
Siska mengurung diri di kamarnya tanpa makan apapun, di luar kamarnya mama papanya hanya bisa menghela nafas memperhatikan tingkah anak semata wayang mereka.
"Bagaimana ini pa?!"
"Biar papa bicarakan lagi dengan orangnya, "
"Mama harap semua baik-baik saja. Beliau orang yang sangat keras sekali."
"Beginilah dunia bisnis ma, semua orang akan berlomba-lomba untuk mendapatkan kejayaan bisnis mereka."
"Ya sudah, papa lebih baik istirahat jangan banyak pikiran yang nantinya akan jadi bumerang sendiri."
"Baiklah, papa ke kamar dulu ya ma,"
Di dalam kamar Siska meringkuk, semua rasa menumpuk sesak di dadanya. Sudah lama sekali tidak berjumpa membuatnya rindu.
Tak ada kabar antara satu sama lain. Tapi" aku bahkan tidak tahu apakah dia masih mengingatku atau tidak, mencintaiku saja mustahil bagaimana dia mungkin teringat akan aku?"
Malamnya Papa Ferdi kembali dipusingkan oleh masalah ini. Perjodohan yang sudah disepakati tidak bisa diganggu gugat apalagi mau diubah, semua tidak mungkin lagi.
Mama Helen hanya melihat situasi ini langsung mengerti. Semua sudah terlambat, mau tidak mau Siska akan segera menikahi laki-laki yang dikenal akan kelicikannya.
"Pa, meskipun mana tidak rela Siska dinikahi laki-laki itu tapi demi kebaikan semua orang kita harus berkorban, bukan?!"
Papa Ferdi mengangguk membenarkan perkataa istrinya "Ma, papa minta tolong kamu bujuk Siska ya!"
"Iya pa, urusan itu biar mama yang urus, papa tenang aja ya!"
Sementara Vandi baru saja menerima telpon dari Papa max yang mengatakan dirinya akan segera menikah tidak lama lagi. Vandi melempari semua benda yang ada disekitarnya.
Papa max menyuruhnya untuk datang malam ini ke sebuah alamat yang sudah dikirimkan. Vandi muak akan semua ini. Dia hanya diam dijadikan alat dan boneka yanh diperintah ini itu demi kepuasaan seorang Max.
"Arrrkkkhhh..."
"Sialan pria tua bodoh!"
"Dia selalu mencampuri urusanku bahkan sekarang kehidupanku mau dia atur seenaknya sendiri!"
"Dari dulu hanya mementingkan bisnisnya sendiri."
"Aku lelah sekali," gumam Vandi, tubuhnya meluruh dibalik pintu kamarnya dengan meremas rambutnya melampiaskan kekesalannya.
Mama Helen Mengetuk pintu kamar Siska, begitu membuka pintunya Siska seperti orang frustasi yang kehilangan tujuan hidupnya. Dia lemah, rambut kucel, wajah pucat seperti kekurangan darah didalan tubuhnya.
"Siska..." Mama Helen duduk dipinggiran kasur sambil menepuk pelan tubuh anaknya yang bersandar. Siska melamun tak menjawab panggilan mamanya.
__ADS_1
"Mama tahu ini sangat berat buat kamu, mungkin terkesan menuntut dan mengatur hidup kamu yang seharusnya kamu sendiri yang menjalankannya. Tapi, kehidupan kita ini terkadang tidak sesuai harapan kita, Nak. tidak semulus itu seolah takdir yang kita inginkan terkabulkan dengan mudah. Semua yang terjadi didalam hidup kita ini ada hikmah yang tidak kita sadari dibalik itu semua. Yang bisa kita lakukan hanya menjalaninya dengan ikhlas dan tabah. Awal yang menyakitkan perlahan akan berganti kebahagiaan yang artinya waktu bahagiamu bukan waktu yang pas untuk kamu rasakan saat ini."
Siska tetap mendengarkan ucapan mamanya yang dipikirnya ada benarnya juga. Apakah dia harus merelakan rasa cintanya pada Vandi untuk orang lain.
"Apa Siska akan bahagia nantinya Ma?!" Siska menoleh kearah mamanya dan meminta jawaban pasti atas pertanyaannya.
"Tentu saja Anak mama yang cantik dan kuat ini," Mama Helen menarik tubuh Siska dan memeluk penuh kasih sayang.
......................
Malam harinya di massion rumah Siska para asisten rumah tangga sedang disibukkan dengan acara pertemuan dua keluarga yang amat disegani. Siska di dalam kamarnya menatap diri didepan cermin seolah mengatakan semua baik-baik saja dan kamu akan bahagia setelahnya.
Siska mencoba melupakan Vandi namun tidak semudah seperti meniup bunga dandelion. Meskipun hanya kenangan menyakitkan yang didapatkan Siska tetapi hatinya meminta untuk bertahan.
Dia tahu orang akan menganggapnya bodoh. Tapi Siska peduli apa? Itu pandangan orang lain dan mereka tidak tahu apa yang dirasakannya, apa yang selama ini dia alami, semua orang tak akan tahu dan tidak pernah tahu.
Tok...tok...tok...
"Siska tamunya sudah datang, keluarlah"
"Iya ma sebentar,"
Siska menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan.
Ceklek...
"Sudah siap Nak?" tanya Mama Helen
"Siska siap kok ma"
"Bagus kalo gitu ayo kita turun kebawah."
......................
Vandi dengan wajah menyeramkan menandakan dia tidak minat dengan semua ini. Kenapa tidak Papanya saja yang dijodohkan, haruskan dia?"
"Jangan merusak reputasiku Vandi, lakukan dengan benar! Langkah ini akan menjadi pijakan kesuksessan bisnis kita."
Vandi diam tak menjawab
Pintu terbuka sebelum Vandi dan papanya menekan bel yang ada didekat mereka.
"Selamat datang Tuan Max dan Tuan Vandi, silakan masuk" ucap Papa Ferdi menyambut keduanya dengan ramah tamah.
"Silakan duduk dulu, " Mama Helen pun mempersilakan keduanya duduk dan Helen menyuruh pelayan untuk menyajikan minuman dan makanan ringan di meja ruang tamu.
__ADS_1
"Rumah ini terasa sangat nyaman ya Tuan Ferdi," celetuk Max
"Haha...memang sangat nyaman tapi karena terlalu nyaman membuat saya kesepian bila ditinggal anak dan istri Tuan."
Deg
Ferdi hampir lupa kalo Max sudah tidak memiliki istri. Dulu Ferdi masih menjadi pengantik baru, dia sudah mengenal Max yang seingatnya wajah yang terlihat datar dan garang ini dulunya mudah tersenyum. Ferdi takut menyinggung hati Max.
"Tenanglah anda tuan Ferdi, saya baik-baik saja, anda tidak perlu memikirkan hal itu,"
seakan Max tahu hanya melihat dari ekspresi wajah Ferdi yang menengang dan perasaan yabg campur aduk.
"Ba..baiklah tuan Max maaf atas ucapan saya tadi," Max hanya mengangguk
"Lalu dimana anakmu? Aku ingin segera melihat calon menantuku yang cantik jelita itu."
Jangan dikira Max tidak tahu apa yang selama ini dilakukan Vandi dan Siska mengenai hubungan keduanya. Max memanfaatkan hal tersebut untuk tujuan memperluas bisnisnya dan mengalahkan kedudukan keluarga Firdaus.
ingat kan kalian masih? Firdaus...itu loh...keluarganya si Radika🫠 yang kaya banget kebalik banget sama hidup author yang menciptakan kekayaan untuk Radika🙃Aurhor sendiri kagak punya apa-apa untuk dibandingkan😮💨
Tak lama kemudian, mata Vandi lebih dulu menangkap sosok perempuan cantik dengan gaun yang serasi dengan kulinya yang kontras. Riasan wajah yang natural seakan itulah wajah asli Siska.
"Maaf menunggu lama semuanya!" Ucap Mama Helen yang menggandeng tangan Siska.
"Tuan Max dan tuan Vandi perkenalkan dia outri tunggul kami, namanya Siska. Siska duduklah." kata Papa Ferdi menepuk tempat kosong disebelahnya .
"Wah...wah...wah...cantiknya diluar eospetasiku Tuan Ferdi, putri anda sangatlah menawan dan cocok bila berpasangan dengan anak saya." Max memuji kecantikan Siska yang dia kira tadinya biasanya. Dalam hati dia jadi kembali nostalgia wajah istri yang sangat ia cintai.
Vandi dari tadi diam membisu. Benarkan ini Siska yang dulu selalu memakai baju seksi kurabg bahan dan riasan dengan lipstik tebal merah merona.
Vandi menyukainya
"Van...Vandi kenapa malah melamun tidak sopan sekali kamu itu!" tegur Max menyadarkan otak Vandi yang sempat mengalami error
"Tidak apa Tuan Max, dia sedang bertarung dengan pikirannya sendiri karena melihat putriku."
"Hahaha begitu rupanya, dasar anak muda zaman sekarang."
"Baiklah kalo gitu kita makan malam terlebih dahulu baru kita mengobrol setelahnya." Mama Helen pun menggiring tamunya ke ruang makan yang tertata cantik seperti sedang makan dikeluarga kerajaan.
Sedangkan semua orang bsrbincang santai hanya Siska saja yang didalam dirinya sedang bergemuruh hebat.
"benarkan yang didepannya adalah Vandi? Jadi selama ini dia yang akan dijodohkan mama dan papa?!" Kenapa aku bisa tidak tahu sih! gara-gara aku yang kabur gitu aja tanpa mendengar penjelasan mama dan papa."
semua orang pun menikmati acara makan malam ini dan dilanjutkan obrolan untuk pernikahan anak mereka.
__ADS_1