
Sekian lama papa Max tidak menelpon mendadak saat dipertengahan rapat ponselnya berdering hingga membuyarkan konsentrasi otaknya untuk memahami penjelasan karyawannya yang berbicara panjang lebar namun tidak menarik simpatik darinya.
Rasanya sungguh membosankan menurut Vandi. Tidak ada hiburan bahkan untuk hiburan saja tidak ada, hidupnya seperti orang yang tergila-gila dengan pekerjaan dan menua bersama tumpukan kertas di mejanya.
"Sudahi saja rapat ini, perbaiki ide kalian yang sangat tidak menarik itu."
Para karyawan didalam ruangan itu hanya bisa pasrah. Atasannya bukan hanya tidak tertarik tapi juga sama sekali tidak melirik.
Batin karyawan, andai saja di dunia ini mencari pekerjaan semudah kita mengedipkan mata mungkin sejak lama mereka mengunduran diri karena ingin merasakan arpesiasi dari atasan sendiri.
"Baik pak," mau tidak mau semua karyawan menatap sendu punggung Vandi.
Di ruangannya Vandi mengangkat sambungan telpon papanya.
"Halo pa, ada apa?" balasnya tanpa basa-basi
"Bagaimana kondisi perusahaan sekarang sudah ada kemajuan?" suara Max yang sangat tajam itu tidak mengendurkan keberaniannya, Vandi berbeda dengan dirinya yang dulu.
"Van..Papa bertanya kenapa kamu malah melamun, dasar tidak sopan kamu!" sarkas max
Vandi memilih diam. Membiarkan papanya itu puas berbicara, Vandi juga rela bila sampai mulutnya mengeluarkan busa yang membuat nyawanya melayang tanpa harus mengotori tangannya sendiri.
"KAMU ITU MEMANG ANAK GAK GUNA YA!! DIMANA ATTITUDEMU VANDI!!!" teriak marah Max dari balik telpon. Jika Vandi bersama papa Max makan habislah dia.
"Perusahaan baik-baik saja pa, tenang saja kekayaan papa tidak akan gulung tikar meskipun hanya rugi satu proyek." usai mengatakan itu Vandi menutup telponnya.
Max sangat terobsesi dengan kekayaan dan meskipun dia sudah menduduki peringkat kedua di dunia namun semua itu bagi Max tidak akan cukup bahkan selamanya akan begitu.
Vandi menghembuskan nafas, dibawah dokrin papanya dia hampir kehilangan kewarasannya dan juga gangguan psikologisnya. Andai saja manusia tidak serakah mungkin dirinya, tidak bukan hanya Vandi saja tapi semua manusia akan bahagia lahir dan batin menerima diri sendiri apa adanya.
"Haruskah aku melepaskan segalanya?!" gumam Vandi lalu memejamkan mata.
__ADS_1
......................
Ayesha dan Radika kembali berdebat kapan dia harus pulang dan kalau bisa secepatanya juga. Sama seperti saat Ayesha keracunan, sungguh dia tidak tahan dengan makanan hambar itu.
Cenderung orang tidak menyukai bau disenfektan di setiap lingkup rumah sakit, beda dengan Ayesha yang suka baunya tercium aroma bersih dan segar. Hanya satu yang membuatnya tak bertahan yaitu makanan hambar resep buatan ahli gizi.
"Kamu itu loh Sayang, belum sembuh total kok minta pulang," Radika memijat keningnya pusing.
"Ya kan perutku udah gak sakit lagi Abi! " Ayesha terus merengek tak mempedulikan suaminya yang pusing dengan tingkah kekanakannya.
"Maag mu sembuh tai typus kamu belum sayang, ini saja belum sampai 4 hari kamu sudah merengek begini, makanya makan yang benar dan teratur! Kalo gini yang salah siapa coba?" berakhir suaminya mengomeli Ayesha yang menundukkan wajahnya.
Pipinya sudah menggembung dengan mata yang berkaca-kaca menahan tangisnya yang sebentar lagi merembes keluar.
Radika tersadar tak ada respon,"sayang?"
Dia pun mendekat lalu mengangkat wajah Ayesha yang kini menangis tertahan dengan air mata mengalir deras.
"Hiks..."
"Hiks... Aku pas itu pe..pengen cepat se...selesai tugasnya, jadikan nanggung gitu loh Bi,"
Radika menghela napas, memang gini ya harus banya sabar ngadepin perempuan yang mudah kebawa hati.
Ia pun melembutkan nada bicaranya berharap istrinya bisa lebih mengerti "Sayang, makan itu penting, kamu kan ngerjakan tugas butuh energi buat mikir kan, seenggaknya makan roti gitu biar kamu gak sakit kayak gini. Kalo diluar juga dari awal abi udah bilangin kamu kalo makan ya hati-hati dilihat mana yang sehat sama enggak. Dari sekarang kamu gak boleh mengulangi ini lagi ya!?"
Ayesha hanya mengangguk. Sontak tangisannya berhenti dan menatap mata suaminya berkedip-kedip.
"Mau apa hmn?" Radika sangat peka dari kode yang dibuat istrinya. Mudah baginya buat menyelami karakter istrinya ini.
"Mau pentol aci pakek sambel pencit boleh?!" tanya Ayesha dengan wajah yang menggemaskan.
__ADS_1
Radika baru saja diam malah istrinya meminta makanan yang tidak boleh dimakannya saat ini.
"Sayang..." Radika berucap seperti seorang ibu memperingati anaknya yang baru saja diomeli kembali membuat kesalahan yang sama.
Perlahan disudut mata istrinya kembali muncul air mata Radika menggeleng menolak keras."yang lain aja ya, ada yang lebih enak dari itu."
"Tapi aku maunya yang itu abi!"
wajah Radika mengusut "Gak biasanya istrinya membangkang ke aku, sekali dibilangi juga diam tapi ini malah menjadi ya," Radika bertanya-tanya.
"Udahlah, apa abi udah gak sayang sama aku lagi!"
Sekarang malahan Ayesha yang mengambek pada Radika. "Bukannya aku ya yang harus ngambek kesel?!" gumam Radika sepelan mungkin agar istrinya tak mendengar.
Ayesha enggan melihat wajah suaminya yang sangat mengesalkan. Kemudian memilih menyembunyikan tubuhnya didalam selimut.
"Udah untuk yang abi gak bakal nurutin kamu, karena sekarang kamu sakit bahkan baru sembuh maag kamu mau kasih perut kamu yang asam-asam. No pokoknya!" ucapan Radika tidak bisa diganggu gugat.
......................
Jarang menampakkan diri Siska baru saja terlihat batang hidungnya. Dari dulu dia sedang kabur dari kedua orang tuanya namun berakhir tertangkap oleh orang suruhan orang tuanya dengan membawanya dalam keadaan terbius obat tidur. Siska kabur karena punya alasan.
Flashback on
Di sebuah hotel megah dengan pengawasan dan keamanan dijaga ketat, tidak memudahkan siapapun keluar masuk tanpa akses dari hotel. Siska kabur dari perjodohan yang direncanakan orang tuanya tanpa tahu siapa orang yang akan dipasangkan dengannya. Sehingga Siska memilih kabur dan menetap di Turkey.
Saat itu, Siska berencana akan keluar untuk bekerja namun begitu keluar dari kamarnya sekumpulan orang berjas hitam dan berkacamata hitam membekap hidungnya.
"Toemmmlong..." suara teriakkannya terendam kain dengan bius obat. Siska yang tadinya memberontak kian melemas perlahan-lahan.
"Ayo segera pergi sebelum kita tertangkap!"
__ADS_1
Orang-orang itu pun menggendong Siska dan membawanya kembali pulang ke Indonesia.
Flashback off