
Bisik-bisik mahasiswa lainnya membuat Ayesha ikut penasaran kenapa mereka sangat ramai dan adapula yang bergerombolan. Ayesha berjalan mendekat untuk mengintip apa yang sebenarnya terjadi. Dari sela-sela mahasiswa perempuan, sekilas matanya menangkap sebuah mobil yang familiar.
"Itu cowoknya ganteng banget sih, siapa yang cowok itu jemput? Kalo cewek pasti bikin gue ngiri lah!"
"Aaa...cool banget sih, pengen minta foto tapi takut gak ditanggepin lagi!"
"Dari kemarin mata gue sepet sekarang dikasih yang bening jadi seger lagi deh!"
"Ya tuhan, Semoga dia jodoh gue, aamiin"
Sorakan kehebohan mahasiswa tidak mengalihkan fokus mata Radika untuk mencari keberadaan perempuan pujaan hatinya. menghiraukan kebisingan disekitarnya seolah itu hanya angin lalu saja. Radika menajamkan matanya begitu melihat perempuan yang mencurigakan. Ya dia Ayesha, perempuan itu berlagak seperti maling yang akan mencuri ayam tetangga, berdesakkan diantara para mahasiswa lainnya namun ketajaman mata Radika tidam bisa diremehkan. Radika menurunkan kacamatanya untuk memeastikan dan laki itu berjalan tegap mendekati Ayesha yang belum menyadari bahwa bahaya mendekatinya mengharuskan dirinya kabur.
"Dasar tikus nakal, sepertinya dia perlu hukuman agar tidak membuatku menunggu lama sekali"
teriakan semakin kencang, saat Radika berjalan memdekat,"Eh eh dia kayaknya datengin aku tuh!"
"Ke aku kali, lu kepedean banget sih,"
"Lu juga kepedean, dah laki itu pasti tahu kalo aku yang paling cantik,"
Masih mengabaikan kenarsisan mereka, Radika tersenyum tipis sekali, Ayesha masih tolah toleh, mau pura-pura atau tidak, mau dia tahu atau tidak, Radika tetap mau mendekatinya dan membuat perempuan itu terkejut sempurna. Begitu didepan perempua itu.
"Kamu tidak bisa bersembunyi dariku Ayesha, ayo kita pulang lebih awal, agar aku bisa menghukummu. " Ayesha menoleh dan terkaget sampai mulutnya terbuka," Kamu! Ngapain disini? Kamu ternyata yang suka bikin heboh, pulang sama hush!" Ayesha mengusir Radika, dia tidak mau menjadi buah bibir di keesokkan harinya.
"Rupanya berani kamu mengusirku, hmm? Cepar masuk mobil sebelum aku yang akan bertindak lebih dari ini." Ayesha meneguk salivanya, ingin kabur namun terlambat sudah.
"Radika pliss," ujarnya memohon
"No, masuk Ayesha!" titah Radika menunjuk kearah mobilnya. Lagi-lagi dia kalah debat, Ayesha dengan langkah pendeknya berjalan ke mobil Radika. Akan tetapi, bukan Ayesha kalo tidak nakal, senyuman licik yang tidak diketahui Radika. Sekelebat ide yang muncuk diotaknya sekarang. alih-alih dia pasrah seketika, Ayesha berlari mengambil langkah seribu dan Radika mendelik kesal lalu mengumpat dalam hati.
Wush...
Ayesha berlari sekencang yang dia bisa untuk menjauh dari tangkapan Radika. "Dasar, dibilangin jangan nakal tetep aja ya dia itu! Awas aja dia" Radika masuk ke dalam mobilnya dan menyusul Perempuan itu.
__ADS_1
Ayesha melewati semak-semak, untuk bersembunyi, Dia sudah tidak kuat lagi untuk kembali berlari, pinggangnya terasa nyeri dan dadanya berdegup sepuluh kali lebih kencang dari biasanya." Kayaknya ini faktor kurang olahraga jadi gampang capek aku larinya!" Nafasnya terengah-engah dengan bajunya ia menghapus peluh di wajahnya.
"Sial banget sih aku, Radika sih seharusnya dia nurut aja sama aku, ngapain pakek jemput ke kampus segala!" Ayesha menggerutu dan mengeluh dengan kelakuan tidak berakhlak Radika. Bukannya jika orang tengah menyembunyikan diri ia akan mengecilkan volume suaranya agar tidak ketahuan berbeda dengan Ayesha yang tenang sekali saat bersuara keras. Radika sendiri tidak mungkin akan kesulitan Ayesha, tanpa sepengetahuan si pemilik, laki itu telah memberikan GPS pada seriap barang yang sering digunakan Ayesha. Otak pintar Radika selalu lancar layaknya air mengalir sehingga tidak sulit untuk berpikir.
Di mobil," jangankan sembunyi di semak, di lubang paling keceil sedunia pun tetap akan aku temukan kamu Ayesha," Seringai licik muncuk di bibir Radika. Ia pun keluar dari mobil untuk menangkap tikus nakalnya. Memilih ingin menangkap dari arah belakang punggung Ayesha. Matanya sudah mengunci target yang sedang berjongkok itu, mengambil langkah kecil berusaha untuk tidak.menimbulkan suara berisik.
Hap
"Aaaa, Ibuuuu" Ayesha terriak sangat kencang keapalnya reflek menengok siapa yang memeluknya dari belakang. Kakinya sudah terasa lemah seperti jelly.
"Kena juga kan kamu, " ucap Radika, bibirnya mendekat ke telinga Ayesha sampai perempuan itu merinding dan juga malu.
"aduh, aku kan bau! nanti kali kecium wangi kecut dari ketiak aku gimana? Kan malu banget aku nya," batin Ayesha
"Dika lepas dong, aku gak nyaman." Ayesha menggerak-gerakkan tubuhnya tetapi Radika menggeram tertahankan. "Shh.."Sesuatu diluar kendalinya baru saja terbangun disiang hari ini. Ayesha yang terus bergerak kemudia merasakan suatu yang keras seperti dahan ranting menusuk Pan*tatnya.
"Dika, aku gak nyaman ih!" seru Ayesha terus berusaha melepaskan diri dari pelukan Radika.
"Jika kamu belum bisa diam, jangan salahkan aku kalo leher dan bibirmu itu akan meninggalkan bekas merah." bisik Radika, hembusan nafas hangat samakin terasa.
"Ya Tuhan hampir saja aku hilang akal!" Otaknya seperti akan terbang menembus tengkorak kepalanya, pusing menderanya, bagian bawah tubuh Radika nyeri dan linu menahan sempitnya lahan.
"Kita pulang sekarang!" Radika pun menggenggam tangan Ayesha dan pergi dari situ.
Bahkan diperjalanan tidak ada satupun yang membuka pembicaraan, keduanya diam membisu. Hingga sampai di rumah Ayesha."Aku langsung saja ya,"
Ayesha termenung, jantungnya masih saja los kontrol, dia harus menenangkan diri.
......................
"Rel, aku sepertinya sudah gila," celeruk Radika meremas rambutnya frustasi.
Farel cemas, atasannya mengatakan dirinya gila, dia tidak menyangka jika selama ini, atasannya mengalami gangguan jiwa"Gila? Sejak kapan bapak merasakan gejala gilanya pak!?" mendengar hal itu Radika melayangkan tatapan tajam.
__ADS_1
"Kayaknya kamu mulai bosan kerja disini ya? Mau kukirim ke pelosok kamu hah!" sentaknya
"Tidak pak, terimakasih!" Sekejap Farel terbirit-birit keluar dari ruangan Radika.
"Huh ...huh....Serem amat, " gumam Farel bergidik takut.
Agar pikiran lak*nat ini pergi jauh, Radika mengalihkannnya dengan kerjaannya. Sampai menjelang sore tiba, Radika merenganggakan tangannya, tubuhnya terasa kaku serta lelah luar biasa.
Hari ini Radika tidak akan pulang ke rumahnya tapi akan langsung ke apartemen yang tak jauh dari kawasan kantor.
"Rel, saya pulang lebih awal ya, "
"Hati-hatu Pak Dika!", masuk ke dalam lif, tangannya memijat samping kepalanya yang cenat- cenut tidak.menentu. Di parkiran, Radika mengebutkan mobilnya supaya sampai lebih cepat. Gedung Apartemen elite yang dibelinya saat selesai lulus kuliahnya dulu. Apartnya berada di lantai 5, Radika sengaja memilih yang tidak terlalu tinggi.
Tit...
Selesai memasukkan pinnya, Lampu ruang keluarga menyala, suara TV terdengar, siapa yang masuk kedalam apartnya. Batinnya.
"Hai bro, " Radika terdiam, ngapai si cunguk ada di apartnya segala? Beberapa hari tidak bertemu entah mengapa Demian ada disini sekarang.
"Lu ngapain disini?!" karkasnya
"Hehe, numpang hidup gue disini!" jawab Demian dengan wajah konyolnya.
"Lu ada apart ngapain ngungsi ke apart gue?" Seketika Radika menemukan sesuatu yang mencurigakan saat ini. Dia berjalan menuju dapur tempat dimana semua cemilan dan makanannya tersimpan aman dan rapi. Saat membukanya
"Ta*ik lu Demian! Jangan bilang lu udah berhari-hari disini dan ngabisin stok makanan gue, iya?!" wajah tanpa dosa itu hanya mengangguk dengan cemilan kripik kentang dipelukannya.
"Gue gak mau tahu ya, cepet lu beliin yang baru, SEKARANG!!!" Radika mengeluarkan uang dari dompetnya dan melemparkan ke meja dan melenggang pergi ke kamarnya.
"Mampus! Gue lupa," Buru-buru Demian cabut dari apart Radika sebelum raugan singa marah muncul.
"DEMIAN BAN**AT!!! Kamar gue lu apain ini? Kok kayak kapal pecah hah!" Radika mengurut keningnya pusing semakin menjadi-jadi.
__ADS_1
"Gini amat punya temen lak*nat banget!" dengan pasrahnya Radika sendiri membersihkan kamarnya dan mengganti sprei kasurnya dengan yang baru, menyapu dan mengepel hingga kondisi kamar menjadi seperti semula. Bersih dan wangi. Setelah selesai Radika melemparkan badannya yang berasa remuk apalagi bagian kakinya. Ingatkan Radika untuk membasmi Demian kunyuk itu!