TERIMA KASIH, MANTAN!

TERIMA KASIH, MANTAN!
9. Bukan Perpisahan Termanis


__ADS_3

Hanya berselang beberapa detik dari rasa terkejutnya, setelah tersadar, Nara buru-buru langsung mendorong dada Kevin.


Kevin yang awalnya sedang menikmati bibir Nara, wajahnya langsung muram ketika ia didorong oleh Nara.


Plaakk...


Satu tamparan langsung mendarat di pipi Kevin, Nara sangat marah dengan apa yang sudah dilakukan Kevin terhadapnya. Nara tidak menyangka, bahwa Kevin berani menciumnya ketika hubungan mereka sudah berakhir.


"Nara ...." Kevin belum selesai berbicara, namun Nara langsung memotongnya.


"Kevin, aku kira kita bisa pisah secara baik-baik. Tapi, dengan apa yang sudah kamu lakukan barusan, aku jadi tidak ingin menemuimu lagi, bahkan sampai kapan pun itu!" Jelas Nara.


Setelah mengatakan itu, Nara langsung berlari pergi, ia tidak memberi Kevin kesempatan untuk melakukan pembelaan sama sekali. Sedangkan Kevin yang panik melihat Nara marah padanya, namun sayangnya ia sudah terlambat, karena Nara sudah mulai berjalan di lorong yang ramai pengunjung, dan saat ini Kevin tidak akan mungkin bisa mengejar Nara.


Tidak ada yang bisa dilakukan Kevin, ia hanya bisa pulang dengan tangan kosong. Bahkan lebih parah dari itu, sebab Kevin malah mendapat tamparan dari Nara.


Sedangkan Nara yang masih teringat dengan ciuman tadi, hatinya menjadi kacau, di antara senang dan sedih, Nara tidak tahu mana yang lebih mendominasi hatinya. Nara senang karena Kevin masih mencintainya, tapi Nara juga takut, jika itu ternyata hanya sekedar untuk mencuri kesempatan saja. Kevin sedang mencuri kesempatan karena Nara terlihat luluh, itulah yang ada dipikirkan Nara saat ini.


"Ciiee ... Yang baru ketemuan sama mantan, nglamun terus ...." Entah apa maksud perkataan Bunga, yang jelas itu sebuah sindiran.


"Sudah ah, jangan bahas itu. Yuk, makan siang sekarang, aku laper." Tanpa membiarkan Bunga banyak bicara lagi, Nara langsung menyeret tangan Bunga untuk mencari tempat makan.


Bunga yang sedari tadi menunggu Nara selesai ketemuan dengan Kevin, ia tentu masih penasaran, sebab Bunga menunggu di tempat yang lumayan jauh, ia tentu tidak bisa melihat mereka, apalagi mendengar pembicaraan mereka.


"Eh tunggu dulu, seharusnya kamu cerita dulu. Apakah tadi terjadi sebuah adegan perpisahan termanis?" goda Bunga.


Perpisahan termanis?

__ADS_1


Tiba-tiba saja Nara jadi memikirkan kata-kata itu. Apakah setelah dicium, lalu kemudian langsung membalasnya dengan sebuah tamparan, dan mengatakan tidak ingin bertemu lagi, adalah sebuah perpisahan termanis?


Justru sebaliknya, ini mungkin menjadi perpisahan terburuk bagi Kevin. Namun, Nara tidak ingin menceritakan kejadian tadi ke Bunga, sebab nantinya Bunga malah akan mengatainya bodoh karena sudah membiarkan Kevin menciumnya, jadi diam adalah pilihan terbaik.


"Apanya yang adegan perpisahan termanis? Jangan mikir yang aneh-aneh! Pokoknya yang penting tadi intinya dia ngajak balikan, tapi aku menolaknya, sudah hanya itu saja," sahut Nara yang sepenuhnya tidak berbohong.


Mendengar itu, Bunga langsung mengacungkan kedua jempolnya. Kalau begitu baguslah, karena temannya bisa memegang teguh prinsipnya untuk tidak menerima Kevin lagi, lebih tepatnya di saat ini.


Sedangkan di sisi lain. Alvin masih berada di parkiran, ia baru saja menghubungi Arvin, dan menceritakan semua kejadian yang dilihatnya tadi. Dan, Arvin tentu saja langsung menghibur Alvin, Arvin juga tidak lupa mengumpati Nara karena sudah dianggap memberikan harapan palsu kepada Alvin.


Alvin hanya tersenyum saja mendengar sumpah serapah temannya itu, Alvin yang tahu jika Arvin sedang menghiburnya, ia tentu langsung mengucapkan kata terima kasih. Ia beruntung memiliki teman baik seperti Arvin.


Setelah merasa sesak di dadanya sudah mulai berkurang, Alvin pun langsung melajukan motornya membelah jalanan. Namun, bayangan Nara yang sedang berciuman tadi tetap menghantuinya.


Alvin tidak pernah menyangka jika perasaannya kepada Nara cukuplah dalam, padahal mereka hanya bertemu beberapa kali. Namun, seperti itulah cinta, kita tidak pernah tahu kapan dia datang dan juga pergi.


Karena kurang fokus menyetir, Alvin yang melajukan motornya cukup kencang, ia terkejut ketika tiba-tiba ada remaja yang menyebrang dan melintas di hadapannya. Karena tidak mau menabrak orang tersebut, maka Alvin pun langsung mengarahkan motornya ke jalur lain.


Arvin terpental cukup jauh dari kendaraannya sendiri, ia langsung menghembuskan napas terakhirnya ketika tubuhnya mendarat di aspal.


Orang-orang pun langsung berlarian, berniat untuk menolongnya. Namun, nyawa Alvin benar-benar tidak bisa tertolong lagi, pihak Satlantas pun juga langsung tiba, dan kemudian jasad Alvin langsung dibawa ke rumah sakit terdekat.


Sedangkan di tempat lain, Arvin yang hendak minum, tanpa sengaja ia menjatuhkan gelas yang dipegangnya.


Pyaarr ....


"Sialan! Apa lagi ini? Kerjaan belum beres, sudah ditambahi kerjaan lain lagi," gerutu Arvin kesal, namun ia juga langsung mengambil sapu untuk membersihkan pecahan gelas tersebut.

__ADS_1


Hari ini Arvin benar-benar tidak bisa mengantar Alvin, bukan karena ia malu jika nantinya Alvin sampai ditolak di hadapan banyak orang, namun Arvin benar-benar tidak bisa pergi karena ia harus menyelesaikan pekerjaannya, hari ini juga.


Arvin adalah seorang penulis novel fiksi, lebih tepatnya ini sebenarnya adalah pekerjaan sampingannya, namun ia malah lebih memprioritaskan dirinya sebagai seorang penulis ketimbang pekerjaan aslinya.


Arvin memang hobi menulis, dan ia suka menulis novel bergenre fantasi timur. Dan, hari ini editornya juga sudah menerornya untuk menyuruhnya agar menyelesaikan naskahnya hari ini juga, sebab sudah banyak pembaca yang sudah menanti kelanjutan novelnya. Karena tidak bisa mengelak lagi dari tugasnya, maka Arvin pun bertekad menyelesaikan naskahnya yang tinggal tiga bab lagi. Namun, sekarang ada gelas pecah yang merusak moodnya.


Tepat setelah Arvin membuang pecahan gelas tersebut ke dalam tempat sampah, tiba-tiba saja terdengar nada dering dari ponselnya.


"Brengsek! Ini pasti Editor cerewet itu lagi, awas saja kalau aku ketemu dengannya, akan kusumpal mulut cerewetnya itu!"


Sebenarnya Arvin pun heran dengan editornya sendiri, padahal dia seorang laki-laki, namun sangat cerewet seperti perempuan. Maka dari itu, Arvin pun juga tidak pernah segan dengannya, apalagi setelah ia mengerti bahwa mereka seumuran.


Namun, Arvin langsung mengerutkan keningnya ketika melihat Alvin yang menghubunginya lagi.


"Kenapa lagi si Alvin? Bukannya tadi ngomong akan langsung pulang, tapi kenapa malah nelvon lagi?"


Karena penasaran, Arvin pun langsung mengangkat telepon tersebut. Namun, seperti ada kilat yang menyambar tepat di atas kepala Arvin, saat ia menerima panggilan telepon tersebut.


Arvin yang merasa lemas, ia langsung terduduk di atas ranjangnya. Arvin tidak menyangka bahwa ia akan mendapatkan kabar buruk seperti ini.


Tanpa berpikir panjang, Arvin pun langsung melajukan motornya menuju rumah sakit yang sudah diarahkan seorang polisi yang meminjam ponselnya Alvin.


Hari ini, Arvin pun terus menemani Alvin hingga ke tempat peristirahatan terakhirnya, Alvin dimakamkan di TPU yang tidak jauh dari rumahnya Alvin, dan saat ini Arvin sedang menatap batu nisan yang tertulis nama teman baiknya tersebut.


"Aku nggak nyangka kita akan berpisah dengan cara seperti ini, Vin," gumam Arvin seraya tersenyum pahit.


"Aku ingat, dulu kamu pernah mengatakan, bahwa kita akan kembali ke keluarga masing-masing, setelah kita menemukan jodoh masing-masing. Tapi, kamu belum sampai menemukan jodohmu, kamu sudah kembali duluan. Namun, mungkin saja ini memang jalan yang terbaik untukmu, Tuhan lebih menyayangimu, daripada kamu harus disakiti wanita seperti itu. Baiklah, kalau begitu semoga kamu lebih tenang di tempatmu yang baru. Namun, ingatlah! Bagiku ini bukanlah perpisahan termanis."

__ADS_1


Ada setetes air mata yang jatuh setelah Arvin mengucapkan kalimat terakhirnya, lalu kemudian Arvin berjalan meninggalkan makam Alvin di tengah gelapnya malam.


Malam ini memanglah bukan malam perpisahan termanis untuk Arvin dan Alvin.


__ADS_2