
Tertangkapnya kasus penggelapan dana dan koruptor dengan tak segannya Radika menuntut mantan direktur itu untuk mengganti semua uang perusahaan yang sudah disalah gunakan.
Dan selama proses penyelidikan serta pengumpulan bukti dengan mudahnya ditemukan dari tempat rahasianya dan setelahnya dilakukan proses hukum sangat ketat karena Radika benar-benar tidak membiarkan mantan direktur itu bernapas lega bahkan untuk menghirup oksigen saja tidak kuasa.
"Joe kerja bagus, buat orang itu jera dan buat dia mendekam dipenjara."
Joe membungkuk hormat,"baik pak."
Radika menjadi waspada dan berkeinginan untuk memberantas calon dan bibit hama di perusahaannya.
"Joe aku ingin kamu menghubungi semua kantor cabang dan siapkan meeting pertemuan antar direktur. "
"Baik pak, ada lagi pak yang bisa saya bantu?!"
"Kamu bisa istirahat."
......................
Ayesha tak kalah dibuat pening dengan segala persiapan KKN belum lagi tugas yang terus bertambah dan menumpuk. Belakangan ini jam tidur Ayesha tidak beraturan, ia memilih lembur hingga tengah malam menjelang dini hari.
Apalagi dia di rumah yang besar ini hanya seorang diri. Nasihat bibi pun diabaikan karen Ayesha tidak mau menunda tugas kuliahnya. Kesehatannya pun perlahan menurun, tubuh menunjukkan reaksi bahwa ia juga butuh istirahat cukup.
"Mbak Yesha, udah nanti lagi aja nugasnya! Mending istirahat dulu biar gak sakit mbak!" sedari tadi Ayesha hanya mengatakan iya namun tidak menjalankannya.
"Iya sebentar bi, tinggal dikit lagi."
"Haduh Mbak kalo bentar-bentar terus bibi bakal nelpon Den Dika loh,"
Ayesha menoleh, wajah bibi terlihat serius tidak bercanda. Dia pun mengalah. Bibi tersenyum senang dan segera mengambilkan susu hangat dan makanan berat sederhana.
Ayesha memakannya dengan malas. Setelah habis dia meneguk hingga tandas tak tersisa. Malam ini pun bibi berhasil membuat Ayesha luluh dan menuruti kemauannya.
Namun, menjelang pagi keringat dingin, menggigil dan wajah pucat pasi membuat Ayesha tidak sanggup bangun dari tidurnya apalagi berteriak memanggil bibi.
Terlalu lama menahan kondisi tubuhnya, Ayesha pun pingsan tanpa diketahuj siapa pun.
Hingga pukul 10 majikannya tidak terlihat keluar dari kamarnya untuk sarapan pagi.
"Kemana ya mbak Yesha kok belum kelihatan sama sekali?!" bibi sedikit cemas dan sekarang didepan kamar Ayesha bibi mondar-mandir sambio menggenggam tangannya sendiri. Bibi ragu ingin langsung membuka pintu didepannya karena sudah diketuk beberapa kali pun tidak ada sahutan dari dalam.
"Mbak Ayesha, bibi izin masuk ya. " tangannya memegang gagang pintu dan mendorong pintunya.
gundukan diatas kasur membuat bibi curiga dan akhirnya mendekat lalu menepuk pelan sambil memanggil Ayesha.
"Mbak...mbak... bangun mbak... udah siang, gak kuliah mbak Yesha?
Bibi merasa ada yang aneh karena majikannya tidak menjawab panggilannya. Dengan keberanian yang cukup bibi menempelkan tangannya ke dahi Ayesha yang ia kira tertidur pulas.
karena hanya panas yang dirasakan kulit tangannya bibi menjadi panik.
__ADS_1
"Astagfirullah Mbak...mbak Yesha panas banget loh! Ya gusti..." bibi keluar kamar dan pergi menyiapkan baskom dan air dingin untuk mengkompres Ayesha.
Berulang kali sudah di kompres, suhu Ayesha sejak dari tadi naik turun tak menentu. Bibi pun memutuskan membawa majikannya ke rumah sakit.
......................
Setelah diperiksa oleh dokter ternyata Ayesha didiagnosis terkena typus dan maag sekaligus.
Dokter pun menyarankan Ayesha untuk menginap selama seminggu agar kondisinya bisa terus terpantau oleh dokter. Dokter memberikan pelayanan terbaik karena tahu pasiennya pemilik saham terbesar di rumah sakit.
"Bagaimana kondisi Nyonya sekarang?!" tabya dokter dengan bm2 asisten dibelakangnya.
"Saya agak lemas sedikit Dok sama nyeri dibagian perutnya. Juga tolong jangan panggil saya Nyonya, saya jadi terkesan tua sekali dengan panggilan itu Dok," ucap Ayesha ditambah senyuman tipis tersirat rasa kelelahan.
"Baik kalau begitu saya akan memanggil anda Mbak Ayesha saja ya. Keluhan yang tadi mbak Yesha sebutkan itu memang wajar terjadi pada penyakit typus dan maag nanti mbak harus rajin minum obatnya agar mengurangi rasa nyeri itu."
"Terimakasih dok,"
"Sudah menjadi tugas kami merawat pasien sakit mbak Ayesha. Kalau begitu saya tinggal dulu ua, selamat istirahat mbak."
Disusul oleh bibi yang baru saja selesai menunaikan ibadahnya di masjid dan sebuah kantong plastik ditangannya.
"Apa itu bi?"
"Bibi tahu mbak Yesha gak bakalan suka sama bubur buatan rumah sakit kan?"
Ayesha mengangguk pelan,"Nih bibi belikan buryam enak buat mbak Ayesha tapi gak pedes loh mbak!"
"Loh beda toh mbak, bubur rumah sakit itu hambar gak ada rasanya, kalo bubur ini ada gurih asinnya lebih markotop rasanya!" bibi mengangkat buryam ditangannya meyakinkan majikannya agar mau makan.
"Huft...ya udah tolong sipakan ya bi!"
"Siap Mbak Sha,"
"Oh ya bi habis ini kabari Ibu sama kakak saya bilang kalo saya lagi diopname tapi udah mulai baikan gitu ya,"
"Baik mbak, kalo Den Dika gimana mbak?!"
Ayesha berpikir sebentar,"tidak usah bibi, dia banyak kerjaan nanti malah amburadul mikirin aku yang sakit."
"Beneran mbak? Nanti marah kalo gak dikabarin!"
"Udah gak papa nanti biar jadi urusan aku kalo marah."
......................
Anesha membaca isi pesan dari adeknya mengatakan bahwa dia sedang sakit tapi tidak oerlu mencemaskannya.
"Setahu aku Radika lagi keluar negeri jadi dia sendiri sama bibi dong!" gumamnya
__ADS_1
"Nih anak selalu aja lebih mikirin orang lain ketimbang dirinya sendiri. Padahal orang lain juga tambah cemas kalo gak dikabarin gini!"
Anesha pun mengganti bajunya dan meraih ras selempangnya. Dia berniat menjenguk adek bandelnya itu.
Di tempat yang jauh, Radika mulai uring-uringan karena mendapat kabar dari Farel bahwa istrinya sedang di opname.
"Sudah aku bilang berapa kali pun dia tidak mau dengar. Gini ini yang gak aku suka malah semakin membuatku cemas dan ingin segera pulang."
Sementara Joe yang mendengar itu pun mendekat kearah Radika.
"Pak, anda bisa kembali ke Indonesia besok, kendala disini biar saya yang urus semuanya. Saya masih bisa menghandlenya!"
Radika pun mempertimbangkan perkataan Joe. "kamu tidak apa? bisa mengurus semua ini?!"
"Saya bisa pak, selagi menunggu mencari calon direktur baru, saya masih mampu pak Dika."
Radika tersenyum bangga,"Kamu memang bisa di andalkan, jangan kecewakan aku Joe."
Joe membungkuk menandakan dia merasa dihargai oleh atasannya.
Radika kembali mengirim kabar kepada Farel agar menyiapkan penerbangan pulang untuknya besok.
Setelah melihat itu, Farel mengurus semuanya supaya tidak membuat atasannya menunggu.
......................
Keesokan paginya pukul 4, Ayesha masih tertidur pulas di kamar inapnya. Kemudian pintu kamar terbuka sosok Radika baru saja sampai dan langsung menuju rumah sakit.
Bibi terbangun mendengar derap langkah kaki Radika. "Aden kok udah pulang?!"
"Bibi kenapa tidak mengabari saya?!"
"Sama mbak Ayesha bilang gak usah den jadi saya ya gak kabarin Aden."
"Huft, ya sudah bibi tidurlah kembali, biar saya yang jaga Ayesha."
Bibi menganggu dan menuruti perintah Radika. Laki itu, mendudukan diri di kursi dekat brankar istrinya.
"Kamu itu nakal banget Sayang! Tapi aku sayang banget ke kamu!" lalu Radika mengecup kening Ayesha penuh cinta.
Matahari terbit menunjukkan jati dirinya. Sinarnya menerobos masuk melalui sela gorden yang masih menutupi jendela kamar. Ayesha mengerjapkan matanya perlahan.
"Emmm..."lenguhnya, kemudian matanya terbuka perlahan tersadar seseorang sedang menggenggam tangan kanannya.
"Abi?!"
"Kapan dia pulang!?"
"Selalu saja kamu memaksakan diri." gumam Ayesha sambil mengusap kepala suaminya.
__ADS_1
Tak mau membuat Radika terbangun Ayesha menhentikan usapan tangannya.