TERIMA KASIH, MANTAN!

TERIMA KASIH, MANTAN!
41. Memang Tidak Berjodoh


__ADS_3

Kevin berjalan menuju kamarnya dengan linglung. Setelah sampai, ia langsung menutup pintu dan menguncinya.


"Astaga, jadi selama ini Diana ternyata adalah keponakanku sendiri," gumam Kevin seraya menarik rambutnya sendiri dengan frustasi. "Lalu sekarang apa yang harus aku lakukan? Karena kami tidak bisa menikah."


Kevin membaringkan tubuhnya di ranjang, ia sedang memikirkan bagaimana nasib mereka berdua ke depannya, dan juga perkataan tantenya tadi, bahwa sebenarnya kedatangan tantenya ke sini ialah untuk membujuk ibunya Kevin, agar mau menceritakan rahasia ini kepada Kevin dan Diana.


Namun, mereka semua malah sudah kecolongan terlebih dahulu, karena Kevin dan Diana sudah melakukan sesuatu yang melebihi batas.


Kevin jadi merasa semakin menyesal, andaikan saja hari itu ia tidak datang ke tempat tersebut, mungkin ia tidak akan mabuk dan berakhir meniduri keponakannya sendiri. Namun, semua sudah terlanjur terjadi, kini mereka harus menemukan solusi untuk memecahkan masalah ini.


Lalu tidak lama kemudian terdengar ketukan pintu di kamarnya Kevin.


"Kevin, keluarlah! Ada yang harus kita bicarakan sekarang."


"Baik, Yah," sahut Kevin yang kemudian bergegas keluar.


Mereka semua kembali berkumpul di ruang keluarga, kecuali Diana yang masih pingsan di kamar. Lalu setelah pembicaraan yang cukup panjang, akhirnya semua orang memutuskan untuk menyimpan masalah ini dari orang luar, dan juga Diana akan dibawa kedua orang tua kandungnya, untuk tinggal bersama di rumah baru mereka yang berada di luar kota.


Dan tanpa menunggu Diana sadar terlebih dahulu, Nila dan suaminya langsung membawa Diana pergi, mereka langsung berpamitan pulang saat itu juga.


Ada perasaan bersalah di hati Kevin, ketika ia melihat mobil kakaknya mulai menjauh dari kediamannya. Namun, Kevin juga tidak bisa menampik perasaan lega, karena masalah ini telah berakhir begitu saja.


"Berarti kesempatanku untuk mendapatkan Nara, sekarang jadi jauh lebih mudah," gumam hati Kevin seraya tersenyum tipis.


Bukannya menyerah akan perasaannya kepada Nara, sekarang Kevin malah jadi percaya diri untuk mendekati Nara, dan ia yakin bahwa Nara pasti akan menerimanya, sebab Diana kini sudah pergi jauh dari hidup mereka.


Padahal tidak lama kemudian, di tempat lain ....


"Apa! Kamu tidak salah dengar bukan?" Bunga sontak berteriak ketika mendengar perkataan pacarnya lewat telepon, yaitu temannya Kevin.


Sedangkan Nara dan Imel yang tidak bisa mendengar perkataan pacarnya Bunga, mereka berdua hanya saling pandang seraya menggelengkan kepalanya kompak. Heboh banget, pikir mereka berdua kompak.

__ADS_1


Lalu tidak lama kemudian terdengar suara Bunga yang sedang berpamitan, seraya suara kecupan sebagai penutup sambungan telepon tersebut.


"Astaga, astaga! Kalian berdua, dengarkan ceritaku baik-baik, terutama kamu, Nara. Berjanjilah jangan sampai pingsan setelah mendengar ceritaku ini." Cerocos Bunga berapi-api.


"Apa sih, lebay banget," sahut Nara seraya tertawa, lalu disusul Imel dengan jawaban yang sama.


"Yee ... ini memang berita mengejutkan, dan sangat rahasia. Jadi, setelah ini kamu harus berterima kasih padaku, karena aku sudah memberitahumu rahasia besar ini," balas Bunga berlagak sombong seraya menunjuk Nara, dan Bunga yakin kalau beritanya ini akan membuat kedua temannya itu tercengang.


"Iya udah cepat cerita." Imel yang sudah tidak sabar ingin mendengarkan, ia bahkan sampai pindah duduk di depannya Bunga.


"Oke-oke. Eh, ternyata Kevin itu Om nya Diana, dan Diana itu ternyata anaknya kakaknya Kevin, yang katamu jadi TKI itu lho," ujar Bunga seraya menepuk paha Nara.


"Apa! Serius?" teriak Imel dan Nara kompak.


"Iya, dan Diana sekarang sudah dibawa pulang ke rumah orang tua kandungnya. Em, masih ada satu lagi yang lebih penting, yaitu kata pacarku, Kevin sekarang semakin yakin bahwa ia bisa mendapatkanmu kembali," jelas Bunga seraya menatap Nara.


Nara dan Imel sontak membelalakkan kedua matanya, lalu kemudian Imel tertawa terbahak-bahak. ".... Gila, dia benar-benar sudah gila. Bisa-bisanya ia berpikir akan mengejarmu, setelah ia menghamili keponakannya sendiri. Nara, pokoknya mulai sekarang kamu harus jauhi Kevin, dan jangan kasih dia harapan sedikit pun!" tegas Imel.


Dan Nara tidak perlu menunggu esok atau lusa, karena pada malam harinya, Kevin langsung meminta bertemu dengan Nara.


[Nara, bisakah malam ini kita bertemu? Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan langsung padamu.]


Nara menyodorkan ponsel miliknya ke hadapan Imel, agar pesan tersebut dibaca oleh Imel, lalu setelah Imel membacanya, ia sontak menggelengkan kepalanya.


Melihat reaksi temannya, dengan patuh Nara langsung menolak permintaan Kevin.


[Maaf, aku tidak bisa.]


Namun, tidak lama kemudian Kevin langsung menelepon Nara.


"Kenapa tidak bisa?" Tanpa memberi salam, tiba-tiba saja Kevin langsung bertanya dengan nada kesal.

__ADS_1


Nara yang mendengar nada tidak mengenakkan dari suara Kevin,ia jadi tersulut emosi.


"Tidak apa-apa, cuma merasa tidak perlu saja," sahut Nara acuh tak acuh.


"Nara, tidak bisakah kamu memberiku kesempatan satu kali saja? Aku benar-benar masih mencintaimu, dan sekarang sudah tidak ada lagi orang yang akan mengganggu hubungan kita. Jadi, bisakah kita kembali bersama?" pinta Kevin dengan nada yang sudah melunak.


"Tidak ada lagi orang yang akan mengganggu? Apakah maksudmu itu, Diana?"


"Iya, Diana kini sudah kembali tinggal bersama Ibunya, jadi dia tidak akan mengganggu hubungan kita lagi," sahut Kevin antusias.


Terdengar suara Nara yang sedang tertawa sinis. ".... Tapi, maaf. Kita tetap tidak bisa kembali, karena dari awal pun aku juga tidak ingin kembali bersamamu," jelas Nara.


"Nara, kamu jangan sok jual mahal! Aku tahu kamu masih mencintaiku, dan apakah kamu ingin kejadian seperti mantan suamimu itu terulang kembali? Karena kamu masih mencintaiku, tapi kamu membohongi hatimu sendiri dan menerima cinta dari laki-laki lain, lalu pada akhirnya kamu malah berakhir diselingkuhi bukan?"


Nara yang mendengar itu jadi semakin emosi. Nara tidak tahu Kevin mengetahui hal ini dari mana, namun yang jelas Nara merasa malu karena ketahuan masih mencintai Kevin. Namun, itu juga sudah berlalu, karena sekarang perasaan Nara benar-benar sudah berkurang banyak saat ia mendengar bahwa Kevin sudah menghamili Diana.


"Kevin, sekali lagi aku tegaskan kepadamu bahwa aku tidak ingin kembali padamu! Dan, kamu juga jangan percaya diri dengan mengatakan bahwa aku masih mencintaimu, karena aku memang sudah tidak mencintaimu lagi. Oh ya, satu lagi. Aku juga sudah tahu penyebab Diana pergi dari rumahmu, jadi jangan pernah berharap lagi, bahwa dengan kepergian Diana, aku bisa menerimamu kembali."


Nara yang sangat kesal, ia bahkan melupakan embel-embel panggilan 'mas' yang biasanya tersemat sebelum namanya Kevin.


"Oh ... jadi kamu sudah tahu tentang masalahku dan Diana, dan oleh sebab itu, kamu menolak ku dengan alasan tidak mencintaiku lagi. Lalu, apakah kamu juga sudah melupakan bahwa kamu dulu menikah juga karena sudah hamil duluan dengan lelaki brengsek itu?" balas Kevin yang semakin kesal. "Nara, kamu egois!" Lanjutnya marah.


Kevin sangat marah karena Nara tidak mau menerimanya sebab masalahnya dengan Diana, padahal Nara sendiri pun juga bukan orang yang suci, dan hal ini tentu membuat Kevin merasa tidak adil atas pemikirannya Nara. Jadi, kini Kevin menilai Nara menjadi wanita yang sok.


"Terserah kamu mau berpikiran apa tentangku, yang jelas kita tidak bisa kembali, dan kamu jangan pernah menghubungi aku lagi."


"Nara! Kamu benar-benar ya!" geram Kevin. "Baiklah, tapi kamu harus ingat satu hal, yaitu aku sumpahin kamu tidak bisa mendapatkan lelaki baik yang mencintaimu seperti aku! Jadi, aku pastikan kamu akan menyesal karena sudah menolakku!" teriak Kevin dari seberang sana.


"Hemm, terserah kamu mau bicara apa, yang jelas dari awal kita memang tidak berjodoh. Jadi, semoga kelak di masa depan, kamu bisa menemukan wanita yang lebih baik dariku." Setelah mengatakan itu, Nara langsung memutuskan sambungan telepon tersebut, lalu kemudian ia segera memblokir nomor dan semua media sosial miliknya Kevin.


Kini hubungan di antara mereka benar-benar sudah berakhir, dan sekarang waktunya bagi Nara untuk menyembuhkan semua luka di hatinya.

__ADS_1


Tapi, obat apa yang bisa menyembuhkan semua rasa sakit yang Nara terima selama ini?


__ADS_2