Terjebak Wajah Tampan Billioner

Terjebak Wajah Tampan Billioner
Bab 14


__ADS_3

Salah satu jadwal Vandi hari ini yaitu mendatangi Kampus A yang sebentar akan menjadi miliknya dan ini yang kedua kalinya dia datang. Namun, dua kejadian yang sama tapi ada satu yang membuatnya malu sampai ke tulang-tulang rusuknya. Vandi tersandung hingga jatuh dan pastinya image gagah nan perkasa hilang gegara itu. Lalu, yang kedua dia bertabrakan dengan mahasiswa menjengkelkan untuknya.


Vandi awalnya tidak ingat rupa perempuan itu dan teringat saat ia dalam perjalanan pulang ke kantor." Ternyata dia, " sejenak melamun karena bayangan perempuan yang mengatakan dirinya sakit mata dan kaki itu. Sungguh manis dan menyebalkan bagi Vandi. "Manis sekali!"


"Iya Pak apanya yang manis?!" Zaid yang mendengar hal itu membuyarkan lamunan Vandi. Ia pun menggelengkan kepalanya bermaksud abaikan saja aku.


"Bos aneh," Zaid bergumam sepelan mungkin tapi siapa sangka hal itu masih terdengar jelas.


" Mau aku mutilasi juniormu hah!"


Zaid mendelik kaget, sontak tangan kirinya menutupi juniornya yang damai dibawah sana."Tentu saja tidak mau saja Pak!" ujar Zaid menciut seperti krupuk melempem.


Zaid mempercepat laju mobil, dirasa waktu hampir jam makan siang."Mau makan dikantor atau di restoran pak?!" tanya Zaid


"Pesankan saja aku," jawab Vandi, sedikit malas.


"Baik Pak."


Setibanya, Vandi turun dari mobio tanpa menunggu sekretarisnya. Zaid pun menyusul atasannya yang tiap waktunya berteman dengan siluman es kasat mata jadi dia juga ketularan jadi es dan mendingin. Atasannya itu terkenal akan kearoganannya, perfeksionis, dan tidak peduli dengan sekitarnya. Ya kecenderungan seorang pembisnis yaitu perfeksionis yang melekat dijiwanya.


"Kamu cepat pesenkan dan bangunkan aku, aku ingin istirahat sebentar." ujar Vandi lalu masuk ke dalam ruangannya.


Vandi merebahkan badannya, pikirannya melayang pada perempuan itu. Vandi mengancamnnya memblack list nya dan ia suka dengan ekspresi pucat pasi itu. Bukankah lucu wajah takutnya itu?! Selama ini, Vandi meneliti tiap perempuan yang berpapasan dengannya mereka akan berekasi antara berpesona lalu menatap memuja atau mendekatinya alih-alih berkenalan. Ingatkan Vandi untuk menyuruh Zaid mencari informasi mengenai wanita aneh itu. Tidak kalah aneh dengannya.


......................


Zaid yang duduk di kursi kebanggannya tengah menunggu pesanan untuk makan siang dirinya dan Vandi. Kemudian, dari arah pintu lift yang terbuka sosok wanita cantik nan seksi mendekatinya.

__ADS_1


"Hai Zaid, Vandi ada didalam?!" Zaid memandang malas wanita itu, kehadiran yang tak pernah absent mengganggu Vandi sekaligus dirinya pun ikut terganggu. Tentu saja terganggu akan suara erotis yang setiap malamnya membuatnya teringat dan terbayang-bayang. Sehingga dia harus bertindak untuk menidurkan juniornya.


"Pak Vandi tidur dan beliau tidak ingin diganggu," wanita itu tersenyum aneh dan Zaid bisa menebak apa yang sedang dipikirkan otak mesum wanita itu.


"Anda tahu bahasa manusia kan?!" tanya Zaid dengan tatapan sinisnya.


"Tentu aku tahu, kenapa?!" wanita itu membalasnya begitu sinis.


"Kalau begitu silahkan anda pergi."


"Kamu itu harusnya tahu tempat ya! perlukah aku menyadarkanmu akan posisimu saat ini?! " sarkas wanita itu sambil mencondongkan dada gempalnya kepada Zaid yang menguarkan aura dingin.


"dasar menjijikkan!"


"Tidak perlu anda menyadarkan saya, sepertinya anda yang memerlukannya atau saya sendiri pun sangat bisa melakukannya, anda mau mencobanya?!" Zaid merubah tatapan mautnya menjadi menggoda target mangsanya.


"Oh aku tidak akan ikut campur cuku gigolo yang kukirim untuk memuaskan nafsu hewanmu!" jawab Zaid tersenyum manis yang menyiratkan hinaan. Layaknya palu thor yang menghantam dadanya hingga remuk membuat wanita itu mengeraskan rahang bahkan dia lupa tujuannya untuk mendatangi Vandi. Kepalang marah, waniga itu pun minggat dari kantor.


Zaid menghembuskan nafas kuat-kuat setiap wanita itu datang. Sebab Vandi selalu menyuruhnya mengusir wanita sinting itu dan membuatnya on the way jadi orang gila yang stress akibat depresi.


Karena masih dilanda kemarahan semakin marah, makanannya gak kunjung datang, Zaid menelpon pihak resto.


"Mana pesanan saya hah! Cepaf antar! Dasar kalian lamban!" bentaknya dan membanting ponsel yang baru Zaid beli.


Entah yang keberapa kalinya Zaid mengusir wanita itu dan sampai kapan dia harus berdebat tiap kali dia datang. Beberapa menit, seoranv kurir makanan datang tergesa-gesa.


"Maaf Pak, ini pesanan anda." kurir itu meletakkan makanan itu di meja dan pamit undur diri.

__ADS_1


Zaid masuk ke dalam ruangan Vandi lalu mengetuk pintu kamar untuk membangunkan atasannya yang tertidur pulas.


"Pak, makanan anda sudah tiba. Pak! Bangun pak!" panggil Zaid mengeraskan suaranya supaya Vandi terdengar. Vandi terusik dan berdecak sebal.


"Ck... Berisik !!!" sentak Vandi dari dalam. Zaid yang takut langsung kabur keluar ruangan itu.


Vandi melangkah ke kamar mandi untuk mencuci muka agar segar dan keluar kamar melihat makanan tersedia membuat perutnya berbunyi keras.


...................


Radika berencana akan mengakuisisi sebuah kampus swasta yang mengalami penurunan dan anggaran dana yang menjadi masalah utamanya. Dari segala bisnis yang Radika tekuni akan tetapi untuk yang satu ini dia kurang mendalaminya. Sehingga langkah awal inilah yang akan diputuskan oleh Radika, dia akan membantu kampus swasta ini dan meningkatkan kembali semua fasilitas dan sumber daya manusia disana. Dengan menekankan tujuan utamanya membangun fasilitas yang nyaman, menarik minta belajar mahasiswa, dan mengadakan pelatihan bagi para pengajar. Radika mentitahkan Farel untuk mengurus segala urusan itu dan dia akan turun tangan saat melakukan visit ke kampus itu.


Mengingat kampus, Radika belum bisa melupakan Ayesha sepenuhnya, pekerjaan menumpuk pun tidak mampu mengalihkan pikiriannya tentang Ayesha barang sedetik bahkan sehari. Radika menggelengkan kepala tidak ingin memikirkan tentangnya, dia pun menelpon Farek untuk menanyakan kabar selanjutnya.


"Halo Rel, bagaimana kondisi disana?"


"Dari dugaan saya setelah membicarakan ini dengan dekan yang ada di kampus, mereka menyetujui dengan cepat begitu saya menyebutkan nama anda." ujar Farel melalui telepon


"Lakukan dengan segera Rel,"


"Baik pak," Radika langsung mematikan sambungan telpon itu.


Keesokan harinya Farel dan Radika melakukan survei ke kampus. Di dalam mobil,"Apa para pengajar disana mengajar dengan baik?!" tanya Radika sambil sibuk dengan tablet ditangannya


"Dosen berkualitas disana tidak terlalu banyak sekitar 20 orang dari 50 dosen disetiap jurusannya."


"Hah...Lakukan perubahan sistem bila perlu di rubah. Tahun depan sediakan beasiswa bagi mahasiswa baru uang tidak mampu, lakukan dengan ketat untuk kali ini. Kita akan menciptakan kampus terbaik di Jakarta."

__ADS_1


"Siap Pak!"


__ADS_2