
Beberapa hari kemudian ....
Nara tampak sedih ketika ia sedang membaca komentar dari salah satu pembaca baru novelnya, meski sebenarnya itu adalah kritik yang membangun, tapi tetap saja membuat Nara langsung down.
'Tulisan apa ini? Nggak rapi, tanda baca ancur, huruf kapital nya ngawur. Cuman menang ide ceritanya doang yang menarik.'
'Lebih baik belajar kaidah penulisan dulu, belajar PUEBI. Cari di internet, atau bisa gabung di grup-grup kepenulisan untuk belajar menulis yang benar.'
Dan, masih banyak lagi yang disampaikan pembaca atas nama 'purple hater', yang intinya ia mengkritik tulisan Nara yang dinilai sangat berantakan.
"Hei, kenapa wajahmu tiba-tiba jadi murung begitu?" tanya Imel yang baru saja masuk ke dalam kamar setelah ia melayani pembeli. Imel terkejut ketika melihat Nara yang sebelumnya terlihat senang, kini berubah jadi murung seraya memandangi ponselnya.
"Ini, aku lagi baca komentar. Katanya tulisanku berantakan, disuruh belajar PUEBI dan yang lainnya dulu. Aduh ... kalau dapat komentar begini, aku kan jadi takut mau nulis lagi," sahut Nara yang hampir menangis, sebab semakin ke bawah, kata-kata dari Purple Hater semakin pedas.
"Sudah jangan diambil hati. Justru, komentar seperti ini harus dijadiin cambuk, agar kamu bisa menjadi lebih baik ke depannya. Ayo, berpikir positif. Mungkin saja ini jalan untuk membuatmu menjadi sukses sebagai penulis nantinya."
Nara mengangguk. "Baiklah, aku memang harus belajar tentang kaidah penulisan. Soalnya, entah mengapa semenjak aku mengenal novel online, aku seperti hidup kembali. Dan, setelah aku mulai menulis, aku seperti menemukan jati diriku. Jadi, aku tidak boleh menyerah hanya karena komentar seperti ini." Nara mengepalkan tangannya untuk menyemangati dirinya sendiri.
__ADS_1
"Bagus, kamu memang harus belajar lebih giat lagi, dan kemudian tunjukkanlah karya terbaikmu untuk membungkam mulut pembaca macam dia."
"Iya, kalau begitu sekarang aku mau belajar kaidah penulisan dulu."
Imel mengangguk seraya tersenyum. "Iya, yang semangat ya," balas Imel seraya mengepalkan tangannya untuk memberikan semangat kepada Nara.
Nara pun tersenyum seraya mengangguk, lalu kemudian ia mulai berkutat dalam mesin pencarian, dan juga mencari grup-grup kepenulisan lewat sosial media pribadinya.
Satu persatu grup kepenulisan mulai Nara pinta untuk ikut bergabung, bahkan Nara juga ikut kelas menulis secara gratis di grup-grup literasi yang memberikan bahan materi mereka lewat grup WA.
Hari terus berlalu, hingga berganti dengan bulan. Komentar pedas yang awalnya sempat membuatnya down, kini telah menjadi titik balik atas pencapaiannya saat ini. Sekarang bahkan ada penulis lain yang mulai memuji tulisannya Nara jadi cukup rapi, dan Nara pun juga ikut merasa senang karena kini karyanya pun menjadi semakin enak untuk dibaca.
'Nah, ini baru benar. Huruf kapital digunakan pada awal kalimat dalam petikan langsung. Jadi, tulisanmu yang waktu itu salah ya, karena kamu pakai huruf kecil. Dan, tanda bacanya sekarang juga sudah mulai banyak yang benar. Jadi, kamu sudah ada progres dalam menulis.'
'Tapi, kamu harus tetap belajar ya. Kalau bisa belajar buat cliffhanger, biar ceritamu makin menarik. Dan, masih banyak lagi yang harus kamu pelajari dari ilmu kepenulisan. Belajar pelan-pelan saja sambil nulis, nanti lama-kelamaan kamu juga bisa.'
Nara terkejut ketika membaca komentar tersebut, setelah beberapa bulan ia tidak pernah mendapatkan komentar dari Purple Hater, kini orang itu muncul kembali. Namun, kali ini bahasanya lebih enak dibaca dari waktu itu.
__ADS_1
"Alhamdulillah ... Ini orang ternyata baik ya. Tapi, aku nggak mau ngucapin terima kasih ah, salah dia sendiri dulu ngatain aku macam-macam. Tapi, aku juga bodoh sih karena nggak belajar ilmu kepenulisan dulu." Nara jadi tertawa sendiri mengingat kebodohannya pada waktu itu.
Padahal dulu waktu Purple Hater mengatainya bodoh, ia sampai menangis karena kesal, sebab bisa-bisanya orang itu mengatainya bodoh secara terang-terangan, padahal mereka tidak saling mengenal. Dan, mulai dari saat itu, Nara membenci akun bernama Purple Hater ini.
Namun, kebencian itu kini sudah mulai mencair, sebab ternyata Purple Hater sepertinya orang yang baik, karena ia tidak pelit membagi sedikit ilmunya untuk kemajuan Nara sebagai penulis.
Akan tetapi, baru saja Nara merasakan kedamaian setelah membaca dua komentar tersebut, kini ia mendapatkan notifikasi baru dari Purple Hater lagi, namun yang ini kembali membuat Nara merasa kesal lagi.
'Ini plot hole. Huh, aku kira kamu sudah pintar, ternyata masih bodoh, ya!'
'Kalau belajar yang sungguh-sungguh dong!'
Setelah membaca komentar tersebut, Nara langsung melemparkan ponselnya ke atas kasur dengan kesal.
"Apa? Plot hole? Apalagi itu plot hole? Kenapa banyak banget sih istilah dalam kepenulisan? Bikin kepalaku cenut-cenut saja. Dan, dia! Enak banget ngatain orang bodoh sesuka hatinya. Huh, mending kamu itu nggak usah baca novelku kalau cuma bikin aku malu seperti ini," gerutu Nara kesal, ia benar-benar malu dikatai bodoh dengan cara terang-terangan seperti ini.
"Ngomong-ngomong, siapa ya orang ini? Kenapa aku seperti familiar dengan tulisan komentarnya?" gumam Nara yang merasa penasaran dengan akun bernama Purple Hater tersebut.
__ADS_1