
Berkali-kali jatuh kelubang yang sama msncerminkan Ayesha yang tidak bisa menahan diri atas nafsunya yang kini menjadi candu bila dia ditempatkan pada situasi sedang berduaan dengan Radika yang sama-sama tidak dapat manahan imannya. Ayesha harus melakukan sesuatu untuk mencegah kemungkinan buruk nantinya. Selama ini, dia merasa Tuhan masih memberi kesempatan kepada dia untuk segera menghentikan semua ini sebelum terjadi sesuatu.
Tak lepas Ayesha terus memutar otaknya, hatinya otaknya mengatakan untuk menjauh sementara dari Radika akan tetapi berbeda suara dengan lubuk hatinya yang mengatakan tidak mau melepas bahkan berjauhan barang sehari pun. Keduanya sama-sama penting, namun jika Ayesha bisa memilih, dia mau dapat menahan diri dan juga tidak berjauhan dengan Radika.
Ayesha sendiri tidak yakin bila dia mengambil keputusam itu, maka semua usai. Buktinya selama ini, dia pernah mencoba serta berusaha tetap saja Ayesha tidak bisa. Jujur, ia ingin cepat menyelesaikan kuliahnya ini dan bisa berdekatan dengan Radika. Ayesha pusing sendiri memikirkan ini semua yang tidak ada habisnya.
mengacak rambutnya melampiaskan kekesalan serta kegundahan di hatinya. "Aku harus bagaimana lagi?"
Sekuat tenaga dia menyembunyikan, terkadang beberapa orang terdekatnya membahas topik yang sangat menyentil hatinya. Mereka mengatakan bahwa mereka merasa jijik, najis, berdosa, ******* dan sebutan buruk lainnya. Ayesh semakin cemas jikalau rahasianya terkuak.
Terlintas sebuah ide, Ayesha berniat kabur dari rumah untuk hidup sendiri dan menata semuanya dari awal sebab ini sudah tidak benar. Tapi, dia tidak cukup banyak uang yang tersimpan apalagi Ayesha belum bekerja apapun. Nyalinya belum setebal itu.
Termenung di taman dekat gedung kejurusan dan seseorang tanpa izin duduk disampingnya."Ngapai kamu disini sendirian? Galau ya?!" tanya Siska
"Loh Sis kamu ternyata, aku kira siapa tiba-tiba duduk gitu aja. Kamu gak pulang?"
"Ditanya kok balik tanya, jawab dulu kek pertanyaanku. Kamu ngapain duduk disini sendiri? Galau?"
"Gak ngapa-ngapain sih cuma ingin saja duduk sendiri apalagi taman lagi kondisi sepi jadi enak buat nyantai Sis," Siska melirik sekilas kearah Ayesha, dia pun mengikuti perempuan itu yang menyandarkan punggungnya pada kursi.
"Kalau boleh tahu galau kenapa kamu Sha?" Siska bertanya karena penasaran sebab raut wajah Ayesha yang sangat sayu tidak semangat membuatnya bertanya, kenapa? "Eh tapi aku gak bermaksud apa- apa ya, aku gak maksa kamu juga buat cerita." Ayesha hanya diam sambil menatap kearah Siska.
"Aku cuma sedih aja kalo inget kondisi bapak aku," ucapnya sedikit tersenyum untuk menyembunyikan sesuatu yang sangat dijaganya. Siapa yang mau mendengar cerita tentang kita bahwa diri kita melakukan hal bodoh yang tahu betul itu salah tetap saja dilakukan berulang kali, sulit terlepas seperti sebuah rantai yang melikit dikaki kita agar tidak mudah lepas begitu saja.
"Bapak kamu sakit ya, sakit apa kalo boleh tahu?"
"Stroke dan ini yang ketiga kalinya," Siska terkejut sambil menutup mulutnya merasa kasihan.
"Aku hanya khawatir kalau sewaktu-waktu sakitnya nanti parah bapak bakal ninggalin aku, kakak dan ibu." terus tersenyum tipis meskipun pedih yang dirasakannya. Topik ini bukan topik sensitif lagi baginya karena sudah biasa untuk Ayesha bila orang-orang menanyakan, 'kenapa kamu tidak pernah ikut bermain dengan teman-temanmu? Sekedar nongki atau mampir di kost teman perempuanmu?' Ayesha tidak bisa seleluasa itu untuk pergi bersenang-senang dan main sampai lama, Ayesha punya tanggungan di rumah untuk menjaga bapaknya sebab hanya dia yang memiliki banyak waktu luang.
"Setidaknya kamu masih bisa menyegarkan otakmu ya kan?!"
"Ya begitulah," tersenyum kecut.
"Ya sudah aku pergi duluan ya, maaf mengganggu me time kamu Ayesha, bye!" Siska beranjak dan pergi sambil melambaikan tangannya. Ayesha tidak lama kemudian, ikut berdiri dan berniat pulang sebelum kakaknya.
__ADS_1
......................
Hari menjelang semakin sore, awan senja dengan semburat warna jingga terlihat cantik dipandang kedua mata Anesha. Dia kini bersiap untuk pulang dengan membereskan meja kerjanya. Hari ini sama seperti hari-hari biasanya alih-alih semangat namun selalu berakhir lelah.
Ting...
Dentingan Ponsel menandakan notif pesan masuk, terpampang pesan dari adiknya.
"Kak, minta tolong nanti mampir ke pasar sebentar ya, aku lihat sayur dirumah sudah habis."
Anesha menghela nafas, "selalu mendadak dan diwaktu yang tidak pas." Dimana kondisi badannya sudah diambang batas. Sehingga secara alami muncul rasa mager dan males saat itu juga.
"Baiklah, nanti kakak akan mampir ke pasar." mau tidak mau, Anesha harus ke pasar setelah ini. Beberes meja selesai, Anesha keluar dari ruang dosen dan berjalan menuju parkiran motor.
Ketika di lobby seorang dosen cowok menyapanya, "Baru mau pulang bu Nesha?!"
"Loh pak Toni anda masih kampus rupanya, saya baru pulang karena masih perlu memeriksa tugas-tugas mahasiswa yang telat mengumpulkan, hehe"
Toni merupakan salah satu dosen tampan dari sekian banyak dosen laki yang masih muda meskipun Toni sudah sedikit berumur tiga puluhan. Anesha berkomunikasi baik dengan Toni, mereka awal bertemu saat melamar kerja dikampus ini sebagai dosen dijurusan yang sama hingga sekarang mereka jadi sering bertemu ketika ada perkumpulan dosen.
"Naik apa pulangnya bu Nesha?"
"Sama seperti anda, kadang saya suka kesal dengan mahasiswa yang terlambat mengumpulkan tugas. Padahal saya sudah kasih kelonggaran 3 hari tapi tetap saja ada yang telat. Tadinya mau saya biarkan dan tidak menerima lagi, tapi jadi keinget saya dulu yang suka begini juga ,haha!" Anesha terkikik juga, dia pun juga merasakan hal yang sama. Ingin marah tapi jadi teringat dirinya yang pernah jadi mahasiswa.
"Ya sudah pak Toni, saya mau pulang keburu malam sekali, saya juga harus mampir ke pasar."
"Oh silahkan bu Nesha maaf ya menghambat jam pulang anda."
"Tidak perlu minta maaf pak," Anesha pun tersenyum sebagai tanda kesopanan.
Anesha menaiki motor lalu memasangkan helm dikepalanya dan melaju dengan kecepatan sedang. Letak pasar memang tidak seberapa jauh dari kampus, jadi Anesha dengan cepat sudah sampai disana. Ia melepaskan helmnya dan menata pakaiannya yang terkena angin.
Sebelum masih Anesha menyempatkan untuk membeli kresek besar sebagai tempat sayurnya. Berkeliling memilah sayur dan membeli bahan untuk dijadikan lauk pauk.
"Bu saya beli udangnya yang ini, berapa bu?!" tanya Anesha pada penjual boga bahari
__ADS_1
"15 ribu mbak,"
Anesha melotot kaget, semahal itu untuk udang semungil ini."Buk udangnya kecil-kecil harga mahal banget. 12 yan buk?" Anesha menawar
"Gak bisa mbak udah mentok itu harganya!"
"Kemarin saya beli ditempat lain gak sampek segitu ibu, udangnya pun sama bagusnya seperti ini. Ya sudah bu tidak jadi." Anesha yang akan pergi namun dicegah oleh penjual itu.
"I..iya deh mbak 12 ribu," Anesha tersenyum kemenangan. Taktiknya berhasil, padahal kemarin dia sibuk dikampus.
"Makasih ya buk, laris manis dagangannya!" Anesha melenggang pergi mencari yang lain.
Menghabiskan satu jam lamanya, tapi lama dibagian tawar menawar dari pada memilih bahannya. Lalu matanya melihat seorang ibu-ibu dengan barang yang berserakan,"Kayaknya habis kesandung tuh!"
Anesha pun membantunya,"Sini bu saya bantu ya!" Anesha memunguti buah-buahan yang bergelinding tak jauh dan meletakkan di tas belanja ibu itu.
"Makasih ya dek udah bantu ibu,"
"Sama-sama bu, mari saya bantu angkat sampai ke kendaraan anda."
"Aduh gak usah repot-repot dek, ibu bisa sendiri," ibu itu yang akan mengambil alih namun ditahannya.
"Gak papa bu, udah ayo saya bantu, ibu sendirian?"
"Gak kok, sama asisten rumah tangga, dia lagi bawa barang ke mobil juga." Anesha mengangguk. Tadinya dia akan mengomel bila ibu itu tidak ada yang menemaninya satu pun.
"Syukur kalo gitu bu," tiba di mobil Anesha membantu meletakkan dan selesai.
"saya pulang dulu ya bu!" pamitnya ingin undur diri.
ibu itu mengeluarkan uang dari dompet dan akan memberikan pada Anesha."tidak perlu bu, saya ikhlas membantu juga saya sudah bekerja." ucap Anesha menolak dengan halus.
ibu itu menutup mulutnya terkejut,"Astaga maafkan ibu, ibu tidak bermaksud begitu dek,"
"Tidak apa bu, baiklah saya izin pulang bu!" Anesha menyalimi ibu itu dan pergi.
__ADS_1
Setibanya di rumah jam menunjukkan pukul 18.30 pas. Anesha meletakkan belanjaan di dapur dan pergi mandi untuk menghilangkan lemas ditubuhnya.
Ayesha yang melihat kakaknya pulang, lalu membantu membereskan belanjaan dan menaruh ditempatnya.