
Sesampainya di rumah Ibu dan bapak, rumah memang akan kosong tidak ada orang di jam seperti ini. Mereka akan sibuk dengan rutinitas masing-masing. Ayesha pun turun dari mobil disusul Radika dibelakangnya.
"Sepi kayaknya gak ada orang," celetuk Radika
"Iya gak ada orang ini. Aku lihat kunci rumahnya dulu." Ayesha mendekati pot bunga lalu mengangkatnya untuk memeriksa apa kunci rumah diletakkan disitu.
"Gak ada Bi, sebentar aku telpon kakak dulu. Masa bapak ditinggal gitu ada." Ayesha menggerutu.
"Halo kak, kakak dimana sekarang? Aku mampir ke rumah sekarang,"
"Halo Dek, kakak di RS Bakti tadi malam bapak nge drop dek."
Deg
Ayesha membisu, tidak ada yang mengabari berita mendesak seperti ini kepadanya. Ayesha seharusnya juga tahu lebih awal berita yang mengenai kondisi bapaknya.
"Ya udah aku langsung kesana aja." dia langsung mematikan telponnya.
"Kenapa Yang?!"
"Bapak drop, sekarang ada di RS Bakti." ucap Ayesha terlihat panik sendiri.
"Ayo Sayang kita susul kesana." Radika dan Ayesha masuk ke mobil dan pergi dari halaman rumah.
Radika sedikit menaikkan kecepatan mobilnya. Istrinya sangat khawatir sekali akan hal ini sambil menggigiti kukunya.
Mobil mereka masuk di lobi RS Bakti, Ayesha turun dari mobil tanpa menunggu suaminya. Berlari masuk tanpa peduli pandangan orang lain yang menatap aneh kearahnya. Lari mendekati meja pegawai rumah sakit yang bertugas untuk membantu keluarga pasien mencari ruang inap yang dituju.
"Mbak pasien atas nama Jordi Dwi Ferdinant. Ruangan berapa mbak?" tanyanya
"sebentar ya Mbak, saya bantu cari dulu." tak lama kemudian,"ruang inap 763 di lantai 3 mbak."
"Terimakasih," Ayesha menuju lift dan sampai dilantai 5, dia bergegas mencarinya.
Setelah menemukan, Ayesha mengetuk pintu dan masuk kedalam. Ternyata ini ruang inap kelas 3 yang Ayesha kira hanya bapaknya sendiri disini sebagai pasien namun rupanya untuk 3 orang pasien.
Bangsal bapak Jordi berada paling ujung sana. Ayesha merasa miris melihat ini. Dia sendiri yang tidak tahu apa-apa. Kondisi bapak sangat memprihatinkan sebuah alat bantu oksigen, suara seperti orang mengorok disaat tidur yang mungkin bisa mengganggu pasien satu ruangan ini.
__ADS_1
"Dek, kamu cepet banget datangnya?!" Ayesha membalikkan badannya sosok kakaknya baru terlihat yang sepertinya baru saja keluar entah darimana.
"Kak, ceritakan gimana kejadiannya kok bisa sampai bapak kayak begini?!"
"Subuh kemarin, ibu berteriak kencang memanggil namaku, aku yang tidur langsung terkejut dan lompat dari kasur terus mendatangi kamar Ibu. Bapak saat itu sudah dalam keadaan gak sadar diri dengan mulut terbuka, bahkan kakinya juga dingin. Kakak syok sampai bingung harus gimana, Ibu juga menangis sambil memanggil nama bapak. Kakak menelpon ambulance begitu tersadar. " Ungkap Anesha menceritakan kejadian bapak Jordi bisa drop.
"Lalu?"
"Di perjalanan, bapak sempat diajak mengobrol dengan ibu dan juga tersenyum tipis. Tapi, tiba di UGD bapak kejang lagi dan ditindak cepat oleh dokter dan perawat."
Ayesha memandangi wajah bapaknya,"Kak, mulut bapak kok bisa menganga gitu? juga kenapa mengorok kayak orang tidur?"
"Entahlah dek, lidah bapak seperti mengering gitu dan melipat ke depan, katanya sih kalo suaranya ada lendir gitu di tenggorokkannya."
"Sekarang kondisi bapak gimana? Udah membaik kan?" tanya Ayesha senantiasa memijat kaki sampai telapak kaki bapak Jordi yang dingin dan kaku sekali.
"Bapak seperti ada penyumbatan di otaknya dan stroke bapak datang lagi." Ayesha ingin mengeluarkan air mata sebisa mungkin dia tahan.
"Dek kamu kesini sama siapa? Sendirian?!"
"Astaga Kak! Suamiku!" Ayesha baru sadar meninggalkan Radika seorang diri, dia terlanjur khawatir tadi.
"Gimana kondisi bapak? Membaik?"
Ayesha membeku, dia menghampiri suaminya itu dan memeluk erat agar suara isak tangisnya tertahan.
"Loh kok nangis? " Radika mengusap punggung istrinya agar sedikit menenangkan.
"Bapak kena stroke lagi Bi! Ini yang ketiga kalinya bapak bakal baik-baik aja kan?" Ayesha kembali teringat saat tangannya menyentuh kaki bapak Jordi yang dingin namun bagian tangannya panas sekali membuatnya semakin terisak sedih di dekapan suaminya.
"Sayang, biar aku lihat kondisi bapak dulu ya." Ayesha mengangguk membiarkan suaminya masuk untuk melihat bapak mertuanya.
Anesha berdiri melihat Radika datang."Dik, duduk dulu." ucapnya
"Bapak seperti dalam kondisi parah ya Kak kalo dilihat dari kondisi sekarang."
"Kakak kira juga gitu Dik, semoga saja bapak perlahan membaik dan bisa seperti biasanya. Jaga dokter untuk kembali berbicara normal sih tidak memungkinkan sih." Radika pun memahami situasi ini.
__ADS_1
"Kak, kenapa di ruang inap kelas 3? Bapak bisa terganggu dengan pasien yang lain."
"Kalo ambil kelas 1 ya kita gak mampulah Dik, uang darimana juga? membawa bapak ke Ars aja sudah bersyukur sekali aku Dik!"
"Duh kak, jangan bilang gitu. Aku juga bisa membantu mertuaku Kak. Kakak terlalu sungkan, katakan saja kalo butuh bantuan dengan senang hati aku akan membantu kak."
"Ya gimana ya, gak enak ajalah." Radika menggelengkan kepalanya heran.
"Sudah biar aku urus kamar inap bapak kak, anggap saja ini bentuk perhatian menantunya." Anesha tersenyum senang bila Radika perhatian sekali dengan bapak mertuanya.
......................
Menjelang sore Ayesha dan Radika masih berada di RS Bakti bertepatan dengan ibu Raina yang baru saja pulang kerja.
"Bu, bagaimana kabar ibu?!" Radika menyalami ibu mertuanya
"Alhamdulillah ibu baik Dik, " Raina balas juluran salam dari menantunya.
"Maaf ya bu, aku dan Ayesha sudah lama tidak berkunjung."
"Aduhh Dika, ibu itu tahu kamu juga sibuk dan padat sekali jadwal meeting atau apa itu. Kamu pemimpin perusahaan banyak hidup karyawan yang bergantung dengan kamu. Ibu bisa memaklumi itu." Radika tersenyum tipis bersyukur mertuanya bisa mengerti kesibukannya.
"Terimakasih bu," Ibu Raina balas tersenyum.
Ibu Raina menghampiri bangsal suaminya yang tak sadarkan diri itu. "Bapak udah mandi belum Nes?!"
"Sudah bu, tadi aku seka sama gantikan baju dibantu Yesha."
"Bagus kalo gitu, nih ibu bawakan pakaian ganti buat kamu Nes, sana ganti dulu. Oh ya udah makan belum kalian?!" tanya ibu Raina sambil melirik ke kedua anaknya.
"Belum masih bu, gak nafsu makan masih." jawab Ayesha
"Ayo makan bersama aja, ibu bawa lalapan tahu tempe sama telur. Dek ajak sekalian suamimu itu, kasian lapar!"
"Sebentar bu," Ayesha pun mendatangi suaminya yang sedang menelpon.
"Abi, Ayo makan dulu, kita belum makan dari tadi. Ibu bawa makan."
__ADS_1
Radika mematikan telponnya dan berbalik badan."Iya Sayang ayo."
Mereka berkumpul dibawah dengan beralas tikar di lantai dengan nasi bungkus lalapan. Radika menatap satu per satu keluarga itu, memang dia tidak pernah makan sederhana seperti ini. Mereka yang makan apa adanya itu melatih rasa syukur mereka atas apa yang mereka miliki. Radika merasa dirinya masih kurang bersyukur sebab dia terkadang masih menggerutu bahkan mengeluh karena makanan yang disiapkan untuknya tidak sesuai keinginannya.