
Ayesha sudah cukup puas telah menghabiskan 2 hari lamanya bersama dengan sang ibu yang sampai mengambil jatah cuti. Ayesha dan Radika membawa berkesempatan membawa ibu Raina pergi ke mall untuk membeli beberapa barang dan pakaian yang belum pernah bisa Ayesha lakukan.
Radika pun membiarkan keduanya bersenang-senang, dia pun tak ingin menganggu sama sekali. Kesana kemari Radika terus mengikuti ibu dan anak itu. Ayesha juga mengajak Ibu Raina perawatan wajah agar terlihat muda kembali hingga malam hari.
Sekarang di dalam kamar Radika melihat sang istri sibuk senyam-senyum sendiri sambil mencermati foto-fotonya bersama sang ibu.
"Abi senang kamu bisa tersenyum seperti ini. " ujar Radika mengusap puncak kepala Ayesha.
"Iya abi, makasih ya sudah mau meluangkan waktu buat aku dan ibu." direngkuhnya tubuh Radika dengan erat.
"Hal seperti ini bukan apa-apa buat abi Sayang, bahkan abi bisa lebih dari ini. Kamu mau apa hmm? Biar abi belikan sekarang juga!"
Ayesha mendongakkan kepalanya melihat wajah suaminya yang seaakan sedang mempamerkan kekayaan di depan istri." Bener nih? Nanti aku minta ini itu kamu masih pikir panjang."
"Loh...loh...abi kerja buat memenuhi apa yang kamu mau Sayang, jadi semua yang kamu minta pasti bisa abi kabulkan."
"Serius nih? Gak tipu kan ya?!" Ayesha masih menampakkan wajah tidak yakinnya.
"Heem dua rius malahan."
"Oke! Kalo gitu belikan aku villa di negara maldive sana!" seru Ayesha tersenyum lebar
"Villa? Kamu mau babymoon sayang?"
Ayesha terdiam sejenak," Emm sebenernya ya mau sih cuma ini kan kehamilanku masih awal trimester takut ada apa-apa sama bayi kita"
"Ya sudah nanti kalau sudah cukup kuat kita babymoon ya. Abi bakal belikan villa yang bagus buat babymoon nanti."
Senyum Ayesha semakin mengembang dan reflek mengecup bibir Radika berulang kali.
Radika sendiri langsung tersenyum puas. Belakangan ini, mereka juga jarang bermain panas.
"Kamu ya, kalo gini sukanya nyosor melulu Sayang. Coba kalau abi minta mesti ogah-ogahan." Radika menggerutu
"Abiiiii, ini karena bayi kita lagi gak mau main jadi maklumi aja." kata Ayesha yang masih asyik menempel di dada Radika.
Lalu kegiatannya terjeda dan tiba-tiba menatapi Radika dengan tatapan mencurigakan."Apa...jangan-jangan kamu jajan diluar ya!!!"
"Mana ada!!!" sontak Radika mengeraskan suaranya.
"Ih bentak aku lagi!" Ayesha jadi dibuat kesal
"Ya kamu sih Yang, bicaranya gak disaring dulu." gumam Radika dengan bibir mengerucut tajam.
__ADS_1
"Iya dah iya aku minta maaf," sesal Ayesha
"Ya sudah sekarang kita tidur." Ayesha hanya mengangguk saja dan mulai memejamkan matanya.
......................
Seperti yang diduga, kehidupan pernikahan yang monoton ini sudah berjalan lumayan lama meskipun belum menyentuh tahun. Setiap harinya terasa menyedihkan bagi Siska dan membosankan bagi Vandi.
Jujur saja, Siska sudah kebingungan harus melakukan apalagi saat ini. Berbagai cara sudah ia lakukan namun tidak membuahkan hasil apapun. Sekelebat pikiran terlintas di kepalanya antara haruskan Siska melanjutkan pernikahan ini? Atau berhentu sampai disini?
Siska tak ingin mengambil keputusan yang membuat dirinya menyesal seumur hidup. Tidak memungkinkan baginya untuk menceritakan permasalahan rumah tangganya ketika orang tuanya dan mertua mempunyai hubungan mutualisme.
"Memang, bila pernikahan sudah tidak didasari dengan cinta ditambah hanya aku saja yang berusaha mempertahankan, semua akan jadi sia-sia." ujar Siska, kini dia berada di sebuah cafe kesukaannya saat dulu masa ia kuliah. Matanya mengarah ke jalan raya yang terlihat panas.
"Hai," Siska menoleh ke belakang dan seorang laki-laki tinggi tersenyum lebar kepadanya.
"Kamu siapa?!" tanya Siska
"Tidak mengingatku sama sekali?!" laki-laki itu bertanya balik
"Jawab dulu pertanyaanku baru kamu bertanha, kamu siapa?!"
"Seperti biasa kamu memang wanita yang tidak bisa berbasa-basi ya!"
"Kalo kamu tidak menjawab pertanyaanku, kalo gitu saya permisi."
"Aku Jayden temen SMA mu dulu."
"Wait, maksudmu Jayden si anak bengal itu?!"
"Hei...hei... Aku tidak sekeras kepala itu, juga aku bandel karena suka menjahili mereka." kata Jayden sambil mengambil tempat duduk disebelah Siska
"Kamu bercanda? Mana ada yang seperti itu? Kamu itu memang nakalnya minta ampun, siapa saja akan sangat kesal ke kamu."
"Tapi buktinya ada satu orang yang terlihat menyukai karakterku,"
Siska memutar matanya malas," Hanya orang bodoh sampai harus menyukai karaktermu yang sangat sangat bandel."
"Jangan seperti itu dong, masa sekolah seperti itu tidak akan bisa terulang kembali. Momen yang wajib dinikmati Siska."
Siska termenung, memang benar adanya dulu masa sekolahnya sangat monoton, tidak menyenangkan, Siska hanya mengejar nilai untuk jadi juara umum, sama halnya dengan pernikahannya ini.
"Sudah tidak perlu diingat semua sudah berlalu, jadi sedang apa kamu disini?!"
__ADS_1
"emm...tidak ada sekedar menikmati segelas minuman favorit dan sebuah roti keju. Ini cafe langgananku. Dan kamu sendiri Jayden?"
"Tadi rencananya aku akan membeli banyak roti untuk dibawa ke seseorang."
"Bukannya itu mendesak?!"
"Tidak juga, orang itu tidak tahu aku akan mendatanginya."
"Oh ya sudah kalo gitu."
Keduanya terdiam, bertepatan sebuah mobil yang parkir tepat dihadapan mereka. Mobil itu membuka kaca jendelanya dan terlihat Vandi menoleh kearahnga dengan ekspresi datar.
"Orang itu terlihat aneh tatapannya. Bukankah dia terlihat sedang marah?!" Jayden mengajak Siska berbicara akan tetapi Siska melamun melihat sosok Vandi.
"Hei," Jayden mengoyangkan tubuh Siska.
"Eh ke-kenapa Jay?!" lamunan Siska jadi teralihkan
"Kamu kenal pria itu Sis?!"
"Heem, dia suamiku!"
Jayden terkejut, "What!!!! Are you kidding me?!"
"Heem, aku sudah menikah mungkin baru dapat 3-4 bulanan."
"Kamu tidak mengundangku, jahat sekali!!"
"Ya, saat itu aku sedang tidak mengingatmu. Jadi maafkan aku!"
"Huft lupakan saja!" kedua terdiam kembali
Begitu Vandi yang baru pulang dari kerja dan Siska juga sedaritadi sudah pulang, sekarang dia sedang menyeruput secangkir teh.
"Siapa laki itu?!" celetuk Vandi begitu dia melihat keberadaan istrinya di ruang tamu.
"Bukan siapa-siapa, dia hanya teman SMA ku."
"Hemm, pria itu terlihat tertarik denganmu."
"Aku biasa saja dan menganggapnya sebatas teman lama."
Tidak ada jawaban dari Vandi, Siska mencoba melirik rupanya Vandi sudah menghilang ditempatnya.
__ADS_1
"Bahkan dia tidak cemburu sama sekali. Miris sekali hidupku ini."
Siska tidak kau ambil pusing lebih baik dia meringankan otak dan kepalanya dengan pikiran positif.