Terjebak Wajah Tampan Billioner

Terjebak Wajah Tampan Billioner
Bab 35


__ADS_3

Di sebuah negara entah dimana itu, Vandi sudah lama tidak memikirkan apapun mengenai kekuasaan. Vandi jahat dan licik orang yang tidak mengenalinya pasti menilai dirinya buruk. Tapi orang terdekatnya bisa memahami keburukan itu karena dibalik semua sikapnya terdapat alasan penyebabnya.


Vandi juga tidak pernah bertemu dengan Siska yang biasanya suka menerornya dengan pesan WA melebihi 99+


"Zaid, bagaimana kondisi Jakarta sekarang?!" tanya Vandi dengan sebatang rokok yang terbakar ujungnya.


"Seperti biasa perusahaan Firdaus terus melebarkan sayap bisnis mereka. "


"Entah rahasia apa yang mereka punya hingga terus melambung tinggi tanpa pernah jatuh."


Zaid bingung harus berpendapat apa. Dalam hati Zaid tidak setuju dengan penyataan Vandi karena perusahaan sebesar itu tidak mungkin tidak mengalami jatuh bangun selama merintis.


Orang lain mungkin tidak tahu, tapi bagi orang yang menjalani itu merupakan jerih payah mereka selama ini. Hanya saja sebagai manusia kita harus terus berjuang dan berusaha meskipun kadang kala lelah dan pesimis menyelimuti diri.


"Kapan kita kembali ke Jakarta Pak?!" celetuk Zaid


"Sampai aku tenang dan bisa fokus. Mami dan Papi meskipun tidak mengatakan langsung kepadaku tapi mereka punya hawa tekan yang membuatku stress total."


"Ingin rasanya aku menghilang dari bumi ini!"


......................


Pergantian bulan tidak terasa Ayesha sudah memikirkan tugas akhirnya sebagai mahasiswa. Persiapan lakukan kegiatan KKN dan magang di tempat kerja. Sekarang otak Ayesha sibuk memilah dan memilih judul mana yang cocok untuk Skripsi nanti.


Untuk mendapatkan ide brilian Ayesha pun menghabiskan waktunya di dalam perpustakaan dengan beberapa tumpuk buku tebal sebagai referensi ide nya.


"Aku bingung, selama ini aku sendiri gak paham fungsi mahasiswa membuat skripsi manfaatnya apaan ya? Andai gitu gak ada tugas akhir pasti bakal seneng dong mahasiswa seluruh dunia." gumam Ayesha sambil membalik-balik kertas halaman buku.


Menghabiskan waktu berjam-jam ternyata tidak sia-sia, akhirnya Ayesha menemukan judul menarik dari sekian banyaknya judul yang dibuatnya.


Ketika merapikan bukunya ponselnya berdering tertera nama 'My abi'


"assalamualaikum halo bi,"


"Waalaikumsalam, kamu dimana kok belum pulang?"

__ADS_1


"Aku masih di perpustakaan kampus, ini udah mau pulang, kenapa?"


"Kebiasaan gak kabari aku. Kamu diam disitu aja biar aku jemput."


"Ya sudah aku tunggu di parkiran seperti biasanya."


......................


Radika sampai diparkiran kampus dan melihat Ayesha yang duduk dengan earphone di telinganya. Radika pun turun dari mobil untuk menyusul istrinya itu.


"Sayang,"


Ayesha menoleh dan melepaskan earphonenya."Loh udah sampai kamu! Kok gak telpon aja biar aku ke kamu."


"Mana ada perempuan yang datangi cowoknya, kalo ada cowok kayak gitu gak gentle mereka Sayang."


"Iya dah, aku termasuk orang beruntung bisa dimiliki dan memiliki kamu." Ayesha mengelus rahang bawah suaminya dan mengecupnya pelan. Radika merona malu.


"Biasa deh ini di luar sayang!" keduanya pun pulang ke rumah mereka.


"Apa bi?!"


"Aku ada kerjaan di luar negeri sekitar 1 bulanan."


Ayesha diam tidak berkomentar apapun. "Kapan berangkat?!"


"Besok sayang, kerjaan ini urgent. Kamu mau ikut aku?!"


Ayesha menggeleng menolak ajakan itu."Aku juga persiapan sama judul tugas akhir, sama KKN. kamu sama siapa perginya?"


"Sendiri Sayang, Farel gak ikut karena ngehandle kantor yang disini. Aku pergi sampai urusannya sudah lebih baik dan bisa ditinggalkan."


"Aku mau kamu ada temennya cowok. Nanti kalo disana kamu dilihatin cewek bule gimana?!"


"Kamu ini mana ada yang kayak gitu, aku niat kesana mau ngurusin pekerjaan bukan pamer wajah Sayang. Ada ada aja kamu tuh."

__ADS_1


Hati yang gundah sedari tadi dibuat makin jadi karena ucapan suaminya yang tidak sadar diri.


"Kamu tuh sadar gak sih?! Wajah ganteng, pekerjaan mapan, bodi kamu juga menawan. Mana ada cewek gak kepincut sama kamu hah?! Jangan aneh-aneh deh kamu itu. Pokok kamu harus cari temen cowok buat nemenin kamu disana itu wajib dan harus."


"Iya deh iya, nanti aku cari temen cowok oke." Radika mengacak rambut Ayesha. Menggemaskan sekali tingkah istrinya.


......................


Tadi malam Ayesha membantu suaminya untuk mengemas pakaian yang akan dibutuhkan saat di luar negeri nanti.


Dan mulai dari situ kedua pasutri itu berdebat tanpa henti hingga sampai mereka tiba di bandara pun masih saja meneruskan perdebagan semalam.


"Sayang gak usah bawa apa-apa ya! Disana aku bisa beli lagi pakaian kerjanya."


"Dah kamu gak usah bawel deh, sana berangkat" Ayesha menyerahkan koper berukuran besar itu kepada Radika dan mendorong suaminya untuk segeta bergegas berangkat.


Radika menghentikan langkahnya lalu membalikkan badannya mendekati istrinya yanv akan ia tinggal sebulan lamanya.


"Hati-hati ya selama aku gak ada Sayang. Kabari Farel jika ingin atau butuh sesuatu. Radika mengecup singkat bibir istrinya tak lupa juga keningnya. Ayesha ganti mencium tangan suaminya.


"Kamu juga hati-hati selalu ketika disana. Makan yang benar dan ibadahnya jangan telat hubungi aku kalo sudah sampai." Ayesha melambaikan tangan sambil.mengucuokan kata-kata manisnya.


Sekitar 7 jam mengudara, Radika berhasil selamat sampai tunjuan. Di sebuah hotel yang sudah direservasikan Farel untuk tempat menginap Radika selama tinggal di Lumgburh.


Siang ini Radika ingin terlebih dulu makan. Masuk ke dalam lift menekan tombol angka satu.


Ting...


Di lantai ini tempat paviliun berada dan masih banyak beragam makanan khas negara ini.


Sepiring roti dan secangkir teh susu untuk menemaninya makan siang. Kursi dan meja yang Radika tempati berdekatan dengan jendela.


Radika pun menikmati makanannya sambil melihat orang lain berlalu lalang. Kemudian sosok yang lama tidak dijumpainya terlihat diujung jauh sana.


"Dia kan Vandi! Sedang apa dia disini!" gumamnya

__ADS_1


"Dan siapa perempuan itu? Sudah lama aku tidak bertemu. Apa dia masih dengki terhadapku? Dia tipe orang yang pemaksa, apa sikapnya itu masih tertanam erat? Semoga saja tidak." Radika memilih untuk tidak menyapa Vandi. Dan lain kali dia akan menyapanya dengan baik.


__ADS_2