Terjebak Wajah Tampan Billioner

Terjebak Wajah Tampan Billioner
Bab 44


__ADS_3

Kronologi dimana Ayesha dibawa paksa oleh penjaga bayangan yang dikirimkan oleh suaminya, banyak mahasiswa lain menatapnya aneh dan penasaran. pikir Ayesha memberontak pun percuma saja, dia memilih berserah diri akan dibawa kemana dirinya ini.


Rupanya begitu tiba ditujuan, Ayesha baru sadar ternyata dia dibawa ke kantor suaminya. Ayesha sendiri penasaran, untuk apa suaminya sampai menggeretnya seperti ini, bukannya meminta secara baik-baik.


Ayesha belum menyadari satu hal penting bahwa dia telah membuat suaminya cemburu maksimal.


Ayesha ke ruang kerja suaminya, yang sedari menunggunya.


Ceklek...


"Abi, kamu menyuruh orangmu membawaku kemari dengan cara menggeretku seperti itu?!" tanya Ayesha sambil mendudukkan diri di sofa.


"Sayang, kamu tahu sudah berbuat salah?!" ujar Radika dengan wajah seriusnya


Ayesha berkerut dahi, apa yang sudah dia lakukan? ekspresi suaminya tidak enak dipamdang sama sekali. Ayesha pun juga bingung


"Maksud abi apa? Sedari tadi aku di kampus, juga gak pergi kemana-mana aku kok," jawab Ayesha


"Bukan itu," jawab Radika


"Lah terus apa dong? Coba yang jelas sih Abi, aku lagi males main tebak-tebakan sama kamu."


"Kamu habis dekat-dekat sama siapa?!" tegas Radika


"Aku? Deket sama orang? Mana ada abi! " elak Ayesha dengan tegas


"Ada Sayangku," tekan Radika


"Sia-...oh maksud kamu Van-"


"Stooppp...aku gak mau denger nama dia, panas telinga aku jadinya, langsung muncul alergi kalo denger nama laki-laki lain." Ayesha pun bungkam, disini dialah yang dilatih kesabarannya dalam menghadapi fluktuasi emosi suaminya.


"Dia tadi habis bantu aku yang hampir kesenggol orang." Ayesha mencoba untuk sabar kali ini.


"tapi aku gak mau kamu disentuh laki-laki lain Sayang... Kamu itu punya aku titik."


Ayesha menghelas nafas, sifat suaminya begitu dia hamil, berubah kekanakan kadang kembali ke sifat aslinya. Dia mendekati suaminya, kode ini cukup keras bagi Ayesha. Menandakan bahwa suaminya ingin dimanja ria oleh Ayesha.


"Iya iya aku minta maaf ya, lain kali aku bakal hati-hati jalannya." ucap Ayesha sambil mengelus puncak kepala Radika. Suaminya hanya mengangguk pelan. Lalu menenggelamkan wajahnya diperut rata Ayesha.


"Kamu sudah makan?!" tanya Radika


"Belum, gara-gara kamu aku gak sempat makan sih!" gerutunya


"Ya sudah, biar aku pesankan ya, kamu mau makan apa sayang?" tawar Radika sambil menyerahkan ponsel miliknya agar istrinya bisa memesan makanan yang diinginkan.

__ADS_1


Ayesha berpikir sejenak," Kamu aja yang oesenin aku mau makan seblak, bakso kikil, puding coklat, nasi pecel terys yang terakhir rujak pencit ya?!"


Radika terdiam sejenak,"Kamu serius pesan segitu banyaknya? Juga itu pedas sayang, nanti calon anak kita kepedasan kasian." celetuk Radika


"Tapi aku lagi pengen banget abi. Sekali ini aja deh ya, serius ini aku abi, kamu belikan ya, aku mau kamarmu dulu, istirahat." tidak mau mendengar kalimat bantahan apapun Ayesha langsung masuk ke dalam kamar yang ada di ruang kerja suaminya.


Radika hanya diam menatapi kepergian istrinya.


"Gila, makannya banyak bener, kalo gak habis siapa yang mau makan semua itu?"gumamnya, namun jemarinya tetap menekan "pesan".


Hingga menjelang sore, Radika baru saja menyelesaikan pekerjaannya yang lumayan menguras energinya hari ini. Melihat jam tangannya jika langit mulai menampakkan senja. Radika meregangkan otot-ototnya yang kaku dan beranjak dari kursi.


"Yang, bangun yuk. Kita pulang sudah mau malam." Radika mendudukkan diri dipinggir kasur sambil mengecupi wajah cantik Ayesha, mengelus rambut halusnya pula.


"Emmm..." lenguh Ayesha merasa tidurnya terganggu.


"Gendong bi," seperti layaknya anak kecil, Ayesha merentangkan kedua tangannya meminta untuk digendong.


"Iya iya, ayo sini. Kesayangannya siapa sih ini? sudah besar masih minta gendong ya?!" Radika sendiri malah ingin menjahili istrinya, wajah lucu dan cantik Ayesha membuat Radika tidak bisa berpaling barang sedetik pun.


"Capek abi...." Ayesha merengek


"Hihi...ya sudah, kita harus segera pulang sebelum semakin gelap."


Begitu sampai di rumah Ayesha, Siska disambut oleh pelayan yang bertanggung jawab di rumah ini.


"Selamat datang Mbak Siska, silakan masuk mbak," ujar ramah Bik Weni


"Terimakasib bik," Siska pun masuk, lalu duduk di sofa ruang tamu. Sedangkan Bik Weni tengah menyiapkan minuman dan cemilan untuk Siska.


"Bik, Ayesha kemana ya? Kok kelihatan rumahnya sepi? Padahal belum gelap banget diluar." tanya Siska


"Sedari tadi pagi mbak Ayesha juga belum kembali, mungkin masih mampir ke kantornya Den Dika, paling sebentar lagi juga datang kok mbak." jawab Bik Weni


"Ya sudah bi, aku nunggu disini aja dah,"


Tidak lama kemudian, suara deru mobil terdengar bersamaan dengan pintu rumah yang terbuka.


"Assalamualaikum Bik Weni, aku pulang." ucap Ayesha, lalu matanya menangkap keberadaan Siska yang berdiri sambil tersenyum.


"Loh Siska, dari kapan disini? Nunggu lama gak? Maaf ya aku gak tahu kalo kamu mau ke rumah," sesal Ayesha, dia pun duduk berhadapan dengan Siska.


"Santai aja kali, aku nya juga gak kabarin kamu kalo mau main kesini, juga ada Bik Weni yang menyambut jadi gak kosong melompong kok rumahnya," canda Siska


"Hehe... Oh ya ada apa Siska, tiba-tiba main ke rumah padahal gak ada hujan gak ada badai?"

__ADS_1


"Jadi aku kalo kesini harus nunggu hujan sama badai gitu ceritanya?!"


Ayesha terkikik, " ya gak gitu juga kali, bahaya tahu!"


"Nih, aku mau kasih kamu sesuatu," ujar Siska sambil.menyerahkan paperbag entah berisi apa.


Ayesha pun menerima dengan senang hati sambil mengucapkan terimakasih."Padahal masih awal loh, udah kasih hadiah aja."


"Ya gak papa kali Sha, sekalian ingat dan sempat datang kesini aku nya."


Ayesha hanya mengangguk, kemudia suara Radika mengintrupsi obrolan keduanya.


"Sayang, mandi dulu baru lanjut ngobrolnya, seharian kamu di luar." kata Radika


Ayesha menuruti ucapan suaminya dan izin pamit pada Siska untuk ditinggal sebentar. Siska pun mengiyakan.


Melihat interaksi kedua temannya itu, membuag diri Siska merasa iri hati, mengingat kisah cintanya tak semanis dan harmonis mereka berdua. Entah cara apa lagi agar Vandi bisa mempertimbangan ulang agar mau mencintainya setelah pernikahan mereka. Siska juga tidak mau bila harus menyerah lebih awal padahal pernikahan mereka masih seumur jagung.


"Aku harus bisa menaklukan Vandi." gumam Siska


Tak terasa, Ayesha yang sudah menyelesaikan bebersih diri, hingga bercanda ria sampai jam makan malam tiba.


"Eh Sha, udah malam nih, sebentar lagi waktunya makan malam. Kayaknya aku harus pulang ini."


"Yah, kok cepet banget ya? Makan malam disini aja deh Sis, Bik Weni masak banyak loh." Ayesha mencoba menawarkan makan malam bersama.


"Kalo kamu gak lupa, aku sudah nikah sama punya suami masa pulang malam sih?!"


"Oh iya, lupa aku Sis, ya sudah kalo gitu. Hati -hati di jalan, titip salam sama Vandi ya Sis."


"Oke Sha, kalo gitu aku pulang dulu ya."


Bertepafan dengan Siska yang berpamitan pulang, Radika baru saja menampakkan diri. "Kamu darimana aja sih Abi? Kok gak turun-turun? Padahal ada tamu."


"loh, tamunya cewek loh Sayang, kamu mau aku dilihagin cewek lain? Suamimu ini kan gak ketulungan gantengnga."


Ayesha berekspresi geli dengan lontaran suaminya,"Udah deh gak usah lebay kamu, ngapain aja dari tadi?!"


"Habis sholat terus ke ruang kerja memeriksa file yang dikirim Farel." jelas Radika


"Kamu tuh bi abi, kalo sudah di rumah usahakan ada waktu tersendiri untuk keluarga dan pekerjaan, jangan dicampur-campur. Nanti kalo kebiasaan sampai kamu punya anak gimana dong? Kesepian nanti anak kita." gerutu Ayesha


Ayesha tidak mau jika anaknya kekurangan waktu bersama dengan keluarga. Di luar sana banyak sekali kenakalan pada anak yang dipengaruhi karena kurangnya waktu bersama keluarga hanga untuk sekedar bercanda tawa saja susah. Faktor keluarga itu sangat besar dampaknya untuk mental anak kedepannya


"

__ADS_1


__ADS_2