
Nara terkejut ketika mendengar beberapa awak media yang disiapkan untuk acara konferensi pers nya sudah siap menunggunya.
Bukan hanya Nara, Wahyu dan yang lainnya pun juga ikut terkejut, terkecuali Arvin yang memang berwajah datar.
Wahyu yang mengingat perkataan Arvin, ia sontak melirik Arvin yang tanpa ekspresi sama sekali.
"Bagaimana bisa hal ini terjadi? Dan, itu berarti dia bukan orang sembarangan," batin Wahyu yang mulai curiga siapa Arvin sebenarnya.
Lalu tanpa mengulur waktu lagi, Nara dan lainnya pun langsung pergi menuju tempat yang sudah dipersiapkan untuk acara konferensi pers tersebut.
Karena kegiatan ini terbilang mendadak, Nara pun hanya memberi penjelasan seadanya, namun ia mengatakan dengan jelas bahwa ia sudah tidak berhubungan dengan mantan suaminya ataupun dengan mantan pacarnya. Sama sekali!
Nara juga menerima beberapa pertanyaan yang menyangkut kedekatannya dengan Wahyu. Namun, lagi-lagi Nara membantah semua gosip yang sedang beredar. Nara mengatakan bahwa ia dan Wahyu hanya sekedar teman.
Namun, di saat salah satu wartawan menanyakan, apakah ada lelaki yang sedang dekat dengan Nara?
Tiba-tiba dari samping panggung terdengar suara Arvin yang mendeham keras. Dan, hal itu sontak membuat pandangan semua orang tertuju padanya.
Suasana ruangan tersebut sejenak berubah menjadi hening, sedangkan sang tersangka seperti tidak melakukan apapun sama sekali. Arvin tetap memandang lurus ke depan, dan menahan tawanya ketika melihat raut wajah Nara yang berubah kesal.
__ADS_1
Karena sang tersangka terlihat acuh tak acuh, para wartawan pun kembali fokus kepada Nara, dan mereka mengira bahwa Arvin memang sedang ingin berdeham saja.
Sedangkan Rio yang berada di samping Arvin, ia pun langsung menyenggol lengan Arvin. "Hehehe ... Bos, kalau mau ngasih kode nggak gitu juga kali, dan kenapa Bos tadi tidak ikut naik panggung sekalian?"
"Apakah kamu bodoh? Aku tidak mau dia besar kepala, jadi kalau dia memang menyukaiku, biarkan dia dulu yang menyatakan cinta padaku."
Rio yang memang sudah tahu kalau Arvin mencintai Nara, ia hanya bisa pasrah ketika editornya itu lebih memilih mempertahankan gengsinya daripada mengungkapkan perasaannya.
"Ya baiklah, tapi kalau ada lelaki lain yang lebih cepat dari Bos, Pak Bos jangan menyesal loh ya?!"
"Tidak akan," sahut Arvin yakin. "Karena aku tidak akan membiarkan laki-laki lain mendekatinya." Lanjutnya dalam hati.
"Oh ya, saya ingin menyampaikan sesuatu untuk orang-orang yang ikut andil di kehidupan saya, hingga membuat saya bisa sampai di titik ini."
"Pertama-tama saya ingin mengucapkan terima kasih kepada kedua sahabat saya, yaitu Imel dan Bunga. Karena mereka berdua yang selalu ada dan sudah setia menemani saya, di saat saya sedang susah ataupun senang."
"Yang kedua, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada kedua orang tua saya, dan juga saudara-saudara saya. Terima kasih karena kalian sudah membuat saya menjadi anak yang kuat dan mandiri."
Sebenarnya masih banyak yang ingin dikatakan Nara kepada keluarganya. Namun, Nara sudah tidak tahan lagi menahan rasa sesak di dadanya, ketika ia mengingat hubungannya dengan keluarganya yang masih tidak baik-baik saja.
__ADS_1
Meskipun Nara sekarang sudah sampai di puncak karirnya, kedua orang tua Nara, masihlah sama dengan yang dulu. Mereka tetap tahunya hanya meminta uang saja, dan mereka juga tetap tidak peduli bagaimana cara Nara melewati hidupnya.
Selama ini Nara pun tidak pernah menyinggung keberadaan kedua orang tuanya, karena ia memang tidak ingin permasalahannya dengan keluarganya sampai tercium oleh publik.
Sedangkan orang tua Nara sendiri juga tidak berani menampakkan diri, sebab mereka juga sudah memperkirakan risikonya jika mereka berani muncul ke publik. Mereka jelas merasa malu kalau sampai ketahuan bahwa selama ini mereka sudah jahat kepada anak sulungnya itu.
Bagi mereka, Nara tetap memberi uang saja sudah cukup. Sebab mereka benar-benar tidak mempedulikan hal yang lainnya lagi.
"Dan tak lupa, saya juga sangat berterima kasih kepada para pembaca setia buku-buku saya. Dan juga, untuk para editor, para penulis senior, maupun teman penulis seperjuangan lainnya. Terima kasih, terima kasih karena kalian sudah membimbing saya, terus mendukung saya, hingga saya bisa bertahan hingga titik ini."
"Dan yang terakhir, ini adalah ucapan terima kasih yang sangat spesial dari saya. Yaitu untuk orang-orang yang sudah pernah menorehkan luka di kehidupan saya. Terutama untuk mantan mertua saya, mantan suami saya, dan juga mantan pacar saya. Terima kasih, terima kasih atas luka yang sudah kalian beri. Terima kasih karena luka itu telah membuat saya bisa menjadi seperti saat ini. Terima kasih karena kalian sudah memberi pelajaran yang begitu berarti untuk hidup saya, hingga saya bisa menjadi wanita yang tangguh. Terima kasih, Mantan! Dan, untuk terakhir kalinya, saya mohon untuk tidak menggangu hidup saya lagi, dan mari kita saling memaafkan atas kejadian masa lalu."
"Sudah, cukup itu saja yang ingin saya sampaikan, dan terima kasih banyak teman-teman media atas waktu dan kehadirannya."
Setelah mengucapkan salam, para wartawan masih memotret Nara, hingga Nara dan lainnya meninggalkan tempat tersebut.
Setelah keluar dari ruangan, Nara akhirnya bisa bernapas lega. "Alhamdulillah, akhirnya aku bisa mengatakan itu semua," batin Nara yang merasa lega, sebab ia sudah bisa mengeluarkan semua unek-uneknya.
"Terima kasih, mantan!" Lanjut batin Nara yang jadi tersenyum sendiri dengan kata-kata yang ia ucapkan tadi.
__ADS_1