TERIMA KASIH, MANTAN!

TERIMA KASIH, MANTAN!
TK,M! (end)


__ADS_3

Nara POV


Aku dan Ibu tertawa ketika melihat wajah panik Mas Arvin, ya suamiku memang seperti ini, dan dia juga pernah mengatakan bahwa dia akan selalu menjadi garda terdepan untuk melindungiku, baik dari orang lain ataupun keluarganya sendiri.


Jadi, sekarang aku rasa suamiku mengira Ibu sedang menyakitiku.


"Mas, kamu sudah bangun?" tanyaku seraya mengusap air mataku, lalu kemudian aku mendekat. Namun, tiba-tiba saja ia menarikku dan memelukku.


"Kamu nggak apa-apa, Sayang? Kenapa menangis? Apakah Ibu menyakitimu?"


Suara Mas Arvin terdengar begitu cemas, dan ia langsung menatap Ibu dengan penuh permusuhan, namun hanya sebatas itu saja, karena meskipun Mas Arvin marah, ia tidak berani memarahi Ibunya, apalagi membentaknya, dan hal itu juga sudah pernah ia jelaskan dulu.


"Lihat, Nara. Suamimu sangat takut kalau Ibu akan menyakitimu, padahal Ibu sangat menyayangimu," ujar Ibu seraya menggelengkan kepalanya dan tersenyum melihat kelakuan anaknya.


Sedangkan aku pun juga segera menjelaskan, "Iya, Mas. Ibu memang tidak menyakitiku, justru Ibu memberiku banyak hadiah hingga membuatku terharu."


Setelah mendengar penjelasan ku, Mas Arvin terlihat menghela napas lega, lalu kemudian ia mencium keningku.


"Yasudah, kalau begitu ayo, kita kembali ke kamar, bisa-bisanya kamu meninggalkanku di saat aku sedang tidur!" omelnya seraya menarik tanganku, dia bahkan tidak pamit pada Ibu.


Aku hanya bisa meringis, lalu kemudian menganggukkan kepala pada Ibu, sebagai isyarat aku naik ke atas dulu.


Ibu pun tersenyum dan juga mengangguk, Beliau juga terlihat bahagia melihat keharmonisan rumah tangga kami.


Sesampainya di kamar, sudah bisa ditebak, keinginan suamiku itu apa?


Iya, dia langsung membuka kausnya sendiri dan melemparkannya ke sembarang tempat.


"Mas, ini masih pagi."


"Memangnya kenapa? Kita kan memang harus olahraga pagi."


"Hehe ... Kamu ini, Mas. Memangnya ada ya, olahraga seperti ini. Olahraga kan seharusnya lari pagi, atau yang lainnya. Tapi, ini ...."


"Lha, ini kan sama saja, sama-sama berkeringat juga. Kamu nggak percaya? Baiklah, kalau begitu kita praktekkan sekarang."


"Apa?" Belum selesai aku berkata, Mas Arvin sudah menggendongku, lalu kemudian ia langsung mencium bibirku, dan tidak memberi jeda untuk aku bicara lagi.

__ADS_1


Dan akhirnya kamu melakukan itu, hingga membuat Mas Arvin sampai puas, dan akhirnya tertidur lagi karena kelelahan.


Sedangkan aku sudah tidak bisa tidur lagi, aku pun juga tidak bisa pergi ke mana-mana, sebab Mas Arvin tidak mau melepasku, dia tidur seraya memelukku dan membenamkan wajahnya ke dadaku, dan dia akan terbangun dan langsung mengomeliku, jika aku bergerak sedikit saja.


Akhirnya yang bisa aku lakukan hanya memandang wajah tampannya saja, serta mensyukuri segala nikmat yang diberikan Allah padaku. Sekarang aku bukan hanya bahagia mendapatkan suami sempurna seperti Mas Arvin, namun aku juga mendapat keluarga yang begitu menyayangiku.


Namun, tiba-tiba saja aku teringat kabar dari Bunga semalam. Dia mengatakan bahwa ibunya Gavin meninggal, setelah beliau menderita stroke cukup lama. Dan, Bunga juga cerita, kalau Gavin juga masuk penjara, sebab dia menggunakan obat-obatan terlarang. Lalu nasib adiknya juga tak kalah menyedihkan, sekarang dia lagi hamil, dan pacarnya tidak mau tanggung jawab.


Aku turut sedih ketika mendengar berita itu, walaupun mereka semua pernah menyakitiku, namun aku tidak akan mungkin tertawa melihat mereka terkena musibah bertubi-tubi seperti itu.


Sedangkan Kevin, kabar terakhir yang aku dengar, dia sekarang sedang mondok. Orang tuanya sengaja memasukkan dia ke pesantren agar Kevin bisa bertobat, dan sadar akan semua dosa-dosa yang sudah pernah dia lakukan, termasuk kepada Diana.


Mengingat Diana, aku juga prihatin dengan kehidupannya sekarang. Sebab mental Diana benar-benar tidak bisa terselamatkan lagi, bahkan aku juga pernah mendengar bahwa dia sudah kabur dari rumah sakit jiwa.


Kedua orang tuanya sudah pernah mencarinya, namun tetap saja tidak ketemu, jadi sekarang dia juga menjadi gelandangan.


Mungkinkah ini karma untuk mereka? Aku tidak berani berpikir seperti itu, sebab Allah memang memiliki cara sendiri untuk menguji hamba-hamba Nya.


Sekarang yang harus aku pikirkan hanyalah bersyukur, bersyukur, dan terus bersyukur atas semua nikmat yang diberikan Allah padaku.


***


Alhamdulillah ... hal yang tak kalah membahagiakan adalah aku sudah pernah merasakan, bagaimana nikmatnya mengandung, dan sekarang aku sudah bisa melihat wajah anakku.


Iya, lima hari yang lalu aku melahirkan seorang bayi yang tampan, dan juga sehat.


Reyhan Wijaya Kusuma, adalah nama anak pertama kami, dan Mas Arvin lah yang memberi nama itu.


"Assalamualaikum ... Wah, keponakan Tante sudah bangun?"


Aku dan keluargaku kompak menoleh ke arah pintu kamar, setelah mendengar kehebohan suara Bunga. Iya, Bunga datang bersama Rendi, suaminya.


Mereka berdua sudah menikah satu bulan yang lalu, dan akhirnya mantan 'bad girl' itu telah memutuskan menikah dengan Rendi, yaitu sahabatnya Kevin. Dan, dari masalahku dan Kevin lah yang akhirnya menyadarkan Bunga, bahwa Rendi benar-benar orang yang tulus dan mencintai dia apa adanya.


"Wa'alaikumsalam ...." sahut kami kompak.


Lalu tidak lama kemudian, suara Imel dan Rio menyusul.

__ADS_1


"Maaf ya, aku tidak bisa hadir di pernikahan kalian," ujar ku pada Bunga dan yang lainnya, sebab Imel dan Rio juga sudah menikah dari dua bulan yang lalu.


"Tidak apa-apa, kami juga memaklumi. Lagi pula kami juga akan marah kalau kamu pergi ke Blitar, sebab kasian Reyhan ya, kalau harus jalan-jalan jauh ke sana," sahut Imel seraya menggendong Reyhan.


Aku memang tidak bisa datang ke pernikahan mereka, sebab Mas Arvin melarangku datang ke sana, karena kehamilanku. Begitu juga dengan Ibu dan Ayah, mereka juga khawatir jika terjadi apa-apa di saat perjalanan, sebab usia kandunganku yang sudah memasuki trimester ketiga.


Lalu kemudian kami semua mengobrol dengan hangat di sore hari ini, dan sesekali tertawa ketika melihat tingkah menggemaskan Reyhan di saat dia menggeliat setelah lepas dari bedongannya.


Sore Yang begitu indah, sebab meskipun tanpa kehadiran keluargaku sendiri, tapi di sini masih ada orang-orang yang menyayangi dan mencintaiku dengan tulus.


Tamat.


*****


Terima kasih sudah menemani kisah Nara hingga akhir, dan sesuai dengan janjiku, aku akan memberi hadiah kecil untuk pembaca teraktif.


Maaf ya jika nanti nominalnya kecil, sebab antusias kalian juga jauh dari ekspektasi ku.


Di sini, aku memilih dari 3 kategori, yaitu...


Selamat untuk, kak @Wacem Farhan, yang berhasil menduduki no 1 pemberi dukungan terbanyak.


Lalu, Kak @Fitri An, yaitu dalam kategori pemberi komentar terbanyak.


Dan juga, kak @Iin Indah, yaitu dalam kategori minta update terbanyak.



Khusus minta update, aku SS ya, sebagai bukti, sebab untuk yang lain kalian bisa melihatnya sendiri.


Sekali lagi selamat untuk para pemenang, dan silakan kalian DM Ria untuk memilih pulsa atau saldo dana.


FB : Fitria Wijayanti


Ig : riawijaya73


Dan juga, sekali lagi terima kasih untuk semuanya 🙏🙏🙏🙏

__ADS_1


👋👋👋😘


__ADS_2