
Gavin tidak menyangka, jika kedatangannya kembali ke kota ini, bisa membuatnya bertemu dengan Nara kembali. Lebih tepatnya ia tidak menyangka bahwa Nara juga telah bekerja di kota, bukan di desa tempat tinggalnya dulu.
Setelah pertemuan mereka di hari itu, hubungan Nara dan Gavin juga kembali dekat, bahkan Nara pun juga sudah menerima pernyataan cinta Gavin dari seminggu yang lalu. Dan, setelah seminggu mereka berpacaran, hari ini mereka berdua mengambil cuti bersama untuk pergi berkencan.
"Wuih ... senengnya yang mau kencan?" goda Bunga seraya menyisir rambutnya yang berwarna kecoklatan, kemarin ia baru saja mengambil libur dan pergi ke salon untuk mewarnai rambutnya.
Nara hanya menanggapinya dengan senyuman, ia juga sedang mematut dirinya di depan cermin. Tinggal mengoleskan lipstik saja, tampilan Nara sudah sempurna.
"Oh ya, ngomong-ngomong kenapa kamu bisa cepat menerima Gavin? Padahal dulu Alvin juga kayak suka sama kamu. Tapi, kamu kayak nggak kasih respon sama sekali ke dia."
Bunga sangat penasaran, kenapa Nara bisa menerima cinta Gavin dengan mudah? Sedangkan waktu itu Alvin juga tidak kalah baiknya seperti Gavin, namun Nara seperti tidak tersentuh sama sekali.
Nara sejenak menghela napas sebelum menjawab pertanyaan Bunga. "Aku kan lagi ikut saranmu, mencoba move on dengan cara berpacaran dengan cowok lain. Dan, soal Mas Gavin, aku sudah mengenalnya semenjak SMP, jadi aku ngerasa akan lebih mudah mencoba menerima dia daripada Alvin atau yang lainnya. Lagi pula, dulu aku juga sempat suka sama Mas Gavin, jadi tidak ada salahnya kan mencoba hubungan dengannya?"
Bunga hanya manggut-manggut saja. "Ok, tapi kamu harus ingat satu hal. Jangan pernah kamu jatuh cinta terlalu dalam dengan Gavin, meskipun dia mengatakan bahwa dia sudah tobat bermain perempuan, namun omongan laki-laki seperti itu, tidak bisa dipercaya."
Bunga sudah tahu dari ceritanya Nara, bahwa Gavin dulu adalah seorang playboy di sekolahnya. Namun, meskipun Nara juga bilang bahwa Gavin benar-benar mencintai Nara dengan tulus, dan tidak akan pernah mengkhianatinya. Tapi, tetap saja Bunga tidak percaya dengan perkataan seperti itu, dan ia juga mengkhawatirkan teman baiknya itu jika sampai Nara dibohongi oleh laki-laki brengsek seperti itu.
"Iya, kamu jangan khawatir. Aku yakin Mas Gavin benar-benar baik sama aku." Nara bisa mempercayai Gavin bukan tanpa alasan, sebab ia masih ingat bagaimana cara Gavin menjaganya dulu di waktu SMP. Lagi pula, sorot mata lembut Gavin dulu, juga masih bisa Nara lihat sekarang, yaitu ketika Gavin sedang menatapnya.
Sorot mata itu juga sama dengan milik Kevin, ketika Kevin sedang menatapnya juga.
Kevin?
Nara sontak menggelengkan kepalanya, ketika nama itu melintas lagi dalam benaknya.
__ADS_1
Tidak! Aku harus melupakan Mas Kevin, karena aku sekarang sudah punya Mas Gavin, dan aku tidak boleh menyakiti Mas Gavin, dengan cara aku masih mengingat-ingat masa laluku.
Meskipun Nara menerima cintanya Gavin, bukan karena Nara mencintainya, namun karena ia mencoba melupakan Kevin dengan hadirnya Gavin di sisinya. Tapi, Nara benar-benar menjalani hubungan ini dengan tulus dan jujur. Dan, apalagi jika mengingat Kevin yang sudah akan menikah dengan Diana, itu berarti Nara sudah tidak memiliki kesempatan lagi dengan Kevin, jadi sebisa mungkin Nara akan terus berusaha untuk menghilangkan nama Kevin di hatinya.
"Aku harus move on!" gumam Nara berulang di dalam hatinya.
Setelah Bunga dan yang lainnya berangkat bekerja, lalu tidak lama kemudian Gavin datang menjemput Nara.
"Sudah siap?" tanya Gavin lembut ketika Nara datang mendekat.
Nara menjawab dengan menganggukkan kepalanya seraya tersenyum. Lalu setelah itu mereka berdua langsung pergi menuju tempat yang sudah mereka rencanakan sebelumnya.
Setelah menempuh perjalanan selama lima belas menit, Nara dan Gavin akhirnya sampai di sebuah tempat wisata pemandian air panas di kota tersebut. Lalu tanpa mengulur waktu lagi, mereka berdua langsung berendam di kolam air panas tersebut.
Keduanya merasa lebih relaks, saat tubuh mereka menyentuh air yang memiliki suhu sekitar empat puluh derajat Celcius itu.
"Iya," sahut Nara seraya tersenyum malu. Nara merasa malu ketika Gavin menatapnya seperti itu.
Melihat Nara yang tersipu malu, dengan pipi yang merah merona. Gavin jadi tidak sanggup lagi menahan keinginannya untuk segera mencium bibir Nara.
Setelah melihat sekelilingnya yang cukup sepi, Gavin tanpa mengulur waktu lagi, ia segera menempelkan bibirnya ke bibir mungil Nara.
Mendapat serangan tiba-tiba, Nara sontak terkejut, ia refleks ingin mundur karena takut akan dilihat orang lain. Namun, Gavin tidak membiarkan Nara mundur, ia langsung menahan pinggang Nara untuk tetap di dekatnya, Gavin membawa Nara ke dalam pelukan hangatnya, seraya ia terus menikmati bibir Nara yang terasa manis.
Mereka berdua berciuman cukup lama, hingga keduanya tersengal karena kehabisan napas. Pipi Nara semakin memerah, ketika pautan bibir mereka terlepas.
__ADS_1
"Kenapa pipimu memerah lagi? Kalau aku melihatmu begini, aku jadi ingin menciummu lagi," bisik Gavin lembut seraya mengusap pipi Nara yang memerah. Namun, Gavin harus menahan hasratnya untuk mencium Nara lagi, atau bisa-bisa kemesraan mereka ini nanti akan dilihat orang.
Mendengar perkataan Gavin, rasa panas langsung menjalar ke seluruh tubuh Nara, ia benar-benar malu mendengar kata-kata gamblang seperti ini.
Sedangkan Gavin yang semakin tidak kuat menahan keinginannya untuk menyerang Nara lagi, ia mengatakan, "Aku rasa kita sudah cukup lama berendam, setelah istirahat sebentar, kita langsung ke kosan ku ya? Takutnya temanku akan mengomel lagi karena charger nya belum diantarkan."
Nara sedikit bingung karena Gavin buru-buru ingin mengantarkan charger ke tempat temannya, padahal mereka keluar belum terlalu lama. Namun, Nara hanya bisa menganggukkan kepalanya pasrah.
Lalu tidak lama kemudian, setelah mereka beristirahat sebentar, Gavin langsung mengajak Nara pulang ke kosannya terlebih dahulu.
Saat sampai di kos-kosannya Gavin, suasana terlihat sepi, karena mayoritas penghuni indekos di sini adalah karyawan, maka pagi ini semua orang sibuk bekerja, bisa dibilang saat ini hanya mereka berdua saja yang ada di tempat ini.
Saat membuka salah satu pintu bangunan tersebut, Nara langsung disuguhkan kamar Gavin yang terlihat cukup rapi untuk ukuran kamar laki-laki.
"Kamu duduk dulu ya, aku mau ke kamar mandi sebentar." Setelah mengatakan itu, Gavin langsung pergi ke belakang, yang Nara duga itu adalah dapur serta tempat kamar mandi yang ada di samping dapur. Meski terlihat sederhana, Nara tidak menyangka ada kamar mandi dalam di kos-kosan ini. Sebuah kos-kosan dengan fasilitas cukup menarik, pikir Nara.
Lalu tidak lama kemudian, Gavin keluar dengan membawa dua gelas kosong, beserta satu botol sprite yang sudah dibukanya terlebih dahulu.
"Kamu tunggu di sini sambil ngemil dulu ya, aku mau pergi antar charger temenku dulu. Hanya sebentar saja, tempatnya tidak jauh kok dari sini."
Lagi-lagi Nara hanya mengangguk, lalu setelah itu Gavin langsung keluar mengantarkan charger milik temannya yang tempat kos nya tidak jauh dari tempat ini.
Nara yang merasa haus, tanpa ragu ia langsung menuang minuman bersoda itu dan langsung meminumnya, Nara juga terlihat menikmati camilan ringan yang disuguhkan Gavin.
Namun, lima belas menit kemudian, Gavin belum juga kembali, dan tiba-tiba saja ada sesuatu yang aneh, yang menyerang tubuh Nara. Entah mengapa ia merasa udara di kamar Gavin terasa panas. Lalu tanpa sadar Nara mulai membuka kedua kancing atas kemejanya karena kegerahan.
__ADS_1
Nara yang sedang mengipasi wajahnya dengan kedua tangannya, ia mendongakkan kepalanya saat pintu terbuka dan menampilkan sosok Gavin yang entah mengapa terlihat menggoda.