TERIMA KASIH, MANTAN!

TERIMA KASIH, MANTAN!
18. Nara Hamil


__ADS_3

Satu bulan kemudian...


"Nara ... enak sekali kamu ya, kerjaannya cuma tidur dan makan saja! Nggak bisa ya cuma ngebantuin nyapu aja. Ibu dulu waktu hamil juga pusing dan muntah-muntah. Tapi, Ibu nggak males kayak kamu!" teriak Marni kesal seraya menyapu lantai.


Sedangkan Nara yang sedang berbaring di dalam kamar, ia hanya bisa mengelus dadanya seraya menangis.


Menjadi lemah dan tak berdaya, bukanlah keinginan Nara. Namun, ini karena bawaan bayi yang sedang dikandungnya. Nara bahkan tidak bisa makan dan minum dengan baik, ia akan langsung muntah, bahkan ketika minum air putih rebusan sendiri.


Sedangkan untuk makan, sejak dia diperiksa dan dinyatakan hamil oleh Bu bidan, Nara sudah tidak bisa lagi memakan nasi, bahkan hanya mencium bau nasi saja ia langsung mual hebat, dan Nara akan langsung memuntahkan setiap makanan yang lewat di kerongkongannya.


Namun, meskipun harus muntah, Nara tetap harus mengisi perutnya, entah itu hanya dengan sekeping roti kering, atau pun hanya dengan minum air mineral, sebab hanya dengan minum air mineral saja , Nara tidak memuntahkannya lagi.


"Ya Allah ... hamba mohon, tolong berikan banyak kesabaran untukku," gumam Nara seraya sesegukan.


Kehamilan Nara ini, benar-benar cobaan berat untuknya. Nara tidak mempunyai orang tua yang menyayanginya, bahkan ia harus berjuang di tengah kehamilannya yang tidak mudah, dengan hidup bersama mertua yang juga tidak menyayanginya.


Sedangkan suaminya, Gavin hanya memberikan perhatian sekedarnya, selebihnya Gavin hanya sibuk dengan pekerjaannya yang sebagai debt colector di salah satu bank keliling di kota tersebut.


Nara hanya bisa menyimpan penderitaannya sendiri.


Lalu tiba-tiba saja pintu kamarnya terbuka, menampilkan sosok Marni dengan wajah galaknya, seraya memegang sapu.


"Pokoknya Ibu nggak mau tahu, mulai besok kamu harus nyapu rumah. Harus dipaksa, biar anakmu besarnya tidak malas sepertimu. Lagi pula, kamu juga cuma muntah-muntah, masih jauh sama nyawa. Jadi, jangan manja!" sembur Marni seraya menuding Nara menggunakan sapu yang dipegangnya.


Nara yang masih menangis, ia hanya menganggukkan kepalanya saja. Sedangkan Marni yang sudah puas meluapkan rasa kesalnya, ia langsung pergi meninggalkan Nara tanpa rasa kasihan sedikit pun.


Malam harinya, Gavin akhirnya pulang setelah seharian bekerja. Melihat istrinya yang tiduran seraya menangis, ia menghela napas panjang.


"Nara, kamu kenapa? Kok menangis lagi?" tanya Gavin lembut seraya menghapus air mata Nara.

__ADS_1


"Perutku sakit, Mas," ujar Nara setengah merintih.


"Lho kok bisa? Kalau begitu ayo, kita ke bidan sekarang," sahut Gavin sedikit panik.


Namun, tiba-tiba saja Marni muncul dari pintu. "Halah, kram perut saat hamil itu sudah biasa, jadi nggak usah manja."


"Tapi, Bu. Nara juga ngeluarin flek juga," sahut Nara seraya meringis, ia merasa perutnya semakin sakit.


"Iya sudah, kita ke dokter sekarang." Melihat Nara semakin kesakitan, Gavin semakin tidak tega. Lalu kemudian ia segera memapah Nara.


Beruntung rumah bidan tidak jauh dari rumah mereka, jadi meskipun Gavin melajukan motornya dengan pelan, mereka tetap sampai dengan cepat.


"Mbaknya lagi banyak pikiran ya?" tanya Bu bidan ketika sedang memeriksa Nara.


"Tekanan darahnya tinggi, kram perut, dan ngeluarin flek juga, untungnya cepat dibawa ke sini."


Nara hanya mengangguk, sedangkan Gavin semakin merasa bersalah setelah mendengar penjelasan sang bidan.


"Baik, Bu," sahut Gavin patuh. Bu bidan juga menjelaskan bahwa kondisi yang dialami Nara ini, bisa mempengaruhi perkembangan janin, hingga menyebabkan kelahiran prematur. Jadi, sebisa mungkin Gavin harus menjaga Nara dengan baik, dan juga sebisa mungkin menjauhkan Nara dari hal yang dapat memicu stres berlebihan seperti sekarang ini.


Setelah sampai di rumah, Nara langsung minum obat, lalu setelah itu Gavin duduk di sampingnya seraya menanyakan apa yang membuat Nara sampai seperti ini.


Tidak ada yang ditutup-tutupi oleh Nara, dia menceritakan semua yang telah menjadi keluh kesahnya. Namun, di dalam hati Nara sudah berpasrah, jika saja suaminya tetap tidak mau pindah, mau bagaimana lagi? Nara terpaksa tetap harus mengikuti Gavin.


Namun, doa Nara sepertinya terkabul, karena Gavin mengatakan sesuatu yang membuatnya langsung merasa lega.


"Baiklah, kalau begitu mulai besok kita pindah saja," ujar Gavin seraya mengusap lembut rambut Nara. "Mas sudah dapat kontrakan yang bisa langsung kita tempati besok." Lanjutnya seraya tersenyum.


"Beneran, Mas?" tanya Nara memastikan dengan mata yang berbinar-binar.

__ADS_1


"Iya, tapi rumahnya kecil, dan juga berada di pinggiran kota. Apakah tidak apa-apa? Maaf, Mas hanya bisa cari kontrakan yang murah," jelas Gavin.


"Tidak apa-apa, Mas. Mau seperti apapun, Nara mau kok," sahut Nara senang.


Melihat istrinya terlihat bahagia seperti ini, Gavin juga ikut tersenyum.


"Iya sudah, kalau begitu kita tidur saja dulu, besok pagi baru kita beres-beres barang-barang kita."


"Baik, Mas."


Sebenarnya Gavin sudah merencanakan untuk pindah dari seminggu yang lalu, namun karena melihat Nara seperti baik-baik saja, Gavin pikir ia bisa menunda kepindahan mereka setelah Nara melahirkan. Sebab, dengan kondisi Nara yang seperti ini, Gavin takut jika Nara semakin kesulitan ketika ia sedang pergi bekerja, sedangkan jika masih tinggal bersama ibunya, akan ada ibunya yang bisa menjaga Nara.


Namun, ternyata Nara tidak semakin membaik, ia justru menyimpan rasa tertekannya hingga membuat dirinya stres sendiri. Gavin jadi makin merasa bersalah dengan Nara.


Malam semakin larut, namun Gavin belum juga bisa tertidur, sedangkan istrinya sudah bermimpi entah sampai mana. Mendengar ada suara di ruang tengah, Gavin menebak ibunya pasti sedang menonton televisi. Karena Gavin belum mengantuk, ia memutuskan membicarakan soal kepindahannya dengan Nara besok, ke ibunya.


"Apa, kalian besok mau pindah?" Marni tentu terkejut mendengar berita ini.


"Iya, Bu." Lalu Gavin menceritakan semua keluhan Nara, dan juga tentang penjelasan bidan saat periksa tadi.


Marni melengos. "Iya sudah kalau kalian mau pindah, tapi uang jatah untuk Ibu, harus tetap kamu kasih, dan jangan dikurangi."


"Iya, Ibu tenang saja," sahut Gavin mengalah.


Melihat wajah muram anaknya, Marni buru-buru menjelaskan.


"Gavin, kamu tenang saja, uang yang kamu berikan pada Ibu, tidak Ibu gunakan untuk bersenang-senang. Tapi, sebagian ibu tabungkan, jadi kelak uang itu akan tetap punya kamu."


Mendengar penjelasan ini, Gavin jadi bersemangat kembali. Ternyata selama ini ibunya begitu peduli dengannya. Gavin jadi merasa bersalah kepada ibunya, sebab ia sempat mengira bahwa uang-uang itu selalu habis dipakai senang-senang oleh ibunya.

__ADS_1


Sedangkan Marni jadi tersenyum ketika melihat raut wajah anaknya menjadi lega. Padahal tanpa Gavin ketahui, Marni sengaja menyimpan uang Gavin, agar Gavin tidak memberi uang lebih kepada Nara, apalagi jika sampai Gavin membantu keuangan keluarganya Nara, nanti bisa keenakan Nara dan keluarganya, jika sampai mendapatkan jatah bulanan juga dari Gavin.


__ADS_2