
Harum khas parfum laundry membuat Nara semakin tenang, akhirnya ia bisa kembali ke gubuknya sendiri.
"Aaahhh, akhirnya malam ini aku bisa tidur dengan tenang," ujar Nara seraya merenggangkan ototnya. Lalu kemudian ia segera merebahkan tubuhnya ke atas kasur.
Nara baru saja tiba tepat tengah malam, namun untungnya saja tadi Nara sudah menghubungi Ella dan Elly, bahwa besok laundry akan tutup, jadi rencananya dia besok akan tidur seharian.
Namun, kenyataan yang ada ....
"Hei, Nara. Ayo, cepat bangun! Kamu jangan tidur Mulu!" teriak Imel seraya menarik selimut yang dipakai Nara.
"Ish, apaan sih, Mel. Kenapa kamu subuh-subuh sudah ke sini? Aku kan masih ngantuk," sahut Nara seraya menarik selimutnya kembali.
"Subuh kepalamu! Ini sudah jam tujuh. Ayo, cepat bangun, dan ikut aku pergi."
"Pergi ke mana? Nggak mau ah! Kamu ajak Bunga aja."
Bukannya segera bangun, Nara malah ganti posisi hingga membuat Imel kesal.
"Ish, dasar bocah! Bungaaa ... Cepat bantuin aku tarik Nara, dia susah dibangunin nih!" teriak Imel kencang, namun Nara yang ada dihadapannya tetap bergeming.
Bunga yang ada di lantai bawah pun segera naik ke atas, lalu kemudian mereka berdua dengan kompak menyeret Nara hingga ke kamar mandi.
"Astaga, kalian ini!" Nara menggerutu seraya memejamkan matanya, hal itu sontak membuat Imel dan Bunga semakin gemas.
"Siram aja," ujar Bunga tanpa bersuara.
Imel pun yang setuju langsung mengangguk. Lalu diambil lah shower untuk mengguyur kepala hingga ujung kaki Nara yang sedang berjongkok seraya memejamkan matanya.
"Imeeel!!! Bungaaa!!!" teriak Nara kesal, sekarang kedua matanya sudah terbuka sempurna.
"Hahaha ... rasain! Ayo, sekarang cepat mandi! Jangan buat kami sampai memandikanmu!" balas Imel seraya tertawa, begitu juga dengan Bunga.
"Aduh, Mel. Kita jadi ikutan basah deh," ujar Bunga seraya memperlihatkan blus nya yang terkena cipratan air.
"Halah, nggak masalah. Yang penting ini bocah harus siap sekarang."
__ADS_1
Karena melihat Nara hanya mendesah dan tetap diam, Imel yang sudah habis kesabarannya, ia segera mengambil shampo, lalu menaruhnya ke rambut Nara.
"Astaga, Nara! Baiklah aku akan mandi," ujar Nara yang akhirnya menyerah.
"Bagus, kalau begitu kami keluar dulu, dan kamu jangan lama-lama."
"Hemm ...." sahut Nara malas, dan setelah pintu tertutup, ia pun segera mandi.
Ketika Nara keluar dari kamar mandi, Imel dan Bunga sudah tidak ada di kamarnya. Karena Nara tidak tahu akan diajak pergi ke mana, jadi ia memilih memakai setelan piyama, lalu setelah itu ia akan menolak pergi dengan mereka, Nara merasa tubuhnya terasa remuk akibat kelamaan bepergian.
"Hei, aku nggak ikut ya, badanku bener-bener capek, aku mau tidur," ujar Nara seraya menuruni tangga.
Namun, ia terkejut ketika melihat Ella dan Elly ternyata juga ada di sini. "Lho, kalian kok ke sini? Hari ini kan libur?"
Ella hendak menjawab, namun dipotong Imel terlebih dahulu. "Hei, kamu kira kita bisa masuk dari mana, kalau tanpa mereka."
Nara meringis, ia lupa kalau pemegang kunci ruko ini hanya dia dan si kembar tersebut.
"Sudah ayo, kita berangkat sekarang. Dua jam lagi acaranya akan dimulai."
"Kembar, pastiin semuanya aman dan terkunci, kalian berdua kita tunggu di mobil!" teriak Bunga.
"Siap, Mbak."
Nara semakin bingung, ketika di depan ruko sudah ada mobil, dan juga sopir yang siap membawa mereka pergi.
"Hei, ini ke mana? Aku kan cuma pakai piyama," protes Nara.
"Sudah kamu duduk anteng saja, soal kamu pakai baju apa nggak masalah, karena sebentar lagi kamu juga akan ganti baju."
Bukannya mendapat jawaban, Nara malah dibuat semakin bingung.
Lalu setelah si kembar masuk mobil, mobil pun langsung melaju menuju ke tempat tujuan.
Di dalam mobil tidak ada yang menjawab pertanyaan Nara sama sekali, ia bahkan sudah seperti orang yang sedang diculik, Nara hanya bisa mendengar kata 'diam' dari sahabat-sahabatnya itu.
__ADS_1
Karena sangat kelelahan, di dalam perjalananNara tanpa sadar akhirnya tertidur kembali. Hingga mobil akhirnya sampai di depan rumah kedua orang tuanya.
"Nara, kita sudah sampai, ujar Bunga seraya menggoyang bahu Nara agar segera bangun.
"Tck, kalian ini sukanya ganggu aja." Nara dengan malas membuka matanya, namun ia terkejut ketika melihat di mana ia sekarang berada.
"Rumah, tapi kok?" Nara berulang kali mengucek matanya, memastikan bahwa ia memang tidak sedang bermimpi.
"Iya, ini beneran rumahku, tapi kok kayak ada acara pernikahan."
"Eh, Nga. Nadia mau nikah ya?" tanya Nara yang mengira kalau adiknya akan menikah.
"Inilah nasib anak terbuang, adiknya sendiri sudah menikah sejak setahun yang lalu, dia tidak tahu."
"Apa? Nadia sudah menikah?" Nara yang memang tidak tahu dengan kabar tersebut, ia tentu saja kaget. Toh, setiap kali orang tuanya menghubunginya hanya membicarakan soal uang saja.
"Lalu, masa iya Naufal. Tapi, itu nggak mungkin deh."
"Ya memang bukan, Naufal."
"Lalu, siapa?"
"Kalau kamu mau tahu, cepetan turun," ujar Imel yang sudah berada di luar.
Meski masih bingung, Nara akhirnya ikut turun. Nara yang melihat orang-orang yang ada di sini sudah berpakaian rapi, ia jadi sadar dengan pakaiannya sendiri, lalu ia juga baru sadar kalau pakaiannya Bunga, Imel, Elly, dan Ella juga seperti orang yang mau datang ke kondangan.
"Astaga! Ini namanya jebakan, bisa-bisanya kalian sengaja membiarkan aku pakai pakaian seperti ini," batin Nara. Ya meskipun Nara sudah terbuang dari keluarga ini, namun ia tetap anggota dari keluarga ini.
Jadi, Nara tentu malu dengan orang-orang, sebab bisa-bisanya tuan rumah memakai pakaian sesantai ini, dan di acara yang penting pula. Bukankah ini sama saja dengan memperlihatkan bahwa dia benar-benar sudah dibuang oleh keluarga ini.
Namun, Nara semakin syok ketika mendengar seorang MUA berkata, "Oh, ini pengantinnya. Kalau begitu ayo, Mbak. Cepetan masuk, sebentar lagi rombongan pengantin pria akan datang."
"Apa? Pengantin? Memangnya siapa yang mau menikah? Apakah aku? Lalu dengan siapa? Jangan-jangan setelah aku sukses, kedua orang tuaku memaksaku menikah dengan lelaki tua yang kaya raya," batin Nara yang sudah hampir pingsan ketika memikirkan itu semua.
"E ... E ... E ... Eh!" teriak semua orang kompak, saat melihat Nara yang limbung, dan kemudian akhirnya jatuh pingsan.
__ADS_1