TERIMA KASIH, MANTAN!

TERIMA KASIH, MANTAN!
20. Pura-pura Bahagia


__ADS_3

Meski sudah berpisah rumah dengan orang tua. Namun, tidak ada yang benar-benar bisa memutuskan hubungan di antara anak dan orang tuanya. Begitu juga dengan Gavin dan Nara, meski mereka berdua tinggal cukup jauh dari orang tua masing-masing, namun mereka berdua harus memenuhi kewajiban mereka sebagai anak, termasuk mengirimkan uang bulanan kepada orang tua mereka masing-masing.


Waktu terus berjalan, kini usia kandungan Nara sudah berjalan dua puluh delapan Minggu. Jika saja mereka tetap tinggal di rumah ibunya Gavin atau rumahnya Nara sendiri, mereka berdua pasti sudah dijadikan bahan gosip oleh para tetangga mereka.


Sebab, mereka baru menikah selama lima bulan, tapi usia kandungan Nara sudah enam bulan. Dan, karena kebutuhan mereka juga semakin banyak, maka setelah mereka pindah ke sini, Nara membuka usaha laundry, agar ia bisa membantu Gavin untuk menambah pendapatan mereka, dan juga kembali membantu keuangan keluarganya sendiri.


Apalagi ketika ibunya Nara, kembali menghubungi Nara lagi. Setelah cukup lama tidak bertukar kabar, Siti akhirnya kembali menghubungi Nara lagi, yaitu hanya untuk menyuruh Nara agar kembali membantu keuangan mereka.


Jadi, Nara tidak mempunyai cara lain lagi, selain ia harus berusaha sendiri, agar tidak meminta uang suaminya untuk membantu keuangan keluarganya, sebab Nara tahu sendiri berapa banyak uang yang dipegang Gavin, dan selebihnya uangnya Gavin telah dipegang oleh mertuanya.


"Kamu pasti lelah ya?" tanya Gavin yang baru saja pulang dari kantornya. Hari ini Gavin kembali pulang malam karena lembur.


Nara yang sedang memasukkan baju-baju yang baru saja disetrikanya ke dalam plastik laundry, ia menoleh sebentar. "Hanya sedikit," sahut Nara seraya tersenyum.


Setelah rapi, Nara kemudian berdiri dan berjalan menuju dapur. Lalu tidak lama kemudian Nara keluar lagi dengan membawa secangkir kopi untuk Gavin.


"Diminum dulu, Mas." Menyodorkan cangkir tersebut, lalu kemudian ia beralih mengambil tas Gavin dan memasukkannya ke dalam kamar.

__ADS_1


"Maaf ya, sudah membuatmu bekerja seperti ini. Tapi, mau bagaimana lagi, Mas benar-benar tidak bisa membantu keuangan keluargamu," ujar Gavin dengan raut wajah yang tidak berdaya, di satu sisi, ia tidak tega melihat Nara harus bekerja di saat hamil, namun di sisi lain, ibunya benar-benar tidak memberi kelonggaran sama sekali. Marni tetap bersikeras meminta jumlah jatah bulanan seperti biasanya.


Namun, uang hasil keringat Nara, memang hanya harus dipegang Nara sendiri, sebab Gavin melarang Nara untuk memakai hasil kerja keras Nara untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari mereka, walaupun hanya untuk membeli sayuran saja, Gavin tetap melarangnya.


Bisa dibilang, uangnya Nara cukup dipakai Nara sendiri dan keluarganya saja. Sedangkan untuk kebutuhan sehari-hari, tetap Gavin yang menanggungnya.


Namun, pemikiran perempuan tentu berbeda dengan laki-laki, apalagi jika dari kecil Nara sudah terbiasa menelan susah dan pahitnya kehidupan, jadi Nara tidak akan seegois itu untuk menuruti kata-kata Gavin. Sebab, di kemudian hari jika mereka sedang kesulitan, Nara tentu ikhlas mengeluarkan uang hasil kerja kerasnya untuk mengatasi kesulitan-kesulitan tersebut.


"Enggak apa-apa, Mas. Aku kan masih bisa kerja, dan untungnya dedek bayinya juga bisa diajak kerja sama," sahut Nara seraya mengelus perutnya yang mulai terlihat besar. Nara bersyukur, karena bayi yang ada di dalam kandungannya, tidak serewel ketika masih menginjak trimester pertama.


Meski Nara masih muntah ketika makan nasi dan minum air rebusan, tapi Nara sekarang sudah bisa memakan makanan yang seperti es dawet, dan buah-buahan. Jadi, bisa dibilang sudah mendingan karena masih ada yang bisa ia makan. Sedangkan untuk susu ibu hamil, Nara tidak pernah mengkonsumsinya, ia akan langsung muntah walau hanya mencium baunya saja.


"Kira-kira sampai kapan ya, kamu bisa makan nasi lagi?" tanya Gavin yang ikut mengusap perut Nara. Gavin tidak bisa membayangkan, jika dirinya sampai berada di posisi Nara, ia pasti akan tersiksa, karena tidak bisa makan dengan kenyang.


"Nggak tahu, ada yang bilang setelah acara tujuh bulanan baru bisa makan nasi lagi. Tapi, ada juga yang bilang, bahkan sampai hamil sembilan bulan masih suka muntah-muntah, jadi tetap malas makan nasi," sahut Nara yang masih mengingat cerita dari Bu Lastri. Intinya setiap ibu-ibu hamil pasti memiliki pengalaman berbeda-beda, bahkan pengalaman mereka juga bisa berbeda ketika sedang mengandung anak pertama, kedua, dan selanjutnya.


Gavin hanya mengangguk, lalu kemudian ia mencium perut Nara. "Bagaimana pun yang terjadi, kamu tetap harus sehat ya, Nak, di dalam sana," bisik Gavin lembut kepada anaknya yang berada di dalam kandungan Nara.

__ADS_1


Sedangkan Nara yang senang dengan momen indah ini, ia segera mengabadikannya ke dalam ponselnya, lalu kemudian ia mempostingnya di media sosial miliknya.


Berbagai komentar baik dan juga like, langsung membanjiri postingan tersebut. Ada yang memberi selamat dan doa untuk kebahagiaan dan kelancaran, ketika nanti Nara sedang melahirkan.


Bahkan Imel dan Bunga pun juga ikut memberikan komentar, lalu ada Kevin juga yang ikut-ikutan memberi komentar, hingga Imel dan Bunga pun langsung menyorakinya di dalam pesan pribadi Nara.


Beruntung saat ini Gavin yang sangat kelelahan, sudah masuk ke dalam kamar, dan mungkin dia juga sudah ketiduran.


[Ciee ... Mantan komentar tuh.] Tulis Imel dalam pesannya.


[Hei, harus ingat ya! Jangan kebablasan, ntar kamu lupa lagi kalo udah punya suami] Yang ini dari Bunga.


Nara kemudian membalas pesan mereka satu persatu, yang intinya ia tidak akan lupa dengan statusnya.


Tidak hanya itu, lalu obrolan mereka bertiga berlanjut ke dalam grup WA yang hanya diisi ketiga orang itu saja. Seraya melepas penat, Nara juga curhat kepada mereka berdua tentang apa yang sudah terjadi akhir-akhir ini.


Begitu juga dengan Imel dan Bunga, mereka juga ikut curhat tentang kisah percintaan mereka, dan ujung-ujungnya mereka akhirnya juga membahas mantan mereka masing-masing. Yang intinya, mereka bertiga kini sedang bersaing dengan para mantan, untuk memamerkan kebahagiaan masing-masing.

__ADS_1


Tidak tahukah kalian? Kebanyakan di media sosial itu hanya kepalsuan yang diperlihatkan, agar semua orang mengira, bahwa kita sedang bahagia, termasuk Nara.


Nara yang ingin memamerkan keharmonisan rumah tangganya kepada Kevin, dan tentu saja Kevin pasti merasa iri dan menyesal. Namun, tanpa Kevin ketahui, kebahagiaan Nara hanya seperti fatamorgana saja, sebab Nara belum bisa mendapatkan kebahagiaannya yang sebenarnya, karena hatinya belum bisa berdamai dengan Kevin. Nara hanya sedang pura-pura bahagia.


__ADS_2