Terjebak Wajah Tampan Billioner

Terjebak Wajah Tampan Billioner
Bab 8


__ADS_3

Buaian, des*ahan, raba*an, bahkan sentuhan membuat Radika dan Ayesha hilang akal. Terlanjur mabuk kepayang, gairah yang mulai memuncak tinggi, keringat membasahi tubuh apalagi ruangan ini terasa panas dan gerah seperti tengah mendukung kegiatan panas yang mereka lakukan. Ayesha sendiri menikmati segala yang diperbuat oleh Radika terhadap tubuhnya yang sangat menerima sentuhannya. Yang dimana ini, mungkin bisa menjadi masalah bagi mereka kedepannya. Tidak ada yang tahu akan hal itu. Ayesha gagal menjaga kehormatan dirinya dan Radika gagal menjaga prinsip sejatinya untuk bisa mengendalikan diri. Semua bualan itu menjadi omong kosong sekarang. Semua sudah terjadi penyesalan nanti saat mereka tersadar pun tidak ada gunanya.


Bergemul diatas kasur sampai kuatnya kasur mahal itu masih bisa menimbulkan decitan bunyi kegiatan mereka. Apart itu menjadi saksi bisu saat ini, merekam dan menyimpan segala memori ini nantinya. Sekitar 5 jam an mereka ah maksudnya Radika belum merasakan lelah sekalipun. Dia menyukai raut dan ekspresi Ayesha sekarang, membuatnya membuncah segera mengeluarkan sesuatu yang dari tadi ditahannya dan meleleh seperti lava gunung berapi.


Radika menarik nafas panjang, keduanya sama-sama.mengais oksigen untuk memenuhi kebutuhan paru-paru mereka. Ayesha sangat lelah lalu tertidur dalam keadaan polos, Radika menoleh sejenak dan tersenyum tipis," Seutuhnya kamu milikku Ayesha, Sayang!" gumannya begitu pelan padahal tidak didengar sama sekali oleh Ayesha dan menyusul wanita tersayangnya ke alam mimpi.


Menjelang pukul 7 pagi, mata Ayesha mengerjap perlahan. Tangannya seperti memeluk sesuatu yang kokoh disebelahnya, awalnya ia mengira itu guling namun tersadar dengan cepat," Semua sudah terlanjur terjadi." Ayesha mencoba bersikap tenang seakan semua dia lakukan karena kemauannya dan kesalahan dirinya yang tidak bisa menahan rasa ingin.


"Entah kenapa, biasanya kalo wanita lain mereka berteriak dan menangis atau meminta pertanggung jawaban tapi aku sendiri, Jujur tak ada yang perlu disesal meskipun tahu kalo ini kesalahan."


Dia tahu, mulai dari sekarang ini akan menjadi rahasia dan dosa terbesar pertamanya yang perlu dijaga ketat agar mereka semua(orang-orang) tidak mengetahui hal ini. Dia tahu ini akan menjadi sumber masalah jika suatu hari akan diketahui semuanya. Terutama Radika, Bagaimana reputasinya? juga Bagaimana Ibu, Kakak dan Bapaknya? Semua akan kacau bila ketahuan. Lalu terpikirkan kembali,"Apa kuliahku akan baik-baik saja?! Aku berharap bisa bertahan sampai lulus wisuda nanti."


Kemudian, terasa sebuah lilitan tangan dipinggang rampingnya. "Pagi Sayang,"


Blush...


Disituasi begini saja, Ayesha masih bisa merona malu, "Pa..pagi juga Dik," balasnya


"Baru bangun atau dari tadi?"


"Dari tadi kok, Aku mau mandi Dik!"Ayesha ingin melepaskan pelukan itu tetapi semakin dipererat. "Kenapa hmm?! Aku mau kuliah loh!"


Radika cemberut, dia inging mengungkung Ayesha lagi seharian ."Libur lagi saja ya? Aku masih ingin manja Sha!" Radika menelusupkan mukanya didada Ayesha wanita itu kegelian.


"Gak boleh Dik, aku tetep harus kuliah." kukuh Ayesha dengan keputusannya, melihat hal itu Radika memilih untuk mengalah saja. Baru ingat kalo wanita didepannya ini masih seorang mahasiswa yang bisa dianggap baru.


"Ya sudah, aku antar ya,"


"Dik, aku kan menginap di apartmu, nanti pas pulang aku bilang apa dong ke ibu? Nanti curiga kalo aku tidur disini," Radika berpikir sebentar " tidur di rumah temen lamamu?!" Ayesha ragu,"Tapi aku belum punya temen lama Dika! Gimana dong,"


"masa sih gak punya? Yang pas itu dikantin siapa?" Ayesha termenung


"Oh jedar!" serunya lalu terdiam kembali,".Wait, kamu tahu dari mana aku punya temen lama?"


Radika tersenyum miring, "Kamu lupa siapa aku? dan aku tahu semua tentang kamu Ayesha." sontak Ayesha memanyunkan bibirnya tidak terima, dia saja tidak tahu banyak mengenai Radika sendiri.


"Curang banget, dah aku mau mandi jangan ganggu aku!" Ayesha turun dari kasur menarik selimut yang menutupi tubuh polos Radika. Seketika tahu, "Oy tutuo badan jelekmu!" Dengan sarkas Ayesha berkata lalu lari ke kamar mandi menyembunyikan rasa malunya sendiri.


"Jelek katanya? Cih, orang kemarin aja keenakan sendiri!" decak kesal Radika.


Begitu mereka sudah menyelesaikan aktivitas pagi, Ayesha langsung mengabari ibu dan kakaknya bahwa kemarin dia tidak pulang karena tiba-tiba ingin menginap di rumah teman lamanya dulu dan beralasan lupa menghubungi karena terlalu asyik. Sempat dipertanyakan, namun sebisa mungkin Ayesha meyakinkan keduanya.


"Huft, semoga mereka tidak meragukan kembali alasanku."


Dari belakang Radika dengan setelan rapi dan keren menggambarkan seorang pemimpin yang tegas."Sudah siap kamu Sayang?!"


Ayesha memutar matanya malas,"Bisakah kamu berhenti memanggilku begitu? Kamu membuatku malu Dika!"

__ADS_1


"Ayolah, itu panggilan kesayangan dari aku buat kamu Ayesha sayang," Radika mendekat dan mengecup bibir manis yang membuatnya ketagihan .


"Dan juga berhenti menciumku, bagaimana jika orang tahu! Orang akan menilai kita buruk dan reputasimu juga tolong diingat Radika," Laki itu menghela nafas, setelah kegiatan panas mereka, Ayesha berubah cerewet dan suka memprotes kelakuannya.


"Itu bukan ciuman namanya, itu kecupan kalo ciuman itu yang kemarin kita lakukan," Radika menaik turunkan alisnya menggoda Ayesha yang sebal dengan tingkah Radika.


"Ayo kita berangkat, keburu telat!" Ayesha berjalab mendahului Radika yang menggeleng tak paham akan sikap wanitanya.


Sesampainya di kampus,"Semangat dan hati-hati ya kuliahnya, sayangku,"


"Iya kamu juga, kerja yang bener gak usah mikirin aku terus." Radika terkekeh tahu saja Ayesha kalo otaknya tidak bisa lepas memikirkannya.


Radika menaikkan kaca mobilnya dan pergi meninggalkan kampus Ayesha. Ayesha melihat jam tangannya kurang sepuluh menit sebelum kelas dimulai. Disatu sisi, pikirannya tida bisa lepas juga dari perbuatan bodohnya itu. Dia khawatir dan cemas berlebihan meskipun tidak nampak dari luar. Takut sesuatu terjadi diluar kehendaknya misalkan hamil diluar nikah apalagi dia seorang mahasiswa baru. Dilihat dari tanggal jadwal menstruasi dia kurang 6 hari lagi, tandanya dia bukan pada masa subur, kemungkinan besar tidak menjadi sebuah embrio kan?


"Semoga tidak terjadi apa-apa, ya Tuhan." gumamnya pelan


Seharian ini dia tidak bisa fokus apapun itu. Bahkan dia tadi ditegur oleh dosen karena melamun ditengah pembelajaran.


"Hei kamu gak apa-apa?"


"Aku gak papa, kamu siapa?!" tanya Ayesha


"Kamu lupa sama aku? aku baru kelihatan kamu ternyata kita seprogram studi." jawabnya tersenyum


"Emm...kamu siska kelas 9 SMP itu ya?"


"Kamu tinggal di Jakarta ?" tanya Ayesha membuka obrolan


"Heem, dari dulu aku stay di Jakarta, kamu?"


"Aku juga, aku kira kamu bakal pindah kota kayak kebanyakan temen SMP,"


"Oh itu, gak sih aku sudah betah banget disini. Males juga baru angkat-angkat barang. Intinya ribet!"


"Iya juga sih ya," Mereka mengobrol hingga didepan gerbang kampus,"kamu pulang sama siapa?" tanya Siska


"Oh aku dijemput, ada urusan juga soalnya." balasnya


"Pacar nih pasti, kalo gitu aku duluan ya, tuh jemputan aku sudah datang."


"Ya kamu hati-hati dijalan," Ayesha melambaikan tangannya begitu juga dengan Siska. Urusan yang dimaksud Ayesha adalah pergi kekantor Radika, laki itu memintanya datang, entah mengapa?


"Kurang kerjaan banget dia itu!" tak lama sebuah mobil berhenti didepannya," Mbak Ayesha kan?"


"Iya betul pak, dengan siapa?!"


"Oh saya supir kantornya pak Radika,.mbak!"

__ADS_1


Matanya menelisik orang tersebut yang mengaku supir Radika."Bapak mau menipu saya ya!" Ayesha menatap curiga.


"Bukan mbak saya bener supirnya pak Radika," tegas bapak itu


"Masa sih, biar saya telepon Dika dulu!"


Mencoba sekali dua kali namun tidak ada balasan, Ayesha berengut kesal. "Saya gak mau ikut, biar saya naik taksi saja!"


"Loh mbak, gak bisa gitu nanti saya dimarahi sama Pak Radika!"


Bapaknya turun dari mobil untuk mencegah Ayesha yang sedang memberhentikan sebuah taksi." eh eh bapak jangan pegang saya ya, saya teriak loh!"


Bapaknya ketakutan sendiri kalo dia tidak membawa Ayesha dia bisa dipecat tapi kalo sampai Ayesha teriak dia bisa digrebek masa. Ayesha tak ingin berlama-lama langsung menaiki taksi itu dan mengabaikan bapak itu.


......................


"Kenapa supir itu tidak becus kerjanya?!"


Ya farel baru memberitahunya kalo supir yang diutusnya gagal menjemput Ayesha. Tiba-tiba telpon kabel di meja berdering, "Permisi pak, maaf mengganggu waktunya, saya dari resepsionis Anita, ada seorang wanita bernama Ayesha ingin menemui bapak, diizinkan pak?" ucapnya penuh sopan dan ramah.


"Suruh naik saja."


Radika menghela nafas, "Rel kamu beri hukuman supir itu!"


"Siap pak," Farel membungkukkan badannya dan meninggalkan ruangan Radika.


Bertepatan dengan Farel yang keluar lalu masukkan Ayesha. "Heem," batuknya


"Sopankah kamu Rel bersikap begit-" Sontak Radika terkejut, "Sayangku sudah datang ya?"


"Kalo belum juga gak mungkin aku disini kan? Aneh kamu itu!" sarkas Ayesha, "Jadi untuk apa kamu menyuruhkan datang ke kantor mewahmu?"


Radika tersenyum,"Tidak ada, temani aku kerja,"


"Hah! Kamu canda kan?"


"Tentu saja tidak sayang,"


"Jauh-jauh kesini hanya untuk menemani seorang CEO kerja gitu?" Radika mengangguk


"Lebih baik aku rebahan Dika...dika!" Ayesha beranjak dari kursi, lalu Radika menahannya.


"Plis aku rindu kamu,"


"Kamu? rindu?" Ayesha menatap aneh kearah laki itu. Radika memelaskan wajahnya,"Ayolah jangan kekanah-kanakan kamu itu, kita baru saja saja bersama tadi pagi dan ini baru pukul setengah sebelas, kamu bilang rindu? Kamu sungguh konyol?!"


Radika mendengus jengkel,"Tapi aku benar-benar rindu kamu Sayang!" rautnya saja seperti anak kecil yang baru dibuang keluarganya dioanti asuhan.

__ADS_1


"Serah, yang waras ngalah!" Radika senang dan kembali bekerja denvan tekun. Wajah seriusnya menawan dimata Ayesha, cara duduknya saja mempesona. Entah kenapa, dia merasa tergila-gila dengan hal sepele yang ada pada Radika, semua terlihat sempurna!


__ADS_2