
Dua orang yang semulanya nyaman dan enjoy menikmati minuman dan makanan kini kebingungan. Anesha menebak ternyata ibu yang dibantunya dulu adalah orang tua dari Radika. Lain lagi dengan Radika, ingin rasanya mengutuk sang mama namun malah keingatan akan menumpuknya dosa yang belum ia ganti dengan banyak pahala. Radika tentu menolak keras bila perempuan yang ingin mama Viani kenalkan pada dirinya merupakan calon kakak iparnya nanti. Tidak mungkin Radika melakukan itu.
"Ah ya sebenarnya, kapan itu aku sempet bantuin mamamu pas aku ke pasar." Anesha ingin menghapuskan kesunyian diantara mereka. Dia juga tidak mau jam makan siangnya hanya diisi kekosongan seperti ini.
"Oh...Kalo aku sendiri, mama menyuruhku untuk berkenalan dengan seorang perempuan baik yang mau membantu mamaku. Rupanya itu kamu kak Nes." imbuh Radika
"Dunia memang selebar daun kelor ya!" ujar Anesha, Radika menaikkan sebelah alisnya.
"Hah? Apa hubungannya sama kelor kak?! begitu konyolnya seorang CEO tidak tahu istilah umum seperti ini.
"Bukan sayur kelor yang aku maksud, ini tuh istilah Dika! masa kamu gak tahu istilah dunia selebar daun kelor?" Anesha terkikik pelan.
Radika sendiri sudah mengumpati diri sendiri yang terlihat bodoh didepan calon kakak iparnya.
"Gak kehilangan score aku kan! Bahaya kalo sampek nanti malah hak direstui gegara gak tahu istilah kayak gitu!" Ributnya didalam batin
"Sepertinya aku harus belajar bahasa indonesia dari awal kak!"canda Radika, Anesha menahan tawa.
"Kenapa tertawa? tanya Radika tidak terima.
"Eng..nggak kok," elak Anesha
"Gak usah bohong deh! Aku nih bisa menilai mana yang bohong dan jujur," lanjut Radika
"Mana ada, gak usah ngada-ngada kamu itu!" masih saja menahan tawa, baru pertama kali seorang billioner berekspresi seperti orang bodoh.
Anesha terhibur sekali. Waktunya yang padat membuatnya jadi jarang mencari hiburan, untung saja ada Radika.
"Serah dah kalo gitu." Radika pasrah dan masa bodoh tanpa Anesha lihat sudut mulut Radika tersenyum tipis.
"Ya sudah kak, sepertinya aku harus kembali ke kantor dulu. Farel mencariku."
"Farel? Oh asisten kamu itu ya! Ya sudah sana aku juga mau balik ke kampus. Ada jam ngajar habis ini." mereka pun kembali kekesibukan masing-masing.
......................
Sesampainya di kantor, Farel sibuk didepan laptopnya tidak menyadari Radika ada disitu.
__ADS_1
"Sepertinya pekerjaan itu lebih menyenangkan daripada menyambut atasan yang baru saja datang, ya kan Rel?" seru Radika, menyangga dagu diatas meja Farel.
Farel kaget sampai hampir terjungkal dari kursi kesayangannya. Selain empuk dan nyaman hanya kursi itu yang setia kepadanya, sebab hanya dia saja yang duduk disitu.
"Pak Dika! Anda sudah sampai ternyata" Farel mengusap tengkuk lehernya sambil membungkukkan tubuhnya sambil meminta maaf atas ketidaksadarannya. Farel punya firasat buruk melihat Radika yang tidak merasa keberatan atas sikap tak sopannya.
"Sudahlah rel, saya juga senang punya asisten yang ruajin banget kayak kamu. Setelah melihat ini, saya juga dapat pencerahan agar kamu semakin giat bekerja, saya akan memberikan beberapa pekerjaan." Kata Radika diselingi ssnyuman manis itu. Bagi Farel bukan manis yang dirasakan tapi kepahitan. Harusnya atasannya ini memberikannya keringanan karena dengan memberikannya cuti untuk beberapa hari kedepan. Tetapi, ini malah kebalikannya!
"P..pak anda nge-prank saya kan, haha pak Dika ini sungguh tidak lucu loh pak!" Farel menggeleng tak rela. Kerjaanya sudah cukup menumpuk. Bahkan masih ada tiga sampai empat tumpuk dokumen yang menantikan goresan tinta bulpoint miliknya.
"Farel, seorang pegawai harusnya tidak membantah atasan bukan? Begitu kan aturannya!"
"Kejam!!anda kejam pak Dika... Anda tidak melihat mata panda saya ini? Betapa menyedihkannya hidupku ini! Aku butuh refreshing ini" apa daya bagi Farel yang harus menelan pahit semua keluhannya.
"Te..tentu saja saya tahu membaca aturan itu pak Dika!"ucap Farel dengan senyum tak ikhlas.
"Kamu sangat bekerja keras sekali!" puji Radika
"Berkat anda saya bekerja keras pak," sindir Farel secara tak langsung
"Pak Dika, anda kedatangan tamu." Farel harus cepat mengalihkan pembicaraan ini sebelum, mulutnya tidak terkontrol dan malah melakukan kesalahan yang bisa membuat hukumannya bertambah.
Radika pun masuk ke ruangannya. Tamu yang menantinya asyik tertidur disofa panjang itu. Rupanya sang mama datang berkunjung. Radika membangunkan mama Viani perlahan.
"Ma bangun, tidur di kamar aja, nanti ada tamu ribet gotong mama akunya!" celetuk Radika, sebuah tas dari belakang melayang menimpuk kepala Radika.
"Auh..mama kenapa pakek mukul kepalaku segala sih! Sakit loh nanti kalo Dika jadi B O D O gimana?!" gerutu Radika mengusap kepalanya sendiri.
Mama Viani menghiraukan komentar anaknya yang bikin dirinya gedeg sendiri
Tanpa merasa bersalah mama Viani menanyakan pertemuan di Cafe tadi."Gimana di cafe tadi? lancar?!"
"Hemm lancar," jawab Radika tanpa minat.
"Kok lemes gitu? yang semangat dong! Ceritakan ke mama gimana tadi?!" begitu semangatnya mama Viani untuk mendengar cerita konyol yang akan dia ceritakan.
Usai bercerita," Jadi begitu ma,"
__ADS_1
linglung menjadi respon mama Viani. Selama ini anaknya memilih untuk menyembunyikan calon pasangannya mama dan papa Beni.
"Tahu gitu kan mama gak bakal kenalin kamu ke perempuan lain." Radika bernafas lega.
"Karena mama sudah tahu jadi mama gak perlu jodohin Dika lagi ya!"
"Gak janji mama nak!"
Radika memutar matanya malas. Beginilah mamanya yang bikin naik tensi.
......................
Tugas Ayesha sebagai mahasiswa semakin menjadi sibuknya. Terkadang mengharuskan ibu Raina pulang dikarenakan dosen meminta tugas diselesaikan keesokan harinya hanya dijeda semalam saja.
Ayesha jadi kurang tidur. Belum lagi bisnis kecilnya yang dari hari ke hari orang tertarik dengan makanannya. Ini dan itu Ayesha urus seorang diri tanpa bantuan siapapun.
Ayesha juga mudah terserang batuk pilek hingga menyebabkan tubuhnya meriang. Mengandalkan obat pusing saja, esok harinya kesibukan lain menenggelamkan waktu santainya.
"huft...capeknya!" Ayesha mengusap keringat yang ada dikeningnya.
hubungannya dengan Jedar semenjak kejadian itu mereka tak lagi berkomunikasi. Awalnya Ayesha sempat stress namun Radika membuatnya melupakan sejenak kegundahan hatinya pada Jedar.
"Hai..." Siska melemparkan sebotol air oenambah energi kearahnya.
"Capek banget kayaknya kamu Sha?"
Siska duduk disebalah Ayesha. "Ya hari ini sama sibuknya seperti hari sebelumnya." ujarnya
"Kamu gak kenal lelah ya! jaga kesehatan jangan sampai sakit Sha!"
"Kamu bener Sis, akhir ini aku mudah batuk dan pilek." keluh Ayesha sesekali bersin karena hidungnya terasa gatal.
"Ke dokter gih sana! dari pada tambah parah nantinya! Apalagi bentar lagi kita ujian loh akhir bulan April."
"Astaga!!" seperti Ayesha melupakan satu fakta itu.
"Hampir aku lupa Sis, untung kamu ingetin kalo gak cengo sendiri aku oas di ruangan ujian." Siska berbicang ria dengan Ayesha. Satu terobosan bagi Siska untuk semakin mendekatkan diri pada Ayesha. Siska hanya perlu menunggu Ayesha mengandalkan dirinya yang kemudia dia akan menceritakan aibnya sendiri tanpa sadar.
__ADS_1