
Setelah puas membolos kerja dan menghabiskan siangnya bersama pacar barunya, saat ini Gavin masih melanjutkan harinya bersama wanita tersebut, sekarang mereka berdua sedang makan malam di salah satu rumah makan yang berada di daerah kota, lebih tepatnya tempat itu tidak jauh dari kompleks perumahan rumahnya Kevin.
"Aku mau itu," ujar sang wanita dengan manja. Ia menunjuk kulit ayam yang berada di atas piringnya Gavin.
Mendengar permintaan pacar seksinya, Gavin lantas memberikan apa yang pacarnya inginkan. "Mau aku suapi?" Gavin menawarinya dengan setengah menggoda. Sedangkan wanita itu, langsung mengangguk senang.
Gavin yang sedang bermesraan dengan wanita tersebut, ia tidak menyadari bahwa ada orang lain yang tengah memperhatikan mereka berdua, bahkan laki-laki tersebut, secara diam-diam sudah mengambil foto mereka berdua.
Kevin yang baru saja mengambil foto Gavin dan selingkuhannya, ia tersenyum sinis, lalu di detik kemudian ia jadi merasa kasihan dengan Nara, sebab Nara ternyata mendapatkan suami brengsek seperti Gavin.
Untungnya Gavin tidak mengenal Kevin, ia hanya tahu nama mantan pacarnya Nara yang masih dicintainya itu. Namun, Gavin tidak pernah tahu seperti apa wajahnya Kevin.
Sedangkan Kevin sendiri, ia tahu Gavin dari postingan sosial medianya Nara, jadi ini adalah sebuah keuntungan bagi Kevin, untuk bisa merebut kembali Nara dengan memperlihatkan foto aib suaminya ini.
"Hei, Mas. Kenapa melamun?" tanya Diana yang baru saja datang dari toilet.
"Enggak, kamu sudah selesai? Kalau begitu ayo, kita pulang." Kevin langsung berdiri, begitu juga dengan Diana yang langsung mengikuti langkahnya. Mereka berdua pergi meninggalkan Gavin yang masih asyik menikmati makan malam, seraya bermesraan dengan selingkuhannya.
Keesokan harinya.
Hari ini Nara menitipkan Naura ke Bu Lastri, sebab ia akan pergi ke pasar Wage untuk membeli parfum dan juga kebutuhan lain yang diperlukan untuk laundry nya. Karena di daerah sini, belum ada toko yang menyediakan kebutuhan laundry secara lengkap.
Nara juga meminta izin meminjam motor milik Bu Lastri, sebab Nara dan Gavin hanya memiliki satu motor saja. Setelah semuanya siap, Nara pun langsung bergegas pergi ke pasar Wage.
Sesampainya di Pasar Wage, Nara langsung menuju toko langganannya, setelah semua bahan yang ia butuhkan sudah ia didapatkan, Nara langsung bergegas kembali berjalan menuju parkiran.
Bahkan Nara tidak memiliki niatan hanya untuk sekedar berjalan-jalan menikmati suasana ramainya pasar Wage, yang ada di pikiran Nara saat ini, ia harus segera pulang sebelum anaknya nanti menangis.
__ADS_1
Namun, ketika hampir sampai di parkiran, Nara tanpa sengaja berpapasan dengan Kevin dan juga Diana. Ingin rasanya Nara menghindari mereka berdua, namun jalan menuju parkiran hanya ada satu ini saja.
"Nara," sapa Kevin dengan wajah yang berseri-seri, sebab ia sudah lama tidak melihat wajah mantan pacarnya tersebut.
"Oh, hai," balas Nara seraya tersenyum dengan seadanya. Lalu kemudian Nara ingin segera melanjutkan langkahnya, namun Kevin buru-buru menghalanginya.
"Tunggu sebentar, Nara. Aku ingin berbicara denganmu, hanya sebentar saja," pinta Kevin dengan nada penuh permohonan. Kevin yang merasa ini adalah jalan dari Tuhan, ia tentu tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini untuk membuka aib suaminya Nara kepada Nara.
"Aduh, Mas. Maaf, tapi aku sedang terburu-buru," sahut Nara seraya melirik Diana yang sedang memberikan lirikan sinis padanya.
Nara sebenarnya tidak takut dengan lirikan Diana itu, namun dia benar-benar takut jika sekarang anaknya sedang menangis, sebab Nara akan membuat Bu Lastri semakin kerepotan.
Sedangkan soal Diana, meski Nara masih memiliki perasaan kepada Kevin, tapi dia juga tidak akan gila untuk berniat menggoda Kevin, sebab dirinya sudah memiliki suami. Lalu untuk apa tatapan sinis yang diberikan Diana untuknya? Dasar, kurang kerjaan. Pikir Nara.
Sedangkan Kevin yang tanpa sengaja melihat Nara melirik Diana, Kevin berpikir Nara sedang takut dengan tatapan sinis Diana.
Sedangkan Diana langsung memasang wajah masam. "Baiklah, aku masuk duluan. Mas Kevin jangan lama-lama ya!" Setelah mengatakan itu, Diana langsung berjalan masuk ke dalam pasar.
"Nara, bagaimana kabarmu?" tanya Kevin, setelah ia melihat Diana sudah masuk ke dalam pasar.
Mendengar ini, Nara semakin tindak tenang, karena Kevin malah ingin basa-basi dulu dengannya.
"Aku baik, Mas. Mas aku benar-benar minta maaf ya, aku tidak bisa mengobrol sekarang, karena aku nitipin anak aku ke tetangga, aku takut kalau nanti dia nangis," ujar Nara dengan sedikit nada menyesal, ia benar-benar tidak berniat ingin menghindari Kevin. Namun, karena waktunya lah yang benar-benar tidak memungkinkan.
"Tapi, Nara. Aku benar-benar tidak lama kok, aku hanya ingin menunjukkan sesuatu padamu." Kevin langsung mengeluarkan ponselnya, lalu kemudian ia menunjukkan foto semalam kepada Nara.
Nara tercengang ketika melihat foto itu, ia benar-benar kaget ketika melihat foto suaminya yang sedang bermesraan dengan wanita lain. Tapi, ini bukan waktu yang bagus untuk membahas masalah ini, apalagi hanya sekedar mencerna apa yang sudah dilihatnya, sebab fokus Nara hanya ke Naura saja.
__ADS_1
"Itu pasti tidak seperti kelihatannya, Mas." Nara yang malu dengan Kevin, sebab Nara sering memamerkan kemesraannya dengan suaminya di media sosial, Nara tentu segera memikirkan alasan untuk mengelaknya.
"Itu mungkin hanya teman dekat atau saudaranya saja." Lanjut Nara memberi alasan. Hanya karena merasa malu dan gengsi, karena rumah tangganya ternyata tidak semanis yang seperti ia sudah pamerkan, Nara jadi terpaksa berbohong, dan kebohongannya itu tentu bisa dilihat dengan mudah oleh Kevin.
Kevin tersenyum tipis menanggapi kebohongan Nara. "Nara, kamu lupa ya, kalau kamu tidak bisa berbohong jika denganku? Sudahlah, akui saja jika pernikahanmu itu tidak bahagia. Kamu segera bercerailah dengan suamimu, dan aku pasti mau kok menerimamu kembali."
Mendengar perkataan Kevin, Nara bukannya merasa senang atau terhibur, justru Nara malah merasa ada amarah yang meledak di dalam dadanya.
Bisa-bisanya Kevin begitu percaya diri seperti itu, dan meskipun Nara tidak bahagia dengan pernikahannya, haruskah Kevin mengatakannya di depan umum seperti ini?
Tanpa sadar Kevin sudah membuat Nara semakin kehilangan harga diri.
"Mas Kevin, kamu ingat perkataanku ini baik-baik ya! Meskipun pernikahanku tidak bahagia, dan bahkan sampai aku harus bercerai dengan Mas Gavin. Tapi, setelah itu terjadi, aku juga tidak akan pernah kembali bersamamu, sebab menikah denganmu juga akan tetap makan hati, karena siapa yang bisa menjamin, sepupumu itu tidak akan menjadi orang ketiga di antara kita," sahut Nara dengan mata yang berkaca-kaca. Untung saja Nara juga teringat dengan sosok Diana.
Enak saja Kevin hanya mengumbar keburukan rumah tangganya, jadi tidak salah bukan, kalau Nara juga harus membeberkan apa yang menjadi batu sandungan hubungannya selama ini dengan Kevin. Jadi akan adil jika sekarang mereka juga sama-sama malu.
Apalagi saat ini Nara masih memikirkan Naura, jadi emosi Nara semakin memercik ketika Kevin memancing amarahnya.
"Nara! Kenapa kamu jadi membahas Diana?!" teriak Kevin kesal. Sebab, seharusnya mereka saat ini membahas hubungan mereka, bukan menyeret orang lain untuk tambah memperkeruh pembicaraan ini.
Sedangkan Nara yang melihat Kevin marah, Nara menjadi salah paham, ia mengira Kevin tidak terima jika Nara menyeret-nyeret sepupunya, hingga membuat orang berpikir buruk tentang sepupunya Kevin itu.
"Bagus, padahal sampai saat ini kalian juga tetap sering bersama, padahal sudah banyak orang yang mengatakan, bahwa kedekatan kalian itu sungguh tidak wajar," batin Nara yang juga tak kalah marah. Lalu tanpa mengatakan apa-apa lagi, Nara langsung pergi meninggalkan Kevin. Bisa-bisa Nara menjadi gila, kalau saat ini ia tetap meladeni Kevin bicara.
Sedangkan Kevin yang melihat Nara tiba-tiba pergi, ia memanggil-manggil nama Nara, hingga berulang kali dengan cukup keras. Bahkan, semua orang yang lewat, sampai berhenti melihat tingkahnya tersebut.
Suasana parkiran cukup ramai, hingga tidak ada yang sadar, bahwa ada seseorang yang diam-diam mengambil foto Kevin dan Nara, di saat sejak mereka berdua tadi masih berbicara dengan baik-baik.
__ADS_1
Wanita tersebut tersenyum licik. "Kena kau sekarang, Nara!" gumamnya senang.