
Beberapa bulan kemudian....
Setelah diterimanya naskah novel Nara di platform berbayar dengan kontrak non eksklusif, Nara kemudian mengunggah novel tersebut ke platform berbayar yang lainnya dengan kontrak yang sama, begitu juga dengan novel keduanya.
Memang tidak mudah diawal, Nara juga harus merasakan kesulitannya mencari pembaca, bahkan hingga berulang kali saat ia menjadi penulis baru di platform-platform tersebut.
Namun, semangat Nara mulai bertambah besar ketika ia melihat pendapatan angka dollar pertamanya, walaupun angka itu belum menyentuh satu dollar sekalipun. Tapi, Nara sudah merasa puas karena ada orang yang sudah rela membuka bab berbayarnya menggunakan koin.
Hingga akhirnya pepatah yang mengatakan 'dikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit' bisa Nara rasakan. Sebab Nara bisa membeli ponsel baru dari hasil ia mengumpulkan pundi-pundi dollar tersebut. Dan, Nara juga sudah belajar bagaimana cara mengunggah novel lewat website dari ponselnya.
Lalu sekarang waktunya Nara mencoba mengajukan kontrak eksklusif novel barunya di sebuah platform berbayar yang tengah naik daun saat ini.
Di platform tersebut, para penulis diperkenankan memilih editornya sendiri, lalu kemudian Nara memilih editor atas nama Sky Blue.
"Eh, kamu yakin mau milih editor yang itu?" tanya Imel ketika melihat Nara berbalas email dengan Sky Blue.
"Iya, memangnya kenapa?"
"Nggak kenapa-napa sih, cuman dia kan sepertinya pakai nama pena, nggak seperti yang lainnya, jangan-jangan nanti dia ...."
"Halah, jangan-jangan apa? Bagiku yang penting itu dia perempuan, jadi mau pakai nama apapun nggak masalah," sahut Nara tanpa ragu sedikitpun.
Sedangkan Imel hanya nyengir saja. Imel yang sebenarnya ingin mengatakan bahwa ,Sky Blue itu adalah seorang laki-laki, sebab Sky Blue juga menjadi editornya Rio di platform tersebut. Namun, karena melihat Nara sudah terlanjur berbalas email dengan Sky Blue, maka Imel tidak akan menyampaikan secara langsung.
Namun, Nara malah menduga Sky Blue adalah seorang wanita, jadi Imel pun memilih membiarkan kesalahpahaman ini begitu saja.
"Ya udah lah, lagi pula Nara juga sudah mulai mengirim naskahnya. Dan, kali aja tuh editor jomblo, ya siapa tahu nanti mereka bisa berjodoh," batin Imel seraya tersenyum geli.
Sedangkan Nara sendiri, setelah berkomunikasi lewat email, dan Nara dinyatakan lolos untuk bisa menulis di platform tersebut, lalu kemudian editor tersebut memasukkan nomor ponselnya Nara ke dalam grup WA khusus para penulis di bawah naungan Sky Blue.
__ADS_1
Lalu kemudian, sebagian para penulis mulai menyapa Nara di dalam grup tersebut, hingga kemudian Nara menemukan nama pena yang tidak asing sedang menyapanya.
Pangeran Kegelapan [Selamat datang, Kak Violet. Semoga betah ya di sini.]
Violet [iya, terima kasih Kak. Dan, mohon bimbingannya juga.]
Violet [Eh, tunggu dulu. Sepertinya aku mengenalmu. Kamu Rio kan?]
Pangeran Kegelapan [hehe ... Iya.]
Lalu kemudian mengalirlah pembicaraan di antara mereka berdua, yang intinya membahas tentang kepenulisan, dan saling tumpang tindih dengan pesan penulis yang lainnya.
Grup WA ini selalu ramai, sebab rata-rata penulisnya adalah orang-orang yang suka ghibah, termasuk penulis cowoknya sekalipun. Sedangkan sang editor juga tidak pernah mempermasalahkan hal itu, bahkan ia sampai membuat grup baru yang khusus untuk memberi pengumuman penting dari platform tersebut, agar pengumuman penting tersebut tidak tenggelam dalam pesan ghibahan mereka.
"Eh, Mel. Kok kamu nggak bilang sih, kalau Rio editornya Sky Blue?"
"Tck, jangan pura-pura nggak tahu maksudku," balas Nara sedikit merajuk.
Imel tertawa. ".... Ya ampun, Nara. Kamu jangan over thinking gitu dong. Jujur, aku malah seneng kalau kamu juga bisa akrab dengan pacarku, apalagi sekarang kamu seprofesi sama dia, jadi kalau ada apa-apa kamu bisa tanya sama dia. Pokoknya kamu nggak usah khawatir, soalnya aku percaya dengan kalian berdua," jelas Imel.
"Tapi kan--"
"Halah, nggak usah tapi-tapi. Pokoknya hilangkan semua pemikiran burukmu itu! Ya sudah, kamu lanjutin pekerjaanmu, aku mau pulang dulu, mau tidur." Imel beranjak dari duduknya, ia yang tadi mampir ke rukonya Nara setelah mengantarkan baju pesanan pelanggan, sekarang ia pamit pulang karena merasa badannya sangat lelah.
"Iya, terima kasih sudah mampir," sahut Nara seraya memeluk Imel.
Imel mengangguk. "Oh ya, dan jangan lupa segera kunci pintu setelah tutup nanti."
"Siap, Bos."
__ADS_1
Nara mengantarkan Imel hingga ke teras toko, lalu kemudian ia melambaikan tangannya saat Imel sudah mulai melajukan motornya.
Nara terus tersenyum hingga motor Imel sudah tidak terlihat lagi, ia merasa beruntung karena memiliki teman baik yang begitu peduli padanya seperti Imel dan Bunga.
Setelah kepergian Imel, Nara kembali berkutat dengan pekerjaan laundry nya, sekarang sudah waktunya untuk menyetrika baju-baju milik pelanggan, termasuk miliknya Arvin yang sudah sejak kemarin berada di sini.
Namun, di saat sedang sibuk menyetrika bajunya Arvin, tiba-tiba saja ada pesan masuk dari editor Sky Blue. Nara disuruh mengisi formulir penulis sebagai syarat pengajuan kontrak yang baru saja ia lakukan.
Dalam sesaat pikiran Nara jadi tidak fokus, ia jadi terburu-buru untuk segera menyelesaikan menyetrika pakaiannya Arvin, sebab sebentar lagi Arvin akan mampir ke rukonya sekalian mengambil cuciannya tersebut.
Hanya tinggal satu kemeja saja, namun Nara yang tidak fokus, ia lupa mengatur suhu setrika tersebut. Setrika yang sebelumnya ia gunakan untuk menyetrika celana jeans, ia langsung letakkan setrika yang suhunya terlalu panas itu ke atas kemeja putih yang berbahan tipis, dan alhasil kemejanya Arvin jadi bolong hingga membentuk setrika tersebut.
"Astaga!!!" Nara langsung mengangkat setrika tersebut, meletakkannya ke samping, dan kemudian langsung mencabut kabel setrika tersebut.
"Ya Allah, padahal masalah cela*na da*lam baru saja selesai. Dan, sekarang ... aduh, bentar lagi aku pasti akan diamuk manusia menyebalkan itu," gumam Nara seraya menenteng kemeja tersebut ke depan wajahnya.
Nara yang sedang kalut memikirkan kemeja dan nasibnya setelah ini, ia sampai tidak menyadari bahwa ada motor yang berhenti di depan rukonya. Apalagi posisi Nara sedang menghadap ke belakang toko.
Sedangkan di depan sana, Arvin yang masih duduk di atas motor, ia mengernyitkan dahi ketika melihat kelakuan Nara yang dinilai sangat aneh.
"Ngapain tuh cewek, ngeliatin kemeja cowok sampai segitunya?" gumam Arvin seraya tersenyum mengejek.
Lalu kemudian, ia memperhatikan lebih jelas lagi kemeja yang sedang dipandangi Nara.
"Eh, tapi itu kok seperti punyaku. Jangan-jangan ...." Arvin tiba-tiba saja memiliki firasat buruk, lalu tanpa berpikir panjang lagi, ia segera masuk dan menghampiri Nara.
Arvin membelalakkan matanya saat bisa melihat dengan jelas, bahwa kemeja yang sedang diperhatikan Nara itu ternyata bolong, dan sialnya itu benar-benar miliknya.
"Hei, kamu apakan kemejaku? Kenapa bisa bolong seperti itu?!" raung Arvin hingga membuat Nara terperanjat sampai hampir limbung.
__ADS_1