Terjebak Wajah Tampan Billioner

Terjebak Wajah Tampan Billioner
Bab 57


__ADS_3

Menghabiskan satu minggu di Hawai membuat banyak kemajuan pesat pada hubungan mereka. Sepertinya hal yang dibutuhkan oleh keduanya adalah meluangkan waktu bersama pasangan untuk bersenang-senang.


Keseharian Vandi yang hanya bekerja lalu kembali pulang ke rumah sama halnya seperti Siska. Kebiasaan yang sama terus berputar berulang kali yang memungkinkan mereka merasa bosan.


Di Hawai Vandi dan Siska banyak tersenyum dan tertawa bersama, Menikmati momen romantis disetiap harinya serta mengunjungi tempat tertentu untuk mengambil foto kebersamaan mereka.


Bruk...( melempar diri ke kasur)


"Wahh...Gak kerasa sudah hari terakhir aja," kata Siska sambil melihat ke atas


"Kapan-kapan lagi kita akan pergi ke tempat yang berbeda saat aku ada waktu senggang." jawab Vandi mendudukkan tubuhnya disebelah istrinya.


"Kakiku agak capek seharian jalan terus, Tapi... Aku suka dan bahagia."


Vandi melihat kearah Siska," Baguslah kalo kamu menyukainya."


Lalu suasana menjadi hening hanya deburan ombak menarik pasir untuk ikut bersama mereka.


"Emm.. Sis apa kamu akan menarik kembali keputusannu itu?" dengan nada malu Vandi menanyakan terkait perceraian itu.


"Apa? Cerai maksudmu?" Vandi mengangguk sebagai jawaban.


"Entahlah, hati aku masih bimbang. Tenang aja masih ada 3 minggu lagi, jangan terlalu dipusingkan."


Sedikit khawatir akan hal itu, Bagaimana jika papa Max mendengar berita ini? mungkin dia akan dihajar habis-habisan. Vandi juga dilema dengan perasaannya, apakah dia sudah mencintai istrinya dengan sungguh-sungguh?


Jujur saja, Vandi tidak tahu cinta itu seperti apa?Bagaimana caranya dia mengetahui Cinta? Apa Makna dibalik kata Cinta itu? Melihat kisah orang tuanya saja Vandi sedikit kesulitan meyakinkan diri sendiri.


"Van? wajahmu seperti orang tertekan aja? Ada apa? Cerita ke aku jangan kamu pendam sendiri" ucap Siska bangkit dari tidurnya dan mengusap punggung keras Vandi.


"Sis? Kamu tahu papaku orang yang seperti apa? Pengalaman rumah tangga papa pun sungguh tidak enak dikenang. Aku sudah lama tidak pernah menyukai seseorang apalagi merasakan yang namanya cinta. Sampai aku sendiri tidak bisa memaknai apa itu cinta? Cinta itu seperti apa? Semua terasa samar untuk aku."


"Emm...menurutku Cinta itu sederhana dengan bagaimana cara orang itu mencintai orang lain dan rumit karena membangun pondasi dari sebuah hubungan membutuhkan kerja sama dari kedua pasangan. Dalam hubungan kamu tahu Van? Sia-sia rasanya sudah berusaha keras namun tidak membuahkan hasil jika hanya satu orang saja yang melakukannya."


Mata Vandi menyendu, ia sadar hatinya sudah terlalu lama kosong. Mungkin kali ini dia mau mencobanya dengan Siska, membangun hubungan layaknya orang diluaran sana sambil menikmati proses kehidupan bersama dengan seseorang yang mencintai dirinya ini.


"Siska?"


"Iya kenapa?"


"Kamu mau membantuku sekali lagi?"


"Membantu apa Van?"

__ADS_1


manik mata yang tajam memandang lekat manik mata Siska. "Bantu aku agar bisa mencintaimu dengan tulus dan setelah itu aku akan berjuang membahagiakan kamu dan rumah tangga kita."


Mendengar ucapan itu mata Siska langsung berkaca-kaca. Sekian lama dia menunggu akhirnya terkabulkan sudah keinginannya. Vandi mau belajar untuk mencintai Siska, perempuan itu tersentuh dan rasanya air mata ini mau mengalir deras. Akan tetapi Siska menahan karena ini momen paling membahagiakan untuk dirinya.


"Tentu saja Van, aku akan membantumu."


Grep..(Siska memeluk Vandi)


Vandi dengan senang hati membalas pelukan tersebut. Hari terakhir bulan madu di Hawai berjalan dengan lancar.


......................


Keberadaan Dante semakin menghidupkan suasana rumah. Radika kini memiliki teman untuk bisa dia usilin yaitu anaknya sendiri. Ayesha sendiri sampai lelah untuk memperingati agar Radika tidak terlalu berlebihan mengusili Dante.


Seperti sekarang ini, Radika menjahili Dante yang sedang asik minum dari botol berisikan ASI. Direbutnya botol itu dari mulut Dante ketika menangis Radika akan memberikan botol itu lagi dan itu Radika lakukan berulang-ulang kali membuat Ayesha kesal sendiri.


"Oek...oek...." Dante menangis botol miliknya dilepaskan dari mulutnya.


"Cup...cup...cup...nih susunya" Radika kembali memberikan botol itu.


Ingin rasanya Ayesha menjewel telingan suami nakalnya itu. "Cabi kalo kamu sudah besar kamu harus ganti usilin ayahmu ya! Jangan lupa kalo ayahmu ini suka banget jahilin kamu pas waktu kecil!"


"Sayang? Kamu kok gitu sih?!"


"Ya masa kamu ngajarin Cabi kayak gitu? Gak baik Sayang,"


"Ya terus itu apa? Kalo bukan kamu sendiri yang nagajarin?!" kesal Ayesha sambil menunjuk apa yang sudah Radika lakukan terhadap anaknya. Laki-laki tak sadar diri yang sudah menjadi ayah adalah suami sengkleknya.


"Cabi, ingat ya kalo kamu udah besar nanti jangan gangguin ayah. Itu namanya dosa, Nak!"


Ayesha memijat keningnya yang mulai pusing melihat tingkah suaminya. Lebih baik Ayesha menyingkir dan pergi menikmati es teh dengan beberapa cemilan.


"Mbak Yesha kenapa kok cemberut gitu mukanya?"


"Ini gara-gara Radika bik. "


"Oh jahilin Dante lagi ya Mbak?"


"Heem...suka kesel aku bik."


"Hehe, gitu-gitu pak Dika sayang banget sama Dante loh mbak. "


"Sayang sih sayang tapi masa anaknya sendiri kayak dijadikan mainan? Ih udah deh bik makin kesel kalo diinget."

__ADS_1


"Ya udah deh, bibik buatin es teh ya?"


"Iya bik, tolong ya antar ke taman belakang sama bawakan cemilan buat aku ya bik."


"Iya mbak Yesha."


Di dalam kamar Radika mulai merasa bosan. Dante sudah tertidur dan meninggalkannya seorang diri.


"Cabi...cabi... Masa udah tidur aja kamu? Gak seru kamu Nak! Padahal ayah ajak kamu main bersama malah ditinggal tidur."


Radika ikut merebahkan disamping Dante. Tidak lupa memberikan guling dan bantal disebelah Dante agar tidak terjatuh dari kasur lalu menyelimutinya.


Hening tak ada suara, membuat Radika perlahan memejamkan mata dan tertidur menyusul Dante yang mungkin sudah mimpi indah.


Menjelang sore, semburat cahaya warna jingga menerobos masuk melalui jendela. Ayesha sudah menyiapkan peralatan mandi Dante namun tidak mendengar ocehan satu pun sejak tadi.


"Abi...Cabi? Kalian masih ti-" Ayesha tersenyum tipis. Anak dan Ayah itu terlihat akur saat sedang tertidur pulas. Sayang sekali Ayesha harus membangunkan mereka berdua.


"Abi...Cabi? Ayo bangun sudah mulai sore ini!"


Radika mengerjapkan matanya dan Dante menggerakan kedua tangannya sambil mengusap matanya yang mungkin masib berat untuk terbuka.


"Ayo bangun Cabi, kita akan mandi Nak!" Ayesha meraih dengan pelan tubuh Dante dan mendekapnya.


"Sore anak bunda..." Ayesha menyambut anaknya yang mulai membuka matanya.


"Nyenyak ya tidurnya? Enak ya karena dipeluk Ayah jadi hangat dan nyaman ya kan Dante?!"


"Bububu...."


"Pintar anak bunda, yuk lepas bajunya... Kita mandi!"


Ayesha satu per satu melepaskan baju Damte, sementara Radika dengan lontang -lantung berjalan masuk ke kamar mandi dengan handuk dibahunya. Usai keduanya, gantian dengan Ayesha yang membersihkan diri.


"Titip Dante Bi, aku mau mandi ya!"


"Iya sudah sana mandi."


Radika menepuk pantat Dante sambil menggendongnya. "Cabi gimana kalo kita pergi babymoon bertiga?!"


"Kita pergi kemana enaknya?! Nanti biar ayah carikan tempat yang bagus ya!"


Sudah lama sekali mereka tidak liburan bersama. Banyak hal yang telah dilewati Ayesha dan Radika selama ini sampai sekarang mereka masih bertahan dan berhasil. Radika bersyukur karena Tuhan masih memberikannya kebahagiaan bersama keluarga kecilnya ini.

__ADS_1


__ADS_2