
Tiga bulan kemudian ....
"Hei, Nara. Kamu kembali dekat dengan Kevin lagi, ya?" tanya Bunga yang saat ini sedang berada di rumahnya Imel.
Bunga yang sedang merindukan Nara, ia sengaja datang ke rumahnya Imel, untuk menemui sahabat baiknya itu. Bahkan hari ini, Bunga sampai mengambil hari libur hanya untuk menemui Nara.
Namun, Bunga dibuat terkejut ketika mendengar cerita dari Imel, bahwa Nara dan Kevin, beberapa waktu ini, mereka berdua sering berbalas pesan kembali.
Nara yang baru saja menjemur baju, ia mengerutkan kening. "Dasar tukang ngadu!" gerutu Nara pada Imel, sebab sepertinya, Imel sudah cerita ke Bunga, tentang Kevin.
Sedangkan Imel sontak menjulurkan lidahnya, ia merasa senang sebab Bunga tampak tidak senang melihat Nara kembali dekat dengan Kevin.
"Wah, kamu keterlaluan, Nara. Pantas saja kamu menyembunyikan hal ini dariku." Bunga berdecak, ternyata Nara tidak mau cerita, karena Nara takut ia akan marah. Tapi, tentu saja ia akan marah.
"Jangan balikan sama dia! Kamu nggak ingin sakit hati untuk kedua kalinya bukan?" Bunga menggebrak meja seraya melotot galak.
"Memangnya siapa yang mau balikan sama dia?" Nara mendesah lelah. "Kan namanya orang tanya, ya harus aku jawab, dan Kevin itu sedang bertanya padaku, masa iya aku abaikan." Lanjutnya yang tidak sepenuhnya bohong.
Selama ini isi pesan Kevin memang hanya seputar pertanyaan, meskipun hanya sekedar basa-basi, dan Nara tahu maksudnya Kevin untuk kembali mendekatinya. Namun, Nara tidak bisa mengabadikannya begitu saja. Dan, entah mengapa Nara juga tidak bisa membenci Kevin, padahal Kevin sudah sering menyakitinya.
"Atau, mungkinkah cintaku dulu terlalu dalam kepada, Mas Kevin? Jadi, sampai sekarang pun aku masih belum bisa move on darinya?" batin Nara yang merasa kesal sekaligus sedih.
"Nah, belum apa-apa dia sudah bengong! Kalau melihatnya seperti itu, siapa yang tidak khawatir dengannya?" Sekarang giliran Imel yang menggebrak meja, ia jadi gemas ketika melihat Nara yang tidak bisa berbohong dari mereka berdua.
__ADS_1
Bunga sontak manggut-manggut. "Iya, dia memang tidak bisa walaupun hanya sekedar chattingan dengan Kevin saja, sebab hatinya selembut kapas. Nanti bisa-bisa bilangnya A, tapi yang dilakuin C," sahut Bunga, yang membuat Nara sampai menggaruk rambutnya sendiri yang tidak terasa gatal.
Bunga masih ingin memberikan wejangan kepada Nara. Namun, tiba-tiba saja ada pesan yang masuk ke dalam ponselnya. Lalu setelah Bunga membaca pesan tersebut, ia hampir saja menjatuhkan ponselnya sebab terkejut dengan isi pesan tersebut.
***
Sedangkan di tempat lain, lebih tepatnya di kediaman Kevin. Semua orang tampak terlihat duduk dengan cemas di ruang keluarga.
Saat ini bukan hanya ada Kevin dan kedua orang tuanya saja. Namun, ada kakaknya dan kakak iparnya Kevin, dan juga Tantenya Kevin, yang termasuk ibunya Diana. Hanya minus adiknya Kevin saja, sebab ia masih kuliah.
Semua orang tampak cemas karena sedang menunggu dokter yang sedang memasangkan infus ke Diana. Awalnya mereka tidak secemas ini, karena mereka mengira bahwa Diana benar-benar memiliki keluhan penyakit lambung.
Namun, saat dokter meminta Diana melakukan test pack, wajah mereka langsung berubah pucat dan khawatir bersamaan, sebab mereka benar-benar takut jika Diana sampai hamil.
"Pokoknya akan kubunuh lelaki yang sudah menghamili Diana!" geram Ayahnya Kevin dengan suara lirih, namun masih bisa didengar oleh semua orang, termasuk Kevin yang saat ini langsung mengeluarkan keringat dingin.
Namun, sampai saat ini, Kevin masih belum bisa mendapatkannya, sebab Diana lah yang berada di balik kegagalan Kevin untuk mendapatkan suami dan ayah pengganti tersebut.
Hingga akhirnya, puncak kebohongan ini berakhir hari ini. Diana yang tadi pagi pingsan, membuat semua orang khawatir, dan lalu kemudian mereka langsung memanggil dokter untuk memeriksa keadaan Diana.
"Aduh, Mas. Sabar dulu, kita tunggu saja apa kata dokternya nanti, siapa tahu Diana benar-benar cuma terkena penyakit lambung," sahut Ibunya Kevin yang sebenarnya merasa was-was, sebab sebenarnya pikirannya sudah mulai menerka ke mana-mana.
"Tapi, semoga saja itu tidak terjadi," gumam hati Ibunya Kevin.
__ADS_1
Lalu tiba-tiba saja pintu terbuka, dan dokter keluar dengan wajah yang kurang puas, lebih tepatnya ia sedang menahan kesal.
"Kan sesuai dengan apa yang saya bilang tadi, Putri kalian itu benar-benar hamil, dan ini buktinya. Kalau begitu saya permisi, kalian sekeluarga sudah mengulur banyak waktu saya," ujar sang dokter yang sudah tidak bisa menahan perasaan kesalnya lagi, sebab keluarganya Kevin benar-benar sudah menguji kesabarannya.
Ibunya Kevin tersenyum canggung, lalu kemudian ia menempelkan amplop berisi uang ke tangan dokter tersebut, seraya mengantarnya keluar. "Mohon maaf, Bu Dokter, sebab kami tadi benar-benar terlalu kaget dan tidak percaya."
Dokter tersebut hanya mengangguk saja, lalu kemudian ia langsung pamit pergi, sebab ia sudah ditunggu pasien yang datang ke rumah praktiknya.
Andaikan saja tadi mereka langsung percaya, ketika dokter tersebut memeriksa bagian perut Diana, saat dokter tersebut baru saja datang. Namun, keluarganya Kevin langsung menyanggahnya, dan tidak terima dengan hasil pemeriksaannya, bahwa Diana dinyatakan tengah berbadan dua.
Karena merasa tersinggung dengan keluarga pasien, yang mengatakan pemeriksaannya tidak benar, dokter tersebut lantas menyuruh kakaknya Kevin untuk membeli test pack, dan kemudian menyuruh Diana untuk tes menggunakan test pack tersebut.
Namun, saat baru saja keluar dari kamar mandi, Diana mengeluh pusing lagi, hingga akhirnya dia di bawa ke kamar lagi, dengan ditemani sang dokter tersebut untuk memasangkan infus ke tangan Diana.
Sedangkan alat test pack yang masih dipegang Diana, secara perlahan mulai menunjukkan garis dua, dan baru setelah itu dokter tersebut keluar seraya memberikan bukti test pack tersebut.
Ibunya Kevin yang masih berada di teras, ia sebenarnya merasa malu, namun ini untuk memantapkan hatinya juga, sebab sebenarnya ibunya Kevin sudah mulai curiga sejak acara keluarga waktu itu. Ia bisa menebak Diana sedang hamil, namun ia tidak berani mengungkapkannya.
Lalu soal siapa yang sudah menghamili Diana, ibunya Kevin berharap bahwa itu bukanlah Kevin, sebab mereka sekeluarga, tidak akan tahu harus bagaimana lagi untuk menghadapi kenyataan yang sangat memalukan dan sangat berdosa ini.
Namun, baru saja ibunya Kevin akan masuk ke ruang keluarga, ia sudah mendengar pernyataan yang membuat jantungnya tiba-tiba saja berhenti berdetak, dan dadanya terasa sesak.
"Iya, akulah yang sudah menghamilinya," ujar Kevin akhirnya dengan jelas, sebab ia tidak bisa mengelak lagi, karena Diana berniat akan bunuh diri di hadapan mereka.
__ADS_1
"Kevin!!! teriak semua orang kompak, seiring dengan Ibunya Kevin yang jatuh terduduk karena lemas.
"Ibu, ...."