
Tidak ada tamu undangan, tidak ada pesta pernikahan, ataupun gaun pengantin yang biasanya menjadi impian beberapa wanita sebelum hari pernikahan.
Nara dan Gavin melaksanakan pernikahan mereka dengan sangat sederhana, bahkan mereka menikah di KUA, sebab orang tuanya Nara tidak mau repot-repot merayakan pernikahan putri sulungnya itu.
Nara hanya membagi makanan ke tetangganya, sebagai tasyakuran atas pernikahannya, lewat catering yang sudah ia pesan sebelumnya.
Tepat setelah melaksanakan ijab qobul, Nara dan Gavin langsung berpamitan kepada kedua orang tua Nara, lalu setelah itu mereka berdua langsung pergi menuju rumahnya Gavin.
Rumah Gavin tergolong biasa saja, namun ukurannya lebih besar dan lebih bagus dari rumahnya Nara. Jadi, tidak heran jika Ibunya Gavin bersikap sombong kepada Nara.
"Nara, setelah ini kamu bersihin rumah ya, tadi Ibu tidak sempat membersihkan rumah, karena buru-buru datang ke pernikahan kalian," ujar Marni dengan nada bicara yang tidak ada lembut-lembutnya sama sekali.
"Baik, Bu," sahut Nara sopan, sedangkan Gavin yang berada di samping Nara, ia mengusap pelan bahu Nara, seolah mengatakan bahwa Nara harus sabar dengan sikap Ibunya.
Nara yang mengerti, ia pun tersenyum, seperti mengatakan 'tidak apa-apa, aku bisa' melalui sorot matanya.
Setelah menaruh tasnya di dalam kamar, Nara pun langsung berganti pakaian dengan baju sehari-hari. Gamis berwarna putih yang baru saja ia pakai di pernikahannya, ia langsung letakkan di keranjang pakaian kotor untuk dicucinya.
Namun, sebelum mencuci baju, Nara langsung menyapu dan mengepel di seluruh bagian rumah. Sedangkan ibu mertuanya, suaminya, dan juga adik iparnya, mereka semua tampak duduk dan mengobrol santai di teras depan rumah.
Tidak tahu apa yang sedang mereka bicarakan, Nara pun tidak berniat ingin bergabung, apalagi ia hanya seorang menantu yang tidak diharapkan, jadi Nara hanya bisa fokus menyelesaikan pekerjaannya.
"Setelah ini kamu masak makan siang juga ya! Tadi Ibu hanya masak nasi goreng, itu pun sudah habis buat sarapan tadi pagi," perintah Marni ketika melihat Nara sedang menyapu lantai teras.
"Iya, Bu." Lagi-lagi Nara hanya bisa menuruti semua perintah mertuanya.
Sudah membersihkan rumah, lalu memasak, dan kemudian Nara langsung pergi mencuci baju yang sebelumnya sudah ia rendam terlebih dahulu.
__ADS_1
Namun, ketika Nara hendak mencuci bajunya dan baju suaminya, tiba-tiba saja adik iparnya datang seraya membawa setumpuk pakaian kotor miliknya.
"Mbak, aku nitip ya, jariku tadi teriris pisau, kalau terkena air masih perih, jadi aku nggak berani nyuci baju. Tidak apa-apa kan?" ujar Dinda dengan nada yang masih bisa dibilang lembut, seraya menunjukkan jarinya yang diplester.
Melihat Dinda yang meminta pertolongannya dengan sopan, bagaimana mungkin Nara bisa menolaknya. Nara pun akhirnya mengangguk seraya tersenyum datar.
Padahal jari Dinda hanya teriris pisau, terkena air pun pasti hanya perih sedikit, dan tidak akan sampai merenggut nyawanya. Jadi, tentu saja itu hanya sekedar alasan Dinda, agar Nara mau mencuci bajunya.
Meski Nara tahu tentang hal ini, jika Dinda memiliki maksud lain, namun Nara hanya diam saja. Toh, itung-itung ke depannya mungkin saja mereka berdua bisa akur nantinya, setelah Nara mau membantu Dinda mencucikan bajunya, begitulah pemikiran Nara.
Namun, baru saja Nara memasukkan baju kotor Dinda ke dalam bak cuci baju, dari arah belakang Dinda, Marni muncul dengan keranjang baju kotor miliknya.
"Nara, bagaimana sih? Masa bajunya Ibu tidak kamu cucikan juga. Padahal di mana-mana itu, baju mertuanya dicucikan menantunya, begitu saja kamu tidak peka!" hardik Marni kesal. Bisa-bisanya menantunya yang miskin itu tidak pengertian, lalu apa gunanya Nara menjadi menantunya?
"Maaf, Bu. Nara kan tidak tahu, di mana Ibu menaruh pakaian kotornya, jadi --"
Sedangkan Gavin yang mendengar suara ribut-ribut di belakang, ia segera menghampiri para wanita-wanita itu.
"Bu, kenapa sih ribut-ribut? Ibu kan bisa bicara baik-baik dengan Nara, tidak perlu berteriak seperti itu."
Gavin tentu merasa tidak tega kepada Nara, jika ibunya meneriaki Nara seperti itu, padahal dari tadi, Nara juga sudah menuruti semua perintah ibunya.
"Apa sih kamu, jangan terlalu manjain istri kamu. Ibu kan hanya bicara sedikit tegas, begitu saja sudah diprotes. Awas loh, bisa-bisa ke depannya Nara jadi ngelunjak ke kamu, kalau kamu terus manjain dia."
Setelah mengatakan itu, Marni pun langsung pergi, bisa jatuh harga dirinya nanti, jika ia masih mendengar anaknya terus membela istrinya. Jadi, sebelum itu terjadi, lebih baik Marni mundur saja.
Sedangkan Gavin hanya bisa menghela napas, lalu pandangannya beralih menatap Nara. "Kamu tidak apa-apa kan?" tanya Gavin yang merasa tidak enak atas perlakuan ibunya.
__ADS_1
Nara pun sontak menggeleng seraya tersenyum. "Tidak apa-apa kok, memang aku saja yang kurang teliti," sahut Nara mengalah. Jika saja tadi ia berinisiatif menawarkan diri untuk mencuci baju mertuanya itu, mungkin saja Marni tidak akan mengomel seperti tadi.
Gavin pun lantas mengangguk, ia merasa beruntung memiliki istri yang sabar seperti Nara, sehingga Nara bisa menerima semua sikap ibunya yang terbilang tidak mengenakkan itu.
Namun, Gavin pun harus memberi pengertian kepada ibunya, agar ke depannya, ibunya itu juga mau menyayangi Nara. Jadi, Gavin pun akhirnya menemui ibunya lagi.
"Bu, Gavin minta tolong ya, ke depannya jangan terlalu keras sama Nara. Nara itu wanita yang baik, Bu. Jadi, kurang pantas saja, jika Ibu berlaku kasar kepadanya," ujar Gavin pelan, setelah ia mendudukkan diri di samping ibunya yang sedang menonton televisi.
Marni berdecak. "Kamu itu kenapa sih? Ibu kan hanya menyuruhnya mencuci bajunya Ibu. Lagi pula, menantu zaman dulu juga biasa melakukan hal itu, hanya sekarang memang sedikit berbeda, menantu zaman sekarang tidak akan mengerti kalau tidak kasih tahu, dan juga malas-malas. Makanya Ibu ngajarin Nara, biar dia mengerti!" jelas Marni.
Gavin menghela napas panjang. "Iya, Gavin ngerti, kalau maksud Ibu itu baik. Tapi, tolong ... nadanya yang lebih ramah lagi ya? Gavin nggak mau, jika Nara sampai sakit hati, lalu Nara minta pisah. Gavin sangat mencintai Nara, Bu," pinta Gavin memelas.
Marni yang melihat anaknya sudah bucin, ia mendengus. Namun, akhirnya ia menjawab. "Iya, tapi Ibu nggak bisa janji tetap bersikap lembut, kalau istrimu itu melakukan kesalahan."
Gavin hendak berbicara lagi, namun Marni langsung memotongnya. "Sudahlah, kamu pergi sana! Ganggu Ibu saja." Marni kesal karena Gavin terus mengoceh, di saat ia sedang menonton sinetron kesukaannya.
Gavin yang tidak ingin Ibunya semakin kesal lagi, lantas ia langsung menuruti perintah ibunya. Gavin pergi menuju kamarnya sendiri, seraya menunggu waktu makan siang tiba, dan kemudian mereka semua nanti akan makan bersama-sama.
Urusan mencuci baju Nara, akhirnya selesai tepat di jam makan siang tiba. Saat ini mereka semua sudah kumpul di ruang makan, dan semuanya juga sudah mengambil makanan masing-masing.
Namun, saat Marni sudah memasukkan suapan pertamanya ke dalam mulutnya, ia mengernyitkan dahi ketika merasakan masakan Nara sedikit asin.
"Nara, masakan kamu keasinan. Kamu masak nggak pakai gula ya? Rasanya kurang mantap sama sekali. Kamu jarang masak ya? Perempuan macam apa kamu, yang nggak bisa masak enak! Pokoknya setelah ini, kamu harus belajar masak dengan benar, kan jadi kasihan suamimu, yang makan makanan yang kurang enak seperti ini!"
Masih panjang kalimat hinaan yang dilontarkan Marni kepada Nara, intinya Marni memang sengaja mencari-cari kesalahan Nara.
Sedangkan Nara sendiri, ia diam-diam hanya bisa mengelus dadanya sendiri. Ia harus ekstra sabar menghadapi mertua seperti Marni.
__ADS_1