TERIMA KASIH, MANTAN!

TERIMA KASIH, MANTAN!
16. Bertemu Dengan Bunga dan Imel


__ADS_3

Satu bulan kemudian...


Hidup satu rumah dengan mertua yang tidak menyukainya, bukanlah hal mudah untuk Nara, meskipun Nara sudah mencoba berbagai cara untuk mengambil hati ibu mertuanya. Namun, Marni tetap tidak menyukai Nara.


Sedangkan Gavin pun juga tidak tahu harus berbuat apa, baginya yang terpenting ibunya dan istrinya setiap hari tidak bertengkar saja sudah cukup, Gavin sudah bisa hidup dengan tenang untuk tetap tinggal di rumah orang tuanya.


Namun, sampai kapankah Nara bisa bertahan hidup bersama keluarganya Gavin? Sedangkan hanya untuk membeli semangkuk bakso saja, Nara harus pergi secara diam-diam, agar tidak dikatai istri yang boros oleh mertuanya.


Seperti saat ini, ini sudah ke dua kalinya, Nara membeli bakso di daerah Pasar Wage, tanpa sepengetahuan Marni. Namun, Nara sudah mendapatkan izin dari suaminya.


"Nara?"


Nara yang tengah asyik menyantap bakso sendirian, ia terkejut ketika seorang gadis memanggilnya seraya menepuk bahunya.


"Eh, Bunga. Tidak nyangka kita akan bertemu di sini." Nara sontak berdiri setelah melihat orang yang menyapanya adalah Bunga, lalu kedua orang itu pun langsung berpelukan.


"Nara, aku kangen banget sama kamu," ujar bunga seraya mengeratkan pelukannya.


"Sama, aku juga kangen banget sama kamu. Ayo, duduk. Kita makan bersama." Bunga pun langsung duduk di hadapan Nara.


"Nara, kamu kok jadi makin kurus sih? Jangan-jangan suamimu nggak pernah kasih makan ya?" tuduh Bunga yang curiga suaminya Nara orang yang pelit.

__ADS_1


"Heh, enak aja! Suamiku baik tau, cuma ibunya saja yang sedikit perhitungan denganku," sahut Nara tanpa ingin menutupi keadaannya yang sesungguhnya.


Selama ini Nara terus berjuang sendirian untuk bersabar menghadapi sikap mertuanya, tanpa ada orang yang bisa diajak cerita tentang mertuanya, begitu pun dengan Gavin. Mana mungkin Nara menceritakan keburukan mertuanya kepada Gavin, yang notabenenya adalah anaknya sendiri.


Meskipun Gavin tahu sendiri bagaimana perlakuan ibunya kepada Nara, namun Gavin juga akan tetap membela ibunya, dan ujung-ujungnya Nara hanya akan disuruh bersabar. Itulah yang selalu terjadi jika Nara bercerita kepada Gavin, bukannya bisa memberi sedikit ketenangan, namun Nara malah dinilai kurang 'legowo', maka dari itu Nara jadi malas bercerita dengan Gavin. Dan, mumpung saat ini ada Bunga di hadapannya, maka Nara akan membagi keluh kesahnya selama ia menjalani pernikahannya ini.


"Sebenarnya sudah nggak kaget sih, mertua dan menantu tidak bisa akur. Tapi, bagaimana dengan pengalamanmu? Dan, kenapa kamu juga tidak pernah membahas ini di WA?"


Nara memang tidak pernah bercerita kepada Bunga ketika mereka berdua sedang chattingan. Nara hanya tidak ingin mengambil risiko, pas dia lupa menghapus pesan, dan akhirnya pesan itu dibaca suaminya. Nara hanya mencegah adanya pertengkaran akibat 'curhat'.


Namun, sebelum Nara menceritakan semua kisahnya kepada Bunga, ada seorang gadis lain lagi yang menyapa Nara, dan gadis itu adalah Imel, teman baiknya Nara saat SMP.


Hari ini Nara seperti mendapat berkah, karena bisa bertemu dengan dua teman baiknya ini di satu tempat. Nara pun akhirnya memperkenalkan Bunga kepada Imel, begitu pun sebaliknya. Lalu setelah itu, Nara mulai menceritakan seluruh kisah rumah tangganya kepada kedua teman baiknya ini, bahkan tentang apa yang telah menjadi penyebab Nara mau menikah dengan Gavin, dengan pernikahan yang terbilang cukup mendadak.


"Gila! Sudah kuduga, kalian benar-benar melakukan 'itu' kan?" ujar Bunga yang menahan suaranya agar tidak terdengar orang lain.


Sedangkan Nara, hanya bisa tersenyum masam. Jika ditanya menyesal? Dia pasti akan menjawab menyesal, karena ia sudah berpacaran dan berdua-duaan di tempat yang berbahaya, dan akhirnya sekarang inilah yang terjadi dalam hidupnya.


"Tapi, menurutku ini ada unsur kesengajaan. Sepertinya suamimu ini memang sengaja menjebakmu," komentar Imel setelah ia mendengar semua cerita Nara dengan seksama, yaitu dimulai dengan sikap Gavin yang cukup bisa dicurigai, sebab Imel pun juga masih ingat, siapa Gavin sebenarnya.


"Eh, masa sih?" tanya Nara tidak percaya, namun mengingat Imel yang memiliki pengamatan yang bagus, Nara jadi mulai meragukan Gavin.

__ADS_1


"Nara, aku bingung mau ngomong apa sama kamu. Tapi, yang jelas, omongan cowok playboy kayak dia, seharusnya jangan kamu percaya. Ok, dia mungkin beneran jatuh cinta sama kamu, tapi ide liciknya itu loh, yang bikin aku gregetan."


"Bener itu apa kata Imel. Memang sih, seburuk-buruknya cowok, pasti ingin mencari istri yang baik, salihah. Dan, wajar saja jika sampai suamimu itu memilih jalan busuk ini," timpal Bunga yang juga ikut merasa kesal. Hanya demi mendapatkan wanita baik seperti Nara, Gavin dengan teganya melakukan hal buruk itu kepada Nara.


"Duh, kalau saja waktu itu kamu mau langsung cerita sama aku. Jika hanya takut hamil, aku bisa membantumu mencari obat untuk mencegah kehamilanmu, jadi kamu nggak perlu nikah sama suamimu. Lagi pula apa enaknya punya mertua jahat kayak mertuamu?" Lanjut Bunga.


"Ye ... mana ada aku punya pemikiran seperti itu, waktu itu yang ada dipikiran aku hanya takut, menyesal, dan malu. Jadi, mana berani aku cerita ke orang lain lagi. Lagi pula, aku juga sudah dinodai sama ,Mas Gavin. Memangnya masih ada cowok lain yang mau sama aku? Imel saja bilang, kalau seburuk-buruknya cowok pasti ingin mendapatkan istri yang baik. Lalu aku?" sahut Nara yang tiba-tiba ingin menangis.


Jika sampai dugaan Imel tentang Gavin benar, bahwa Nara sebenarnya dijebak oleh Gavin, berarti hidup Nara benar-benar sial. Nara jadi semakin menyesal mengetahui tentang hal ini, dan andaikan waktu bisa diputar kembali, Nara lebih memilih jomblo daripada berpacaran yang akhirnya membuat hidupnya menjadi seperti ini.


Sedangkan untuk masalah perasaan, sebenarnya sampai detik ini , Nara belum bisa mencintai Gavin, justru yang ada di hati Nara, hanya ada nama Kevin. Nara belum juga bisa move on dari Kevin. Nara setiap harinya masih mencintai dan merindukan Kevin.


Namun, nasi sudah menjadi bubur. Nara harus menerima takdirnya untuk menjadi istri Gavin, ia hanya harus mempertahankan komitmen, bahwa menikah hanya cukup satu kali dalam seumur hidup. Dan, mengenai perasaan, Nara sangat yakin, bahwa cinta akan datang sendirinya, yaitu sesuai dengan seiring berjalannya waktu.


"Lalu, jika sampai tebakanku benar, apa yang akan kamu lakukan?" tanya Imel yang merasa kasihan dengan nasib teman baiknya ini.


"Oh ya, apakah kamu akan memilih meminta cerai, dan kembali dengan Kevin? Soalnya yang pernah aku dengar dari pacarku yang baru, Kevin ternyata tidak menikah dengan sepupunya itu, dan katanya pacarku lagi, Kevin sebenarnya sampai detik ini pun masih mencintaimu," timpal Bunga.


"Apa!?" Nara sontak berteriak karena tidak bisa menahan rasa terkejutnya.


"Iya, pacarku yang baru ini kan temannya Kevin. Sebenarnya waktu itu aku sudah mau cerita ke kamu, tapi kamu kan selalu ngelarang aku buat bahas masalah Kevin atau hal yang bisa membuat suamimu marah. Ya jadinya, aku baru bisa cerita sekarang."

__ADS_1


Nara sudah tidak bisa lagi mendengar apa yang dikatakan Bunga. Di dalam otaknya, hanya ada kata-kata, bahwa Kevin tidak jadi menikah dengan Diana, dan bahkan sampai saat ini, Kevin juga masih mencintainya.


"Ya Allah ... Cobaan apa lagi ini, kenapa aku baru mendengar kenyataannya sekarang?" batin Nara yang semakin ingin menangis.


__ADS_2