TERIMA KASIH, MANTAN!

TERIMA KASIH, MANTAN!
51. Ternyata Dia ...


__ADS_3

Nara yang ketakutan, ia tidak mengangkat panggilan tersebut, bahkan ia tidak berani memegang ponselnya lagi selama seharian itu.


Hingga keesokan harinya...


"Ini, cepat cuci! Dan lagi, aku mau besok pagi ini sudah beres semua!"


Nara, Ella dan Elly yang sedang memilah pakaian yang akan mereka cuci, mereka sontak terkejut saat melihat Arvin yang tiba-tiba datang seraya menaruh pakaian kotor yang terbungkus kantong kresek di hadapan mereka.


"Baik, Mas. Saya akan segera mencucinya." Elly sudah berdiri dan bersiap mengambil bungkusan kresek tersebut. Namun, Arvin langsung mencegahnya.


"Aku nggak mau kalau kamu yang nyuci, biar Bos mu saja!" Arvin yang memang hanya ingin pakaiannya dicuci dan disetrika oleh Nara, ia tidak suka pakaiannya dicuci orang lain, meskipun orang itu adalah karyawannya Nara.


Tangan Elly yang hampir menyentuh kresek tersebut, sontak ia tarik kembali.


"Lho, memangnya kenapa, Mas? Kan biasanya saya juga mencuci pakaiannya pelanggan yang lain?" tanya Elly bingung, lebih tepatnya ia takut jika hasil cuciannya selama ini ternyata kurang bersih, sehingga membuat pelanggan yang ada di depannya ini merasa kurang puas dengan hasil kinerjanya. Apalagi Elly juga pernah mencuci pakaian milik orang di depannya ini.


"Elly, tidak apa-apa, biar nanti aku saja yang mencucinya, kamu bisa melanjutkan membantu Ella memilah pakaian dulu," sahut Nara seraya tersenyum canggung.


"Baik, Mbak," sahut Elly dengan wajah bingung.


Sedangkan arvin yang mengerti arti senyuman Nara, ia menyeringai.


"Hei, aku ingin bicara berdua denganmu!" tegas Arvin, lalu kemudian ia langsung berjalan menuju halaman belakang ruko.


"Aduh, mati aku! Sepertinya dia curiga," batin Nara seraya menepuk keningnya pelan, lalu kemudian ia segera berdiri dan hendak menyusul Arvin.

__ADS_1


"Mbak, ada apa?" tanya Ella yang jadi khawatir, sedangkan Nara hanya menggelengkan kepalanya seraya tersenyum sebagai ganti jawaban tidak apa-apa.


Sesampainya di teras belakang, Arvin sedang berdiri memunggungi Nara, ia terlihat tampak lebih gagah dengan sinar matahari yang menyorotinya dari arah timur.


"Ternyata kamu bukanlah orang yang bisa menepati janji ya!" tuduh Arvin yang membuat Nara semakin menciut di belakangnya.


"Bukankah dari awal sudah kubilang kalau hanya kamu yang boleh mencuci pakaianku. Tapi, kenyataannya kamu menyuruh karyawanmu!" Arvin membalikkan tubuhnya, wajahnya terlihat marah, dan matanya sampai melotot karena ia sangat kesal dengan Nara.


Arvin tidak suka pakaiannya dicuci sembarang orang, apalagi di sana ada pakaian dalamnya juga.


"Ma-maaf, waktu itu laundry ramai, jadi saya lupa menyisihkan pakaian milikmu."


Nara yang waktu itu sedang sibuk membantu Ella menyetrika, sebab ada banyak pakaian pelanggan yang akan diambil di hari itu, ia jadi melupakan menyisihkan pakaian kotor miliknya Arvin.


Elly awalnya sempat menanyakan hal tersebut kepada Nara, namun Nara tidak menjelaskan mengapa ia mau menerima cucian pakaian dalam tersebut, Nara hanya menjawab bahwa Arvin memanglah pelanggan yang paling menyebalkan, jadi ia memberi pengecualian kepada Arvin.


Lalu kemudian Nara sebenarnya juga hendak melarang Elly mencuci pakaiannya Arvin, dan ia meminta Elly menyisihkan pakaian tersebut. Namun, Elly mengatakan bahwa ia tidak keberatan mencuci pakaian dalam tersebut, dan karena pekerjaan mereka sangatlah banyak, akhirnya Nara pun membiarkan Elly mencuci pakaiannya Arvin.


"Sekali lagi aku minta maaf, dan aku janji hal ini tidak akan terulang lagi," lanjut Nara seraya meringis.


"Huh, baiklah. Tapi, awas saja kalau kejadian ini terulang kembali, aku tidak mau mencuci di tempatmu lagi."


Nara yang sedang menunduk, ia tersenyum ketika mendengar ini, dan dalam hati ia mengatakan, "Wah, syukurlah kalau kamu tidak mencuci di sini lagi, memangnya kamu kira aku akan sedih kehilangan satu pelanggan macam kamu."


"Dan juga ... Aku akan menolak semua pengajuan kontrak milikmu! Toh, lagi pula ceritamu juga biasa saja, bahkan tanda bacanya juga masih hancur seperti yang dulu."

__ADS_1


Nara yang mendengar perkataan Arvin selanjutnya, ia sontak membelalakkan matanya.


"Apa?! A-apa maksudmu?"


Arvin menyeringai melihat Nara yang terkejut. "Kamu boleh menghindariku di grup. Tapi sayangnya, tempat tinggal kita sangat dekat, jadi percuma saja kalau kamu menghindariku, Violet. Sebab editormu ini bisa datang ke tempatmu kapan pun ia mau."


Nara sontak menutup mulutnya yang menganga lebar. "Ja-jangan bilang kalau kamu Sky Blue?"


"Menurutmu?" Arvin semakin tersenyum, namun senyumannya malah membuat Nara semakin merinding.


"Oh ya satu lagi, kalau kamu pintar, kamu bisa tahu siapa aku selain jadi Sky Blue. Tapi, aku tidak yakin kalau kamu itu pintar. Jadi cepat selesaikan pekerjaanmu, dan jangan lupa kalau aku akan mengambil pakaianku pagi-pagi sekali, dan awas saja kalau besok sampai belum selesai!" Setelah mengatakan itu, Arvin langsung melenggang pergi. Sedangkan Nara masih syok di tempatnya.


"Apa? Jadi dia Sky Blue? Kenapa hidupku sial sekali," gumam Nara yang kemudian langsung berlari menuju ke lantai atas.


Nara mengabaikan tatapan Ella dan Elly yang terlihat bingung dengan tingkah lakunya. Ia terus menaiki tangga dan berlari menuju kamarnya untuk mencari ponselnya.


Setelah menemukan benda pipih tersebut, jarinya mulai berselancar mencari komentar di platform pertama novel online miliknya yang beberapa bulan lalu dan bahkan sudah tertimbun dengan komentar-komentar yang baru.


"Jangan-jangan dia juga pemilik akun yang menyebalkan itu," gumam Nara yang tadi langsung terpikirkan dengan akun bernama Purple Hater, ketika Arvin mengatakan bahwa ia tidak hanya memiliki identitas sebagai Sky Blue.


Meski Purple Hater tidak hanya muncul di platform pertama Nara menulis, namun hampir di semua platform tempat Nara menulis. Akan tetapi, komentarnya lebih banyak di platform pertama, jadi Nara akan lebih mudah mengecek tulisan yang diketik orang tersebut, dan Nara akan membandingkannya, bahwa apakah sama dengan ketikan pesan miliknya Arvin.


Hingga akhirnya setelah memastikan ketikan komentar dari akun milik Purple Hater, dan juga pesan miliknya Arvin, Nara akhirnya jatuh lemas ketika tahu kenyataan bahwa dugaannya memanglah benar.


"Dia memang benar-benar orang yang menyebalkan! Tidak! Tapi, sangat menyebalkan!" jerit Nara frustasi.

__ADS_1


__ADS_2