
Sesampainya di rumah, Nara langsung menangis di dalam kamarnya. Saat ini Nara sedang menyalahkan dirinya sendiri, karena ia merasa waktu itu dirinya sendiri kurang bersabar.
Andaikan waktu itu, ia tetap berdoa kepada Allah, untuk diberi kemantapan hati, serta menyembuhkan hatinya dulu, sebelum ia menerima Gavin, mungkin hal yang sudah terjadi di dalam hidupnya sekarang, tidak akan pernah terjadi.
Namun, Nara buru-buru langsung beristighfar, sebab tidak baik menyesali sebuah takdir yang sudah terjadi. Justru kejadian waktu itu seharusnya dibuat sebagai pelajaran, agar ke depannya Nara tidak perlu terburu-buru mengambil keputusan, atau sebuah penyesalan akan menyapanya seperti ini.
Di tengah rasa sedihnya, tiba-tiba saja ada sebuah notifikasi masuk ke dalam ponselnya, seseorang sedang mengirimkan pesan lewat akun sosial media pribadinya.
Nara sontak tercengang, ketika membaca pesan itu ternyata datang dari Kevin, mantan pacarnya.
[Assalamualaikum... Nara, apa kabar?]
Nara tidak tahu, ia harus menangis, atau tertawa melihat kenyataan yang ada di hadapannya saat ini. Tanpa ada angin ataupun hujan, tiba-tiba saja Kevin muncul, di saat ia sedang kacau seperti ini.
"Mungkinkah ini suatu pertanda?" batin Nara, namun di detik berikutnya, ia langsung menggelengkan kepalanya.
"Eh, kenapa aku malah mempunyai pemikiran seperti ini? Ya Allah ... tolong lindungilah hamba-Mu dari godaan seperti ini," gumam Nara yang merasa bersalah, ia harus ingat dengan suaminya.
Namun, karena Nara tidak mau dicap sombong, ia pun membalas pesan tersebut dengan sekedarnya. Bagi Nara, asalkan Kevin tidak pernah mengungkit hubungan mereka di masa lalu, dan hanya sekedar bertukar kabar, maka Nara akan meladeninya. Toh, suaminya pun juga seperti itu, Gavin juga memiliki banyak kontak cewek di ponselnya, jadi tidak salah bukan, jika Nara juga bertukar pesan dengan lawan jenisnya.
Tidak banyak yang dibahas Kevin dan Nara, Kevin hanya meminta maaf, dan mereka berdua benar-benar hanya bertukar kabar. Dan, saat ini mereka berdua kembali menjalin status pertemanan di media sosial tersebut. Hanya sekedar itu.
Namun, ada sedikit rasa sesak di hati Nara, saat dia melihat semua postingan baru Kevin. Kevin saat ini terlihat jauh lebih bahagia, meski dalam status jomblonya.
"Andaikan aku tetap bersama Mas Kevin, mungkin aku juga bisa ikut merasakan kebahagiaanya," batin Nara ketika ia melihat Kevin memposting fotonya sendiri bersama mobil barunya. Bisa dikatakan, Kevin saat ini semakin sukses, karena dia sudah memiliki mobil pribadi sendiri.
"Astaghfirullah ... lagi-lagi aku memikirkan sesuatu yang seharusnya tidak boleh aku pikirkan," gumam Nara seraya menepuk jidatnya sendiri.
__ADS_1
Ternyata memang benar, berhubungan dengan mantan kembali itu tidak baik, sebab selain dikhawatirkan ada cinta lama belum kelar, benih-benih persaingan juga akan muncul untuk menunjukkan siapa yang lebih baik setelah mereka meninggalkan pasangannya. Dan, saat ini Nara mulai merasakan itu.
Nara sedikit tidak terima, jika Kevin terlihat lebih baik daripada ketika masih bersamanya. Namun, dalam lubuk hatinya, ia turut bangga dan senang atas kemajuan Kevin. Tapi, kenapa pas tidak bersamanya? Itulah yang sedang dipikirkan Nara.
Mungkinkah saat ini bisa dikatakan, Nara mulai menyesal?
Apalagi setelah Nara mendengar pemikirannya Imel, tentang Gavin yang sudah menjebaknya. Ingin rasanya Nara meraung jika sampai ternyata itu benar.
"Tapi, jikalau itu benar, aku tidak boleh meminta cerai dengan Mas Gavin, karena mungkin saja itu sudah jalan jodohnya kita," gumam Nara yang berusaha untuk tetap berpikiran positif, sebab bagaimana pun juga, perceraian adalah sesuatu yang dibenci oleh Allah, meskipun itu dihalalkan.
Setelah merenung cukup lama, tidak lama kemudian Gavin pulang. Nara pun langsung pergi melayani Gavin dengan sebaik mungkin.
Setelah berdrama dengan mertuanya seperti biasanya, Nara dan Gavin pun akhirnya masuk ke dalam kamar mereka.
"Mas, bagaimana kalau seumpamanya kita pindah saja? Kalau seperti ini terus, lama-lama aku juga tidak sanggup lagi, Mas. Mas, aku tadi keluar hanya satu jam, tapi Ibumu sudah menceramahiku seperti itu," keluh Nara.
"Aduh, dek. Yang sabar dulu ya? Pindah kan butuh uang yang banyak. Tapi, Mas juga berjanji, kalau kita sudah memiliki uang, Mas akan mencari kontrakan buat kita," sahut Gavin yang sedang mencoba membujuk Nara.
"Yang bener lho ya, Mas. Pokoknya kita harus pindah setelah mendapatkan uangnya, karena lama-kelamaan aku bisa stres jika setiap hari seperti ini."
"Hus, ngomong apa sih kamu. Iya-iya, kita akan segera pindah kalau uangnya sudah cukup," balas Gavin seraya mengusap kepala Nara dengan sayang.
Meski sebenarnya Gavin merasa berat jika harus pindah dari rumah orang tuanya, namun demi keawetan rumah tangganya, Gavin harus menyetujui permintaan pindah Nara.
"Iya sudah, kalau begitu lebih baik sekarang kita tidur, ini sudah malam. Atau, kamu mau kasih Mas jatah dulu?" goda Gavin.
"Ih apaan sih, Mas," sahut Nara dengan pipi bersemu merah. Namun mereka berdua akhirnya tetap melakukan apa yang seharusnya terjadi.
__ADS_1
Keesokan harinya, tidak seperti biasanya, Nara hari ini bangun terlambat, bahkan sampai suaminya hendak pergi bekerja. Nara tadi memilih tiduran lagi setelah menunaikan salat subuh.
Marni pun sudah mengomel ke sana kemari, karena Nara tidak mau bangun dan melakukan pekerjaannya seperti biasanya, dan alhasil Marni pun harus memasak sendiri, karena ia merasa kasihan jika Gavin sampai berangkat bekerja tanpa sarapan.
"Dek, kamu kenapa? Tumben tidak bangun, masih marah dengan Ibu gara-gara masalah kemarin ya?" tanya Gavin lembut, seraya membenarkan rambut Nara yang sedang menutupi sebagian wajahnya.
"Enggak, Mas. Aku cuma merasa tidak enak badan saja, entah mengapa rasanya perutku mual, dan badanku juga lemes banget," sahut Nara yang juga bingung, sebab tidak biasanya ia seperti ini, bahkan ia juga sampai tidak mempedulikan omelan ibu mertuanya. Nara benar-benar merasa tidak mempunyai tenaga sama sekali.
"Kamu sakit ya? Tapi, badanmu tidak panas kok," ujar Gavin seraya menyentuh kening Nara yang memiliki suhu normal.
"Aku juga tidak tahu," sahut Nara lemah.
"Iya sudah, kamu istirahat saja dulu. Mas mau berangkat kerja dulu, soalnya nggak enak kalau meminta izinnya mendadak. Nanti setelah Mas pulang, baru Mas antarin kamu ke dokter," pamit Gavin seraya mencium kening Nara, sedangkan Nara hanya menganggukkan kepalanya saja
Sebelum Gavin pergi, Gavin menyempatkan diri untuk meminta tolong kepada ibunya, agar ibunya mau mengantarkan sarapan untuk Nara, sebab Nara sedang tidak enak badan.
Marni sebenarnya malas dan kesal, namun jika sampai Nara kenapa-kenapa, dan akhirnya mati di sini, Marni tentu akan kerepotan. Jadi, dengan sangat terpaksa Marni mau mengantarkan sarapannya Nara ke dalam kamarnya.
Namun, saat Marni baru saja masuk, Nara tiba-tiba langsung memuntahkan isi perutnya ketika mencium aroma masakannya Marni.
Huek ... Huek ....
"Hei, Nara. Kenapa kamu bisa muntah-muntah seperti itu?" tanya Marni panik, lalu tanpa sadar Marni langsung menyentuh kening Nara yang sebenarnya terasa dingin.
Nara menggelengkan kepalanya, ia juga tidak tahu dengan apa yang terjadi pada tubuhnya , namun ia semakin mual ketika Marni masuk seraya membawa sarapan untuknya.
Sedangkan Marni sendiri juga ikut bingung, namun tidak lama kemudian matanya terbelalak. "Jangan-jangan kamu ...."
__ADS_1