
Ayesha siuman saat subuh tadi, suaminya setia menemaninya dikala dirinya tak berdaya menggerakkan tubuhnya karena habis menelan racun. Radika merawat istrinya dengan menyeka badannya,menggantikan bajunha dan menyuapi sarapan yang dibawakan perawat. Usai setelah itu, Radika berpamitan pura-pura pergi ke kantor padahal ingin mengurus dua orang yang mencelakai istrinya. Ia berbohong tidak mau membuat Ayesha banyak pikiran sehabis sadar.
"Di luar ada Farel, nanti kalo Sayang butuh sesuatu telpon Farel pakai ponsel ini ya. Maaf aku ada keperluan yang tidak bisa aku tinggalkan di kantor Sayang,"
Ayesha tersenyum mengangguk, "gak papa Dik, selesaikan urusan kantornya jangan khawatirin aku. Ada Farel yang bakal aku repotin nanti kok,"
Radika memanyunkan bibirnya,"Kamu itu kenapa masih panggil namaku terus sih? Kasih panggilan kesayangan gitu loh, biar ada manis-manisnya!"
"Kamu kira gulali apa kok manis, nanti aku pikirin mau panggil kamu apaan," ujar Ayesha sambil mengecup pipi suaminya.
Pipi Radika merona,"Kamu tiba-tiba kecup pipi aku! Kesambet apa kamu sayang?" tanganya memegang bekas kecupan Ayesha
Ayesha jadi kesal, biasanya para suami bakal bahagia kalo dapat kecupan atau ciuman mendadak dari istrinya saat mau berangkat kerja, tapi kenapa suaminya malah salting gini.
"Dulu sebelum nikah aja kamu sukanya nyerobot terus ganti udah nikah gini, aku yang nyerobot kamu yang salting! Gak kebalik nih responnya?" Ayesha menaikan sebelah alisnya.
"Kamu harusnya kasih aba-aba dulu lah Yang. Kan juga sensasinya beda dicium sebelum nikah sama sesudahnya. Aku ngerasa makin dicintai kamu!" Radika gantian mengecup bibir Ayesha.
Ingat hanya mengecup tidak ada plus-plusnya!
"Ya udah sana keburu telat nanti, jangan bikin orang nunggu kamu,"
"Ngusir nih ceritanya?lagi pula aku nih pemimpinnya jadi serah akulah!"
"Haduh, gak ngusir kok cuma katamu penting tapi kok nyante begini kamu nya. Pemimpin itu contoh bagi anggotanya, kalo kamu gak kasih contoh baik namanya bukan pemimpin."
"Iya deh iya, aku berangkat, hati-hati selama tidak ada aku Sayang," Ayesha menyalami Radika sebelum meninggalkannya.
Farel yang berdiam diluar mendapati atasanya keluar lalu membungkukkan badanya sebentar. "mau langsung kesana Pak?!" tanyanya, Radika hanya mengangguk sekilas.
"Jaga istriku, aku ingin membasmi curut sawah yang berkeliaran."
"Hati-hati Pak!"
...
Di depan kantor polisi banyak polisi yang berkeliaran disana. Radika segera turun dari mobilnya dan bergegas menuntaskan tanda tanya diotaknya yang menganggunya semalaman.
"Pagi Pak Radika, " sambut ketua Polisi yang bertanggung jawab di kota ini.
"Pagi, saya tidak mau basa-basi lagi, dimana dua orang keparat itu?!" wajah tegas Radika membuat ketua polisi agak tegang.
"Mari saya antar pak," sambil menuntut menuju sel tahanan di ruang khusus tanpa mencampurkan dengan tahanan lainnya. Radika mau ini bersifat privasi.
"Silakan masuk saja pak, kami akan berjaga diruang sebelah." Radika pun masuk
Dalam ruangan itu terdapat satu meja dengan dua kursi saling berhadapan. Seorang laki-laki muda tertunduk tidak berani menatap orang didepannya yang auranya membuat bulu kuduknya berdiri.
"Keberanian dari mana sampai hati kamu meracuni istri saya?parahnya dihari pernikahan saya!" geram Radika masih berusaha menahan gejolak amarahnya.
Selama ini dia berhasil mencegah dan memberantas musuh-musuhnya di dunia bisnis. Tapi hari itu, dia kecolongan.
laki itu masih bungkam,"Apa yang kamu pikirkan sampai-sampai mencelakai istri orang hah! Sebegitu dangkalnya otakmu hingga kamu tidak bisa berpikir waras dan tidak memikirkan dampak kedepannya untuk keluargamu?" raut wajah laki itu memang menampakkan penyesalan dan bersalah tapi keadaan memaksanya untuk bertindak jahat.
"Uang? Kamu butuh uang untuk kebutuhan keluargamu begitu?! Seputus asa itu dirimu?!"
"apakah aku terlalu berhati baik sampai tidak bisa bersungguh-sungguh marah?!" batin Radika dibawah meja dia masih mengepalkan tangannya.
Brak...
"Ayo katakan sesuatu! Kamu tak ingin melakukan pembelaan hah?!" sentak Radika menggebrakkan meja, telapak tangannya memerah ia hiraukan saja.
"Sa-saya hanya bisa minta maaf kepada an-anda tuan. Sa-saya melakukan ini tidak dengan niat jahat pada istri anda. Saya terpaksa Tuan!" suara merendah masih bisa didengarkan oleh Radika.
"Tanpa niat jahat?! Ya tanpa niat tapi tetap saja kenyataannya kamu berbuat jahat, siapa yang memerintahmu?!" geramnya
__ADS_1
Laki itu menggeleng lemah, "saya tidak berani Tuan!"
"Hahaha," Radika tertawa remeh
"Berbuat jahat saja kamu berani, tapi mengatakan siapa penjahat sebenarnya kamu tak berani!!! Cupu sekali kamu!" tunjuk Radika, laki itu tengah menguji kesabarannya.
"Dia jahat Tuan! Dia bisa melakukan apa saja dengan jentikan tangannya pun semua bisa terjadi! Saya sungguh tidak punya keberanian mengatakan nama dia Tuan!" laki itu menyatukan kedua tangannya memohon pada Radika agar tidak memaksanya untuk mengatakan dalang dibalik ini semua.
Radika memegang lehernya seperti ingin patah, dia menekuk lehernya ke kanan dan kiri hingga berbunyi.
Krek..krek...
"Baiklah jika kamu tidak ingin mengatakan sejujurnya, tadinya saya akan melindungi kamu dan keluargamu jika kamu memberitahukan siapa biang kerok itu. Namun, kebaikan hati saya sudah hilang karena nyalimu yang lemah sebagai lelaki bertanggung jawab. " Radika berdiri dan akan meninggalkan ruangan namun laki-laki dengan borgol ditangannya itu menahan Radika untuk pergi.
Radika diam." Sa-saya akan mengatakannya, ta-tapi tolong lindungi keluarga saya meskipun bukan saya yang anda lindungi Tuan! Saya Memohon pada Tuan!"
"Katakan!"
"Zaid!"
Deg...
"Baiklah kalo begitu," Radika akan membuka engsel pintu dicegah lagi.
"Anda benar-benar akan melindungi keluarga saya kan Tuan? Anda tidak berbohong kan Tuan!" laki itu sedikit tidak yakin karena tidak ada jaminan atas hal itu.
mata Radika melirik ke belakang sebentar dan berkata,"jangan meremehkan kekuasaan saya kamu,"
"Tenang saja, saya tidak ingkar! Ini janji saya, " pegangan tangan laki itu dibaju Radika pun mengendor dan membiarkan kesunyian ruangan itu merasuki jiwa lelaki tak berdaya itu.
......................
Vandi mengetahui dari mata-matanya di kantor polisi. Radika datang untuk menginterogasi kasus itu. Karena mata-matanya tidak bisa masuk untuk mendengarkan pembicaraan mereka berdua. Membuat Vandi harus melakukan tindakan pencegahan.
"Siap Pak!" jawabnya
Vandi menyandarkan punggungnya yang terasa kaku. Rencananya tak berjalan mulus, dia harus mencari cara lain.
"Zaid masuk ke ruanganku sekarang!" titah Vandi
Zaid bergegas masuk,"Iya pak, ada yang bisa saya bantu?!"
"Kamu periksa kembali masalah kemarin agar tidak meninggalkan bukti dan jejak."
"Baik pak!" Zaid pamit undur diri.
Diluar Zaid menelepon anak buahnya untuk oergi memeriksa dan menghanguskan semua bukti dan jejak dari rencana kemarin.
"Kalian bergegaslah hilangkan semua bukti dan jejak, jangan sampai ketahuan!! Lakukan dengan benar jika tidak habis kepala kalian!!"tegas Zaid lalu mematikan sambungan telepon itu.
"Lanjutttt kerjaaaa!!" ujarnya dengan langkah malas.
......................
Saat tahu Ayesha masuk RS Siska datang menjenguk dengan separsel buah-buahan segar dan manis.
Didepan pintu terlihat ada seorang penjaga berdiri tegap, Siska sedikit ngeri dengan perawakan tubuh penjaga itu.
Melangkah agak dagu tapi Siska harus menjenguk Ayesha.
"Mau apa anda?!" suara bass nan menggelegar membuat Siska merinding.
"Aku ingin menemui sahabatku!" teriak Siska memberanikan diri.
"Maksudmu Nyonya Ayesha?!"
__ADS_1
"Berikan KTP mu!"
Siska menatap heran penjaga itu."Untuk apa? Aku ingin menjenguk sahabatku! Bukan untuk mendaftar BPJS atau apapun itu. Biarkan aku masuk!" sentak Siska kesal.
"Maaf anda tidak boleh masuk kalo begitu!"
"Kamu!!!" tak mau memperpanjang debat ini, Siska memilih menyerahkan KTP nya.
Penjaga itu mengangguk lalu mengetuk pintu kamar untuk meminta izin.
tok...tok...too...
"Nyonya maaf mengganggu seseorang mengaku sahabat anda bernama Siska ingin menjenguk anda, apa Nyonya bersedia?!"
"Suruh masuk aja Pak!" teriak dari dalam kamar.
"Silahkan Mbak!" penjaga itu membukakan pintunya.
Ayesha dikamar asyik menonton TV dengan cemilan kacang ditangannya.
"Hai Sis, " sapanya
"Hai, gimana kondisimu?" tanyanya sambil menyerahkan parsel buahnya.
"Syukur aku membaik, kamu sendirian?"
"Iya begitulah nasib status single kemana-mana juga single."
"Makasih buahnya, " Siska mengangguk," Kamu tahu dari sapa kalo aku masuk RS?"
"Kenalan rekan kerja suamimu, "
"Aa begitu, sudah makan?!"
"Belum, tadi habus dari kampus keburu ambil parsel jadi gak sempat. Kamu Sha udah makan?!"
"Aku? Hehe aku juga belum, makanan RS hambar sekali, ahli gizinya gak pinter bikin menunya!"
"Kalo orang sakit mana ada makanan banyak micin nya pasti yang sehatlah!"
"Malahan aku pengen tahu kocek loh Siska, basreng, bakso. Aaa jadi laper aku!" Ayesha yang membayangkan makanan itu jadi makin laper.
"Udah deh gak usah nambah masalah! Tunggu sehat baru puas-puasin."
"Hihi, iya deh iya!"
Ceklek...
Pintu kamar terbuka Radika baru saja pulang.
"Sayang!" seru Radika
"Hus, ada tamu gak usah kumat tingkah bocilnya!" ketus Ayesha
Radika berdecih sebal sambil menoleh kearah Siska."Kamu anak dari Pak Putra ya!"
"Benar sekali,"
"Hemm bersikaplah baik disini jangan macam-macam," Siska diam, mengabaikan ucapan Radika yang nyeleneh.
Plak...
Ayesha menapuk lengan Radika kesal,"kamu kenapa sih, ada yang jenguk aku harusnya seneng kok malah dijulitin. Dijulitin balik ngambul!"
"Ck...iya iya," Radika memilih duduk di sofa membiarkan Siska dan Ayesha bercengkrama.
__ADS_1