
Ayesha tidak menyangka, kurang sedikit lagi dia akan meraih gelar sarjananya namun kenapa dia harus seperti ini? Dikeluarkan tanpa adanya pembelaan, berita itu terlanjur dilihat banyak orang.
Radika yang selalu menajamkan penglihatan dan pendengarannya langsung saja bertindak cepat. Menghapus segala bentuk berita yang tersebar luas itu dengan mengerahkan semua IT andalannya.
"lagi-lagi harus berurusan dengan Vandi." Radika menghela nafas pasrah.
Memang berat menjadi sosok Ayesha, terlalu banyak orang yang dengki dan iri terhadapnya. Radika kemudian menekan intercom yang terhubung langsung dengan Farel.
"Masuklah, ada yang ingin aku bicarakan!" ucap Radika
Tok...tok...tok...
"Masuk"
"Iya pak, ada yang bisa saya bantu?" tanya Farel dengan sikap tegas yang selalu ia terapkan selama ini.
"Kamu handle kerjaan hari ini, aku ada urusan di kampus istriku."
"Selesai jam berapa pak perkiraan? Karena ada rapat penting jam 1 siang nanti."
"Meeting dengan siapa?!"
"Bapak Colline,"
"Kamu handle sajalah, bilang saya ada urusan urgent terkait istri."
"Pak anda kan tahu saya gak pinter bohong kalo berhubungan sama bu Ayesha."
"Plis dong, gitu aja masa kamu tidak bisa? Sudahlah usahakan saja."
"Tapi pak!"
"Gak ada tapi-tapian, kamu tinggal laksanakan perintahku saja dan jangan membantah."
Melihat kepergian atasannya yang hanya bisa Farel lakukan mengeraskan rahangnya menahan diri untuk tidak melayangkan bogeman.
"Sabar Rel.. Sabar... Kamu kan digaji jadi tinggal laksanakan dan semua beres."
Radika menghidupkan mesin mobil dan melenggang pergi meninggalkan parkiran mobil. Tak lama kemudian, sesampainya di kampus Radika turun dari mobil tidak lupa mengabaikan sorakan kagum dan tatapan menggoda dari beberapa ulat bulu.
Sering berkunjung ke kampus Ayesha membuat Radika hafal diluar kepala letak ruang kerja direktur kampus. Tak ingin berlama-lama disini sebisa mungkin Radika harus membereskan dengan cepat.
Tok..tok..tok..
"Masuk," Radika tanpa bersuara langsung masuk hingga mengejutkan direktur baru itu.
"Ouh direktur baru rupanya,"
"Anda siapa?"
__ADS_1
"Saya? Oh iya saya belum memperkenalkan diri, saya Radika suami dari mahasiswa kampus ini yang namanya Ayesha Putri Ferdinant."
Dilihat dari sikap dan gerak-gerik direktur baru itu Radika rasa tidak buruk untuk yang satu ini.
"Ada yang bisa saya bantu Pak Radika?"
"Seperti yang anda tahu, istri saya itu dikelilingi dengan orang yang suka iri hati. Dan seperti berita yang sudah beredar sampai mengancam nama baik kampus, saya akan bantu membereskan hal itu."
"Baik pak, saya sangat berterimakasih jika memang itu bentuk tanggung jawab dari pak Radika."
Radika meletakkan sebuah amplop coklat dan direktur itu langsung meraihnya."ini apa ya pak?!"
"Buka saja, dan saya mau kamu memecat orang itu dan mengeluarkan mahasiswa itu."
Tanpa basa-basi Radika langsung mengatakannya, direktur itu mengerutkan kening merasa penasaran ada apa sebenarnya. Mata direktur itu langsung membelalak kaget melihat beberapa foto di tangannya.
"Pak anda jangan sembarangan. Ini foto bisa saja di edit oleh orang profesional. Anda bisa teramncam hukum karena pencemaran nama baik."
"Heh! Saya pembisnis yang tahu waktu kapan harus licik dan picik. Disitu juga ada bukti lain. Anda bisa diskusikan hal ini, tapi saya hanya mau permintaan saya tadi dilakukan."
Mau tidak mau direktur itu pun mempertimbangkan kembali "baiklah biar saya rapatkan terlibah dahulu."
"Baiklah karena urusan saya sudah selesai, kalau begitu saya permisi."
......................
Setelah kunjungan Radika ke kampus kapan itu, lagi dan lagi berita membagongkan hadir di tengah masa persiapan bagi calon wisudawan.
"Apalagi kali ini? Plis deh nih kampus lama-lama makin gak bener!"
"Untung aja bentar lagi gue wisuda!"
"Katanya sih tentang salah satu pegawai disini melakukan hubungan in**m di kantor. Gila aja sih dan juga herannya gak ada satu pun CCTV tapi bisa ketangkap aja ya tingkah bejat itu."
"Serius lo?"
"Mungkin ada kamera tersembunyi."
"Mungkin aja kali ya, juga mahasiswanya itu langsung dikeluarkan dari kampus, padahal kirang sedikit lagi sudah mau lulus."
"Nasib orang berbeda-beda, gue bersyukur gak banyak tingkah!"
Sementara Jedar tidak datang ke kampus, melihat hal ini langsung membuatnya gigit kuku. Ia masih terus sibuk menggilir berita yang tengah diperbincangkan.
"Pasti si Radika yang melakukan ini! Sialan cowok itu."
Jedar dibuat panas dingin, "Bagaimana kalo keluarga angkat gue tahu ini! Habis gue!"
Semenjak Jedar ditinggalkan seorang diri, sebuah keluarga mengadopsinya memang kaya tapi disitulah tekanan demi tekanan Jedar rasakan.
__ADS_1
Brak...
"Apa lagi yang kamu lakukan Jeje?!" keluarga itu memanggilnya dengan sebutan baru.
"Pap-papa, ini bukan Jeje papa."
"Bukan kamu? Papa baru saja mendapat investor dunia gara-gara kamu jadi gagal kan! Kamu mengusik siapa lagi hah?!"
Yah, kesialan terus menimpanya. Keluarga angkatnya memang seorang pembisnis yang terkenal di kota ini namun berkat Radika saham perusahaan Collin langsung jatuh drastis.
Bagaimana tidak? Keluarga Collin hampir akan bekerjasama dengan perusahaan Radika akan tetapi, Radika mempermainkan keluarga Collin dan langsung menarik kerja sama diantara keduanya.
"Beginikah balasanmu terhadap keluarga ini? Lakukan dengan becus kali ini, tidak perlu mengurusi hidup orang lain, fokus saja dengan perintah papa untuk belajar dengan tekun!"
"Belajar....belajar...belajar.... "
Jedar bosan dengan kegiatan satu itu. Ingin kabur tapi tidak ada tujuan di luar sana. Bisa-bisa Jedar bertemu dengan orang yang membuat nasib tambah memburuk lagi.
......................
Dan seiring berjalannya waktu kandungan Ayesha memasuki trimester dua. Radika sangatlah senang melihat perut buncit istrinya. Terkadang membuatnya gemas seperti balon yang ingin dia letuskan.
Kebiasaan baru yang Radika lakukan dengan kecupan di perut Ayesha. Semua calon Papa menantikan momen itu sebagai ganti pengorbanan istri mereka yang mengandung 9 bulan. Radika sebisa mungkin menyenangkan hati Ayesha selama masa kehamilan.
"Lihat dia sangat menyukaiku Sayang, hehe"
"Tapi aku merasa kegelian Abi!!!"
"Ya tahan dong, Abi kan masih pengen kangen-kangenan sama cabi."
"Cabi? Siapa lagi itu?!"
"Calon bayi lah masa gitu aja gak tahu kamu Sayang?!"
"Mana aku tahu, kamu orangnya terlalu kreativ."
"Hehe..." keharmonisan semakin dirasakan oleh dua orang itu. Masalah ada kalanya hadir membuat Ayesha kepikiran lalu harus membuatnya bedrest di rumah. Namun, berkat saling menguatkan dan melengkapi semua masalah terlewati begitu saja.
"Kandunganmu ini umur berapa bulan dah Sayang?!"
"Emmm...7 bulanan deh kayaknya,"
"Besok kita minta tolong mama sama ibu kamu buat mempersiapkan masakan yang banyak ya."
"Kamu mau membagikan ke panti asuhan?!"
"Iya Sayang, sekalian minta tolong doa kelancaran kehamilan kamu ini."
"Makasih ya abi, Kamu jadi makin manis aja orangnya."
__ADS_1
"Sebenernya udah dari dulu manisnya, kamunya aja yang gak sadar."