TERIMA KASIH, MANTAN!

TERIMA KASIH, MANTAN!
23. Bergosip Dengan Arvin


__ADS_3

Arvin yang sedang menulis, ia tidak bisa berkonsentrasi, saat mendengar suara anak tetangganya, sedang menangis keras. Entah mengapa, bayi yang berusia tiga bulan dengan nama Naura itu, sudah beberapa hari ini menjadi sering menangis.


"Duh, itu orang tuanya ke mana sih? Masa anak nangis kejer kayak gitu dibiarin," keluh Arvin kesal. Ia bahkan sampai mengacak-ngacak rambutnya sendiri karena pusing mendengar tangisan bayi tersebut.


Karena tangisannya belum juga berhenti, Arvin akhirnya memutuskan untuk mengintipnya lewat jendela rumahnya. Arvin bisa melihat, di sana ada Bu Lastri yang sedang menggendong bayi mungil tersebut.


"Bahkan, Bu Lastri sampai harus ikut repot menjaganya. Dasar, kalau nggak siap punya anak, ngapain bikin anak?" gerundel Arvin yang semakin kesal.


Arvin tentu mempunyai pikiran, bahwa Nara telah hamil di luar nikah. Sebab, setelah Arvin menghitung dan mengurutkan dengan kejadian meninggalnya Alvin, dan juga yang katanya Nara balikan sama mantannya, tapi ternyata malah menikah dengan orang lain, maka Arvin bisa menduga, kalau Nara memang benar-benar hamil di luar nikah. Apalagi waktu itu Bu Lastri juga mengatakan, bahwa ketika mereka baru pindah, mereka baru menikah dua bulan, namun tiga bulan kemudian mereka sudah mengadakan acara hamil tujuh bulanan, kalau tidak hamil duluan, lalu apalagi?


Jadi, Arvin kini semakin menilai rendah wanita yang bernama Nara itu. "Huh, untung saja Alvin tidak sampai memiliki hubungan dengannya, sebab bisa-bisa nanti Alvin hanya dimanfaatkannya saja." Pikiran Arvin yang semakin lebar memikirkan keburukan Nara.


Padahal di dunia ini, apa yang terjadi, tidak selalu sama dengan apa yang dilihat. Namun, Arvin begitu yakin dengan pemikirannya itu.


Namun, ketika Arvin mengingat kejadian waktu itu, yaitu ketika Nara saat pingsan di kursi, dan hanya sendirian di rumah, terbesit rasa kasihan yang menelusup ke dalam hatinya, yang tidak dapat ditepis oleh Arvin. Apalagi ketika ia melihat wajah pucat Nara yang hampir sama seperti orang mati, membuat Arvin benar-benar tidak tega dengan wanita itu.


Flashback on.


Waktu itu, Arvin yang sedang tertidur, terbangun gara-gara mendengar suara ibu-ibu yang sedang memarahi seseorang, seraya berteriak. Untung saja di daerah ini kalau pagi sangat sepi, karena beberapa penghuninya sudah berangkat bekerja. Kalau tidak, bisa dilabrak itu ibu-ibu oleh warga kompleks.


Arvin yang penasaran, ia segera mencari sumber suara itu di mana. Namun, saat membuka pintu rumahnya, ternyata tetangga yang di depan rumahnya yang sedang ribut.


"Apa dia sudah pulang?" gumam Arvin yang bertanya pada dirinya sendiri, sedangkan 'dia' yang dimaksud Arvin adalah Nara.


Suara di depan, terdengar semakin jelas, yang Arvin tebak, wanita yang sedang berteriak itu adalah mertuanya Nara, sebab Arvin bisa menangkapnya dari isi teriakan tersebut.


"Bukankah dia baru lahiran? Kenapa sampai dimarahi seperti itu?" gumam Arvin bingung. "Eh, tapi ngapain juga aku jadi ngurusin mereka. Tck, padahal biar saja kalau mereka sampai berantem, bahkan jambak-jambakan sekalipun. Lagi pula, sudah sama-sama dewasa, masih saja ribut, bahkan sampai terdengar tetangga. Nggak ada malu-malunya sama sekali." Lanjut Arvin berkomentar.


Tanpa berpikir panjang, Arvin pun kembali masuk ke dalam rumahnya, ia juga akan meneruskan tidurnya yang terganggu.

__ADS_1


Namun, belum sampai Arvin terlelap, seseorang mengetuk pintu rumahnya dengan panik.


"Mas ... Mas Arvin, tolong buka pintunya, Mas!"


Arvin yang mengenali itu adalah suaranya Bu Lastri, ia segera pergi membukakan pintu.


"Bu Lastri, ada apa?" tanya Arvin bingung ketika melihat wajah Lastri tampak panik.


"Itu, Mas. Tolong saya. Eh, bukan. Tapi, tolongin Nara, dia -- dia pingsan," ujar Bu Lastri seraya menepuk bahu Arvin saking bingung dan juga cemasnya. "Saya nggak kuat kalau menggendongnya sendiri, dan Pak Tejo juga sudah pergi ke sawah, jadi nggak ada lagi orang lain yang bisa bantu saya, jadi tolongin ya, Mas ...." pinta Bu Lastri memelas.


"Iya, Bu. Saya akan menolongnya," sahut Arvin tanpa memikirkan apapun lagi, lagipula ini soal nyawa, jadi dia bisa mengesampingkan segala pikiran buruknya tentang Nara.


Arvin sempat terkejut, ketika ia melihat Nara yang sudah tidak sadarkan diri di kursi, dan dia juga sendirian. Lalu, di mana mertuanya tadi?


Namun, Arvin tidak ingin mempertanyakan itu, ia langsung bergegas menggendong Nara dan membawanya ke dalam kamar Nara.


"Ini orang sebenarnya dikasih makan atau enggak sih?" batin Arvin yang merasa heran.


Setelah Arvin membaringkan Nara di ranjang, ia pun langsung pamit ke Bu Lastri, tentunya ia juga mendapatkan ucapan terima kasih dari Bu Lastri.


Flashback off.


Arvin yang masih berdiri di depan jendela, ia terkejut saat ada orang yang mengetuk pintu rumahnya.


"Astaga!!!" Arvin menghela napas ketika ia melihat sosok Bu Lastri yang mengetuk pintu rumahnya. "Bu Lastri ngagetin saja," gerutu Arvin seraya mengusap dadanya, yang jantungnya tengah berdegup kencang.


"Ada apa, Bu?" tanya Arvin ramah seraya tersenyum lembut, saat ia membuka pintu tersebut.


"Hehehe ... Ini, Ibu mewakili Nara, untuk meminta maaf. Mas Arvin, pasti keganggu ya, dengan suara tangisannya anaknya Nara."

__ADS_1


Lastri dan Nara tadi sempat membahas ini, Nara tahu dari Lastri, jika Arvin adalah seorang penulis, dan ia pasti membutuhkan ketenangan. Apalagi biasanya di pagi hari seperti ini, Arvin biasanya masih tidur. Oleh sebab itu Nara ingin meminta maaf kepada Arvin karena sudah terganggu dengan suara tangisan anaknya.


Sebenarnya Nara ingin meminta maaf langsung kepada Arvin. Namun, sosok Arvin yang sangat tertutup, membuat Nara jadi takut walau hanya sekedar untuk mengetuk pintu rumahnya saja.


Makanya, lagi-lagi Nara meminta tolong kepada Bu Lastri, untuk menyampaikan permintaan maaf tersebut. Sedangkan Bu Lastri sendiri mau-mau saja, justru ia malah senang, sebab Bu Lastri sebenarnya tipikal orang yang suka bergosip, namun sayangnya di sini tidak ada orang yang bisa diajaknya bergosip, kecuali Nara dan Arvin.


"Lho, kenapa Ibu yang mewakilinya? Kenapa tidak dia saja yang langsung meminta maaf kepada saya," sahut Arvin bingung.


"Nara itu orangnya pemalu, Mas. Dan juga, Mas kan juga nggak pernah keluar, jadi Nara ngebayangin kalau wajah Mas nya itu serem, makanya dia juga takut kalau harus bertemu sama, Mas."


Nara yang tidak pernah melihat wajah penghuni kontrakan di depan rumahnya, ia jadi membayangkan, jika Arvin itu ternyata termasuk komplotan *******, bukankah itu sangat menyeramkan? Karena Arvin memang sangat jarang keluar rumah, bahkan kalau keluar rumah, Arvin juga selalu memakai masker. Jadi, Nara tidak pernah melihat bagaimana rupa Arvin. Makanya Nara jadi takut bertemu dengan Arvin.


Arvin menanggapinya dengan oh saja. Lalu kemudian Bu Lastri mulai melanjutkan ceritanya, agar Arvin ke depannya bisa mengerti akan kondisi Nara.


"Oh iya, Mas. Ke depannya kalau mendengar Naura rewel, tolong dimaklumi saja ya, sebab saya juga sangat kasihan dengan Nara dan juga anaknya."


Arvin mengangguk, namun ia juga penasaran. "Memangnya kenapa, Bu? Sampai anaknya rewel begitu."


"Aduh, Mas. Pokoknya kasihan sekali hidupnya Nara itu, dia sudah memiliki orang tua yang tidak peduli dengannya, eh dia juga mendapatkan mertua yang jahat. Mas tahu sendiri kan, kalau orang tuanya Nara tidak pernah menjenguknya ke sini, dan juga kalaupun mertuanya datang, itu orang pun cuma ingin memarahi Nara saja. Lalu, orang tuanya Nara sendiri, tahunya cuma minta kiriman uang dari Nara, sedangkan Nara juga harus mencari uang sendiri untuk bantu keuangan keluarganya itu. Sebab, suaminya Nara hanya ngasih uang belanja saja ke Nara, selebihnya ya mertuanya itu yang nguasai uangnya Gavin. Nah, inilah yang membuat Nara akhirnya stres dan tertekan, lalu akibatnya berpengaruh ke ASI nya, jadilah Naura rewel karena kekurangan ASI."


Bu Lastri bahkan sampai meneteskan air matanya ketika menceritakan ini semua. "Tadi ya, Mas. Ibu sampai nangis lihat Nara. Pas Ibu tadi masuk ke dalam rumahnya, Naura itu nangis kejer di kasur, sedangkan Nara, juga lagi ikutan nangis di pojokan. Ya Allah ... Ibu benar-benar tidak tega ketika melihat mereka berdua. Lalu, Ibu langsung gendong itu Naura, dan Ibu juga langsung peluk Nara." Air mata Bu Lastri semakin menetes deras.


"Setelah Nara tenang, Ibu tanya baik-baik ke dia, kenapa sampai nangis? Lalu, dia bilang dia nggak punya uang untuk beli susu, dan ASI nya juga nggak bisa keluar sama sekali. Dan, Nara juga tidak berani minta tolong ke orang lain, bahkan ke Ibu. Maka dari itu, tadi Ibu sempat gendong Naura di luar, karena Nara langsung aku pinjamin uang untuk beli susunya Naura."


"Dan, ternyata beberapa Minggu ini, uang hasil laundry Nara selalu habis untuk beli susu dan juga mengirim uang untuk keluarganya, sebab kalau Nara tidak kirim uang, ibunya selalu nyumpahin yang jelek-jelek ke Nara, ya namanya anak, kan pasti takut, Mas. Dan, keterlaluannya lagi, Gavin itu benar-benar hanya memberikan uang hanya untuk beli bahan makanan mereka sehari-hari saja, Ibu mertuanya Nara juga tega sekali. Jadi, Ibu benar-benar nggak habis pikir dengan jalan pikiran mereka. Ya Allah ... untung saja Nara termasuk wanita yang kuat, kalau tidak, bisa-bisa dia kan sudah bunuh diri, atau kalau nggak malah sampai membunuh anaknya, karena mendapatkan tekanan besar seperti ini. Aduh, pokoknya amit-amit deh, jangan sampai itu kejadian." Bu Lastri menceritakan semuanya dengan sangat jelas.


Lalu kemudian Bu Lastri melanjutkan perkataannya. "Maka dari itu, Mas. Kalau bisa, Mas Arvin kalau mencuci baju, di laundry nya Nara saja, itung-itung bantuin dia. Soalnya Nara tidak mau kalau dikasih uang gitu aja, sebab ia lebih senang menjual jasanya. Bisa kan, Mas? Hehehe ... Maaf, kalau jadi promosiin laundry nya Nara," lanjut Bu Lastri seraya tertawa.


Inilah tujuan Bu Lastri yang sebenarnya, ia ingin membantu Nara dengan cara ini, Bu Lastri ingin usahanya Nara semakin laris, agar ke depannya Nara tidak kesulitan lagi untuk mendapatkan uang. Dan, lagi pula, Bu Lastri juga melihat Arvin adalah cowok paling perhitungan, masa laki-laki lajang seumuran Arvin, apa-apa dilakuin sendiri, dari bersih-bersih rumah, masak, cuci baju juga sendiri. Dan, ini bisa disebut bukan mandiri lagi, namun lebih ke arah perhitungan, alias pelit.

__ADS_1


__ADS_2