
Malam hari ini, Radika tampil mengenakan baju sweater dengan outfit luarnya houdie dan celana jean yang selaras dengan kaki panjangnya. Jalan- jalan kali ini, Radika tidak akan naik mobil Mercedes Benz nya, dia akan menaiki sepeda motor varionya yang dulu saat SMP pernah ia gunakan untuk mengantar Ayesha pulang ke rumahnya. Radika mau bernostalgia sebelum fokus akan masa depannya bersama Ayesha.
srot..srot..
Semprotan parfume dibagian leher kanan kiri dan pergelangan tangannya menyebarkan aroma yang khas. Begitu keluar dari kamarnya ia berpapasan dengan mamanya.
"Bau apa ini?" ujarnya sambil mengendus aroma segar yang tercium.
"Ish apa sih ma, kok sampek gitu ngendus baunya!" Radika sedikit menyingkirkan tubuhnya yang didekati mama Viani.
"Kamu mau keluar ya! mau kemana? Kasih tahu mama dong!" jiwa kepo mama Viani belakangan ini muncul sejak Radika memberitahu kalo ia punya pacar.
"Oh iya iya, mama tahu, kamu mau nge-date kan? Hayoo!!" Radika paham situasi ini, mamanya tidak akan berhenti menggoda anaknya sebelum semburat merah muncul di daun telinga Radika.
"Pa!! Papa!!!" panggil Radika ke papa Beni
Papa Beni yang sedang di ruang tamu asyik menyeruput teh hitamnya kian tersedak.
"Uhuk...uhuk, apa Dika?! Jangan teriak kamu bikin papa tersedak!" balas teriakan papa Beni.
"Ini loh mama, gangguin Dika melulu, Dika mau keluar tapi dihalangi sama mama!"
Radika kini mengandalkan pawang dari mamanya. Akan butuh waktu yang lama bila dia meladeni tingkah mamanya. Melihat papa Beni datang menghampirinya Radika mengkode papanya melalui kedipan mata yang tidak diketahui mamanya.
"*Pa kumohon bantu aku!"
"Kamu tenang aja, biar papa yang urus. Kamu pergilah setelah papa menggiring mamamu masuk ke kandang!"
Dikira hewan kah pak Beni!
Radika mengangguk tenang, papanya memang pahlawan disaat ia membutuhkan bantuannya.
"Ma! Papa ada hadiah bagus untuk mama loh!" seru papa Beni
"Apa pa?" binar tertarik dari mama Viani
"Ikut papa yuk," perlahan papa Beni merangkul mama Viani dan masuk ke kamarnya. Radika merasa lega.
Dengan cepat ia menaiki motornya dan menjemput Ayesha.
......................
Lama menunggu Radika yang tak kunjung datang. Ayesha kesal bila ajakan laki itu tidak jadi setelah membuatnya berjam-jam menanti.
Alay deh baru juga 15 menit berlalu!! Ayesha
Dia tak ingin menunggu yang tidak pasti. Akhirnya Ayesha milih kembali masuk kedalam rumah namun diurungkan gendang telinga dari kejauhan mendengar suara motor asing yang mengarah kesini.
"Awas aja kalo bukan kamu Dik! Aku jeg-bejeg kamu besok!" geramnya
Lalu dugaan Ayesha benar, untung tuh Radika ya!
"Datang juga akhirnya, sampek mlempem kayak krupuk saking lamanya nunggu kamu!" ketus Ayesha, meraih helm yang diberikan Radika.
"Gak boleh marah-marah Yang, karena hari ini aku bakal ajak kamu makan sepuasnya ya kamu mau deh!" Radika menaik turunkan alisnya tanda dia sedang tidak bercanda dengan ucapannya.
"Awas kalo tipu," Ayesha pun naik keatas motor dan Radika menghidupkan mesinnya.
__ADS_1
Dinginnya angin malam tidak menyurutkan semangat Ayesha untuk menipiskan isi dompet Radika. Eh lupa othor kalo dompet Radika gak bakal bisa menipis hanya dalam satu malam atas kehendak othor!!!
Masih banyak orang yang berjualan dipinggir jalan disekitaran taman kota. Bahkan ada waeung lesehan yang menjual boga bahari dengan olahan yang bermacam-macam.
"Dah kamu mau makan apa sekarang?!"
"Emm... Lidahku pengen yang pedes gurih nih, apa ya? Bakso itu tuh!" Ayesha pun menuding kesebuah gerobak bakso dipojok sendiri.
"Okelah," sahut Radika menghentikan motornya dan memarkirkan dekat penjual bakso tersebut.
"Pak baksonya dua ya, " ujar Ayesha dan melepaskan sandalnya lalu duduk lesehan.
"Eh Dik, kamu gak papa nih makan kayak gini? Aku jadi takut pas besoknya ada berita seorang Radika Ramadhani Firdaus mati karena tersedak pentol bakso! Jujur aku ngeri kalo benar terjadi Dik," Ayesha bergidik ngeri membayangkan hal tersebut. Bisa-bisa nanti dia jadi tersangka utamanya.
"Hush, gak usah aneh-aneh deh kamu mikirnya. Kalo besok sampek ada berita gak bener udah aku suruh hapus semuanya dari stasiun TV."
"Mana ada yang kayak gitu, gak semudah itu kali Dik."
"Apa yang gak bisa aku lakuin asalkan biaa bayarnya," jawab Radika sangat santai seolah tidak terbebani untuk masalah model begitu.
"Ini Mbak Mas bakso, " potong penjual bakso
"Oh makasih ya pak!" seru Ayesha, diraihnya mangkok berisi sambel hijau dan menuangkan 3 sendok kedalam baksonya.
"Sayang jangan banyak-banyak, nanti sakit perut pas dijalan," Radika memberikan nasihat pada Ayesha
"Kamu tenang aja, aku udah terbiasa makan pedes, jadi perutku gak bakal kaget Dik." Ayesha menyepelekannya. Dia lupa kalo makan nasinya sudah pagi tadi sedangkan siang dan sore perutnya belum terisi nasi.
"Aku udah bilangin ya, awas kalo sampek ngomelnya ke aku!"
Radika sendiri makan dengan perlahan sambil tersenyum melihat Ayesha yang makan belepotan. Ditariknya tisu dan mengelap pinggiran mulut Ayesha.
Ayesha monoleh. Jantungnya berdebar-debar, matanya terpaku akan apa yang dilakukan Radika.
"Kenapa? Salting kamu?"
Ayesha tertangkap basah."apaan sih! B aja kali." ia melanjutkan makannya untuk menyembunyikan merah merona dipipinya yang kentara sekali.
"Habis ini mau makan apa lagi?" tanya Radika, sia sudah menghabiskan baksonya sendiri.
"Minuman yang dingin ya, boleh kan?"
"Boleh, setelah ini kita beli ya!" Ayesha mengangguk bahagia. Cepat-cepat dia memakan baksonya karena tak sabar ingin membeli macha boba.
Selesainya,"pak ini uangnya, kembaliannya bapak simpan saja ya,"
Ayesha dan Radika pun pergi.
......................
Berkeliling taman kota, kedua pun beristirahat sebentar disebuah bangku yang ada ditaman itu. Lampu warna-warni, orang-orang yang berjalan kesana kemari, suara bising yang meramaikan sekitarnya.
Ayesha melihat kedepan sambil melamun. Sesudah mengenyangkan perut, dia tidak bisa bergerak lebih.
"Kenyang?"
"Iya banget malahan!"
__ADS_1
"Yang," panggil Radika, Ayesha berdeham tanda menjawab.
"Ada yang mau aku bicarain sama kamu," mendadak suasana santai menjadi serius terdengar dari cara bicara Radika.
"Bilang aja Dik,"
"Kita sudah hampir setahun sejak memulai hubungan ini kan ya," Ayesha langsung menatap Radika sebab laki itu membahas tentang hubungan mereka sekarang.
"Iya, kenapa?"
"Sebelumnya, aku juga gak nyangka kita bisa bersama seperti sekarang."
"Aku juga sama, dulukan cuma aku yang suka sama kamu. Sedih sih, suka bertepuk sebelah tangan. "
"Ya dulu kan aku masih labil juga pendiam Yang, "
"Mana ada kamu gak kayak gitu, aku tuh masih inget ya. Dulu pas hari kelulusan kamu tipe orang gak suka foto-fotoan tiba-tiba Siska ngeposting foto kalian berdua." ucap Ayesha
"Masa sih? Aku gak tahu loh!" kaget Radika, dia memang foto dengan Siska tapi untuk memposting dia tidak menahu.
"Aku iri lihatnya, aku gak bisa foto sama kamu. Tapi, aku juga sempet seneng karena punya momen berdua sama kamu dulu. Kamu ingat gak yang mana?!"
Radika mencoba mengingatnya," hehe...lupa aku Yang!" Ayesha memutar bola matanya malas.
"Heh... Cuma aku yang merasa itu momen langka pas SMP. Kamu nganterin aku pulang sehabis kita ke rumahnya Jedar dan ditengah jalan malah kehujanan. Kamu awalnya kasih jas hujannya ke aku tapi aku nolak karena kamu didepan pasti nanti basah kuyup. Aku ngalah pas itu."
"Terus gimana setelah itu?!"
"Ya kamu anterin aku sampek depan rumah dan kamu sampek ke rumah malam hari. Terus kamu dimarahi mamamu karena pulang magrib. Aku jadi gak enak hati pas itu.
"Tapi Yang, ada satu yang perlu aku tekanin sekarang. Kalo saat ini, bukan cuma kamu yang suka atau cinta ke aku. Tapi aku juga suka dan cinta ke kamu setelah sekian lama kita dekat."
Ayesha menatap dalam manik mata Radika yang membuatnya tidak bisa berpaling.
"dan sekarang aku jadi semakin sayang dan cinta ke kamu. Aku mau kamu jadi istri aku, jadi ibu dari anak-anak kita nantinya. Terkesan terlalu cepat tapi aku yakin banget kalo kita bisa melewati semua itu. " ucap Radika
diambilnya cincin yang dari tadi disimpan dibalik saku houdienya. "Meskipun aku orang mampu bahkan kaya sedunia, tetap aja aku gak bisa jadi sempurna hanya dengan seorang diri. Jauh didalam diri aku masih ada banyak kekurangan disini." sambil menunjuk dadanya.
"Begitu juga sama seperti kamu. Kamu pun punya banyak kekurangan. Aku mau kita saling melengkapi, melewati semua masalah yang menanti kita, seperti yang kita lakukan sampai sekarang. Saling menguatkan dan menyemangati. " Ayesha terus menyimak semua ungkapan yang dilontarkan Radika.
Matanya kian berkaca-kaca. Mengingat semua masalah yang ia lalui selama berhubungan dengan Radika. Menahan dan bertahan itu yang dia lakukan selama ini. Tapi, itu semua bukan beban atau penyesalan seperti yang diduga Ayesha. Sesekali dia merasakan perasaan itu, namun, seketika hilang saat melihat wajah Radika.
Radika menghapus butiran air mata yang meluruh diwajah wanita tercintanya. Dibukanya kotak kecil itu, disana ada satu cincin menawan dan berkilau.
Tangis haru bercampur senang tak terhingga hadir dihati Ayesha. Gugup melandanya disela tangisnya.
"Ini memang tidak seberapa, tapi terimalah lamaranku untuk meminangmu Ayesha!" dengan lembutnya Radika meraih tangan kanan Ayesha dan menautkan cincin tersebut pada jari manis Ayesha.
Ayesha menatapi cincin itu. Terlihat indah sekali. Tidak banyak ukiran, sederhana seperti si pemberi.
"Aku menyukainya Radika!" gumam Ayesha sambil mengelus cincin itu.
"Aku bahagia dan terharu, kamu harus tahu itu. Aku merasa paling bahagia malam ini. Bukan karena cincin cantik ini, tapi karenamu. Sekian lama aku menanti, bersabar atas rasa sukaku ke kamu selama ini. Aku harap kamu orang yang dipilih tuhan buat aku. " Ayesha pun menenggelamkan wajahnya didada bidang Radika.
Radika mengelus puncak kepala Ayesha. Dia juga senang sekali. Sangat...sangat senang. Lamaran malam ini berjalan lancar seperti ekspetasinya. Kedepannya Radika akan berusaha lebih keras untuk Ayesha dan untuk dirinya sendiri. Memastikan semua bahagia dan tersenyum di setiap detiknya.
__ADS_1