Terjebak Wajah Tampan Billioner

Terjebak Wajah Tampan Billioner
Bab 24


__ADS_3

Tubuh ini sangat lelah terutama mata yang terasa berat hanya sekedar terbuka sebentar saja. Di kampus, Ayesha berjalan layaknya orang puasa tanpa makan sahur begitu lemas tak berdaya. Ketika dosen menjelaskan pun kepalanya terjedot ke meja karena kantuknya yang tak tertahankan ingin merebahkan tubuhnya ke kasur.


"Sha, jangan tidur nanti ketahuan dosen," Siska menyenggol Ayesha yang terpejam beberapa menit.


Ayesha tersentak kaget, "hah...apa Sis?! Aku gak tidur ya!"


"Mana ada gak tidur, orang kamu merem." ujar Siska


mata memerah sepertinya Ayesha tidak kuat lagi menahannya. Tiba-tiba pintu kelas bergeser terbuka.


jrrekkk...


Semua mahasiswa menoleh ke asal suara itu. Seseorang mahasiswa tampak kurang percaya diri berdiri didepan pintu.


Dosen yang mengajar membuka suara, "Ada perlu apa kamu?!" tanyanya


"Maaf pak, mengganggu jam mengajar anda, saya diperintah untuk memanggil mahasiswa yang bernama Ayesha oleh Bu Rindi."


Dosen itu menghembuskan nafasnya kesal,"mahasiswanya yang dipanggil segera keluar, saya tidak mau jam matkul saya terhambat." Ayesha sendiri jadi kesal melihat tingkah dosen didepan.


"Kenapa jadi bapak yang kesal, toh bukan saya yang menganggu, dasar!" gumam pelan Ayesha lalu berdiri dari tempat duduknya dan pergi keluar kelasnya.


Siska menatap datar kearah Ayesha, sekilas ia mendapati sebuah cincin mahal dengan berlian putih ditengahnya yang melingkar di jemari Ayesha. Matanya tidak pernah salah menilai barang luxury, dia tak percaya kalo misalkan Ayesha yang membeli cincin itu.


"Pasti Ayesha diberi oleh orang lain," batin Siska, merasa ada yang tidam beres atau dia yang tertinggal berita, ingatkan Siska untuk menanyakannya pada Vandi.


Siska secercah rasa iri muncul tadinya, dia saja tidak pernah mengenakan barang semahal itu. Sebab keluarganya apalagi papa nya yang sensitif sekali jika masalah uang. Siska yang fashionalbe tentu mudah terpancing bila ada barang keluaran terbaru dari merk branded.


Ayesha tadi diberitahu oleh mahasiswa yang memanggilnya bahwa dia diperintah untuk ke UKS. Ayesha pun menurut.


Tiba di UKS seorang dokter memberikan sebuah vitamin secara mendadak. Ayesha sendiri mengangguk paham. Dia tak curiga sama sekali karena vitamin itu Ayesha mengetahuinya. Kemudian Ayesha pun disuruh rebahan dan tak lama tertidur pulas.


Dokter itu menelepon seseorang, "Pak, dia sudah tertidur pulas." ucapnya tegas


"Baiklah biarkan dia tidur!" sahut Radika


Jangan meremehkan Radika yang diam-diam menyembunyikan para penjaga yang menyamar disetiap tempat saat Ayesha berpergian. Radika melindungi Ayesha tanpa mengusik kenyamanan dan kebebasannya.


Radika juga merasa aneh, biasanya dia akan selali dihebohkan dengan banyak masalah dari para musuh bisnisnya, apapun itu masalahnya. Namun, belakangan ini, semua terlihat adem anyem situasinya.


...


Vandi mengamuk. Memecahkan benda apapun yang bisa dijangkaunya. Sepertinya langkahnya terlalu lambat sampai dirinya keduluan oleh Radika.


"Lihat saja kamu Radika, aku akan membalasnya saat hari pernikahanmu nanti. Kubuat kamu menangis darah!" geramnya


......................


Yang ditunggu-tunggu oleh dua keluarga besar, pernikahan yang diselenggarakan di massion keluarga Firdaus berubah menjadi seperti istana bunga. Dari mulai depan pagar, lengkungan bunga mawar beda warna mengiringi tamu undangan sepanjang jalan menuju tempat parkiran. Lalu, karpet merah dengan taburan kelopak bunga palsu terkesan nyata berhamburan jatuh layaknya musim gugur dan semi. Sorotan lampu kuning dan putih menjadikan gaun para tamu bergemerlap indah seperti gaun cinderella dan belle. Semua sangat indah dipandang mata bahkan tamu terlihat senang dan bahagia. Semua mewah nan elegan.


Dari kejauhan sepasang pengantin yang tadi pagi sudah melakukan ijab qabul dan dilanjut resepsi dari siang pukul dua sampai menjelang magrib yang akan dibedakan dua sesi. Sebab, pengantin baru butuh waktu untuk mengistirahatkan badannya sebelum menyapa banyak tamu undangan.


Tak lupa pula, disetiap penjuru dan sudut massion dijaga oleh pengawal dan beberapa pihak keaamanan untuk berjaga selama acara berlangsung. Tidak sembarang tamu, dapat masuk begitu saja karena dibutuhkan akses ketat yang bisa melacak wajah orang.


Sesi pertama akan segera berakhir, senyum yang belum surut sedari tadi dan terus mengembang bila tamu naik kearas panggung. Mata Ayesha menyapu ruangan ini untuk menantikan kehadiran dua sahabatnya yaitu Jedar dan Siska.


Beberapa menit kemudian, mata Ayesha menangkap sosok sahabatnya yaitu Jedar yang datang dengan ibunya berdua saja. Mereka menghampiri dirinya.


"Ayesha selamat ya Nak!" Ibu dari Jedar memeluknya penuh haru. "Semoga Sakinah mawaddah warahmah ya Nak, ibu gak nyangka kalo kamu bakal nikah secepat ini. Padahal dulu ibu liat kamu masih sekolah loh!"


Ayesha mengenggam tangan ibunya Jedae," bu, Ayesha kadang juga gak ngira bisa begini. " lalu mendekatkan bibirnya dan berbisik ," semoga Jedar nyusul ya buk," Ibunya Jedar terkekeh pelan sambil mengangguk paham dan menoleh kearah anaknya.

__ADS_1


"Jedar ini terlalu kaku sih!" canda ibunya Jedar, Jedar berengut tak terima ibunya berbicara begitu.


Karena ada beberapa tamu yang menunggu dibawah panggung Jedae dan ibunya segera turun dan melambaikan tangan.


"Pak Dika, Selamat untuk anda ya pak! Akhirnya yang dinanti." rekan bisnis sekaligus teman kampretnya yang hilang bak tertelan rawa-rawa kini datang tak diundang muncuk begitu saja tanoa wajah bersalah.


Radika menatap Damian datar."Aku kira kamu mati Damian," Radika langsung mendapatkan pukulan dari Ayesha.


"Kalo ngomong tuh ya, kontrol dong!" protes Ayesha


"Hehe...Lo tahu Dik, gue lagi dibanjiri kontrak kerja sana sini. Dan saking banyaknya gue harus keliling dunia ya!"


"Lah, perusahaan bonyok lo gimana Dam?!" tanya Radika


"Tenang aja, udah aku serahin ke adik gue!" dengan santai Damian menjawab.


"Kucrut lo, gak kasian sama adik cewek lo hah! Masih kuliah semester awa udah dibebani sama tanggung jawab lo!"


"Ya gimana lagi, gue juga kerja, gue suka sama pekerjaan ini. Mama Papa B aja asalkan ada yang ngehandle perusahaan." Radika menghela nafas, untung saja adik Damian pintarnya melebihi sang kakak kucrutnya ini.


"Dah lah turun lo, makan yang banyak. Jangan lupa temui mama sama papa, mereka bakal kasih hadian siraman rohani ke lo!" seru Radika, Damian langsung merinding memikirkannya. Ia tidak mau menghabiskan 1 jam lamanya hanya untuk siraman rohani


Sesi kedua pun juga akan selesai Radika dan Ayesha bisa turun dari panggung.


"Dik, aku laper," ucapnya sambil menarik pelan jas Radika.


"Ayo, kita ke mama sama ibu, mereka kumpul disana," ajak Radika ke tempat meja VIP


Masih banyak makanan yang tersedia di meja prasmanan. Melihat itu, Ayesha meneguk ludahnya, ia ingin segera mencicipi masakan itu dan bisa ia tambahkan ke menu restorannya.


......................


Dibutakan akan kejahatan yang sudah menyelimuti raga dan jiwa Vandi. Otak tidak bisa bekerja dengan rasional hanya ada bagaimana cara melampiaskan rasa amarah dan dendam yang melambung tinggi ini. Sehari sebelum pernikahan Radika, Vandi menyelundupkan satubperempuan dan satu laki-laki untuk melakukan rencana Vandi. Dua orang itu diberikan satu pipet yang berisikan racun dan menyebabkan resiko fatal bila telat melakukan tindakan medis.


Vandi gila. Hatinya terlanjur hancur dan remuk seperti pecahan kaca dan remasan kertas tak berguna. Ia menitahkan kedua suruhannya untuk waspada saat memberikan racun itu pada makanan kedua pengantin baru itu.


"Lakukan dengan benar, awas saja kalian berdua tidak becus! Lihat apa yang aku lakukan dengan hidup kalian!" ancam Vandi


Flashback off


Dua pelayan itu memang selalu diam di tempat VIP dimana para keluarga berkumpul. Tak menurunkan kewaspadaan dan tidak mau terlihat mencurigakan. Mereka harus benar-benar melakukan ini agar kehidupan mereka berubah menjadi lebih baik.


Cairan bening itu diteteskan kedalam minuman yang akan diminum oleh salah satu dari mereka yang sial nantinya.


"Kamu sudah meneteskannya kedalam minuman itu?!" ujar pelayan laki-laki itu.


"Sudah beres, kamu sendiri apa sudah?!" tanya balik pelayan perempuan disebelahnya.


"Aku meneteskannya ke dalam sausnya."


" Baguslah!" Secara bergantian mereka mengantarkan makanan dan minuman yang berisikan racun mematikan itu. Ayesha tersenyum ramah membuat kedua pelayan itu tertegun.


Karena terpesona salah satu minumam racun yanh dibawa pelayan perempuan itu tumpah dan pecah.


Pyarrr....


Sontak Ayesha berdiri untuk menghindar dari pecahan kaca itu.


"Kalian cepat bereskan kekacauan ini!" sentak Papa Beni, semua tamu melihat hal itu. Tentu saja ikut menggerutu atas kinerja pelayan itu yang tidak becus.


Pelayan itu merapikan dan membersihkan serpihan kaca dilantai.

__ADS_1


"Sayang kamu tidak terluka kan?!" cemas Radika menelisik kulit istri sahnya.


"Tenang saja, tidak perlu marah begitu, mereka tidak sengaja Dika." ucap Ayesha lemah lembut.


"Bagaimana aku tidak marah, itu tadi hampir membuatmu terluka bila kamu tidak menghindar dengan cepat." Radika mengetatkan rahangnya agar amarahnya tidak meluap diacara spesialnya.


"Sudah ya, Aku laper nanti aja marahnya." sahut Ayesha


"Dek kamu aman kan?!" celetuk Anesha


"Aman kok kak!" jawabnya, semua keluarga geram dan kesal namun Ayesha tenang dan santai sebab itu ketidaksengajaan jadi ia tidak mau membuatnya semakin runyam.


"Sayang pindah tempat duduk aja, biar ini dibersihkan pelayan itu dulu!" Radika menuntun Ayesha ke tempat laun.


Di belakang, pelayan laki-laki itu kesal dengan kecerobohan rekannya. Mengeluarkan sumpah serapahnya, "Bagaimana kalo bos tahu hah?! aku juga tidak ikut aman karena kelalaianmu!"


Pelayan perempuan itu menundukkan kepala sambil meremas tangannya yang berkeringat dingin.


"Arggg Dasar kamu itu!" kesal pelayan laki-laki


Ayesha sumringah aroma makanan didepannya membuat perutnya bergejolak seperti lahar lava.


Radika tersenyum lucu melihat tingkah Ayesha yang kadang itu menggemaskan.


"Cepat makan dan nanti ganti aku yang makan."


"Kenapa gak makam sekarang aja bareng aku?!"


"Oh aku beda Sayang, yang aku makan itu bukan ini," sambil menunjuk piring Ayesha


"Tapi aku akan makan ini," lalu ganti menunjuk Ayesha-nya.


Ayesha menghelas nafas menyerah dengan otak ambigu suaminya."sepertinya kamu kurang asupan makanan bergizi jadi otak pintarmu menurun perlahan." ejek Ayesha


Radika terkekek sambil mengecup tangan Ayesha yang nganggur.


satu sendok...


Dua sendok...


Sendok ketiga...


Reaksi aneh muncul. Mulut Ayesha mengeluarkan darah segar membasahi kebaya putihnya.


"Aaaaa..." teriak Anesha yang melihat itu saat anggota keluarga lainnya asyik bersenda gurau.


"Adekkkk bangun dek!" Radika terkejut istrinya lunglai


Brukk...


"Sayangg...Ayesha bangun!!!" Radika menepuk pipi istrinya namun nihil tak ada yang berubah.


"Bawa ke mobil cepat!" titah papa Beni, khawatir takut menantunya dalam bahaya bila tidak ditindak cepat.


Radika menggotong Ayesha dan berlari sekuat tenaga. Ibu Raina dengan gemetar ditubuh langsung dipeluk oleh mama Viani untuk ditenangkan


"Yang tenang Raina, anakmu pasti selamat dan baik-baik saja."


Ibu Raina tidak tenang, sementara bapak Jordi tak kalah gelisah membuatnya pingsan ditempat mendadak stroke menyerangnya kembali.


kondisi kacau balau, malam yang tadinya tentram kini berubah seperti malam penuh air mata.

__ADS_1


__ADS_2