja diunggahnya. Tidak peduli apapun hasilnya nanti, yang penting ia sudah berusaha, dan tak mungkin, hasil akan mengkhianati usaha. Pikir Nara.
__ADS_1