
Nara pulang ke rumah dalam keadaan kesal, untung saja Naura yang bersama Bu Lastri tidak rewel sama sekali, justru bayi mungil itu masih terlelap, jadi Nara bisa memiliki waktu untuk meredakan emosinya terlebih dahulu.
Kali ini Nara benar-benar merasa kecewa dengan Kevin, dan bahkan mungkin perasaannya juga mulai hilang. Namun, sayangnya ia belum bisa melupakan Kevin dengan cepat.
"Lebih baik aku blokir saja media sosialnya," gumam Nara seraya memblokir semua media sosial milik Kevin lagi. Lagi-lagi Nara tidak ingin mendengar apapun tentang Kevin lagi.
Di saat jari jemarinya sedang asyik bergulir di layar ponselnya. Tiba-tiba saja ada sebuah notifikasi WA dari nomor baru.
[Mbak, cucianku kemarin cepat dianter! Nyuci hanya segitu, lama banget. Lelet banget kerjanya!"]
Nara membelalakkan matanya ketika membaca pesan ini, dan sepertinya ia tahu siapa orang yang sudah mengirimkan pesan ini. Siapa lagi kalau bukan tetangga di depan rumahnya, sebab Nara bisa menebaknya dari foto profilnya yang menampilkan sebuah cover novel fantasi.
"Ini orang, ternyata lebih cerewet dari perempuan. Bukankah baru kemarin dia mengantarnya? Sekarang sudah ditagih seperti ini, untungnya yang dia cuci bahan kainnya termasuk tipis, jadi sudah beres semuanya. Coba saja kalau lebih tebal, dan sekarang juga belum kering. Lalu dia pasti akan langsung komplain sambil gedor-gedor pintu," gerundel Nara kesal.
Karena tidak ingin membuat pelanggan barunya marah, Nara pun bergegas mengambil cucian orang tersebut di rak khusus cucian yang sudah rapi, lalu kemudian mengantarnya sesuai dengan petunjuk isi surat kemarin.
Namun, karena di dalam kantong keresek tersebut ada uang kembalian milik Arvin, dan Nara takut jika uang tersebut nanti hilang diambil orang, lalu kemudian lelaki itu kembali komplain karena tidak mendapatkan kembalian, jadilah Nara akhirnya mengetuk pintu rumah Arvin sebentar.
"Mas, ini cucian milik Mas sudah saya antar ...." teriak Nara dari luar. Setelah mengatakan itu, Nara sudah berbalik dan hendak pergi. Namun, tiba-tiba saja pintu di belakangnya terbuka.
"Hei, Mbak. Ini dibawa sekalian!" Arvin menyodorkan satu kresek pakaian kotor lagi, dengan wajah kesal yang setia tertutup oleh maskernya.
Nara yang mendengar nada ketus dari suara orang yang ada di belakangnya, ia sejenak menghela napas, lalu kemudian ia berbalik.
"Baik, Mas. Oh iya, uang kembaliannya cucian kemarin, sudah ada di dalam," sahut Nara seraya menunjuk kantong kresek yang tergantung di handle pintu, di samping Arvin.
"Dan, terima kasih karena sudah bersedia mencuci di laundry saya." Lanjut Nara dengan nada yang se-sopan mungkin, seraya mengambil kantong keresek yang disodorkan Arvin.
Nara yang sudah terbiasa menghadapi pembeli arogan di toko tempatnya ia bekerja dulu, jadi kini Nara juga bisa menghadapi orang seperti Arvin ini.
__ADS_1
Tidak ada jawaban dari Arvin, dia malah memberikan sorotan mata yang membuat Nara menjadi merinding.
"Ini orang aneh banget, sudah bicaranya tidak sopan, setiap keluar juga pakai masker pula. Jangan-jangan, dia memang benar-benar salah satu orang dari komplotan ******* lagi," batin Nara bergidik. Lalu setelah mengatakan permisi, Nara pun buru-buru pulang ke rumahnya.
Sedangkan Arvin yang masih berdiri di tempatnya, ia sedikit kebingungan melihat tingkah Nara yang begitu ketakutan dengannya.
"Pasti itu cewek mengira wajahku aneh karena pakai masker, padahal aku pakai masker karena tidak ingin dikenali dia," gumam Arvin.
Arvin yang mengira kalau Nara akan dapat mengenalinya ketika ia membuka masker, sebab ia pernah mengantarkan Alvin ke pasar waktu itu. Jadi, karena alasan itu, Arvin memilih jalan aman untuk selalu memakai masker saat keluar, sebab ia tidak berniat ingin saling mengenal dengan Nara, lebih jauh dari ini. Dan, jika bukan karena kondisi Nara yang memprihatinkan, Arvin juga tidak mau repot-repot membantu Nara seperti ini.
Lalu soal bersikap ketus, Arvin memang tidak bisa bersikap pura-pura baik atau lembut dengan Nara, karena Arvin masih sangat benci dengan Nara.
Benci tapi kok mau membantu? Terkadang kata-kata ini juga sedikit mengganggu pikiran Arvin.
Namun, Arvin yang mempunyai pemikiran, bahwa karena ia dasarnya adalah orang yang baik, dan juga tidak tegaan, jadi tanpa sadar nalurinya tetap mengarahkannya agar ia mau membantu Nara.
Namun, yang sampai saat ini, yang juga Arvin paling bingungkan, kenapa Tuhan mempertemukannya lagi dengan Nara? Bahkan kini mereka ditakdirkan menjadi tetangga? Kebetulan macam apa ini?
Suara gelak tawa dan senda gurau mengudara memenuhi sebuah bangunan kosong yang cukup besar, lebih tepatnya tempat ini dulunya adalah bekas sebuah gudang yang sekarang sudah tidak terpakai lagi.
Bangunan ini cukup jauh dari pemukiman warga, dan meski tempatnya sedikit kotor, namun malam harinya akan selalu ramai sebagai tempat perkumpulannya anak muda, terutama laki-laki.
Banyak di antara mereka datang masing-masing dengan membawa pasangan mereka, dan tentunya mereka yang membawa pasangan belumlah halal.
Namun, tidak sedikit juga, ada beberapa yang datang hanya sendirian, mereka-mereka adalah para jomblo yang menikmati suasana malam dengan bermain biliar, dan juga ditemani oleh beberapa botol minuman keras, salah satu laki-laki tersebut adalah Kevin.
Kevin yang merasa sedih dan frustasi, karena Nara lagi-lagi marah dengannya, bahkan Nara sampai langsung memblokir media sosialnya miliknya. Ini tentu membuat hati Kevin kembali hancur.
Padahal Kevin sudah berusaha membuat hubungan mereka kembali membaik, lalu ia juga memiliki rencana agar Nara bisa kembali menjadi miliknya. Namun, semua itu hanya angan saja, karena kini mereka benar-benar sudah berakhir.
__ADS_1
"Tapi, aku tidak akan menyerah semudah itu, Nara," gumam Kevin dengan mata yang memerah.
Mata Kevin memerah bukan karena merasa sedih saja, namun ia juga sudah mabuk berat. Entah sudah berapa banyak isi botol minuman keras yang habis, yang sudah diminumnya.
Mata Kevin bahkan hampir terpejam, namun samar-samar ia mendengar suara gadis yang tidak asing di telinganya.
"Mas Kevin." Gadis tersebut langsung berlari menghampiri Kevin.
"Itu suaranya Diana, tapi kenapa wajahnya mirip Nara?" batin Kevin yang melihat Diana menjadi seperti Nara. Kevin bahkan sampai mengucek kedua matanya, yang pandanganya sudah mulai buram, bahkan ia kini juga sudah mulai hilang akal. Tapi, gadis yang ada di depannya, benar-benar seperti Nara.
"Mas Kevin, kamu kenapa? Ayo, kita pulang, ini sudah malam," ujar Diana seraya mengguncang bahu Kevin.
Sedangkan teman-teman Kevin yang berada di sekitar Kevin, mereka semua tampak tidak mempedulikan kedatangan Diana, sebab mereka juga dalam keadaan yang tidak sadar, sama seperti Kevin.
Kevin hanya bergumam tidak jelas, lalu kemudian tangannya menyentuh pipi Diana.
"Halus, masih sangat halus seperti dulu," batin Kevin yang mengira itu adalah pipinya Nara.
Diana sontak bersemu ketika Kevin menyentuh pipinya, bahkan hatinya pun ikut berbunga-bunga.
Karena kesadaran Kevin semakin menghilang, Diana tidak akan mengulur waktu lagi, sebab akan sangat merepotkan jika Kevin sampai pingsan. Lalu, bagaimana cara Diana membawa Kevin masuk ke dalam mobil yang tadi ia bawa?
Maka, Diana pun segera memapah Kevin berjalan menuju mobil miliknya Kevin. Sedangkan motor yang dikendarai Kevin tadi, Diana akan membiarkannya di sini. Lagi pula, kebanyakan orang yang masih ada di dalam bangunan tersebut, akan ada di sini sampai siang, dan tempat ini juga terbilang aman dari pencuri, karena kawasan di sini adalah milik salah satu preman yang cukup terkenal dan ditakuti di daerah tersebut.
Sedangkan Diana yang baru saja selesai membaringkan tubuh berat Kevin di kursi belakang. Namun, tiba-tiba saja Kevin menarik tubuh Diana, hingga tubuh Diana berada di atas Kevin.
"Nara," gumam Kevin cukup jelas, dan itu tentu saja membuat Diana sakit hati ketika mendengarnya.
Diana mengepalkan tangannya, namun kemudian ia kembali merenggangkan kepalan tangan tersebut.
__ADS_1
"Tidak masalah jika malam ini kamu menganggap ku sebagai Nara. Namun, di malam ini jugalah, aku juga akan membuatmu mulai melupakan Nara, karena aku sangat mencintaimu, Mas Kevin." Diana mengatakan itu seraya mulai meraba dada bidang Kevin, lalu tangan halus Diana pun perlahan-lahan mulai turun mengikuti lekuk tubuh Kevin.
Sedangkan Kevin yang berada dalam pengaruh alkohol, sontak hal itu langsung memercik gairahnya. Apalagi saat ini Kevin masih menganggap Diana adalah Nara, lalu hal yang seharusnya tidak boleh terjadi, kini akhirnya terjadi...