Terjebak Wajah Tampan Billioner

Terjebak Wajah Tampan Billioner
Bab 22


__ADS_3

Di pagi yang cerah Ayesha memimpikan dimana dirinya dan Radika disebuah rumah besar sedang bercanda tawa diiringi senyum lebar di wajah.


Lalu, seolah waktu berjalan dengan cepat dari kejauhan suara panggilan khas seorang anak kecil memanggil namanya dengan sebutan bunda. Ayesha tersenyum indah dimimpi itu. Ia pun berbalutkan dress berwarna merah muda dan rambut sependek bahu tergerai cantik berterbangan.


"Ayesha!!!" panggil ibu Raina diluar kamar.


pyarr...


Ayesha terbangun paksa dari mimpi indahnya karena panggilan ibunya menggelegarkan seisi rumah.


"Kenapa kamu belum bangun dek!! gak kuliah kamu?!" tanya ibu Raina membuka pintu kamar Ayesha.


Ibu Raina melihat ananknya sedang mengumpulkan nyawanya yang masih melayang-layang di alam mimpi. Ayesha tengah meraih satu persatu nyawanya agar tersadar.


"Iya ini bu, Ayesha udah bangun!"


kening ibu Raina mengkerut," bangun gimana kamu itu, orang matanya masih merem gitu namanya bukan bangun."


"Maksud Ayesha udah bangun dari tidurnya, tunggu sebentar Ayesha masih ngumpulin nyawa." jawabnya, ibunya hanya bisa menggeleng melihat tingkah aneh anaknya itu.


Posisi Ayesha yang duduk, mata tengah berusaha terbuka. Ibu Raina mendudukkan dirinya dipinggiran kasur menatap anaknya.


"Kamu nanti gimana ceritanya kalo sudah hadi istri dan seorang ibu, masa mau gini terus? gih sana mandi dek!" perintah ibunya, Ayesha mengangguk sambil menurunkan kakinya.


Tak sengaja matanya menangkap sebuah cincin berada dijemari tangan Ayesha."dek itu di jari kamu cincin darimana? Kamu beli ya? Kok gak bilang ke ibu sih?!"


"Bukan bu! Ayesha gak mungkin bisa beli cincin kayak gini! Tadi malem Ayesha dipersunting sama Radika" Ayesha menjawabnya santai membuat ibu Raina melotot tak percaya.


"Apa!! Dek! bangun kamu ," ibu Raina menepuk-nepuk kedua pipi itu agar segera sadar.


"Dek bangun kamu itu!!" karena tidak sabar butuh penjelasan dari ucapan anaknya ibu Raina melancarkan aksi gigitan semut mautnya.


"AAWWW!!! IBUUUU SAKITTT!" saking kencangnya membuat Anesha yang akan berangkat kerja mengurungkan niatnya untuk naik ke motor.


"Kenapa lagi sih sama adek itu! Kah bikin khawatir aja!" gerutu Anesha berjalan cepat masuk rumah.

__ADS_1


"Bu Dek, ada apa sih?!" seru Anesha


"Nes, adekmu itu loh, masa bercandanya bikin ibu mau dikirim ke akhirat! Yang bener aja sih!" adu ibu Raina pada Anesha. Anesha masih bingung dengan apa yang terjadi sebenarnya.


"Dek kamu itu ngomong apalagi ? Jangan bikin gaduh cepat berangkat kuliah!" tegur Anesha


"Loh emang aku salah apa sih? Orang aku jawab pertanyaan ibu, gak ada yang salah dari jawabanku!" Ayesha membela diri.


"Ibu emang tanya apa?"


ibu Raina menyahuti," Itu dijari adek kamu ada cincin," Anesha semakin terheran


"Lah terus masalahnya apa bu? Kan cuma cincin! Masa ibu kayak yang gak tahu apa itu cincin!"


"Kamu itu juga Nes! Masalahnya itu cincin katanya dapat dari orang yang mempersuntingnya!"


Gantian dengan Anesha yang melotot tidak percaya. Buru-buru dia mendekat untuk mengecek jemari Ayesha.


"Dek kamu gak mencurikan?! Ini mahal dek!"


"Aku serius ini dari Radika. Kemarin malam dia mempersuntingku!" seru Ayesha kembali


"Sungguh?!" ragu Anesha


"Sungguh....bahkan sangat amat bersungguh-sungguh!" Ayesha dengan wajah penuh keyakinan.


Ibu Raina dan Anesha menelisik ekspresi Ayesha dan benar adanya tidak ada tipu-menipu.


"Tapi Kak, kamu gak berangkat kerja?!" Anesha kelupaan dengan yang satu itu.


"Sebentar, kakak biar minta izin terlambat dulu!" Anesha mengetikkan sesuatu diponselnya pada pihak berkepentingan.


"Dah sekarang jelasin ke kakak sama ibu gimana ceritanya kamu dilamar sama Radika!"


Ayesha menghela nafas pasrah. Tadinya ia dipaksa untuk segera mandi dan berangkat kuliah. Lah ini, kenapa bisa mereka mudah teralihkan dengan sebuah cincin?! Ayesha pun menceritakan awal mula dia jalan-jalan sambil makan bakso, minum boba, dan lainnya sampai mereka berhenti disebuah taman.

__ADS_1


"Tapi apa ibu dan kakak setuju dengan keputusanku?!"


"Kalo ibu sebenarnya mau kamu lulus kuliah dapat kerjaan baru nikah." ujar ibu Raina berpendapat.


Ganti Anesha,"Kakak sih maunya juga gitu, kamu tahu kan membangun sebuah rumah tangga itu tidak semudah itu. Masih banyak masalah yang kamu hadapi. Juga, apa kamu bisa membagi cara pikir kamu dan fokusmu untuk kesibukan kuliah dan rumah tangga nanti? ditambah, banyak kasus pemceraian muda, hamil muda anak dibunuh orang tuanya sendiri, bahkan hamil saat usai melahirkan. Kakak jadi khawatir memikirkan itu. "


Ayesha tahu itu, meskipun ia belum benar-benar melewatinya, Ayesha juga tidak tahu kedepannya apakah dia kuat menghadapi masalahnya nanti. Ataukah mungkin ada penganggu diruamh tangganya nanti. Ayesha ingin percaya dengan Radika bahwa laki itu bisa menuntutnya, aku bisa membantu membenarkan yang salah dan sebaliknya. Ayesha tetap ingin mencoba.


"Aku pasti bisa kak bu, kami berdua sudah membahas itu. Selama kami dekat bahkan saat kami bertengkar kami berhasil melalui itu semua. Setidaknya kami pernah bertengkar dan bisa mengatasinya."


Ibu Raina menengok kearah Anesha, mereka bisa apa sekarang."Baiklah, kamu yang menjalani hidupmu sendiri Ayesha. Kamu berhak memilih dan dipilih. Ibu berpesan agar kamu tidak mudah mundur dan menyerah dengan keaadan yang tidak menguntungkan kamu atau berpihak pada kamu. Mengerti?"


Ayesha mengangguk mantap. Anesha memilih diam.


......................


Hingga hari berjalan sangat cepat. Radika mengabari Ayesha bahwa orang tuanya akan datang malam ini ke rumahnya. Ayesha langsung mengabari kakak dan ibunya. Tentu saja, respon keduanya kaget dan bertanya kenapa begitu mendadak.


Flashback on


Radika kemarin malam pun langsung mengatakan pada papa dan mamanya bahwa ia sudah mempersunting seorang wanita untuk ia jadikan calon istrinya.


Respon papa dan mama Radika amat bahagia. Akhirnya yang mereka tunggu-tunggu terwujud juga. Anak laki mereka akan menikah dan mereka akan menggendong cucu impian mereka. Orang tua Radika terkekeh membiarkan Radika heran akan respon keduanya.


"Kalau begitu besok malam kita datang ke rumah calon istri kamu ya!" seru mama Viani


"Iya Dik, besok kita kesana dan membicarakan kelanjutannya!" imbuh papa Beni


"Ma Pa, jangan besok itu terlalu mendadak, mereka juga akan merasa begitu." ujarnya


"Mereka tidak perlu repot-repot Nak, mama sangat tidak sabar mengobrolkan hal ini."


"Sudahlah Dik, kayakan pada keluarga calon istrimu agar tidak perlu menyajikan apapun."


Radika menghela nafas sama halnya dengan Ayesha dia hanya bisa pasrah.

__ADS_1


__ADS_2