TERIMA KASIH, MANTAN!

TERIMA KASIH, MANTAN!
38. Kehidupan Baru


__ADS_3

Nara tersenyum, ketika mesin cuci miliknya, sudah tiba di rumahnya Imel.


"Oh ya, Pak. Bisa minta tolong pasang banner ini di atas sana." Nara menunjuk tempat kosong yang berada disamping banner jualan online miliknya Imel, yang tergantung tepat di atas teras rumah.


"Bisa, Mbak," sahut pemilik pick up tadi, ia juga termasuk tetangganya Imel.


"Terima kasih ya, Pak," ujar Nara seraya memberikan ongkos untuk mengangkut mesin cucinya tadi, setelah orang itu selesai memasang banner laundry nya milik Nara.


"Iya, Mbak. Sama-sama, dan kalau Mbak nya butuh apa-apa, silakan panggil saya saja."


"Iya, Pak. Sekali lagi terima kasih," sahut Nara seraya tersenyum, lalu kemudian orang itu langsung pamit pergi.


Tidak lama kemudian, Imel pulang, ia baru saja mengantarkan jilbab pesanan pelanggan online nya.


"Wuih cakep," puji Imel ketika melihat banner yang terpasang di samping banner nya. "Sekarang kamu sudah menerima cuci karpet, jadi bagaimana kalau karpet rumahku dulu yang jadi bahan percobaan alat barumu itu." Lanjutnya bercanda.


"Boleh, siapa takut. Tapi, kamu harus bantu aku jemur karpetnya ya ...."


"Pasti, jangan khawatir. Aku kan selalu siap untuk jadi asistenmu." Lalu mereka berdua tertawa bersama, dan kemudian masuk ke dalam rumah, seraya merangkul bahu satu sama lain.


Di rumahnya Imel, terdapat dua kamar mandi, yaitu di dalam rumah, dan juga di luar rumah, yang berada satu tempat dengan sumur rumahnya Imel.


Meski Imel sering memakai kamar mandi yang ada di dalam rumah, namun ia masih rajin membersihkan kamar mandi yang ada di luar, jadi kamar mandi luar itu tetap bersih dari lumut, walaupun jarang dipakai oleh Imel.


Karena rumah ini terbilang sudah cukup lama, dahulu almarhum neneknya Imel, masih mencuci di dekat sumur tersebut. Tempatnya yang terang dan cukup luas, sangat cocok untuk mencuci benda berukuran besar, seperti karpet ataupun semacamnya. Dan kini, Nara menggunakan tempat tersebut untuk usaha laundry nya.


Nara membersihkan karpet tersebut menggunakan polisher, ia bisa membeli benda tersebut, dari hasil meminjam uang ke Imel. Sedangkan Imel, ia tentu saja mau meminjamkan uangnya ke Nara, sebab Imel sangat mendukung usaha temannya, agar lebih berkembang lagi.


Setelah selesai mencuci karpet tersebut, Nara segera memanggil Imel yang tengah asyik bermain ponsel.

__ADS_1


"Mel ... Ayo, bantuin aku jemur!" teriak Nara dari luar, sedangkan Imel yang sedang duduk di meja makan, ia langsung bergegas menghampiri Nara.


"Siap, Bos!"


Setelah selesai menjemur karpet tadi, Imel kembali asyik dengan ponselnya lagi.


"Mel, kamu lihat apaan sih, dari tadi kok senyum-senyum sendiri?" tanya Nara penasaran. Sebab, Nara juga pernah melihat Imel suka senyum-senyum sendiri saat bermain ponsel, padahal tidak ada suara dari ponsel tersebut, dan itu berarti, Imel sedang tidak menonton video yang lucu, hingga membuatnya sesenang itu.


"Ini, aku lagi baca novel online. Sumpah, ceritanya kocak banget, bahkan kadang aku sampai terlihat seperti orang gila, karena ketawa sendiri," sahut Imel seraya menunjukkan layar ponselnya.


"Ooo ... aku kira apaan, eh tapi, bukankah itu bayar ya?"


Nara juga pernah membuka novel online tersebut, ketika ada iklan novel online dari salah satu platform, yang lewat beranda sosial medianya. Dan, ternyata untuk melanjutkan membaca cerita tersebut, ia harus membeli koin dulu, untuk bisa membuka bab kelanjutannya.


"Iya sih, tapi aku lebih sering menyelesaikan misi aplikasinya, jadi aku bisa ngumpulin bonus buat buka bab yang terkunci. Eh tapi, ada juga kok, aplikasi baca novel online yang gratis. Nih yang ini, kamu download saja langsung, kan lumayan buat hiburan di saat stress. Lagipula, bukankah dulu kamu juga hobi baca?"


Nara tampak tergiur mendengar perkataan Imel, ia hendak mendownload aplikasi tersebut. Namun, ada seseorang yang sedang mengetuk pintu rumah mereka.


Imel berdecak, sebab ia masih ingin melanjutkan membaca novel yang ia baca tadi. Namun, rezeki tidak boleh ditolak bukan? Jadi, ia langsung bergegas mendatangi orang yang mengetuk pintu rumahnya.


Imel sempat terkejut, ketika melihat orang yang berdiri di depan pintu rumahnya adalah, seorang laki-laki yang bertubuh tinggi dan berkulit putih, serta menggunakan masker untuk menutupi sebagian wajahnya, dan sepertinya dia orang yang tampan.


"Ada keperluan apa ya, Mas?" tanya Imel sopan, sebab sepertinya dia bukan pembeli online shop nya, karena lelaki tersebut sedang membawa kantong kresek berwarna hitam yang berukuran cukup besar.


"Saya mau antar cucian kotor, dan tolong katakan pada temanmu itu, jika sudah selesai, suruh dia cepat untuk mengantarkan pakaian ini ke rumah saya." Setelah mengatakan itu, tanpa mengucapkan kata permisi, lelaki tersebut langsung pergi.


"Hei ... nama Mas nya siapa?" teriak Imel, sebab lelaki itu sudah menaiki motornya, dan kemudian berlalu begitu saja. Padahal, Imel kan harus tahu namanya, agar Nara tahu siapa pemilik pakaian ini.


"Eehh, dasar cowok aneh. Kelihatannya saja kayak ganteng, ternyata kelakuannya minus," cibir Imel.

__ADS_1


Nara yang baru saja keluar dari dapur, ia mengernyitkan dahi ketika melihat temannya sedang mengomel.


"Ada apa?" tanya Nara seraya mendekat ke arah Imel.


"Ini, sepertinya pelanggan kamu. Dia ngenterin cucian, lalu katanya kalau sudah selesai, kamu disuruh cepat nganter ke rumahnya. Mana orangnya kelihatan belagu banget lagi, memangnya dia orang mana sih?"


Nara hanya memiliki satu pelanggan yang menyebalkan, dan sepertinya yang dimaksud Imel, itu dia...


"Apakah dia cowok? Lalu, apakah dia memakai masker, dan juga naik motor sport?"


Imel menganggukkan kepalanya berulang kali.


Sedangkan Nara langsung berdecak. "Dia mantan tetanggaku, itu lho yang pernah aku bilang ke kamu, yang aku duga sebagai komplotan te-ro-ris."


"Astaga! Tapi, setelah dipikir-pikir, iya juga ya. Eh, tapi sepertinya dia ganteng."


"Ganteng apanya? Orang pakai masker begitu, kalau Ganteng ngapain ditutupi. Justru aku malah curiga, kalau dia itu memiliki bekas luka akibat perbuatan jahatnya, jadi dia selalu pakai masker kalau keluar rumah."


"Yee ... pikiranmu itu terlalu jauh, dan matamu kalau lihat dia, juga kurang kebuka. Makanya, lain kali perhatikan dia baik-baik, di kota ini, mana ada kulit cowok, yang sehalus dan seputih dia. Aku saja yang cewek, sampai insecure waktu lihat tangan dia. Tapi, kalau soal kelakuan, sepertinya dia memang menyebalkan," sahut Imel yang masih terbayang-bayang dengan kulit putihnya Arvin, tapi ketika melihat kelakuannya tadi, hilang sudah rasa kagum tersebut.


Sampai akhirnya, Nara dan Imel masih berlanjut menggosipkan fisiknya Arvin, begitu pun dengan kelakuannya juga.


Sedangkan di tempat lain, saat ini di rumahnya Kevin sedang ada acara keluarga, semua orang tengah berkumpul dan sedang menikmati semua hidangan yang telah tersedia di meja.


Namun, hanya Diana saja yang terlihat tidak menikmati acara tersebut, sebab sejak tadi pagi, perutnya terasa mual.


"Ini, aku ambilkan gulai kambing, kesukaanmu," ujar Kevin seraya menyodorkan mangkuk berisi potongan daging dan kuah yang berwarna kekuningan tersebut.


Diana yang bisanya langsung menerimanya dengan tersenyum manis. Namun, saat ini ia langsung mendorong mangkuk itu menjauh, lalu kemudian ia langsung berlari ke kamar mandi, dan menumpahkan seluruh isi perutnya.

__ADS_1


"Huek ... huek ...."


__ADS_2