TERIMA KASIH, MANTAN!

TERIMA KASIH, MANTAN!
19. Tetangga Baru


__ADS_3

Keesokan harinya, tidak banyak barang yang dibawa Gavin dan Nara, hanya dua tas berisi pakaian mereka, dan satu tas lagi berisi barang-barang keperluan mereka.


Sedangkan barang-barang seperti lemari, serta peralatan dapur dan yang lainnya, Gavin membelinya dari penghuni kontrakan sebelumnya, jadi mereka tidak perlu lagi memikirkan barang-barang untuk melengkapi isi rumah kontrakan mereka.


"Desa Wonoasri," batin Nara ketika membaca tulisan di tugu selamat datang yang ada di hadapannya.


"Mas, apakah desa ini dekat dengan desa Wonosari?" tanya Nara memastikan, sebab ia ingat desa ini pernah disebut Imel, ketika Bunga sedang menanyakan alamat Imel waktu itu.


"Iya, di ujung jalan yang kita lewati tadi, itu desa Wonosari, memangnya kenapa?"


"Nggak, cuma aku punya teman dekat yang tinggal di desa Wonosari itu."


"Teman dekat, siapa?


"Itu lho, Imel. Anak yang suka bareng sama aku ketika SMP."


Gavin hanya mengatakan oh, lalu tidak lama kemudian mereka sampai di rumah kontrakan yang akan mereka sewa.


"Gimana menurutmu?" tanya Gavin yang meminta pendapat Nara tentang rumah yang ada di hadapan mereka.


"Lumayan," sahut Nara puas. Meski rumah ini terbilang kecil, namun sudah sangat cukup untuk ditempati mereka berdua.


Gavin tersenyum. "Baiklah, kalau begitu Mas ambil kuncinya dulu ya," pamit Gavin yang langsung berjalan menuju rumah sebelah.


Lalu tidak lama kemudian, Gavin datang dengan seorang wanita paruh baya yang Nara tebak adalah pemilik rumah kontrakan tersebut.


"Eh, Mbak Nara sudah datang, kebetulan sekali, Ibu baru saja selesai menyiapkan pesanan kalian." Lastri menyapa Nara dengan ramah, lalu ia memperkenalkan diri kepada Nara.


"Oh, terima kasih, Bu Lastri. Dan, maaf jadi merepotkan," sahut Nara seraya tersenyum.

__ADS_1


"Enggak kok, Mbak. Oh ya, kalau begitu, apakah makanannya akan dibagi-bagikan ke tetangga sekarang?"


"Iya, Bu. Saya akan membagikannya," sahut Gavin cepat. Lalu kemudian ia beralih berbicara dengan Nara. "Dik, sekarang kamu langsung istirahat saja di kamar. Semua sudah dibersihkan kok, jadi kamu bisa langsung istirahat dengan nyaman."


Nara mengangguk, lalu kemudian ia langsung berpamitan kepada Bu Lastri untuk masuk ke dalam rumah terlebih dahulu.


Sedangkan setelah kepergian Nara, Bu Lastri yang senang ketika melihat interaksi pengantin baru tersebut, ia tidak sabar lagi untuk segera memuji Gavin.


"Mas Gavin pengertian sekali, beruntung ya, Mbak Nara bisa memiliki suami seperti, Mas Gavin."


Gavin tertawa kecil. "Bu Lastri bisa saja, lagi pula ini kan juga sudah kewajiban saya untuk menjaga istri saya."


Bu Lastri mengangguk. "Baiklah, kalau begitu saya ambil dulu pesanannya, dan saya juga akan membantu Mas Gavin membagikannya ke tetangga."


"Waduh, Bu. Terima kasih banyak, dan maaf sudah merepotkan."


Bu Lastri sudah berlalu, seraya bergumam bahwa tidak merepotkannya sama sekali. Lalu tidak lama kemudian, ia mengeluarkan dua kantong keresek besar yang berisi beberapa box makanan untuk acara syukuran sebagai tetangga baru di kompleks ini.


Sedangkan Bu Lastri juga sudah berjalan ke arah berlawanan, tidak banyak rumah yang didatangi Bu Lastri, sebab di sebelah kanan memang masih banyak tanah yang kosong, jadi tidak membutuhkan waktu yang lama, Bu Lastri sudah sampai di rumah paling akhir, yaitu rumah yang dikontrak oleh Arvin.


Setelah cukup lama mengetuk pintu, akhirnya Arvin membuka pintu rumahnya dengan rambut yang masih acak-acakan.


"Eh, Bu Lastri. Ada apa?" tanya Arvin dengan suara serak khas orang yang baru bangun tidur.


"Ini, Mas Alvin. Ibu lagi membagikan makanan dari tetangga baru, itu yang nyewa kontrakan Ibu yang di depan," ujar Lastri seraya menyodorkan box makanan kepada Lastri.


"Oh, mereka sudah pindah ke sini, kalau begitu terima kasih, Bu."


"Iya, kalau begitu Ibu pamit ya. Pasti Mas Arvin masih ngantuk, jadi lanjutin saja tidurnya," pamit Bu Lastri yang langsung diangguki Arvin, sebab Arvin benar-benar masih mengantuk.

__ADS_1


Enaknya hidup sendiri, dan juga pekerjaannya yang hanya sebagai penulis, membuat Arvin menjalani hidup dengan sesuka hatinya saja. Ia tadi baru tidur jam enam pagi, sebab semalam harus lembur menyelesaikan naskahnya yang sudah dikejar deadline. Arvin hendak tidur kembali, namun tiba-tiba saja perutnya berbunyi.


"Lebih baik makan dulu lah," gumam Arvin yang kemudian kembali berjalan ke ruang tamu lagi. Setelah membuka box makanan yang diberikan tetangga barunya, wangi masakan Bu Lastri langsung menusuk indra penciumannya.


Arvin langsung memakannya dengan lahap, seraya memandangi jalanan yang terlihat sepi seperti hari-hari biasanya. Tidak ada warna-warni bunga, atau pepohonan yang bisa dipandang seperti ketika ia sedang berada di rumahnya sendiri, karena sang pemilik kontrakan, maupun penghuni sebelumnya, tidak memiliki hobi memanam bunga.


Sangat berbeda dengan ibunya yang bahkan memiliki kebun bunga sendiri. Mengingat hal itu, Arvin jadi merindukan Ibunya.


Makanan Arvin sudah hampir habis. Namun, ketika ia sedang menyuapkan sesendok terakhir makanannya, tiba-tiba saja Arvin langsung tersedak dan menyemburkan makanan tersebut.


"Uhuk ... Uhuk ...." Arvin buru-buru langsung meneguk segelas air putih yang berada di hadapannya.


"Apakah aku tidak salah lihat?" gumam Arvin seraya mengucek kedua matanya. Arvin terkejut ketika ia tadi melihat sosok gadis yang pernah disukai almarhum temannya.


Saking tidak percayanya dengan penglihatannya sendiri, Arvin buru-buru langsung mendekat ke arah kaca besar yang berada di samping pintu rumah kontrakan tersebut.


Kaca ini cukup tebal, dan orang yang berada di luar, tidak bisa melihat isi rumahnya Arvin. Sedangkan Arvin, ia bisa melihat bayangan di luar dengan sangat jelas.


Arvin langsung membelalakkan matanya, ketika apa yang dilihatnya ternyata benar. Gadis yang sedang dilihatnya adalah Nara, orang yang disukai Alvin, teman baiknya. Dan, dialah juga yang sudah menyebabkan Alvin kecelakaan, hingga kemudian sampai Alvin akhirnya meninggal.


"Ternyata tentangga baruku itu kamu?" gumam Arvin seraya tersenyum sinis. "Tapi, sepertinya dia sedang hamil."


Melihat perut Nara yang mulai membuncit, Arvin bisa menebak jika Nara tengah hamil. "Apakah dia menikah dengan mantannya?" Lanjut Arvin penasaran.


Namun, Arvin buru-buru langsung menggelengkan kepalanya. "Kenapa aku jadi mikirin wanita itu? Huh! Terserah dia mau menikah dan punya anak dengan siapa? Tapi, yang jelas aku masih membencinya," gerundel Arvin yang kemudian langsung menutup gorden jendela rumahnya.


Sedangkan di sisi lain, wanita yang dimaksud Arvin, sedang berbicara dengan Bu Lastri.


"Oh, jadi rata-rata penghuni kompleks ini, adalah pendatang ya, Bu? tanya Nara yang ingin tahu tentang sekitar lingkungan yang sedang ditempatinya.

__ADS_1


"Iya, mereka semua juga sudah berkeluarga. Tapi, hanya satu orang saja yang belum, itu yang menempati kontrakan Ibu di depan, dia masih bujangan, mana orangnya ganteng lagi, jadi lumayan buat cuci mata," jelas Bu Lastri seraya tertawa. Ternyata mengobrol seraya bercanda dengan Nara, enak juga. Pikir Lastri.


__ADS_2