
Pagi tadi Radika terbangun lebih awal kemudian menjalani rutinitasnya sebelum pergi ke kantor cabang disini.
"Guten Morgen mein Herr,"
(Selamat pagi, Tuan)
"Auch einen guten Morgen"
(Selamat pagi juga)
"Ich bin Joe, der geschickt wurde, um Tuan die Schlüssel für dieses Auto zu geben." ujar Joe sekaligus Asisten kantor Cabang Jerman, Lumgburh.
(Saya Joe yang diutus untuk memberikan kunci mobil ini kepada Tuan)
"Danke,"
(Terimakasih)
Pelayan laki-laki itu menundukkan tubuhnya lalu pamit undur diri. Radika mengunci kamar hotelnya lalu sarapan pagi dan pergi ke kantor cabang.
Pavilliun sudah mulai ramai pengunjung yang menginap di hotel. Budaya makan yang berbeda masih tidak membiasakan perut Radika hanya sarapan oatmeal atau roti gandum hitam dengan olesan mentega atau tanpa olesan. Melihat orang makan terlihat sangat lezat dan mengenyangkan.
"Huft, lain kali biar aku menyuruh Farel untuk urursan yang seperti ini. Hanya makan roti berbahan dasar tepung mana bikin aku kenyang."
Radika mau tidak mau ia harus memakan sarapan hambar ini. Disela waktu sarapannya seorang wanita blasteran berdiri didepannya dengan lipstik merah darah.
"Darf ich hier sitzen?"
(bolehkan aku duduk disini?)
Radika hanya diam menatap wanita itu. Lalu melanjutkan aktivitasnya.
"Es ist sehr unhöflich, Leute zu ignorieren, die sich unterhalten, können Sie darauf antworten?"
(Sangat tidak sopan mengabaikan orang berbicara, bisakah kamu menjawabnya?)
Radika menghembuskan nafasnya, suapan terakhir dipiringnya langsung dilahap dengan cepat.
"Bitte," jawab Radika lalu beranjak bangun dan pergi. Wanita itu hanya mengikuti arah pandang matanya hingga sosok tampan yang diincarnya menghilang.
"Wie arrogant er ist!"
(Sombong sekali dia!)
Wanita itu pun memilih duduk sebab gagal total merayu pria incarannya.
Mobil yang Radikaia pakai sudah siap didepan loby hotel. Gaya keren mobil itu menarik perhatian pengunjung disekitarnya.
"Terlalu mencolok," gumam Radika
Karena sudah hampir terlambat Radika tidak punya waktu untuk memprotes hal sepele ini.
__ADS_1
Melenggang melewati bangunan kota tua dan perlahan berubah menjadi gedung-gedung tinggi yang saling bersaing satu sama lain. Tiba di kantor, Radika menyerahkan kunci mobil itu kepafa asisten yang bertanggung jawab disini.
Semua orang menyambutnya ramah demi image yang dinalai baik didepan Radika.
Radika pergi menuju ke ruangan direktur kantor. Ada hal aneh yang dirasakannya. Kemana direktur kantor? Apakah dia tidak menyambut kedatangannya?
langsung saja Radika membuka pintu ruangan direktur namun apa yang dilihat saat ini membuatnya marah besar.
Radika menyuruh asisten tadi untuk segera menemuinya ke lantai atas. Asisten tersebut bergegas menemui pemilik kantor ini.
"Ada yang bisa saya bantu pak?!"
Loh kenapa si asisten bisa bahasa indonesia? Ya karena Radika sengaja mencari orang asal indonesia yang bekerja di Jerman agar memudahkannya mengontrol kantor cabangnya.
"Atasanmu hilang kamu tahu dia kemana Joe?!" Radika mencoba untuk berbaik sangka. Mungkin, Direktur sedang ke toilet.
"Saya hubungi segera pak!" Joe menekan angka yang secara langsung mengarah ke nomor direkturnya.
Sambungan telpon masih tidak diangkat membuat Radika marah.
"Kita tunggu dia 15 menit lagi dan kamu hubungi dia terus! Kalau dalam waktu segitu batang hidungnya tidak muncul, pecat dia saat itu juga!" Radika terlanjur emosi.
"Dia kira siapa hah? Berani banget membuatku menunggu hanya demu dia! Cih." guman Radika jengkel.
Joe mencoba terus hingga percobaan yang ke-15 tidak membuahkan hasil. Joe pun mengonfirmasi kepada Radika.
"Pak maaf, sepertinya direktur tidak bisa dihubungi."
" Baik pak!"
"Kamu berika aku data keuangan mulai dari periode awal direktur mulai bekerja." Joe mengangguk dan undur diri.
Tak lama Radika membuka file software yang dikirim Joe dan memeriksanya sangat teliti.
"Sepertinya dia sedang bermain-main dengan uang perusahaan, lalu digunakan untuk berjudi dan yang paling parah sudah berapa banyak uang yang bukan miliknya dirampas untuk hal tidak berguna!"
Brak..
Radika memukul meja sangat keras hingga suaranya terdengar luar padahal ruangnya kedap suara.
Joe panik. Atasannya sedang marah besar.
"Joe!!!" Radika memanggil.
"Cari direktur sialan itu!! Sekarang juga!!"
dada yang bergemuruh kesal hingga naik turun itu. Kini berusaha menenangkan diri agar tidak menghancurkan benda disekitarnya. Sebagai gantinya kulit tangannya terluka saat menggebrak meja.
Joe mendeteksi posisi direktur itu dengan GPS yang ia letakkan dibawah semua mobil milik direkturnya.
"Rupanya dugaanku gak sia-sia. Untung aja gue masang GPS dan penyadap di mobil direktur."
__ADS_1
Setelah melacak Joe pun memberitahukan pada Radika.
"Maaf pak direktur saat ini berada di sebuah Kasino terkenal di pusat."
"Aku akan menghajarya sampai mampus!"
Joe dan Radika pun pergi ke kasino tersebut.
......................
Beragam mobil mewah terparkir rapi di kasino ini. Tempat berjudi nomor satu Jerman. Radika melirik kearah Joe yang tepat berada disampingnya.
"Joe suruh satpam yang bertugas untuk mengusir paksa direktur sialan itu."
Ia masih memanggil dengan sebutan direktur karena Radika ingin memecat orang itu secara tidak hormat.
Menunggu lama didalam mobil akhirnya direktur terlihat sedang memberontak.
"Verdammt... Wie kannst du es wagen, mich zu demütigen!!"
(Sialan... Beraninya kalian mempermalukan aku!!"
"Du hältst besser die Klappe, bevor wir noch mehr unhöflich werden," ucap salah satu satpam itu.
(Lebih baik anda diam sebelum kami berbuat kasar lebih dari ini.)
"Nur aufgepasst Jungs!! Ich werde dein Leben ruinieren!!"
(Awas saja kalian!! kubuat hidup kalian hancur!!)
"Bevor Sie das Leben anderer Menschen zerstören, werde ich Sie zuerst töten!"
(Sebelum kamu menghancurkan hidup orang lain maka aku yang akan lebih dulu membunuhmu!)
Direktur itu terpaku, orang didepannya merupakan ancaman bahaya untuk dirinya juga uang yang ia dapat dari hasil penggelapan dana kantor.
"Lihatlah siapa ini! Seperti biasa lo memang jahat dibelakang ya Radika!" celetuk Vandi dengan Zaid yang mendadak muncul.
Radika menoleh, Vandi menyeringai. Keduanya teman semasa SMA itu saling bertatapan mengintimidsi satu sama lain. Direktur itu yang berada diantara kedua orang ternama di dunia ini hanya tergugu ditempatnya hampir terken*cing-ken*cing dicelananya karena ketakutan.
"Lama tidak bertemu Vandi! Wajahmu terlihat lebih licik sejak terakhir kita bertemu." balas Radika tak mau kalah.
Raut wajah Vandi mendatar. "Memang ya! selama lo masih hidup di bumi ini, hidup gue gak bakal tenang."
"Heh...Bukan karena gue kalo hidup lo gak oernah tenang! Lo nya aja yang kurang bersyukur atas posisi lo yang selalu ada diurutan kedua dibawah gue." ucap Radika sangat menohok hati Vandi.
"Sialan lo!!!" sentak Vandi tak terima
"Makanya, seharusnya lo bersyukur aja atas posisi lo saat ini. Sebelum posisi lo itu jatuh ketangan orang yang lebih baik daripada lo."
"Und für Sie, verehrte Direktoren, werde ich Sie von jetzt an, jetzt, heute, aus meinem Büro an diesem Ort entlassen. Und warte, bis dich der Rechtsbrief erreicht!!" usai mengatakan itu Radika pergi diikuti Joe
__ADS_1
(Dan untuk anda direktur yang terhormat, mulai saat ini, detik ini, hari ini, ditempat ini anda saya pecat dari kantor saya. Dan tunggu surat hukum sampai ke tangan anda!)