
Selesai makan malam Radika izin pergi ke kamar karena masih ada yang perlu dikerjakan namun begitu Ayesha lihat ternyata suaminya tertidur dengan ipad yang masih menyala, Ayesha pun menyelimuti Radika dan keluar dari kamar. Kini hanya ada Ayesha, Anesha dan Ibu Raina di ruang tamu sambil menonton TV.
"Ayesha Ada yang mau ibu dan kakak bicarakan ke kamu." celetuk Ibu Raina
Ayesha mengangguk dan tersenyum," Apa bu?!"
"Belakangan ini ibu dan Anesha sering mendapatkan pesan yang tidak jelas pengirimnya. Dan isi pesan itu membuat ibu dan Anesha ingin segera menanyakan langsung kepadamu agar tidak ada kesalahpahaman."
"Memangnya isi pesannya apa bu?!" tanya Ayesha
Sekilas Ibu Raina melirik kearah Anesha meminta pendapatnya dan langsung disetujui.
"Lebih cepat lebih baik bu," ujar Anesha memantapkan keputusan.
Ibu Raina berdiri untuk mengambil ponselnya di kamarnya. Lalu kembali duduk, Ibu Raina membuka pesan yang tadi ia maksud dan menunjukkannya kepada Ayesha. Ayesha mengambil alih ponsel tersebut dan membuka pesannya.
Deg...
Seketika jantung Ayesha bertalu-talu sebuah pesan yang membuat Ayesha langsung ketakutan.
"Bagaimana aku menjelaskan ini? Apa ini Jedar yang mengirimkan ini?!"
"Bagaimana Ayesha jujur ibu tidak terlalu mempercayai pesan itu, karena bisa saja hanya orang iseng. Tapi, dia mengatakan pernah memergokimu melakukan hubungan suami istri sebelum Radika menikahimu."
Deg... Deg...deg..
"Tuhan bagaimana ini? Mulut seakan tidak bisa berbicara lantang. Jika iti benar Jedar seharusnya dia tidak banyak mengetahui kelakuanku sebelum dia memergokiku. Jedar habya tahu ketika aku berciuman dengan Radika saja."
Ayesha menelan ludahnya," i-itu mana mungkin benar bu, O-orang itu bu-bukankah keterlaluan sampai harus menyebarkan pesan seperti ini "
Anesha menyipitkan matanya menatap wajah adiknya yang membuat dirinya tidak sepenuhnya percaya. "hemm ya sudah kalo gitu, karena sudah malam kalian tidur sana. Ibu juga mau tidur." ucap Ibu Raina
Ayesha dan Anesha mengangguk namun tidam langsung beranjak. Akan tetapi, begitu Ayesha ingin berdiri Anesha meraih tangannya.
"Kenapa kak?!"
Anesha menghembuskan nafas letihnya," Kakak yakin kamu tadi sedang berbohong."
__ADS_1
Mata Ayesha seperti tidak sanggup membalas tatapan Anesha. Dia takut mereka sangat kecewa dan marah kepadanya.
"Apa maksud kakak aku berkata bohong?!"
"Kakak bisa melihat dengan jelas, dari tingkahmu, tatapanmu, semua gerak -getikmu jelas sekali seperti ada yang harus ditutupi."
Keringat dingin membasahi kening dan telapak tangan Ayesha. Ayesha sangat dilema haruskah dia melanjutkan kebohongan ini atau mengatakan jujur.
"Tidak perlu takut selagi kakak bisa mentoleransi."
"Hal ini mana mungkin bisa memakluminya. Lebih baik kita abaikan saja."
"Mengabaikan rasa takut yang selalu menghantuimu begitu? Ayesha! Mau sampai kapan sih kamu mau menutupinya? "
"A-aku tidak tahu kak, hiks..hikss " Ayesha sedari tadi menahan air matanya yang sudah menggenang di sudut matanya.
"Pe-pesan itu be-benar adanya,"dengan suara yang sangat pelan bahkan seperti orang berbisik sebisa mungkin Anesha harus bisa mendengarkan pengakuan adiknya.
"benar melakukan hubungan suami istri sebelum menikah maksudmu?!" Ayesha hanya bisa mengangguk pelan.
Anesha mengusap wajahnya kasar, bagaimana bisa adiknya melakukan hal tersebut. Anesha langsung mendudukan dirinya merasa lemas.
"Ma-maaf kak hiks..a-aku khilaf... Maafin aku!" Ayesha menangis sesenggukan.
Anesha terdiam, memang kejadian ini sudah berlalu namun dia tetap saja masih terkejut mengetahui adikmu berani melakukan itu.
"Kamu tahu kan, kakak kecewa dan bila ibu mengetahui ini juga, entah bagaimana reaksinya? Dan kakak gak sanggup melihat ibu menangis histeris saat tahu anaknya melakukan hal gila. Kakak anggap ini angin lalu, kakak akan memilih diam seolah tak ada berita buruk ini."
Ayesha tidak tahu harus bersikap lega atau merasa bersalah. Semua seperti campuk aduk sekarang ini.
"Kembalilah ke kamarmu, hari ini sungguh menguras energi sekali." gumam Anesha meninggalkan Ayesha yang membeku di tempat.
Sinar pagi menyusup disela gorden jendela membangunkan Radika dari tidurnya.
"Eughh..." Radika melenguh pelan
Mengerjapkan mata sekaligus mengumpulkan nyawanya yang genap. Begitu matanya terbuka lebar, disebelah tubuhnga Ayesha masih tertidur lelap dengan sudut mata yang membengkak.
__ADS_1
Tangan Radika terulur ingin mengusapnya." apa yang terjadi semalam? Sampai membuatmu menangis semalaman?!" gumam Radika
setelah lama memperhatikan wajah istrinya, Radika beranjak untuk pergi mandi. Selagi libur dia akan menikmati waktunya disini. Kemudian, Radika keluar kamar dan langsung melihat keberadaan Anesha di teras rumah yang sepertinya akan pergi.
"Pagi Kak," sapa Radika
Anesha menoleh dan menjawab," pagi Dik bsru bangun? Ayesha masih tidur?!"
"Iya kak baru bangun dan Ayesha sepertinya dia menangis semalaman." ujar Radika yang secara tidak langsung dia ingin tahu apa yang menyebabkan istrinya menangis.
"Kamu mau tahu kenapa Ayesha menangis bukan?!"
Radika tersenyum," Seperti yang aku duga, kakak memang peka sekali."
Anesha hanya melirik sekilas,"Aku sudah tahu kelakuan kalian sebelum kalian menikah."
Radika masih belum paham,"Kelakuan kita?"
"Heem..maksudku hubungan suami istri diluar pernikahan. " Anesha kembali melirik ingin tahu reaksi dari Radika sendiri.
"Ayesha sudah berani berkata jujur ternyata. Selama ini mungkin dia sangat khawatir dan takut untuk mengakui ini. Tapi saat kita melakukan disitulah aku sendiri sudah harus bertanggung jawab. Juga, sejak lama aku menyukai Ayesha."
"Begitukah cara kamu menyukai Ayesha?!"
"Bukan, tapi semua sudah terjadi begitu saja. Aku juga tidak berniat kabur atau meninggalkan Ayesha sendirian. Jika aku melakukan itu, aku jadi teringat dengan mamaku sendiri Kak."
"Harusnya kamu juga harus teringat dengan mama dan papamu saat kalian melakukan itu, ingat bagaimana jika mereka kecewa saat kalian melakukan itu."
"Ya dilihat darimana pun itu memang salah dan melanggar, untuk itu aku hanya bisa meminta maaf sebagai manusia yang tidak sesempurna itu.."
"Sudahlah, semuanya aku anggap angin lalu, tetapi" Anesha menjeda ucapannya.
"Jika kamu berani meninggalkan Ayesha, aku sendiri yang akan mengejarmu sampai ke lubang semut sekali pun mau seberapa kuasanya dirimu." usai mengatakan itu Anesha pergi melenggang pergi.
Radika mendengus,"Huft kakak tenang saja, karena aku sudah sangat mencintai istriku dan juga calon anakku yang ada diperutnya. Dan kakak tahu sekarang dia tumbuh dan berkembang denga sehat."
Anesha berdecak sebal," Ck..ck.. Kalo bayi gak berkembang itu yang bahaya, dah aku mau berangkat."
__ADS_1
Radika terkekeh pelan mendengar hal itu. Dia pun kembali masuk ke dalam rumah untuk membangunkan istrinya untuk segera mandi.