
Kehadiran Cabi merubah segalanya, terutama yang baru saja menjadi Bunda dan Ayah. Si kecil yang kulitnya masih semerah tomat, matanya menutup sepanjang hari dan hanya bisa menangis ketika lapar juga haus.
Ayesha merasakan bagaimana suka duka menjadi sosok Bunda yang baik untuk si Cabi. Cabi bukan lagi calon bayi tetapi julukan itu menggambarkan seberapa tembam pipi bayi itu. Malam itu Radika dan Ayesha sepakat untuk memberikan nama yaitu Dante Putra Fidausy
Saat malam itu begitu selesai persalinan dan keesokan harinya Ayesha meminta untuk pulang lebih awal. Dia merasa tubuhnya sudah lumayan segar meskipun dianjurkan untuk mengurangi bentuk aktivitas yang memberatkan untuk mencegah terjadinya luka di jalan lahir.
Radika sendiri ingin meliburkan diri selama seminggu namun perintah dari istri mengharuskannya untuk tetap pergi mencari uang.
Sekarang ini, Ayesha sedang berada di dalam kamarnya bersama dengan Cabi yang tertidur usai menuntaskan rasa hausnya.
Kamar tempat Ayesha dan Radika tidur kini semerbak wangi telon, parfum dan bedak bayi. walk in closet mereka juga dicarikan tempat tersendiri berisikan perlengkapan Cabi.
"Mbak Yesha ini makanan dan minumannya bibik taruh sini ya,"
"Iya bi, nanti biar Ayesha sendiri yang ambil." Radika juga melarang Ayesha naik turun tangga dan memperintah bibik untuk membawakan apapun yang dibutuhkan Ayesha. Bibik sendiri tidak merasa keberatan, karena saat mengantarkan makanan dia bisa melihat wajah Dante yang membuatnya gemas.
"Dante udah minum ASI mbak Yesha?"
Ayesha mengalihkan tatapan matanya," sudah kok bik, dia baru aja tidur semalam bangun terus nangis minta susu."
"Bibik jadi pengen lagi mbak,"
Ayesha terkikik," Bibik minta dong ke suami bibik, bapak pasti mau lah!"
"Haduh mbak Yesha, bibik tapi udah terlalu tua buat hamil lagi, udah cukuplah liat Dante serasa punya cucu sendiri."
"Dante kan memang punya banyak kakek nenek ya kan, Nak?" ucap Ayesha sambil menoel pipi gembul Dante
Dante hanya diam dalam tidurnya,sesekali bergerak mencari posisi enak merasa tidak terganggu.
"Lucu banget mbak Yesha Dante nya! Kalo gitu bibik tinggal dulu ya" Ayesha mengangguk paham
......................
Radika melamun selama rapat dimulai hal ini sangat jarang terjadi selama Farel bekerja bersama Radika, para pegawai juga merasakan perubahan ini.
"pak...pak Radika!!" bahkan ketika Farel dipanggil pun tidak terdengar.
Para pegawai saling bertatapan dan bertanya-tanya apa yang menyebabkan atasan mereka menjadi seperti ini. Farel jadi geregetan sendiri dan memberanikan diri untuk menepuk pundak Radika.
"Heh...iya! Sudah selesai?!"
"Sedari tadi sudah selesai rapatnya pak,"
"Benarkah? Maaf hari ini saya kurang konsentrasi, Farel kamu mencatat isi rapat barusan kan?!"
"Tentu saja sudah saya lakukan pak!" dengan tegas Farel menjawab.
"Baiklah, kalian bisa kembali ke ruangan masing-masing." Radika pun meninggalkan ruang rapat.
__ADS_1
Menuju ke ruangannya Radika menghembuskan nafas beratnya, "Kenapa hari ini jam seperti berjalan sangat lama? Aku jadi merindukan dua kesayanganku!" gumamnya
"Rasanya jadi gak semangat banget! " Radika menjatuhkan tubuhnya di sofa panjang.
"Aku vc mereka ajalah!"
Ayesha mengangkat vc dari suaminya "Halo bi ada apa?!"
"Sayanggggg!! Aku kangen kamu sama Cabi!"
"Ish abi...ini belum lewat setengah hari masa kamu udah kangen aja."
" Kamu gak suka aku kangenin? "
"Ya sukalah masa nggak sih, Cabi lagi tidur habis minum susu tadi "
"Enaknya si Cabi bisa manja-manjaan ke kamu! Aku jadi iri"
"Huft.. Abiii nanti setelah pulang kerja abi juga bisa manja ke aku kok."
"Pulang sekarang aja ya!"
"Gak boleh dong, kamu kerja belum dapat 5 jam masa udah mau pulang, kerja yang bener abi!"
"Aku bosnya sayang... Aku ingetin kalo kamu lupa!"
"Karena kamu bosnya makanya jadi contoh yang baik untuk pevawai kamu!"
"Iya dah terserah kamu mau ngomong apa, dah aku matikan."
Radika tak menyangka istrinya sudah jarang meminta untuk dipeluk atau dimanja sepertu dulu bahkan telponnya langsung dimatikan tanpa ucapan ' i love you' dan sejenisnya.
"Dasar kamu Cabi bisa-bisanya memonopoli istri aku!"
Radika berdiri, untuk menghilangkan kegundahan ini, dia harus kembali bekerja.
......................
Beranjak sore, Dante baru saja selesai mandi, aroma bayi menyebar ke segala penjuru kamar.
Ceklek...
"Abi pulang!!"
"Abi sudah pulang? Kok cepet banget pulangnya?!"
"Iya pekerjaan hari ini selesai lebih awal, jadi abi langsung pulang."
"Serius? Gak meniatkan diri untuk pulang awal kan? Jangan pake alasan Cabi kamu ya!"
"Kebiasaan suuzon terus ya kamu"
__ADS_1
"Ya udah kalo gitu, sana mandi dulu. Habis dari luar banyak debu yang nempel." Ucap Ayesha sambil memasangkan baju kepada Dante.
Tak lama setelah itu, Radika keluar dari kamar mandi. "Dante sudah tidur?!"
"Belum masih, matanya aja kayak masih seger aja, belum ada tanda-tanda mengantuk!" Ayesha menggendong Dante yang hanya bisa berkedip-kedip sambil memainkan tangannya sendiri.
"Sini biar aku aja yang gendong, " Radika mengambil alih Cabi dari dari Ayesha.
"Ululu...kamu kangen ayah gak?" Radika memdekatkan telinganya ke telinga Cabi mengajak Cabi mengobrol seolah anak yang sudah umur 1 bulan padahal Cabi sendiri tak menjawab apapun.
"hussfftt..Yang kamu kentut ya?"
Ayesha memasang wajah sebalnya," enak aja asal nuduh ya. Aku gak kentut ya abi!"
"Jangan-jangan Dante lagi !" Radika memandangi Cabi dengan wajah tak berdosa.
"Yang Dante kayak nya BAB deh!!"
Ayesha menghampiri anaknya dan memeriksa pampesnya ternyata benar Dante sedang berjuang untuk mengejan.
"Bi tolong bersihkan ya! Aku mau kebawah dulu!"
"I-iya sayang," Radika bingung bagaimana caranya mengganti pampes dengan isi kotoran Dante.
Radika merobek pampes sisi kanan dan kiri bagian panggul, lalu membuangnya di tempat sampah. Perut Radika sudah seperti diobok-obok rasanya.
"Uekkk...uekk..Dante bauknya bikin ayah muntah Nak!!"
Bertepatan saat Radika akan mengusapkan tissu basahnya, Dante kembali mengeluarkan sisa kotoran yang tertinggal
Crett...
Gleg...
"Astaga....Dante...Ayah sungguh mau muntah beneran! Ini tangan kanan ayah buat makan, Anakku Sayang!!!"
Radika buru-buru lari ke kamar dengan gesit dan membilas tangannya dengan sabun sampai berbusa. Radika tidak mau membayangkan hal yang tidak-tidak. Bisa-bisa dia tidak nafsu makan malahan.
Kembali membersihkan kotoran Dante dan memasangkan pampes dengan cepat."Selesai akhirnya!"
"Huftt..." Radika menghembuskan nafas lega. Matanya melirik tangan kanannya, perlahan mendekatkan ke hidungkan dan menghirup sekilas.
"Huekkk...." Radika kembali berlari masuk kedala. Kamar mandi.
Suara muntahan di dalam sana berlangsung cukup lama. Semua makanan yang Radika makan sebelumnya seolah terbuang sia-sia.
Radika keluar kamar mandi," Abi kamu kenapa?!"
"Eh...eng-enggak kenapa-napa Sayang" jawab Radika agak gugup
"Beneran? Mukamu pucat loh!" Ayesha jadi khawatir melihat wajah suaminya yang tiba-tiba memucat padahal tadi masih segar.
__ADS_1
"I-jya bener, yuk turun kebawah aja," Radika menggiring Ayesha keluar kamar. Sementara Radika menahan diri agar tidak muntah kembali.