
Cafe Pelangi sudah berada di depan mata, di dalam sana sudah terlihat banyak sekali pengunjung yang sudah menempati kursi masing-masing, bahkan jika dilihat dari tempatnya Nara dan Arvin berdiri, mereka berdua sudah tidak mendapatkan tempat duduk lagi.
"Wah, kayaknya tempatnya sudah full. Kalau begitu aku pulang saja," gumam Nara seraya melihat jam di tangannya. Sudah menunjukkan tepat pukul delapan, itu artinya acara pun sudah dimulai.
Nara hendak berbalik, namun Arvin langsung mencekal tangannya.
"Kamu mau ke mana? Ayo, cepat masuk! Sebentar lagi acaranya akan dimulai." Menarik tangan Nara, yang langsung diikuti Nara dengan langkah yang terseok-seok sebab langkah kaki Arvin yang lebih lebar darinya.
"E-eh, tapi ...."
Tidak membutuhkan waktu yang lama, mereka berdua sudah sampai di depan staf yang bertugas menerima tamu. Ketiga orang itu menganggukkan kepalanya sopan, lalu tanpa memeriksa identitas Arvin dan Nara, mereka berdua langsung dipersilahkan masuk. Sebuah perlakuan yang sangat berbeda dengan pengunjung yang lainnya.
"Memangnya masih ada kursi yang kosong ya?" bisik Nara di samping Arvin. Nara juga tersenyum canggung, sebab mereka berdua tengah diperhatikan oleh peserta seminar yang lain.
Arvin tidak menjawab, ia tetap menarik tangan Nara hingga ke barisan kursi yang paling depan.
Di setiap meja terdapat empat kursi yang disediakan untuk pengunjung, dan Arvin memilih duduk di meja yang masih terdapat dua kursi kosong. Lebih tepatnya Arvin dan Nara satu meja dengan Rio dan Imel.
"Hei, kalian di sini juga?" tanya Nara yang terkejut dengan keberadaan Imel dan Rio.
"Iya, aku diajak dia," sahut Imel seraya menunjuk Rio. Tadi awalnya dia malas ikut pergi ke tempat ini, sebab dirinya bukanlah seorang penulis. Namun, setelah melihat Nara juga ada di sini, Imel kira ini tidaklah buruk.
Nara hanya menjawab oh, lalu kemudian mereka mulai fokus menyimak acara yang baru saja dimulai.
Dua jam kemudian acara telah berakhir. Beberapa pengunjung ada yang langsung pergi, sedangkan yang lain ada yang tetap tinggal, mereka melanjutkan obrolan mereka seraya memesan menu yang baru. Termasuk Nara, Rio dan Imel.
Sedangkan Arvin, ia langsung pamit pergi entah ke mana setelah mendapatkan telepon dari seseorang.
__ADS_1
"Enak ya kalau ada acara seperti ini, udah dapet ilmu, camilan, minuman, dan gratis lagi."
"Hei, mana ada gratis. Aku bayar tujuh puluh lima ribu untuk dua orang tau!" sahut Rio.
"Hah, benarkah? Lalu aku tadi kok--"
Imel yang seperti mengerti situasinya, ia segera memotong perkataan Nara. Imel mengira bahwa Arvin diam-diam sudah membayar tiket untuk Nara.
"Eh, ngomong-ngomong kalian berdua beneran lagi 'pdkt' ya? Kok, datang ke sini bisa barengan sih?" tanya Imel yang penasaran.
"Nggak! siapa yang 'pdkt' sama dia, ini cuma kebetulan aja kok. Tadi motorku mogok, lalu tidak sengaja ketemu dia, dan kemudian dia nawarin tumpangan. Tapi, sialnya motornya dia kehabisan bensin, jadilah kita jalan kaki ke sini."
"Kenapa jalan kaki? Apakah kalian tidak bawa uang untuk beli bensin?"
"Ya bawa, tapi nggak ada pom terdekat. Jadi motornya dia dititipin ke rumah temannya. Tck, tuh orang memang gayanya aja pakai motor keren, tapi dompetnya pasti kering."
Rio dulu yang melihat raut kagum wajah kekasihnya ketika menceritakan motornya Arvin, ia pun jadi penasaran, dan berpikir bahwa ia bisa membelinya dengan cara menabung. Yaitu demi bisa membuat Imel senang.
"Apa ya? Pokoknya tadi aku lihat ada tulisan Kawasaki-Kawasaki nya gitu ...." sahut Nara sekenanya, sebab ia tidak tahu sama sekali dengan dunia otomotif.
Sedangkan Rio yang sangat kepo, jari-jarinya sontak mengetikkan sesuatu di mesin pencarian. Lalu kemudian ia menunjukkan gambar-gambar motor Kawasaki di hadapan Nara. "Coba kamu lihat, motor yang mana yang seperti miliknya Pak Bos."
Sejenak Nara memperhatikan foto-foto tersebut, lalu tanpa ragu ia menunjuk salah satu gambar motor yang sama persis dengan miliknya Arvin.
"Apa?! Inikan Kawasaki H2 Carbon. Kamu nggak salah milih?"
"Nggak, memang tadi motornya sama persis seperti itu."
__ADS_1
"Astaga! Kalau beneran ini, dompet Pak Bos tidak mungkin pernah kering lah, justru berarti kita punya editor sultan."
"Hah! Editor sultan?" Nara sontak tertawa mendengar perkataan Rio. Namun, di saat Rio menunjukkan berapa harga motor itu, Nara menjadi terkejut bukan main.
"Ya Allah, ini beneran? Kenapa motor seperti ini harganya bisa semahal itu?" gumam Nara heran, pantas saja tadi Arvin terlihat kesal ketika ia mengatainya miskin. Lha wong harga motornya....
Belum selesai mereka bergosip, orang yang dibicarakan datang.
"Hei, kamu nggak pulang?" tanya Arvin kepada Nara. "Motorku sudah ada di depan. Kalau mau pulang, ayo aku antar." Arvin berniat memberikan tumpangan lagi kepada Nara, sebab motornya juga sudah diantarkan temannya ke cafe tersebut.
Nara yang masih syok setelah melihat harga motornya Arvin, ia jadi gugup sendiri. "Aaa nggak usah deh, kamu duluan saja. Aku bisa cari ojek," sahut Nara seraya menggoyangkan tangannya menolak tawaran Arvin.
Arvin tersenyum sinis. "Oh ... Jangan-jangan kamu nggak mau pulang bareng aku, karena kamu ingin digoda cowok seperti tadi ya?"
Mendengar perkataan Arvin, Nara sontak membelalakkan matanya. "E ... Sembarangan! Memangnya siapa yang mau digoda, aku cuman --" Belum selesai Nara berbicara, Arvin sudah menarik tangan Nara dan berpamitan kepada Rio dan juga Imel.
Sedangkan Rio dan Imel hanya menganggukkan kepalanya kikuk. Mereka berdua keheranan melihat sikap Arvin saat ini kepada Nara.
"Sepertinya hubungan temanmu dan pelanggan menyebalkannya itu, benar-benar memiliki kemajuan," komentar Rio.
"Iya, dan semoga saja mereka beneran jodoh," sahut Imel yang juga langsung mengaminkan hal tersebut.
Sedangkan di sisi lain, Nara terlihat semakin ragu ketika akan naik kembali ke motornya Arvin. Bahkan tangannya juga sedikit bergetar dan mengeluarkan keringat dingin.
"Aduh, motor. Kamu jangan sampai ada yang lecet ya setelah aku naikin, sebab nanti bisa-bisa aku disuruh mencuci pakaian dalam pemilikmu hingga seumur hidup. Kan nggak lucu," batin Nara yang ingin menangis jika hal itu sampai terjadi.
Sedangkan Arvin yang melihat Nara tidak segera naik, dan bahkan hanya sekedar melihat motornya saja, ia jadi tersenyum sendiri. "Sepertinya hatimu jadi tersentuh, hanya karena aku memberi tumpangan. Sampai-sampai kamu jadi terlihat segugup ini," batin Arvin yang mengira bahwa Nara telah terbawa perasaan sebab kebersamaan mereka hari ini.
__ADS_1