TERIMA KASIH, MANTAN!

TERIMA KASIH, MANTAN!
27. Naura Sakit


__ADS_3

Keesokan harinya.


Kevin terbangun oleh suara bising knalpot motor. Ini adalah suara motor dari anak-anak muda semalam yang baru saja akan pulang ke rumah mereka masing-masing.


Kevin menguap seraya mengucek matanya, namun tiba-tiba ia tersentak saat mengetahui keberadaanya, yang berada di dalam mobil dan masih di area gedung semalam.


Namun, di detik berikutnya, ia membelalakkan matanya lebih lebar lagi.


"Diana?" Kevin terkejut ketika melihat Diana yang tertidur dengan pakaian yang sudah acak-acakan, bahkan bagian bawahnya pun sudah tidak lengkap. Lalu, pandangannya pun beralih menatap dirinya sendiri.


"Astaga! Apa yang sudah terjadi dengan kami semalam?" teriak Kevin terkejut, lalu ia buru-buru membenarkan pakaiannya sendiri.


Sedangkan Diana yang terbangun oleh teriakan Kevin, ia sontak berpura-pura ikut bingung.


"Mas Kevin ...." Diana langsung berakting pura-pura menangis, air matanya yang jatuh, terlihat begitu natural.


"Di- Diana, maafkan aku. Aku juga tidak tahu, kenapa kita bisa melakukan ini semalam," ujar Kevin panik, ia juga langsung mengambil selimut yang biasanya tersimpan di dalam mobilnya, lalu membantu menutupi tubuh Diana yang tampak kacau.


Diana semakin menangis tersedu-sedu, sedangkan Kevin juga langsung mencoba membujuknya.


"Diana, dengerin , Mas. Pokoknya kejadian semalam kita rahasiakan dulu dari keluarga kita, dan nanti Mas akan pikirkan cara untuk mengatasi masalah semalam."


Mendengar Kevin yang sepertinya tidak mungkin akan bertanggung jawab, Diana tentu tidak akan tinggal diam.


"Tapi, Mas. Mas Kevin sudah menodai Diana, dan di masa depan, cowok mana yang mau sama Diana?" Semakin menangis histeris, ia takut jika Kevin tidak mau bertanggung jawab atas kejadian semalam.


"Diana, kamu tenang dulu. Sekali lagi tolong maafin, Mas. Tapi, kamu kan tahu sendiri, kita tidak akan mungkin bisa menikah. Kamu masih ingat kata-kata Ibu kan?" Kevin masih mencoba untuk membujuk Diana, agar ia tidak perlu menikahi Diana, tapi ia masih akan tetap memikirkan solusi untuk masalah ini.


"Tapi, Mas. Kita kan hanya sepupu, kita masih boleh menikah. Aku nggak mau tahu, pokoknya Mas Kevin harus tanggung jawab, Mas harus nikahin aku!" raung Diana.

__ADS_1


Kevin mengumpat seraya menjambak rambutnya sendiri frustasi. "Ah, sial! Bagaimana bisa aku menyetubuhi sepupuku sendiri?" batin Kevin.


***


Sedangkan di tempat lain. Semalam Gavin pulang ke rumah dalam keadaan marah-marah, Nara bahkan sampai terkejut, karena entah dari mana, Gavin mendapatkan fotonya saat dirinya bertemu Kevin di pasar.


Untungnya Gavin tidak mengetahui, jika laki-laki itu adalah Kevin, mantan pacarnya. Dan, andaikan saja Gavin sampai mengetahuinya, mungkin Nara akan langsung dituduh berselingkuh dengan mantan pacarnya tersebut.


Setelah puas marah-marah, Gavin pun langsung pergi dan mengatakan tidak akan tidur di rumah. Nara yang bingung harus berkata apa, dia hanya membiarkan suaminya pergi begitu saja.


"Seharusnya akulah yang semalam marah-marah, bukan kamu, Mas," gumam Nara seraya menangis.


Padahal semalam Nara ingin mempertanyakan, siapa wanita yang bersama Gavin, yang ada di dalam foto yang diperlihatkan Kevin padanya kemarin. Namun, yang terjadi, Gavin lah yang pulang dan langsung marah-marah kepadanya.


Meski merasa sedih dan terus menangis, Nara tetap harus menyelesaikan semua pekerjaannya, ia bahkan menangis sambil menjemur cucian laundry nya.


Namun, tiba-tiba saja Nara teringat dengan Naura yang belum bangun lagi, padahal biasanya setiap menjelang waktu makan siang tiba, Naura akan menangis karena waktunya minum susu.


"Naura sayang ... ayo, bangun. Ini sudah waktunya kamu minum susu," ujar Nara lembut seraya mengangkat tubuh Naura dari kasur.


Namun, Nara terkejut ketika merasakan tubuhnya Naura terasa panas, padahal tadi pagi, Naura masih baik-baik saja.


"Sayang, kamu kenapa? Kenapa tiba-tiba badanmu panas seperti ini?" Nara memeriksa dahi Naura yang terasa panas, namun di bagian telapak tangan dan telapak kakinya terasa dingin.


Tanpa mengulur waktu, Nara segera mengambil plester penurun panas, dan langsung menempelkannya di dahi Naura, lalu kemudian ia juga langsung menyusui Naura.


Meski ASI nya Nara tidak lancar, tapi sekarang sudah lebih baik dari kemarin-kemarin, jadi Nara tersenyum ketika anaknya bisa menyedot dengan kuat.


"Minum yang banyak ya, Sayang," ujar Nara seraya menitikkan air matanya. Nara merasa sedih, karena anaknya sakit, bersamaan dengan dirinya dan Gavin yang sedang bertengkar, bahkan suaminya juga tidak mau pulang ke rumah.

__ADS_1


Namun, Nara berpikir, jika ia memberitahukan kondisi Naura saat ini, mungkin saja nanti suaminya itu mau pulang ke rumah, bahkan mungkin saja Gavin juga mau pulang lebih cepat dari biasanya. Akan tetapi....


Malam harinya, apa yang diharapkan Nara tidak terjadi, Gavin bahkan membalas pesannya, dengan mengatakan bahwa ia malam ini harus lembur, dan bahkan mungkin dia juga tidak akan pulang.


[Ya Allah, Mas! Tapi, Naura itu sedang sakit, dari tadi panasnya juga tidak turun-turun. Memangnya kamu tidak khawatir dengan anak kita?]


Nara mengetik pesan tersebut dengan perasaan kesal. Bisa-bisanya suaminya ini mengatakan tidak akan pulang. Sangat keterlaluan sekali!


[Sudahlah nggak usah cerewet! Panas gitu aja, ribet banget. Belikan obat saja di warung, nanti juga sembuh sendiri.]


Nara hanya bisa mengusap dadanya sendiri ketika membaca pesan balasan dari Gavin. Memangnya Gavin kira, anaknya itu orang dewasa? Setelah minum obat, dia tidak akan tetap rewel seperti saat ini.


Karena sudah lelah membujuk suaminya, maka Nara pun mengabaikan balasan pesan tersebut.


"Aduh, mana Bu Lastri dan Pak Tejo sedang tidak ada di rumah lagi," gumam Nara kebingungan, sebab Nara ingin membawa Naura periksa ke bidan terdekat. Namun, Nara harus menggunakan motor jika ingin pergi ke sana, sebab tempatnya ada di desa sebelah.


Nara sudah mencoba meminjam ke tetangga, namun karena mereka tidak saling akrab, Nara pun kesulitan mendapatkan pinjaman motor, alasannya motor mereka akan dipakai sendiri.


Namun, akan berbeda jika Nara meminjamnya di Bu Lastri, sebab Bu Lastri pasti akan langsung meminjaminya. Akan tetapi, saat ini Bu Lastri dan pak Tejo sedang tertimpa musibah, sebab Ibunya Pak Tejo semalam meninggal, jadi sekarang mereka berdua masih berada di rumah orang tuanya pak Tejo.


"Aduh, mau pinjam di rumah depan juga tidak mungkin, pasti dia juga tidak akan mau meminjamkan motornya," gumam Nara putus asa.


Namun, Nara belum mau menyerah, ia mencoba meminta tolong pada adik iparnya, agar Dinda mau mengantarkan Nara pergi memeriksakan Naura. Tapi, lagi-lagi Nara gagal, sebab Dinda beralasan ada acara di kampusnya, jadi dia tidak bisa membantu Nara.


Karena sudah buntu, Nara pun juga menghubungi Imel untuk minta tolong. Namun, nomor sahabatnya sedang tidak aktif. Sedangkan Bunga, ia tidak mungkin meminta tolong ke Bunga, yang jarak mereka berdua sudah terlalu jauh, dan ini sudah pukul sembilan malam.


"Ya Allah ... kenapa bisa kebetulan seperti ini? Lalu bagaimana caranya aku membawa Naura periksa ke bidan?" gumam Nara yang lagi-lagi hanya bisa menangis.


"Yang sabar dulu ya, Sayang. Besok pagi-pagi sekali, Ibu akan membawa kamu pergi ke bidan. Sekarang kamu tidur dulu ya." Karena hari sudah malam, dan Nara tidak mungkin pergi ke bidan dengan berjalan kaki, lalu seraya menggendong putrinya yang sedang sakit, maka Nara berencana membawa Naura periksa besok pagi saja.

__ADS_1


Namun, sampai tengah malam, badan Naura masih panas, padahal Nara juga sudah memberikan obat penurun panas padanya. Akan tetapi panasnya tetap tidak mau turun.


Naura memang tertidur lelap, dan tidak menangis sama sekali. Akan tetapi, hal ini malah membuat Nara semakin khawatir, bahkan Nara sampai tidak bisa tidur semalaman.


__ADS_2