Terjebak Wajah Tampan Billioner

Terjebak Wajah Tampan Billioner
Bab 60


__ADS_3

Selama seminggu ini, mereka mendatangi tempat - tempat menarik dan indah, mengabadikan dengan foto bersama, menikmati jajanan khas daerah sekitar menjadi pengalaman baru untuk Ayesha. Begitu pulang dari Swiss, Ayesha tanpa sadar membeli banyak oleh-oleh untuk mertuanya dan keluarganya.


"Bagaimana capek banget?!" tanya Radika


"Yah sudah gak seberapa capek, badanku sudah bisa beradaptasi."


"Syukurlah kalo gitu, oleh-oleh untuk ibu dan mama biar Farel aja yang antarkan."


"Jangan bi, gak sopan dong ke mama."


"Gak sopan bagaimana Sayang?!"


"Ya masa Farel yang nganter, nanti apa kata mama harusnya aku yang kasih sendiri ke mama bukan orang lain. Besok aja aku ke rumah mama sekalian ajak Cabi ketemu neneknya."


karena Ayesha sudah memutuskan maka Radika menurut saja."Baiklah nanti supir akan mengantarkan kamu, karena abi ada kepentingan."


"Iya abi,"


Keesokan harinya Ayesha sudah bersiap akan berangkat ke rumah Mama Viani. "Abi aku ke rumah mama dulu ya!"


"Iya hati-hati, kamu sudah makan kan?!"


"Sudah kok tadi setelah mandikan Cabi aku minfa bibik jaga abi."


"Kamu juga hati-hati, assalamualaikum..."


"Waalaikumsalaam."


Setibanya di rumah Mama Viani, seorang pelayan menyambutnya didepan pintu.


"Selamat datang mbak Ayesha, "


"Mama ada bik?"


"Ada kok mbak lagi nonton televisi, mari masuk mbak!"


Ayesha masuk dan terlihat Mama Viani sedang fokus melihat televisi seorang diri.


"Assalamualaikum Ma,"


Mama Viani menoleh dan terkejut,"Waalaikumsalam loh Ayesha datang sama siapa kesini?!"


"Sendirian ma, Radika lagi ada kerjaan"


"Haduh anak itu kapan gak ada kerjaan? Pasti dia tiap harinya selalu ada. Mamanya sendiri jarang dijenguk. Suka kesel Mama tuh, sudah tua harusnya sering dijenguk, dilihat kondisinya, Radika malah dalam sebulan pun gak sampai 3 kali."


Anak semata wayangnya itu, sejak dulu memang suka sekali.menyibukkan diri dengan pekerjaannya sampai melupakan menjenguk kedua orang tuanya.


"Ya gimana lagi ya ma, Ayesha sendiri ngelihat Radika pulang kerja letih jadi kasian. "


"Iya sih tapi ya sudahlah, Mama gak mau bahas itu. Jadi kamu diantat supir kesini?"


Ayesha mengangguk,"Iya ma, sama kasih oleh- oleh dari Swiss minggu kemarin."


Mama Viani tampak bingung, " Kalian habis liburan ke Swiss?"


"Iya ma, memang Radika tidak bilang kalo mau liburan?"


"Mana ada anak itu bilang! Makin menjadi-jadi itu anak!"

__ADS_1


Entah Ayesha harus menjawab bagaimana, dia memilih diam.


"Oh iya Dante cucu oma sehat selalu kan Yesha?"


Ayesha menjawab dengan suara seperti anak kecil yang terkesan imut dan lucu"Dante sehat kok oma, oma tenang aja ya!"


"Alhamdulillah cucu oma tersayang!" Mama Viani mengecup pipi Dante, bayi yang asik mengemut ibu jarinya seakan tidak mempedulikan apa yang kedua orang dewasa itu bicarakan.


" Ayesha, kamu dan Radika tidak pernah tidur disini sama sekali, bagaimana jika malan ini kamu menginap disini?"


Karena ajakan mendadak, mengharuskan Ayesha meminta izin terlebih dahulu kepada Radika."Ayesha tanyakan dulu ke Radika ya Mama,"


Ekspresi wajah Mama Viani sedikit mengendur," baiklah, coba kamu tanyakan ke suamimu itu!"


Ayesha mencoba menghubungi Radika, panggilan pertama tidak terjawab hingga sampai tiga kali percobaan sama sekali tidak ada jawaban.


"Emm...mungkin Radika masih sibuk kali ya ma?"


"Mungkin saja Sha, di jam segini sih cenderung banyak meeting. Ya sudah, kamu hubungi dia nanti atau gak biar Dante menginap disini saja, kamu bisa pulang."


Ini pertama kalinya Ayesha berpisah dengan anaknya bila Dante benar-benar menginap disini. Ada sedikit perasaan tidak rela namun Ayesha juga tidak enak menolak permintaan Mama Viani sebab tidak ada alasan baginya untuk tidak memperbolehkan Dante menginap.


"Kamu tidak izin pun sebenarnya tidak masalah Ayesha!"


Ayesha ragu tapi dia harus meminta izin kepada suaminya apapun itu."Ayesha tetap harus izin kalo mau menginap Ma, "


"Huftt... Kirimkan dia pesan saja, nanti biar supir yang akan mengantarkan pakaianmu dan Dante."


Ayesha mengangguk patuh.


Radika sengaja tidak membawa ponselnya karena siang ini jadwal yang harus ia lakukan begitu padat dan memusingkan.


"Farel apa masih ada meeting lagi?"


"Baiklah aku mau istirahat jangan biarkan orang mengangguku. Kepalaku agak pusing."


"Saya akan membelikan obat pereda pusing untuk pak Radika."


"Baiklah pergilah." Radika masuk ke ruangannya lalu menjatuhkan tubuhnya keatas sofa empuk.


Lengannya menutupi kedua matanya untuk menghalangi cahaya agar tidak menyilaukan matanya.


Tok...toi...rok...


"permisi pak, saya sudah bawakan obat untuk pak Radika dan juga maka siang pak Radika."


"Baik terimakasih Rel kamu boleh pergi."


Begitu Farel keluar melihat wajah pucat bosnya, akhirnya dia berniat menghubungi istri bosnya.


"Assalamualaikum mbak Ayesha,"


"Waalaikumsalam Farel, ada apa Rel?"


"Begini mbak sepertinya pak Radika sedang sakit, wajahnya pucat, bisakah mbak Ayesha ke kantor sekarang?"


Mendadak Ayesha jadi khawatir dengan kondisi suaminya, ada firasat dihatinya pagi tadi karena suaminya ketika berangkat kerja tidak terlalu semangat dan terlihat lesu sekali.


"Ada apa Ayesha?" tanya Mama Viani ikut penasaran melihat wajah cemas Ayesha.

__ADS_1


"Ma Radika kayaknya sakit, aku harus ke kantornya sekarang. Jika mama tidak keberatan bisakah Ayesha titip Dante dulu?"


Mama Viani merasa situasi sedang tidak baik-baik saja maka lebih baik dia saja yang menjaga Dante.


"Kamu pergilah, Dante biar disini saja. Takutnya kamu malah kelimpungan sendiri nanti."


Ayesha mengangguk sopan, "baiklah Ma, aku pergi dulu kalo begitu"


Sebelum pergi Ayesha menyempatkan diri untuk berpamitan dengan anaknya."Mama pergi sebentar ya, jangan rewel ya. Baik-baik sama Oma." lalu mengecup pipi gembul Dante.


Diperjalanan Ayesha juga mampir untuk membelikan obat pereda pusing dan beberapa obat yang dibutuhkan. Tiba di kantor ternyata Farel sudah menantikan kedatangan Ayesha di lobi.


"Bagaimana kondisi suamiku Rel?"


"Tadi saya sudah membelika bubue dan obat, tapi saya tidak yakin pak Radika meminumnya atau membiarkannya saja lalu ditinggal tidur."


"Sepertinya kamu tahu betul kebiasaa buruk suamiku saat sakit ya Farel," canda Ayesha sambil melangkah beriringan dengan Farel.


"Saya hafal betul mbak Yesha. Pak Radika susah sekali dinasehati kalo dalam kondisi sakit. Saya dibuat bingung harus bagaimana."


"Kamu tenang aja Farel, sekarang kan ada saya jadi kamu kamu gak perlu bingung lagi."


"Sepertinya begitu, berkat mbak Ayesha stok kesabaran saya tidak terkuras habis."


"Haha...ada-ada aja kamu Farel!"


Ayesha membuka pintu ruang kerja Radika.


"Farel sudah aku bilang kalau aku tidak mau diganggu."


"Abi..." suara lembut Ayesha membuat Radika seketika matanya jadi berkaca-kaca.


"Sayang...." ujar Radika dengan merengek seperti bayi.


"Aku sudah firasat sih sejak pagi muka kamu terlihat pucat rupanya beneran sakit." Ayesha berjalan mendekat lalu merangkul suaminya sambil mengusap kepalanya berharap sedikit menghilangkan rasa pusing itu.


"Aku rasanya pengen muntah dan mual jadi gak selera makan Sayang!" Radika menelengkupkan wajahnya di dada istrinya.


"Lebih baik kamu istirahat aja dulu ya, mungkin kamu masuk angin sama kecapekan setelah pulang liburan minggu kemarin." penuh telaten Ayesha menenangkan Radika yang kian menjadi bayi besar saat ia sakit.


"Pulang aja ya?" tawar Ayesha agar suaminya lebih leluasa untuk beristirahat.


"Emm... Nanti tidurnya peluknya," ucap Radika dengan suara paraunya.


"Ya udah, aku beresin meja kerjamu dulu."


Radika melepaskan rangkulannya, Ayesha pun merapikan kembali meja kerja Radika dan meraih tas kantor dan kunci mobil milik suaminya.


"Ayo kita pulang Abi," Ayesha menuntun suaminya perlahan, suhu tubuh yang terasa panas dikulitnya menurut Ayesha suaminya terkena demam.


"Pak Radika mau pulang mbak Yesha?" melihat Ayesha dan Radika keluar dari ruangan Farel beranjak dari duduknya.


"Iya Farel, hari ini titip kantor ya. Kalo suamiku tetap disini kamu malah dibikin repot."


Farel mengangguk paham,"Baik Mbak Yesha, mau saya antar bu?"


Ayesha menggeleng,"Tidak perlu, kamu lanjutkan saja kerjanya. Jangan lupa makan agar tidak sakit. Suamiku dan kantor ini masih membutuhkan jasamu." candanya


"Mbak bisa aja, ya sudab kalo gitu mbak. Hati-hati dijalan." Ayesha hanya menjawab dengan anggukan saja.

__ADS_1


Di parkiran mobil Ayesha membantu suaminya untuk duduk dan memasangkan sabuk pengaman. Ayesha memutuskan untuk menyetir mobil sendiri meskipun tidak lancar setidaknya dia bisa.


"Sabar ya Abi," gumam Ayesha lalu menjalankan mobilnya meninggalkan perusahaan.


__ADS_2