
Di luar langit masih gelap, waktu masih menunjukkan pukul lima pagi. Namun, Nara sudah bersiap-siap untuk mengantarkan Naura pergi ke bidan. Nara menggendong Naura, dengan memakaikan baju hangat dan juga selimut bayi tebal untuk menghalau udara dinginnya pagi ini. Lalu kemudian, Nara mulai berjalan, dan sudah tidak kuasa lagi untuk menahan air matanya.
Di sepanjang perjalanan, Nara terus menangis tanpa bersuara, sebab hatinya terasa sakit ketika melihat wajah Naura yang begitu pucat, dengan suhu badan yang mulai dingin, namun tidak seperti suhu dingin yang normal pada umumnya. Dan, napas Naura yang juga sudah mulai melemah.
Hati ibu mana yang tidak takut, panik, dan hancur ketika melihat kondisi anaknya seperti ini. Apalagi, sekarang suaminya sedang tidak berada di sisi mereka, sebab semalam, Gavin benar-benar tidak pulang ke rumah.
Usaha Nara tidak hanya itu, ia juga berusaha meminta tolong kepada setiap orang yang lewat. Siapa tahu, ada orang yang berbaik hati, dan mau memberi tumpangan untuk mengantarkan mereka ke rumah bidan tersebut.
Namun, dari hampir semua orang yang lewat, mereka pura-pura tidak mendengar panggilannya, dan sebagian lagi langsung menolak dengan alasan mereka sedang buru-buru akan pergi bekerja.
Nara sudah berjalan cukup jauh, namun rumah bidan masih harus melewati dua perempatan jalan lagi. Nara yang sudah merasa lemas, ia tidak menyerah dan tetap melanjutkan langkahnya.
Hingga akhirnya, ada seorang bapak-bapak paruh baya yang sedang mengayuh sepeda, langsung menghampirinya ketika melihat Nara berjalan sambil menangis.
"Nduk, kenapa menangis? Kamu mau pergi ke mana? Dan, mengapa sudah membawa anakmu keluar rumah, padahal ini masih terlalu pagi?" Lelaki paruh baya tersebut, begitu penasaran. Hingga akhirnya ia langsung melontarkan deretan pertanyaan kepada Nara.
"Saya mau pergi ke rumah bidan yang ada di ujung jalan sana, Pak. Saya mau pergi memeriksakan anak saya yang sedang sakit. Pak, bisakah Bapak membantu saya, tolong antarkan kami pergi ke sana," pinta Nara memohon, yang air matanya kini juga jatuh semakin deras, bicaranya pun agak tidak jelas, karena ia sedang menangis sesegukan.
Lelaki tersebut yang tadinya hendak pergi ke sawah, ia pun langsung mengurungkan niat awalnya, dan langsung bersedia untuk membantu Nara.
"Owalah ... kalau begitu ayo, cepat naik. Kasihan anakmu, nanti akan semakin sakit." Bapak tersebut juga ikut terenyuh, melihat kondisi mereka berdua, di pagi yang sangat dingin ini.
__ADS_1
Nara pun buru-buru duduk di boncengan sepeda tersebut, beruntung lelaki paruh baya itu tubuhnya masih cukup kuat, jadi ia bisa mengayuh sepedanya dengan cukup cepat.
Sesampainya di rumah Bu bidan, lelaki tersebut langsung berpamitan, sebab ia harus segera pergi ke sawah, Nara pun tak lupa mengucapkan terima kasih, sebelum beliau itu pergi.
Lalu tanpa mengulur waktu lagi, Nara segera mengetuk pintu rumah bidan tersebut, lalu tidak lama kemudian, seorang wanita berusia empat puluh tahunan keluar dan mempersilahkan Nara masuk.
Namun, Bu bidan tersebut langsung terkejut ketika melihat kondisi Naura yang sudah pucat, dibaringkan di atas bangsal, dan tanpa mengulur waktu lagi, ia segera memeriksa seluruh tubuh dan denyut jantung Naura.
Bidan tersebut menatap bayi mungil itu dengan tatapan kasihan, lalu ia beralih menatap Nara dengan tatapan yang sama.
"Bagaimana, Bu, dengan keadaan anak saya?" tanya Nara yang semakin khawatir ketika melihat tatapan bidan tersebut, apalagi bidan tersebut kini memandangnya dengan mata yang berkaca-kaca.
"Innalillahi wa innailaihi roji'un, maaf Bu, anak Ibu sudah tidak bisa diselamatkan lagi, anak Ibu sudah meninggal."
Melihat keadaan Nara, bidan tersebut langsung mendekat dan mengusap punggung Nara pelan. "Yang sabar ya, Bu. Hidup dan mati manusia, hanya Allah yang tahu, Ibu harus kuat dan ikhlas ya ...."
Setelah Nara mulai sedikit tenang, bidan tersebut dengan sukarela mau mengantar Nara dan jenazah Naura, pulang ke kontrakannya Nara. Di sepanjang perjalanan, air mata Nara tidak bisa berhenti, ia pun juga terus menciumi wajah anaknya yang kini sudah meninggal.
"Maaf, maafkan Ibumu yang tidak bisa menjagamu dengan baik, Nak," batin Nara yang mengucapkan kata-kata ini hingga berulang kali.
Setelah sampai di depan kontrakannya, Nara segera turun dan mengucapkan terima kasih kepada bidan tersebut. Sedangkan di sisi lain, Bu Lastri dan Pak Tejo yang baru pulang, kini mereka berdua sedang duduk di teras dan melihat kedatangan Nara.
__ADS_1
Melihat Nara yang menangis, mereka berdua mempunyai firasat buruk, lalu tanpa banyak berpikir, mereka berdua langsung mendatangi Nara.
"Nara, kamu habis dari mana? Dan, kenapa menangis?" tanya Bu Lastri panik.
Nara yang melihat Bu Lastri, ia hanya bisa menangis, lalu kemudian dengan terbata-bata ia mengatakan, "Bu, anakku ... anakku ... Naura, Naura sudah meninggal, Bu ...."
Bu Lastri dan Pak Tejo yang mendengar ini, mereka berdua sesaat tercengang, lalu kemudian kini giliran Bu Lastri yang ikut menangis. "Innalillahi ... Ya Allah, Naura ...."
Dengan perlahan, Bu Lastri menggendong tubuh bayi mungil yang mulai terbujur kaku itu dari gendongan Nara, ia pun langsung memberi kecupan untuk terakhir kalinya. Mulutnya pun setia bergumam, menyebutkan nama Naura hingga berulang kali.
Sedangkan Pak Tejo, ia langsung berlari ke musholla, ia segera memberikan pengumuman ke warga sekitar, atas meninggalnya anaknya Nara.
Setelah berita meninggalnya Naura tersebar, para tetangga sekitar langsung pergi takziah ke rumahnya Nara, begitu juga dengan Arvin, ia juga tampak terlihat syok, ketika mendengar berita meninggalnya bayi mungil tersebut.
Suasana rumah yang biasanya sepi, kini telah ramai dipenuhi oleh orang-orang yang sedang takziah, dan tidak lama kemudian, seseorang yang juga paling penting di dalam hidupnya Naura, kini mulai berjalan memasuki halaman rumah tersebut, dengan diikuti ibu dan juga adiknya yang berada di belakangnya.
"Hei, itukan Ayahnya. Dia habis dari mana? Kenapa baru pulang?" Bisik-bisik para tetangga mulai terdengar, sebab mereka kemarin sudah mengetahui bahwa Naura sudah sakit, namun ayahnya baru datang.
"Berarti semalam dia mungkin tidak pulang, dan baru pulang ketika dikabari anaknya sudah meninggal. Ih, keterlaluan banget tuh orang," sahut tetangga yang satunya.
"Ya wajar saja dia baru pulang, sebab setiap hari pun dia tidak pernah terlihat membantu Nara merawat anaknya. Soalnya saya pernah lihat, waktu Nara nitipin anaknya, eh baru sebentar saja, sudah ada alasan buat ngembaliin anaknya ke Ibunya lagi, pokoknya dia bener-bener bukan tipe suami dan ayah yang baik. Tuh lihat saja, raut wajahnya juga terlihat biasa saja, seperti tidak merasa kehilangan. Padahal yang meninggal itu anaknya sendiri," timpal tetangga yang bersebelahan dengan Nara, jadi ia juga lebih tahu tentang kehidupan rumah tangganya Nara.
__ADS_1
Sedangkan Marni yang mendengar perkataan tetangga anaknya, ia semakin dibuat emosi. Sekarang Marni harus melampiaskannya ke Nara, sebab enak saja semua orang menjelek-jelekan anaknya, padahal Nara sendiri yang tidak becus mengurus anak, hingga akhirnya cucunya meninggal.
"Dasar wanita pembawa sial, akan kutunjukkan kepada orang-orang bahwa kamulah yang tidak becus mengurus anak!" batin Marni kesal.