Terjebak Wajah Tampan Billioner

Terjebak Wajah Tampan Billioner
Bab 11


__ADS_3

Mama Viani baru sampai dirumah bersamaan dengan Bibi Weni yang membawa belanjaan tadi ke dapur. Mama Viani menjatuhkan tubuhnya ke sofa karena sangat lelah berkeliling pasar sambil berdesakan dengan banyak orang. Mama Viani bukan tipe orang kaya yang membeli bahan berkualitas tinggi harus dibeli di supermarket yang telah dipacking dengan rapi juga higenis. Di pasar tak kalah berkualitas jika kita sebagai pembeli pintar dalam memilih bahannya. Ditambah harga lebih murah bahan yanv didapat lebih banyak sehingga tidak perlu bolak-balik ke pasar untuk mengisi stock bahan kosong.


Mama Viani termasuk orang yang terorgainisir semua serba rapi dan bersih terutama dapur dan setiap kamar. Oleh karena itu, teman atau klien dari suaminya datang berkunjung untuk sekedar bertamu selalu memuji tatanan rumah dan kebersiahan. Ya bisa disimpulkan kalo Mama Viani ini orang yang gila kebersihan.


"Tolong ya bi, kayak biasanya ditata rapi dan bersih saya mau mandi lagi, gerah ini!" kata Mama Viani.


"Siap buk, " jawab Bibi Weni, Bibi sendiri yang sudah lama kerja disini jadi terbiasa dengan semua ini, apalagi dia orang yang telaten.


Di kamar Mama Viani tidak menemukan suaminya. Kalo malam papa Beni sering bersandar dipunggung kasur sambil menonton siaran berita daripada memilih menonton TV di ruang keluarga. Alasannya karena jika dia di ruang keluarga bawaanya mesti kesepian dan butuh pelukan manja dari sang istri tercinta dan tersayang.


"Kemana Papa? huh...mesti di ruang kerjanya lagi! Gak ada capeknya tuh orang!" gerutu Mama Viani tampak kesal. Papa Beni itu ndedel orangnya atau susah dibilangi, nanti kalau penyakit tuanya kumat maka mama Viani yang bakal kelimpungan dan repot karena ober manja sang suami.


Mama Viani memilih untuk mandi sambil berendam air hangat. Usai mandi dia memakai baju tidur kesayangannya yang diusianya mencapai 40 tahun badannya masih terlihat segar bugar makanya, Papa Beni keseringan cemburu melihat istrinya banyak berinteraksi dengan kaum adam. Apalagi Mama Viani rajin melakukan pola hidup sehat dan suka sekali melakukan konseling dengan Ahli gizi. Dengan begitu, semua jadi teratur dan terjaga.


"Papa, Mama masuk ya!" Mama Viani masuk kedalam ruang kerja suaminya.


"Honey, kamu udah pulang rupanya, tadi dipasar gak ada yang gangguin kamu kan Honey?!" Papa Beni menarik tangan istrinya hingga terjatuh dipangkuannya.


"Ish, kumat kan kumat..." Papa Beni terkikik, istrinya tahu kebiasaannya saat melihat tubuh indahnya.


"Dasar pelit kamu itu!" ujar Papa Beni sambil mengerucut sebal.


Mama Viani menatap malas suaminya,"Plis udah tua sadar diri dong, gak ada lucunya sama sekali. Gak kayak dulu!" Mama Viani ingin mencandai suami manjanya.


"Jangan gitulah Hon, kamu gak ada kasihannya sama aku!"

__ADS_1


"Iya deh iya, sini suamiku sayang yang manjanya kebangetan! Oh ya By, tadi pas di pasar kan tas belanjaannya mama jatuh jadi berserakan terus ada perempuan cantik dan baik bantuan Mama Pa. Dia katanya sudah kerja dan Mama lupa tanya namanya! Makanya pas mama kasih uang dia gak menerima itu malah ditolak, nolaknya juga sooan dan ramah, Mama suka pa. Andai ya pa,"


Papa Beni yang masih mendengarkan menaiklak alis sebelahnya istrinya tidak melanjutkan ceritanya, dia pun menoleh kebawah dan ternyata istrinya tertidur dipelukkannya."Ealah ketiduran rupanya kamu Hon! Ya sudah mari kita tidur sudab malam!" Papa Beni mengangkat tubuh Mama Viani untuk pergi ke kamar mereka.


Sementara Radika baru saja pulang kerja. Tidak sukanya dia saat pulang ya begini. Rumah sebesar kastel tapi terkesan sepi tak berpenghuni. Mending Radika memilih di Apartnya saja. Dia pun berencana akan kembali kesana sebab jarak dari sini ke kantor itu lumayan jauh sekali.


......................


Sementara di rumah Keluarga Bapak Jordi, semuanya sedang berkumpul dikamar orang tua mereka. Ayesha dan Anesha memilih menghabiskan waktu dikamar bersama ibu dan bapak mereka. Akan tetapi, Ibu Raina tiba-tiba berceletuk. " Tadi pas di warung salah satu rekan kerja ibu anaknya ada yang hamil diluar nikah, padahal yang ibu liat temannya ibu itu didiknya tegas dan disiplin tapi anaknya begitu. Ibu jadi kasihan sekali!"


"Mungkin Anak teman ibu pergaulannya bebas kali, jadi temannya ibu tidak bisa selalu mengawasi anaknya itu." kata Anesha bersuara


"Emm.. Emang anaknya umur berapa bu?" tanya Ayesha, dia sendiri sudah dilanda kegugupan.dan tangannya berkeringat dingin.


"Kayaknya sih seumuran kayak kamu dek, Ibu bersyukur anak-anak ibu bisa menjaga diri dengan baik, tidak neko-neko, pintar memilih pergaulan. Dunia boleh semakin canggih tapi dibalik itu semua Dunia juga tidak baik-baik saja. Ibu berharap kalian anak-anak ibu bisa sukses dan bisa membangun keluarga yang lebih baik dari ibu dan bapak ya nak!" Ibu Raina mengusap sayang puncak kepala kedua anaknya, Ayesha sendiri rasanya ingin menangis dan meminta maaf kepada semua keluarganya.


"Tuhan maafkan aku yang tidak becus menjadi anak ibu, maafkan aku bila mengecewakan semuanya. Tuhan, bantu aku untuk membahagiakan keluargaku, buat mereka tersenyum dan selalu tersenyum bahagia karena aku sendiri sudah tidak yakin bisa membahagiakan apalagi membanggakan diri sebagi anak berbakti. Aku tahu bahwa aku salah Tuhan, namun aku ingin lepas kenapa sesulit ini? Bantu aku Tuhan dari perangkap yang kubuat sendiri! hanya kepada-Mu aku memohon dan meminta segalanya, Tuhan semoga Engkau mengabulkan doa dari Anak yang tidak bisa dibanggakan ini!" Ayesha ingin menangis namu ditahannya. Tenggorakannya tercekat dan kepalnya merasa ingin pecah saat ini juga. Sebisa mungkin ia menahan tangisannya karena masih ada kakaknya, ibu dan bapaknya di kamar ini.


"Ayesha mau ke kamar ya, besok ada kuliah pagi! Malam semua!" Kemudia Ayesha beranjak pergi.


"Iya Dek, malam juga ya!"


Ayesha menutup kamarnya dan melepaskan tangis dalam kesunyiaanya. Entah apa yang Ayesha rasakan, semua terasa sakit sekali. Nafasnya terengah dan sesenggukan karena tangisnya. Tangannya membekap mulutnya agak isakan tangisnya tidam terdengar sampai luar. Hidupnya menjadi rumit sekali sekarang. Dia tidak menyalahkan Radika tapi selalu menyalahkan diri sendiri yang menjadi murahan.


Karena kebanyakan menangis akhirnya Ayesha tertidur dengan wajah yang besok akan membengkak. Ya, dia tidak boleh begini terus dan terjebak selamanya. Ayesha tahu kedepannya akan sulit sekali untuk menahan hasratnya tapi ia akan berusaha secara perlahan-lahan.

__ADS_1


......................


Menjelang pagi, Ayesha yang sudah berangkat ke kampus mendahului jemputan orang suruhan Radika. Dari sini Ayesha bertekad untuk berubah perlahan. Sementara Radika sendiri, menatap pesan WA yang tidak dibalas sejak kemarin. Di telpon pun tidak diangkat,"Kemana kamu Ayesha?!" geramnya marah


Radika meremas ponselnya dan membantingnya ke lantai begitu keras sampai pecah tak berbentuk. Radika menyambar kunci mobilnya dan berniat menyusul ke rumah Ayesha,"Ini tidak bisa dibiarkan, aku harus menghukumnya nanti!"


Di perjalanan Radika terus bergumam," padahal kemarinnya baik-baik saja, tiba-tiba saja dia seperti ini, Apa aku berbuat salah sayang?!" semakin tidak sabar Radika menginjak oedal gas agar melaju cepat.


Di depan rumah Ayesha, Radika mengetuk pintu rumah itu. "Assalamualaikum,"


"Waalaikumsalam," Anesha pun membukakan pintu rumahnya.


"Loh, Dika ya? Cari Ayesha kan ya?!"


Radika mengangguk, Anesha "Duh anaknya udah berangkat dari tadi katanya ada keperluan dadakan!"


"Oh begitu ya mbak, "


"Emang Ayesha gak bilang ke kamu Dik?"


"Dia belum bilang mbak, mungkin lupa. Ya sudah mbak saya langsung saja ya!" Radika berpamitan dan masuk ke mobil. Amarahnya membuncah, deringan ponsel candangannya berbunyi dan nama Farel tertera dilayar.


"Halo Rel?"


"Pak, anda tidak lupa kan kalo ada meeting jam 8 pagi hari ini pak?"

__ADS_1


Radika hampir lupa,"Tidak kok, saya otw kesana ini!" Radika langsung mematikan sambungan telponnya.


"Andai tidak ada meeting, sudah kuburu kamu Ayesha!" geramnya tertahan.


__ADS_2