TERIMA KASIH, MANTAN!

TERIMA KASIH, MANTAN!
53. Berjalan Bersama


__ADS_3

Tinggal dua baju lagi yang harus disetrika Nara, namun sang pemilik pakaian sudah tiba. Arvin langsung masuk ke celah pintu ruko yang sudah dibuka sedikit oleh Nara.


"Astaga! Jadi ternyata pakaianku dari tadi belum siap?" Arvin berdecak. "Hemm ... bagus ya, kamu tadi malah milih ikut gosip dulu, bukannya nyelesein pekerjaannya dulu!"


Nara meringis. "Maaf, tapi ini kan masih terlalu pagi, dan toko juga belum waktunya buka. Terus saya kira kamu juga ngambilnya pukul tujuh, pas toko sudah buka, jadinya aku tadi santai-santai dulu."


"Yaudah, kalau begitu cepat selesaikan!" balas Arvin yang tidak bisa mendebat Nara lagi, sebab sebenarnya Arvin pun ikut salah karena kemarin tidak memberitahu Nara bahwa ia akan mengambil pakaian sebelum toko buka.


* Atau si Arvin memang sengaja?


"Baik," tanpa membantah, Nara pun langsung segera menyelesaikan pekerjaannya.


Setelah selesai, Nara pun segera menyerahkan semua pakaian Arvin yang sudah terbungkus rapi di dalam plastik laundry.


Arvin pun juga langsung menerimanya seraya menyerahkan sejumlah uang yang tertera dalam nota.


"Oh ya, ngomong-ngomong hari ini kamu nggak ikut seminar?"


"Seminar? Seminar apa?"


"Itu ada acara seminar di cafe Pelangi, bintang tamunya penulis pemes yang lagi naik daun itu. Materi yang akan disampaikan juga bagus, cocok buat penulis pemula kayak kamu."


"Hah, benarkah? Kenapa aku bisa tidak tahu, ngomong-ngomong acaranya jam berapa?"


"Jam delapan."


"Lalu tiketnya?"


"Kamu tinggal ke sana saja, asalkan masih ada tempat, ya kamu masih bisa ikut."


"Hah, maksudnya? Apakah itu gratis?"


Arvin mengendikkan bahu. "Datang saja kalau kamu ingin tahu." Setelah mengatakan itu, Arvin pun langsung pergi.


Sedangkan Nara tentu bersemangat setelah mendengar berita ini, ia pun langsung pergi ke lantai atas dan bergegas bersiap-siap untuk mengikuti seminar tersebut.


"Kalau begitu aku harus berangkat lebih awal, agar aku kebagian tempat duduk. Dan, syukur-syukur kalau beneran gratis."


Tepat pukul tujuh pagi, Nara sudah siap berangkat. Ella dan Elly pun juga sudah sampai di ruko, jadi Nara langsung menitipkan ruko kepada mereka dan ia pun langsung pamit pergi.


Karena terlalu bersemangat, Nara sampai lupa memeriksa motor butut yang dikendarainya itu. Lebih tepatnya karena sekarang ia jarang keluar, Nara sampai tidak tahu kalau motornya telah kehabisan oli.


Di tengah perjalanan.


"Astaghfirullah, kenapa tiba-tiba motorku mati begini? Aduh, mana sedikit jauh lagi sama bengkel."

__ADS_1


Untungnya saja tadi Nara berniat pergi lebih awal, jadi masih memungkinkan untuk sampai sebelum acaranya dimulai. Walaupun ia harus berjalan kaki hingga ke tempat acara tersebut.


"Berjalan setengah jam, nggak masalah kali ya?" gumam Nara seraya melihat jam tangannya. Lalu tanpa mengulur waktu lagi, ia langsung mendorong motornya untuk mencari bengkel terdekat.


Nara rencananya ingin menitipkan motornya ke bengkel untuk diperbaiki, lalu kemudian ia akan langsung pergi ke cafe, dan akan mengambilnya nanti.


Setelah sampai di bengkel terdekat, sang pemilik bengkel setuju, lalu kemudian Nara mulai berjalan kaki menuju ke cafe.


Di saat Nara berjalan, seseorang laki-laki memanggilnya.


"Mbak mau ke mana? Daripada jalan sendirian, bagaimana kalau aku antar?" tawar lelaki tersebut.


"Oh, terima kasih atas tawarannya, Mas. Tapi, maaf saya jalan kaki saja."


Bukannya segera berlalu, namun laki-laki itu justru menghentikan motornya tepat di depan Nara. "Ayolah, Mbak. Nggak usah sungkan. Mbak mau ke mana tinggal bilang saja, pasti saya anterin."


Nara tentu menjadi sedikit panik ketika melihat lelaki itu ngotot ingin mengantarnya. Lalu kemudian Nara hendak menolak lagi, namun dipotong oleh suara seorang lelaki dari arah belakang terlebih dahulu.


"Hei, cepat naik ke sini!" perintahnya dengan suara yang tidak asing di telinga Nara.


Lelaki tersebut menggunakan helm full face, jadi Nara tidak bisa mengenali dengan jelas lelaki tersebut. Namun, ketika lelaki tersebut melepaskan helm nya, Nara sontak terkejut.


"Mas Arvin."


Sedangkan Nara tentu merasa ragu, sebab Arvin terlihat tidak ikhlas. "Ini orang gimana sih? Sebenarnya niat nawarin atau nggak? Kok mukanya gitu banget, kayak nggak ikhlas," batin Nara yang jadi merasa serba salah.


Sedangkan Arvin yang melihat Nara hanya bengong di tempatnya. Ia berteriak lagi. "Ayo, cepat!"


Nara yang melihat Arvin semakin marah, ia sontak berlari ke arah Arvin, lalu tanpa pikir panjang lagi ia langsung naik motornya Arvin dan duduk di belakangnya.


Sedangkan lelaki tadi mendengus, lalu kemudian ia kembali melajukan motornya. Laki-laki tadi jelas tidak bisa apa-apa, sebab ia juga merasa kalah saing dengan Arvin yang menaiki motor sport.


Setelah kepergian lelaki itu, Arvin pun juga akan melajukan motornya, namun karena Nara sebelumnya tidak berpegangan pada apa-apa, ia sontak terkejut dan tubuhnya refleks menabrak punggung Arvin.


"Aduh, pelan-pelan dong. Kalau aku jatuh gimana?" protes Nara.


"Ya kalau jatuh ke bawah lah," sahut Arvin santai.


Nara sontak membelalakkan matanya mendengar jawaban Arvin. "Kamu!"


"Sudah, cepat pegangan! Kalau beneran jatuh aku tidak mau tanggung jawab."


Nara mendengus. "Terus aku pegangan apaan?" tanya Nara yang kebingungan karena bentuk motornya Arvin berbeda dari motor biasa.


"Terserah, knalpotnya juga boleh."

__ADS_1


"Kamu, bisa serius nggak sih?"


"Tck, kamu saja yang cerewet. Memang biasanya orang yang dibonceng itu megang apa? Gitu aja masih nanya!"


Nara yang mau menjawab pinggang jadi ragu, namun ia mengambil sedikit lipatan jaket Arvin untuk menjadi pegangannya.


Sedangkan Arvin sendiri, ia menyeringai melihat kelakuan Nara, lalu di detik kemudian ia langsung melajukan motornya dengan cepat.


"Aaaaa ...." teriak Nara yang refleks langsung memeluk Arvin erat.


"Hei, pelan-pelan dong bawa motornya!"


"Hei, jadi orang jangan bodoh-bodoh amat lah! Kamu sendiri tahu kan ini motor buat apaan? Kalau mau pelan naik sepeda sana!"


"Astaga! Tapi ini kan jalan umum, pelan dikit bisa kali."


"Sudah, nggak usah bawel! Fokus pegangan saja, daripada ntar jatuh!"


Nara mendengus. "Huh, tahu gini mending jalan kaki tadi," batinnya.


Cafe sudah tidak terlalu jauh lagi, dengan kecepatan motornya Arvin, lima menitan lagi mereka sudah sampai. Namun, tiba-tiba saja terjadi sedikit masalah yang menimpa mereka.


"Aduh, gawat! Motorku kehabisan bahan bakar. Tck, kenapa aku tadi bisa lupa mengisinya ya?" gumam Arvin yang masih bisa didengar Nara.


"Apa! Jangan bercanda, ini sebentar lagi sampai."


Tepat setelah mengatakan itu, motor mulai menepi dan berjalan pelan, lalu kemudian langsung berhenti.


"Sudah turun sana, ini beneran habis."


"Astaga! Lalu kita harus jalan kaki?"


"Menurutmu?" sahut Arvin santai seraya mengetikkan sesuatu di ponselnya.


Nara berdecak. "Kalau begitu mending motorku dong, meski butut tapi nggak pernah sampai kehabisan bensin seperti ini. Sedangkan ini? Motornya saja yang bagus, tapi orangnya 'kismin'. Kalau begitu mending jual motornya, lalu tukar yang biasa, jadi sisanya bisa buat nyetok beli bensin," ejek Nara.


Sedangkan Arvin yang mendengar perkataan Nara, ia tentu merasa kesal. "Apa katamu? Kamu bilang aku miskin! Hei, kamu tahu tidak ini motor harganya berapa?"


"Nggak tahu, tidak peduli juga harganya berapa!" sahut Nara yang kemudian berjalan terlebih dahulu.


"Hei, tunggu dulu! Aku mau nitip motorku ke rumah temanku yang itu. Baru nanti kita jalan bersama ke cafe," ujar Arvin seraya menunjuk salah satu rumah yang berada di pinggir jalan tersebut.


Nara mendengus, namun ia menuruti perkataan Arvin. "Huh, baiklah. Tapi, awas saja kalau aku nanti sampai tidak kebagian tempat duduk, kalau begitu kamu juga tidak boleh masuk!"


"Tenang saja, kamu nggak perlu khawatir," balas Arvin santai seraya mendorong motornya ke rumah temannya tersebut, dan kemudian mereka berdua pun berjalan bersama hingga sampai cafe Pelangi.

__ADS_1


__ADS_2