TERIMA KASIH, MANTAN!

TERIMA KASIH, MANTAN!
30. Tetangga Pengertian


__ADS_3

Acara tujuh harinya meninggalnya Naura baru saja usai, semua orang yang mengaji sudah kembali ke rumah masing-masing, begitu juga dengan Bu Lastri dan ibu-ibu lainnya yang tadi membantu Nara memasak untuk orang-orang yang mengaji. Sedangkan Marni dan Diana, mereka berdua tidak datang lagi, setelah Marni membuat kerusuhan waktu itu.


Kini suasana yang tadinya ramai, berubah menjadi sepi. Semilir angin malam yang berhembus lembut, bukannya bisa menenangkan hatinya Nara. Namun, malah menambah rasa dingin dan juga perih di hatinya yang sedang hancur berkeping-keping.


"Biasanya di jam-jam sekarang, Ibu akan mendengar suara tangisanmu, Nak," batin Nara seraya meneteskan air matanya.


Nara yang saat ini sedang duduk di atas tempat tidurnya, ia hanya bisa memeluk bantal dan guling bayi milik almarhum anaknya.


Wangi Naura masih membekas di bantal dan guling tersebut, Nara sengaja belum mencucinya, karena ia masih sangat merindukan almarhum putrinya.


"Ibu kangen, Naura," gumam Nara disertai isakan kecil. Lalu kemudian Nara membaringkan tubuhnya, seraya meringkuk sambil memeluk bantal dan guling tersebut.


Lalu tidak lama kemudian, Gavin yang baru saja mengunci semua pintu rumahnya, ia langsung masuk kamar dan menghampiri Nara.


"Sudah jangan ditangisi lagi, kamu harus ikhlas, anak kita sudah tenang di sana, ujar Gavin seraya mengusap bahu Nara.


Namun, Nara tidak menghiraukan perkataan suaminya, sebab ia juga masih sakit hati dengan suaminya itu. Nara memang sudah menerima permintaan maaf Gavin sejak hari itu. Namun, Nara masih belum bisa melupakan semua kesalahan Gavin.


Gavin yang melihat istrinya masih menangis, lalu dengan pelan ia membalikkan tubuhnya Nara agar menghadap ke arahnya.


Dengan lembut Gavin mengusap air mata Nara, lalu kemudian ia tersenyum dan mengatakan, "Daripada kamu sendih, bagaimana kalau kita buat anak lagi? Jadi kita bisa cepat-cepat punya penggantinya Naura."


Duar....


Seperti ada petir yang menyambar telinga Nara, rasanya bahkan sampai meninggalkan bekas yang lebih perih dari yang ia rasakan sebelumnya.

__ADS_1


Apakah Gavin sudah gila?


"Ya Allah ... Mas, apa yang barusan kamu katakan? Sadarkah kamu dengan ucapanmu itu, Mas?!" geram Nara.


Bagaimana bisa suaminya itu menghiburnya dengan perkataan seperti ini? Padahal mereka baru saja kehilangan anak, tapi mengapa suaminya seperti biasa-biasa saja? Dan, baru juga tujuh harinya. Namun, suaminya sudah memikirkan kesenangannya sendiri, dengan hanya memikirkan yang ada di bawah perutnya saja. Benar-benar keterlaluan!


"Memangnya kenapa?" sahut Gavin acuh tak acuh. "Kan maksud aku baik, Nara. Aku tidak ingin melihat kamu sedih terus seperti ini. Lagian kita tinggal buat yang baru, lalu apa susahnya, kenapa harus sampai sesedih ini?"


Ingin rasanya Nara menampar mulut Gavin saat ini juga, namun dengan sekuat tenaga, Nara mencoba menahannya.


"Tapi, tidak seperti itu juga, Mas!" Menghela napas. "Dan, kamu ternyata memanglah orang yang tidak memiliki perasaan. Mas, aku saja sampai sekarang masih tidak nafsu untuk makan, apalagi sampai melakukan itu!" raung Nara yang mengungkapkan amarahnya.


Beberapa hari ini Nara memang kehilangan nafsu makannya, jika saja Bu Lastri tidak memaksa Nara untuk makan, mungkin Nara pun juga tidak akan makan semenjak anaknya meninggal.


Mendengar perkataan istrinya, Gavin bukannya sadar, tapi ia malah ikutan marah.


Melihat tanggapan suaminya, Nara tidak tahu harus mengatakan apa lagi, karena ia tidak mau perdebatan ini semakin panjang. Maka, Nara langsung menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya, dan berbaring membelakangi Gavin lagi.


Sedangkan Gavin yang sebenarnya juga merasa sedih, karena kehilangan anak semata wayangnya. Namun, ia adalah seorang lelaki, dan pantang baginya terus bersedih seperti istrinya itu. Yang dibutuhkan Gavin itu hiburan, dan hiburannya cuma satu, yaitu memuaskan miliknya, hingga kemudian membuat kesedihannya itu menghilang.


Akan tetapi, Nara saat ini tidak mau menghiburnya, jadi lebih baik, Gavin mencari wanita lain yang bisa menghibur kesedihannya itu.


Lalu tanpa mengulur waktu lagi, Gavin langsung menyambar jaket, ponsel, dompet, dan juga kunci motornya. Dan, ia langsung pergi tanpa berpamitan kepada Nara.


Sedangkan Nara yang melihat kelakuan suaminya, ia hanya bisa mengusap dadanya sendiri hingga berulang kali, seraya beristighfar, dan Nara juga berharap, Tuhan mau melapangkan kesabaran untuknya.

__ADS_1


Tidak lama kemudian, terdengar pintu ditutup dengan kencang, dan di detik berikutnya, suara motor Gavin langsung meninggalkan rumah tersebut.


Sedangkan di sisi lain, ada orang yang tidak sengaja melihat kelakuan Gavin, saat menutup pintu tadi.


Arvin yang hendak menutup pintu rumahnya sendiri, ia terkejut ketika melihat kelakuan tetangga depan rumahnya.


"Itu orang kesurupan kali ya? Menutup pintu sekencang itu, padahal di rumahnya baru saja diadakan pengajian, sekarang sudah bikin ribut. Dasar tetangga aneh," gumam Arvin seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Tapi, kenapa dia terlihat marah sekali? Apakah karena cewek itu tadi minta cerai?" Pikir Arvin yang masih melanjutkan karangan ending untuk kisah rumah tangganya Nara.


"Eh, ngapain juga aku ngurusin mereka." Setelah sadar, Arvin pun bergegas menutup pintu rumahnya, dan tak lupa menguncinya juga.


Karena pekerjaan hari ini sudah selesai semuanya, Arvin jadi bisa tidur lebih awal dari biasanya. Namun, saat memasuki kamar, pandangan Arvin sejenak terjatuh ke dalam keranjang baju kotor miliknya yang kosong.


"Tadi kalau tidak salah dengar, cewek itu mengatakan laundry nya mulai buka besok."


Arvin yang tadi duduk di dekat dapurnya Nara, tanpa sengaja ia mendengar suara ibu-ibu yang bertanya, kapan Nara mulai membuka laundry nya lagi? Lalu kemudian Nara menjawab, besok. Itu berarti, besok laundry nya Nara mulai beroperasi kembali.


"Pasti tuh cewek sudah kehabisan uang, karena habis untuk acara pengajian beberapa hari ini. Jadi, nggak apa-apa lah, kalau aku membantunya, hitung-hitung cari pahala," gumam Arvin seraya mengambil beberapa baju-bajunya yang bersih di dalam lemari, lalu kemudian ia menginjak-injaknya di lantai, membuatnya sedikit kotor dan kusut, baru kemudian ia masukkan ke dalam kantong keresek.


"Kurang baik apa aku? Dia harus bersyukur memiliki tetangga yang pengertian seperti aku," gumam Arvin bangga pada dirinya sendiri.


Demi membantu orang yang sedang kesusahan, Arvin pun rela mengenyampingkan perasaan bencinya kepada Nara, padahal Arvin masih membenci Nara, karena Nara lah yang menjadi penyebab Alvin kecelakaan dan akhirnya meninggal dunia.


"Tapi, kalau dipikir-pikir, aku juga ikutan aneh juga ya? Kenapa aku selalu repot-repot seperti ini?" Menggaruk rambutnya sendiri yang tidak gatal. "Tapi, nggak apa-apa lah kalau untuk kebaikan, itung-itung bantu orang cari rezeki buat makan."

__ADS_1


Selalu seperti itu, di dalam benak, Arvin akan selalu berdebat terlebih dahulu, jika itu berurusan dengan Nara, sebab Nara sebenarnya adalah orang yang harus dijauhinya, bukan ditolongnya seperti ini.


__ADS_2